
HAPPY READING
Setelah keliling mencari barang - barang yang di inginkan, untuk makan siang kali ini dia memilih untuk mentraktir Luke.
Karena keasikan belanja tadi, Misca sama sekali tidak memperhatikan waktu dan membuatnya melewati jam makan siangnya.
“Jadi kamu bekerja di perusahan Platinum Company?” Tanya Luke, dengan serius.
Misca menganggukan kepalanya pelan. “Iya, aku bekerja di sana sudah 7 tahun, tetapi mungkin sebentar lagi akan keluar.” Jawabnya, mengingat kejadian demi kejadian yang membuat Misca merasa harga dirinya sudah sangat tidak berarti di mata Justin.
“Kenapa? Apakah ada masalah?” Tanya Luke penasaraan, namun Misca meresepon dengan gelengan kepalanya pelan.
“Tidak ada, mungkin karena sudah 7 tahun lamanya, aku jadi merasa bosan dengan situasi yang seperti itu.” Jawabnya lagi.
Luke tersenyum ketika mendengar jawaban dari Misca, “ahhh, iya, mau main ke tempatku?” Luke menawarkan Misca untuk bermain ke rumahnya.
“Main ke rumahmu? Bukankah kita baru kenal, lalu kenapa -“
__ADS_1
“Hemmm, mungkin karena tadi kamu sudah menemaniku belanja, jadi aku akan mengajarkan kamu bagaimana cara membuat steak yang baik dan benar.”
“Boleh sih, tapi -“ kalimatnya terhenti, ketika Luke sudah lebih dulu bangkit dan menariknya pergi.
“Luke, aku belum memberikan jawaban!” Tungkasnya, namun tidak di perduli oleh Luke.
Pria itu tetap saja meminta Misca untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Tapi, Luke, aku juga membawa mobil.”
“Nanti kita akan balik ke sini mengambil mobilmu, untuk sekarang biar naik mobilku saja.” Luke berucap, sembari mulai mengemudikan mobilnya memecah jalan raya.
****
Sesampainya di rumah Luke, Misca melihat rumah Luke yang termasuk dalam katagori mewah, namun minimalis.
Dengan dapur dan ruang tamu yang memiliki dinding kaca dan langsung mengakses ke taman, sehingga jika memasak di dapur itu, pasti udara dari luar akan begitu mudah masuk.
__ADS_1
“Apakah mau masak sekarang?” Tanya Misca, ketika dia melihat Luke mulai mengeluarkan barang - barang yang tadi dia beli di supermarket.
Luke tersenyum dengan memperlihatkan wajah bingungnya. “Lalu? Kalau tidak mau masak, bagaimana?” Tanya Luke balik.
Misca menghela nafasnya. “Tapi bukankah kita baru selesai makan? Tidak bisakah kita tunda dulu hal itu? ya semacam menurunkan makanan yang masih di cerna dalam tubuh terlebih dahulu.” Jawabnya, seperti mual memikirkan banyak makanan yang akan masuk ke dalam tubuhnya tanpa jeda.
Luke semakin bingung meresepon kemauan Misca. “Tapi, bukankah kita ke rumahku karena ingi memasak bersama? Lalu kalau tidak memasak, kita mau ngapain?” Tanyanya lagi.
Misca terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan mereka lakukkan untuk menghilangkan keresehan mereka.
“Hem, mungkin kita bisa main game, melakukkan permaian, atau -“ kalimatnya terhenti ketika dia melihat kolam renang yang begitu besar ada di depan rumah Luke dengan view pemandangan alam yang ada di luar sana.
“Apakah kolam renangnya boleh di gunakan?” Tanya Misca, yang membuat Luke tertawa mendengarnya.
“Kolam renang ya tentu saja boleh di gunakan, memangnya ada kolam renang yang tidak boleh di gunakan?!” Tanyanya balik. Dan seketika Misca mengingat Justin yang selalu memperingatkan siapapun yang datang ke rumahnya untuk tidak bermain di sekitaran kolam renang miliknya.
Luke tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Tentu saja boleh, lagian berenang di saat suasan berawan seperti ini juga adalah suatu hal yang bagus.” Tambahnya lagi, dan itu membuat Misca kegirangan.
__ADS_1
Sudah lama dia tidak berenang, selain berendam di dalam bathup, hobbynya adalah berenang, tetapi dia tidak memiliki kolam renang.
Makanya Misca berimpian untuk memberli sebuah rumah yang ada kolam renangnya, dia merasa akan berenang setiap hari jika hal itu sampai terwujud.