
(Ruang Kerja Kepala Menara Yell)
Tok.. tok.. tok..!! terdengar ketukan nyaring dari luar pintu.
Pria tua itu menghela nafas,mengangkat buku dan kertas menumpuk didepannya dan merapikannya dengan sihir.
"Silahkan masuk" sambutnya sopan.
"Tuan Jie" Bocah lelaki lusuh tampak memandang tajam kearahnya dengan mata birunya.
"yah... tuan muda,ada perlu apa? katakan saja"Tuan Jie berlaku sopan menghormati kehadirannya.
"hmmm... ini masalah Luna,waktu ku yang diberikan disini tidak banyak. Jika masih memerlukan aku, aku tidak bisa terus disampingnya"
"hamba mengerti tuan muda, anda adalah dewan muda,tentu sangat sibuk mengurusi urusan dewan,tapi..."
"aku tau kekhawatiranmu,sebisa mungkin kulindungi dia tapi dia juga harus bisa melindungi dirinya sendiri,tak ada waktu lama bagiku terus menjadi Zuzu"
"Lantas bagaimana caranya, cucuku tak punya sihir,ah...(tuan jie membulatkan matanya) apa tuan muda akan mengajari dia seni pedang anda"
"Ya"jawabnya singkat"aku hanya punya waktu 3 bulan lagi untuk mengajarinya, sisanya tergantung kemampuan dia" Zuzu melirik Monsu Jie dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
"hmmh... tuan muda Sky anda lah harapanku untuk melindungi nya kedepannya, Luguo apa ini juga harapanmu?sehingga mengirim dewan Pedang Mulia pada cucuku? setelah menerima surat permohonan ku" mata Monsu Jie berkaca kaca,tersenyum dan menangis sambil terduduk di lantai ruang kerjanya.
.
.
.
Hati kecil nya sangatlah gundah,Luna adalah cucu satu satunya sekarang.
.
.
__ADS_1
.
Dahulu Monsu Jie pernah menolong seorang dewan dari Klan Knight bernama Hui Luguo ,dewan terhormat Golok penghancur.
Persahabatan mereka masih terjalin hingga Monsu Jie mengajukan permohonan nya ,untuk menolong cucunya agar tidak dibuang dewan ke lubang sihir.
Berikut isi suratnya :
Untukmu sahabatku Hui Luguo
Sudah lama kita tidak berjumpa, sejak pertempuran di hutan itu. Apa kabarmu baik? haha.... semoga kau selalu sehat kawan.
Maaf, tidak pernah datang ketempatmu aku mendapat masalah yang membuatku benar- benar tak mampu.
Kau ingat surat ku sebelumnya kan..., aku selalu bercerita tentang cucu perempuanku. Dia sangat cantik, sayang nya dia tak punya sihir.Kau pasti tau adat dari Klan Penyihir.
Disana lah masalahku, kau tau aku adalah orang yang sangat setia pada dewan sihir dan sudah sangat dipercaya.Tapi...aku tidak tega jika harus menyerahkan cucuku.Aku mohon kali ini tolonglah aku.
Dan tak lama datanglah Sky Axere sebagai utusan yang dikirim Hui Luguo.
.
.
.
(Halaman belakang menara)
__ADS_1
Tampak bunga bunga bermekaran disana, Zuzu tampak termenung ujung jarinya terpasang sebuah cincin yang terdapat ujung besi tajam, telunjuk kirinya bergerak melukai telapak tangan kanannya ,darahnya mulai mengalir sebagian menetes ke bawah mengenai kelopak bunga dan sebagian besar membentuk sebuah pedang es panjang berwarna kemerahan dengan ukiran tulisan • £UΠα • , setelah pembentukan nya sempurna perlahan lukanya mulai menutup.
"Luna... ,semoga pedang ini bisa melindungimu" Zuzu menghela nafas memandangi pedang yang terbuat dari darahnya.
.
.
.
"Zuzu... darimana saja kau hari sudah malam"
Luna menampakkan senyumannya.
Rambut panjang keperakannya dengan warna mata senada,wajahnya terkena sinar bulan dari jendela , tersenyum ke arah Zuzu yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"apa keadaanmu sudah membaik? "Zuzu membalas senyuman Luna.
"kau merawatku terima kasih,ini sudah membaik" Senyuman cerah terukir tanpa beban,seperti bulan yang bersinar malam ini.
"baguslah aku ikut senang mendengarnya, Oh ya Luna. Tidak lama lagi aku akan kembali ke tempat asalku, tidak tau kapan"
"apa?" Luna mengerutkan keningnya,dia tak mengerti yang dimaksud Zuzu.
"Ya, aku tidak berasal dari tempat ini,tempat ku berasal sangat jauh"
"kau baru saja menjadi temanku,kau sudah ingin pergi kah?"
"Luna...,setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kita masih punya waktu 3 bulan,besok menjelang petang datang lah ke halaman belakang menara"Zuzu mengukir senyum kemudian menutup pintu kamar Luna dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
Sepanjang malam Luna dan Zuzu tak dapat tidur mereka saling memikirkan satu sama lain,sambil memandang bulan purnama yang indah dari balik jendela. Luna tidak ingin Zuzu pergi darinya,dialah teman satu satunya sekarang.Sedangkan Zuzu memikirkan urusannya ,sebagai Dewan muda dia sudah harus memikul tanggung jawab dari Dewan Pedang Mulia sebelumnya, disisi lain juga dia mulai muncul rasa khawatir pada keadaan Luna.
Bersambung...