
HAPPY READING
“Tetapi, hidup selamanya menjadi seorang bawahan yang di injak itu tidak enak Luke, kamu punya hidup! Kamu punya mimpi, jangan biarkan keluarga angkatmu itu merusak segalanya.” Timpalnya lagi, bukan karena dia ingin menghasut Luke, tetapi melihat apa yang sudah di lakukkan oleh Luke, perjuangan. Apakah dia tidak boleh mendapatkan kasih sayang yang utuh?
Setidaknya jadikan dia Direktur atau paling tidak karyawan di dalam perusahaan itu, kenapa dia harus di sembunyikan seperti ini? Dia bukanlah aib yang sangat memalukan sampai - sampai dia harus bekerja di balik layar untuk menunjang kesuksesan dari seseorang.
***
Saat ini Misca terlihat sudah dalam perjalanan pulang. Dia pulang setelah menghabiskan makan malamnya bersama dengan Luke, akhirnya dia memilih untuk pamit, karena waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Dia juga khawatir, jika ada sesesuatu yang penting yang masuk ke dalam ponselnya.
Meskipun seharian tidak memegang ponsel juga rasanya sangat nyaman, tetapi Misca juga tidak menutup kemungkinan jika dia adalah type orang yang online.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Misca tertegun karena pintu apartemennya tidak terkunci, padahal tadi dia jelas - jelas menguncinya, apa lagi ini adalah pintu otomatis yang langsung terkunci jika di tutup, tetapi kenapa sekarang pintunya tidak terkunci dan bahkan sedikit terbuka?
Misca terlihat menarik nafasnya dalam - dalam, lalu dia menghembuskannya perlahan dan perlahan membuka pintu apartnya.
Ketika dia masuk, aroma wangi yang begitu menyengat mulai masuk ke dalam indra penciumannya. “Justin.” Batinnya, terkejut karena aroma ini benar - benar adalah aroma tubuh mantan kekasihnya itu.
“Akhirnya kamu pulang, apakah bermain di luar lebih menarik dari pada bersamaku?” Suara Justin terdengar mengejutkan Misca dan membuatnya membalikkan tubuhnya dengan cepat, karena Justin terlihat sedang duduk di meja makan yang ada di dekat pintu, sedangkan dia sudah berjalan sampai ruang tamu, apa lagi posisi di sana sangatlah gelap, Misca tidak bisa melihat apapun.
“Apa yang kamu lakukkan di sini?!” Sentak Misca, dengan tubuhnya yang sudah nengeluarkan keringat dingin.
“Kamu tanya aku? Apa yang aku lakukkan di sini?” Tanya Justin, dengan senyumannya. Walaupun gelap gulita tetapi siapapun pasti tahu jika Justin sedang tersenyum sinis saat ini.
Justin melangkahkan kakinya mendekati Misca, yang sudah sangat ketakutan, dia juga ikut memundurkan langkahnya, Namun sayangnya langkahnya tertahan dengan meja makan yang ada di belakangnya. “Justin, lebih baik kamu pulang! Ini bukan jam kerja dan kamu tidak berhak ada di sini!” Maki Misca, yang sama sekali tidak membuat Justin gentar.
__ADS_1
Pria itu malah dengan cepat mengangkat tubuh Misca dengan paksa untuk duduk di meja makan, lalu merobek baju dan juga dalaman yang sedang dia gunakan.
“Justin cukup! Kamu sudah punya istri! Jangan terus perlakukan aku seperti ini!” Sentaknya lagi, menahan agar Justin tidak bisa membuka celana hot pants yang sedang dia gunakan.
“Wah - wah!! Kamu dari mana?! Kenapa kamu tidak menggunakan segi tiga dalamanmu? Apakah kamu habis bermain dengan pria lain ha?!” Tanya Justin dengan menuduh Misca melakukkan hal yang buruk di luar sana.
Tetapi Misca sama sekali tidak menjawab dia malah acuh dengan apa yang di tanyakan oleh Justin, karena menurutnya itu bukanlah urusan pria ini.
Plaaaakkkk safu tamparan Justin berikan, agar Misca sedikit bisa terkejut dan dia mengambil langkah cepat untuk membuka celana Misca dan menancapkan pusakanya yang sudah tegang sedari tadi.
Ya, dari tadi memang Justin sudah tidak me genakan pakaiannya, karena dia memang sudah berniat dari awal jika Misca pulang maka dia akan langsung melakukkannya.
Dia sudah tidak perduli apakah Misca akan marah atau tidak, yang terpenting saat ini adalah Nafsu. Dia tidak ingin moodnya turun hanya karena penolakan Misca. Toh Misca memang seperti itu, di awal saja dia menolak tetapi namanya kenikmatan, siapa yang bisa menolaknya?
__ADS_1
...****************...