Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
1


__ADS_3

Pagi ini di sekolah SMA 1 menyambut siswa baru. Beberapa murid baru terlihat bersemangat dan ceria berdiri di lapangan. Dari seluruh siswa baru tersebut terlihat Anya dengan wajah datarnya menatap beberapa guru di hadapannya.


Para OSIS berdiri di setiap barisan siswa memberi aba-aba untuk membuat lingkaran lalu menyalami satu-persatu guru di hadapan mereka, sambil menyanyikan lagu terimakasih guruku.


Aba-aba di mulai para siswa dan siswi baru tersebut melakukan apa yang di perintahkan oleh OSIS.


Setelah kegiatan tersebut selesai, semua siswa-siswi baru berkumpul menuju papan pengumuman mencari nama mereka. Anya menatap namanya yang tertera di sebuah papan, ia merasa bingung namanya itu berada di kelas IPS di mana pelajaran yang paling ia tidak sukai.


Sambil menghela nafas panjang Anya menggendong tasnya menuju kelas IPS. "Kenapa harus kelas IPS" batin Anya.


Di kelas IPS terlihat beberapa gerombolan murid berdiri di hadapan pintu menatap satu persatu. Anya yang melihat gerombolan tersebut menghela nafas sekali lagi.


"Permisi" Ucap Anya, beberapa murid menatap Anya. Tapi mereka tidak berani bergeming sedikitpun, Anya duduk di paling depan.


Seorang siswi memberanikan diri untuk masuk saat melihat Anya duduk dengan santai, ia berjalan menuju kursi di sebelah Anya.


"Ehm permisi, kamu Anya kan?" Ucap gadis itu. Anya menoleh ke arah gadis itu, matanya kini melihat gadis berkacamata yang berdiri di sampingnya.


"Iya ada apa" ucap Anya kecil, gadis itu mengulurkan tangannya kepada Anya. "Aku Riris, kamu mau jadi temanku" melihat Riris mengulurkan tangannya. Anya berdiri dan menatap Riris dari atas sampai bawah.


Anya menjabat tangan Riris dengan pelan, lalu menoleh ke arah gerombolan murid yang masih saja berdiri di depan pintu itu.


"Mereka kenapa?" Ucap Anya. Riris menoleh ke arah yang sama dengan Anya. "Mereka takut masuk ke kelas ini" jawab Riris sambil ketakutan.


"Kenapa harus takut?" Tanya Anya lagi. Riris menoleh ke arah kanan dan kiri, lalu ia mendekat kan dirinya kepada Anya. Ia membisikkan kata-kata "karena di kelas ini ada Dia".


Anya menatap bingung kepada Riris, "dia siapa" belum sempat Riris menjawab tiba-tiba seorang guru memarahi gerombolan siswa di depan pintu. Semua orang masuk bersama guru tersebut.


"Kalian ini murid baru, kenapa kalian harus berdiri di depan pintu. Emangnya ada arisan" Kata Pak Yahya. Kumis pak Yahya ketika marah bergoyang-goyang.


Pak Yahya adalah wali kelas IPS. Dan di tahun ini ia pertama kali menjadi wali kelas.


"Sebenarnya kami takut pak" Pak Yahya menatap seorang anak laki-laki di hadapannya. "Takut kenapa, sudah berapa kali guru-guru mengatakan. Kelas ini tidak ada apa-apa" tegas pak Yahya.


"Baiklah kalau begitu, saya lelah mengomel kalian di hari pertama saya menjadi wali kelas. Jadi langsung saja pemilihan struktur pemimpin kelas IPS" beberapa murid mencalonkan diri sebagai ketua kelas, wakil, bendahara, dan sekretaris.


Dan hasilnya ketua kelas jatuh kepada  Adit, wakil jatuh kepada Gilang, sekretaris jatuh kepada Erin  dan bendahara jatuh kepada Echa.


Semua orang sudah setuju, apalagi mereka sangat setuju dengan Adit yang menjadi ketua kelas. Selain ia pintar, bertanggung jawab dan sangat tegas. Adit sangat tampan dan ia adalah idola bagi para siswi di kelas IPS.


Tidak ada pelajaran di hari pertama sekolah, hanya ada pemilihan struktur pengurus kelas dan perkenalan satu persatu.


Bel Istirahat berbunyi, semua murid di sekolah berkeluyuran di daerah kantin. Kantin bakso dan jajan lainnya ramai di penuhi dengan murid yang kelaparan.


Di kantin terlihat Anya dengan Riris yang berdiri menunggu antrian  panjang. Beberapa kali Riris mengeluh karena hal itu. "Kalau kita di sini terus, bisa-bisa sampai bel masuk" perkataan Riris tidak di jawab oleh Anya. Ia lebih baik diam dan melihat ke sekeliling.


"Ah sudahlah Anya, aku nyerah. Aku balik ya ke kelas" ketus Riris. Ia pergi dengan tangan kosong, karena lelah menunggu.


Anya mulai merasa lelah sedangkan antrian nya masih sangat panjang. Sebuah angin meniup helaian rambut Anya, bulu kuduknya saat ini berdiri.


Jantung berdetak kencang, keringat dingin mulai mengalir. Anya menatap sekeliling secara perlahan, suasana ramai mulai terasa hening. Anya melihat sekeliling, semua orang berhenti bergerak bahkan waktu.


Anya melihat telapak tangannya, ia terkejut saat terdapat bercak darah. Anya berlari ke arah pintu kantin, tapi semakin cepat ia berlari tubuhnya seperti tergores oleh pisau tajam.


Langkahnya berhenti saat pintu kantin tertutup sendiri. Anya menatap ke sekeliling, nafasnya tersengal-sengal.


"Aku ingin Dia, aku ingin Diaaa!!!" Suara teriakan terdengar dari seluruh arah.


Brug


Seorang gadis kecil terjatuh dari atap begitu saja. Membuat Anya ketakutan, gadis kecil itu menatap Anya. Matanya merah penuh dengan darah, kini Anya mencium bau amis dan busuk yang menyengat.


Gadis itu berjalan patah-patah, Anya melihat hal yang mengerikan. Pakaian gadis itu penuh dengan sobekan dan darah. Matanya putih dengan bintik hitam kecil yang lebih mengerikan lagi sebuah tusukan garpu yang tepat di samping matanya.


Gadis itu mendekat, ia bersimpuh di hadapan Anya. "Bantu aku menemukan Diaaa!!!" Ucap gadis itu. Anya menggeleng kuat, gadis itu mencekik leher Anya dengan kuat.


Anya kehilangan nafas, tiba-tiba Anya terlempar begitu saja. Kini waktu mulai bergerak kembali, Anya tersadar saat ibu kantin menggoyangkan tubuh Anya.


"Aduh nak ngelamunnya kebangetan, itu pada makin banyak antriannya" sambil menunjuk antrian yang panjang di belakangnya. Anya terkejut saat melihat antrian yang lebih panjang.

__ADS_1


Ia menunduk lalu mengucapkan maaf, "maaf bu. Saya tidak jadi beli" Anya melangkahkan kaki dengan cepat menuju luar kantin.


Beberapa orang menatap Anya dengan heran. Anya berlari menuju kamar mandi, ia berniat untuk membasuh wajahnya. Entah mimpi apa itu, hal tersebut sangat mengerikan.


-----


Beberapa air mengalir di wajah Anya, ia menatap dirinya di kaca. Air mata mengalir, Anya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hei berhentilah menangis, tidak ada gunanya. Hanya membuang air mata saja" Anya melompat karena terkejut, kini seorang gadis berdiri dengan pakaian yang sama di kenakan oleh Anya.


"Hei kamu sudah, aku ingin menggunakan toilet ini. Cepat pergi" Ucap datar gadis itu. Anya menatap kesal gadis tersebut.


Ia keluar dengan kesal, ia mencuci tangannya dengan cepat lalu berjalan keluar toilet. Pintu toilet yang di gunakan dirinya tadi menutup.


Beberapa murid perempuan berjalan masuk. Mereka menatap ke sekeliling, mereka kakak kelas dengan membawa beberapa alat make up dan sabun wajah.


Anya menyipitkan matanya, ia tidak mengerti untuk apa hal itu??. Anya berjalan menuju kelasnya, ia melihat kantin tersebut. Beberapa murid masih duduk di sana, bel berbunyi sedangkan kelas Anya ada di lantai tiga.


Dengan cepat Anya berlari menuju lantai 3, saat sampai di sana. Teman-temannya berdiri di depan kelas, suara teriakan terdengar sangat keras sehingga membuat orang harus menutup telinga mereka.


Anya berlari menuju temannya, matanya melihat seseorang yang ia kenali. "Riris" ucap Anya.


Riris tak terkendali, ia mengangkat kursi lalu melemparnya dengan keras. Mata Anya melihat hal lain, seorang pria duduk dan menatap hal itu dengan senang.


Tapi sekarang Anya sadar, bahwa itu bukan pria biasa. Ia melihat sebuah rantai di lehernya, pria itu menatap Anya dengan tajam. Sontak ia mundur dengan cepat sehingga menabrak Adit sang ketua kelas.


Para guru datang, mereka dengan cepat masuk dan menenangkan Riris, beberapa kali Riris mengancam dengan akan membunuh dirinya menggunakan gunting kelas jika para guru dekat dengannya.


Tapi para guru lebih ahli, seolah mereka sudah tau apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan seperti itu.


Gunting berhasil mereka rebut, Riris semakin marah tapi ia juga meringis kesakitan saat mendengar ayat suci Al-qur'an. Hal itu di lihat oleh murid IPS dan murid dari kelas lainnya.


Butuh 4 jam untuk menenangkan Riris, Anya terus melihat sosok pria itu mengeram kepada para guru. Walau mereka tetap tidak bisa melihatnya, setelah itu menghilang begitu saja meninggalkan beberapa kursi dan meja yang jatuh dengan sendirinya.


Riris di bawa oleh para guru karena ia belum juga sadar, semua murid di bubarkan oleh pak Imran guru tergalak di SMA ini.


Para murid masuk ke kelasnya masing-masing termasuk Anya dan teman kelasnya. Mereka mulai merapikan segalanya, beberapa bisikan terdengar oleh Anya mengenai Riris.


Anya menelan ludah, ia memikirkan sekolah ini. Begitu banyak hal aneh yang ia alami, entah apa ia akan berhasil bersekolah di sini. Ia tidak ingin merepotkan tantenya, jika harus pindah sekolah.


-----


Pukul 15 sore, waktunya sekolah selesai. Semua murid berlomba-lomba untuk keluar dari gerbang. Anya menatap beberapa murid yang di jemput oleh orang tuanya.


Anya berpikir ketika saat makan malam mereka akan menceritakan tentang hari ini pada orang tua mereka. Anya menggeleng kecil saat mengingat dia pernah menghabiskan waktu dengan ayah dan ibunya.


Anya menaiki angkutan umum, ia meminta sopir untuk mengantarnya ke jalan kembang 1. Jalan itu terasa sepi, terakhir kali ia datang ke sini semuanya seperti biasa. Tapi keadaannya berbeda jauh sekali, jarang orang yang berlalu lalang.


"Pak di sini saja" Bapak itu menghadap ke arah kanan dan kiri. Ia berhenti tepat di pintu masuk menuju TPU.


Anya memberikan uang sebesar 20 ribu kepada sopir tersebut, lalu turun dan masuk menuju TPU. Anya terus berjalan, beberapa kali ia mencium bau yang menyengat seperti bau Anyir dan darah.


Anya menutup hidungnya agar tidak menghirup aroma tersebut lebih lama, tapi semakin ia melakukan itu baunya semakin dekat.


Anya melihat makam Ayah dan Ibunya, terlihat kotor tidak ada yang membersihkannya. Anya mulai mendekat ia membersihkan dedaunan kering. Lalu mengusap batu nisan dengan penuh kasih sayang.


"Ayah, Ibu aku berhasil masuk ke sekolah Favorit seperti apa yang kalian inginkan. Tapi di sana selalu banyak hal yang susah aku mengerti, jika kalian ada aku akan menceritakan hal ini kepada kalian".


"Loh kok adek ada di sini" Seseorang berbicara dari belakang membuat Anya kaget.


"Eh sebelumnya maaf karena saya mengagetkan adek tapi di sini itu bahaya lebih baik adek pulang" Ucap laki-laki itu. Anya mengangguk kecil, ia berdiri dan segera pergi. Laki-laki itu berjalan di depan, langkahnya sangat cepat seperti ketakutan.


Sampai di pintu TPU beberapa teman dari laki-laki itu mendekati nya. Wajah mereka terlihat ketakutan, seolah mereka melihat sesuatu.


Salah satu dari mereka mendekat ke arah Anya. "Maaf lebih baik anda pulang, karena di sini adalah tempat yang berbahaya ketika malam. Jika anda tidak pulang nanti sosok itu mendekati anda" Temannya menepuk pundak nya. Ia menunjuk ke suatu arah, Anya melihat apa yang di tunjuk. Sosok perempuan duduk di atas pohon, penuh dengan darah dan di bagian pipinya terdapat bekas sayatan lebar.


Laki-laki itu memegang tangan Anya, lalu menariknya untuk berlari dengan cepat. Sampai di sebuah masjid yang lumayan jauh dari TPU. "Waduh bro gua benci sama sosok itu, ia sudah menghantui warga sekitar" Ucap salah satu laki-laki.


"Eh maaf ya dek, saya tadi hanya takut sosok itu makin dekat." Anya tersenyum kecil ia mengungkapkan kata terimakasih lalu berjalan pergi.

__ADS_1


××××


Sampai di rumah, Anya langsung beristirahat. Ia benar-benar lelah setelah hari ini, ia tidak yakin akan mengalami hal itu kembali.


Suara ketukan terdengar, Anya bergegas menuju pintu depan. Ia melihat ke lubang pintu, dan segera membukanya setelah apa yang ia lihat.


"Anya" Senyum lebar terukir di wajahnya. Tante Vivin, wanita berumur 26 tahun itu langsung memeluk Anya.


"Tante kok gak bilang kalau mau ke sini" Tante Vivin tersenyum jahil, ia mengangkat kardus putih. Sambil mengucapkan "aku membawa brownies meleleh" Anya tersenyum lebar. Ia menarik Tante kesayangannya itu untuk masuk ke dalam.


Mereka duduk di ruang tamu sambil menyantap brownies meleleh yang di bawakan oleh Tante Vivin.


"Tante tuh kesini pingin ngasih kejutan buat Anya, lagi pula ini hari pertama sekolah Anya sekalian aja tante tanya hari sekolah mu" Anya tersenyum kecil lalu menunduk.


"Tan bisa gak kalau mata batinku ini di tutup, aku gak suka seperti ini. Aku ingin menjadi anak normal, berhubung karena sekolah ku baru." Vivin menunduk, ia menaruh brownies yang di pegang nya lalu memegang tangan Anya.


"Anya hal ini gak bisa dirubah, apa lagi kejadian tersebut yang membuat mu seperti ini. Hal ini sudah takdir mu" Ucap Vivin. "Betul Ya" Anya dan Vivin menghadap ke belakang.


Seorang laki-laki yang berbadan tinggi, menggunakan Kaos putih dengan bacaan music is my life. Wajahnya bersinar dengan penuh ceria, sebaliknya Vivin tersenyum lebar melihat laki-laki itu.


"Om Dion, nah om nyari Tante Vivin ya" Ucap Anya jahil, ia melihat pipi tantenya itu memerah bak bunga mawar.


"Yah om memang ingin ke kota ini, karena tadi om lewat sini. Sekalian aja mampir, eh gak tau nya Vivin ada di sini. Ngomong-ngomong, Anya tau kan kalau om juga bernasib sama seperti kamu. Memiliki mata batin, itu adalah hal yang tersulit karena kita harus bisa mengendalikannya" Kata Om Dion.


Tante Vivin menggeser tempat duduk nya. Dion duduk di sampingnya, tangannya menyentuh tangan Vivin. Hal itu tidak masalah karena mereka pacaran.


"Vin kamu tau tadi aku ke apartemen mu, rencananya aku pingin ngajak kamu ke mall di kota ini. Tapi kamu nya sudah gak ada" Vivin tertawa kecil melihat wajah memelas Dion. Anya yang melihatnya juga ikut tertawa.


"Kayak anak kecil aja" singkat Vivin. "Eh maafkan aku, dari tadi gak nyiapin minuman. Kakak mau aku buatkan apa" Tanya Anya.


"Teh aja" ucap Vivin dan Dion serempak. Anya tersenyum dan segera pergi menuju dapur.


Vivin melihat Dion dengan sedih. "Dion kasihan Anya, dia agak tersiksa karena ini" ucap Vivin. Dion mengusap rambutnya lalu mengecup keningnya.


"Vivin aku yakin Anya bisa kok, hal tersebut hanya perlu sedikit waktu" ucap Dion menenangkan.


Anya melihat Dion dan Vivin berpelukan, mereka sangatlah cocok satu sama lain. "Cie, so sweet banget" teriak Anya.


"Eh" Vivin dan Dion langsung melepaskan pelukannya, dan melihat Anya yang tersenyum lebar sambil memegang nampan berisi 3 gelas teh.


"Eh, Anya sini Tante bantu ya" Vivin mengambil nampan dari tangan Anya. Lalu memberikan segelas teh kepada Dion.


Anya menyipitkan matanya, ia terlihat kesal karena Tantenya tidak bereaksi apapun. "Oh iya, umur Anya kan sudah 16 tahun. Nah Tante mau kasih sesuatu kepada Anya, tapi ketinggalan di sepeda motor. Sebentar ya Tante ambil dahulu" Vivin berdiri dan segera keluar.


Beberapa menit kemudian, Vivin kembali masuk dengan membawa kotak hitam. Anya terlihat kebingungan, ia segera berdiri di susul Dion.


"Itu apa tante?" Tanya Anya. Vivin mengelus kotak hitam itu lalu memberikannya kepada Anya.


"Tante tidak tau isi dari kotak ini, yang jelas. Ini dari mendiang ibu mu, ia menyuruh tante untuk memberikannya kepada kamu jika sudah berumur 16 tahun" Jawab Vivin. Anya mendengar ucapan dari tantenya itu mulai merasa sedih. Selain dia yang sangat sedih kehilangan kedua orangtuanya. Tante Vivin juga merasa kehilangan, ia kehilangan keluarganya.


Tapi Anya juga merasa bingung, kenapa bukan Ibunya sendiri yang memberikannya.


"Maaf Tante, Anya tidak mengerti maksud dari ucapan Tante". Vivin kembali duduk dan langsung di sambut oleh pelukan hangat dari Dion.


"Setelah pemakaman itu, tante mendapatkan mimpi dari Ibumu. Ia terlihat sangat bahagia, wajah begitu terang benderang. Dia berpesan kepada tante untuk memberikan kotak itu kepada dirimu ketika kamu berumur 16 tahun. Kotak itu tidak bisa di buka, karena kuncinya ada di kamu" Ucap Vivin


Anya mengingat tentang kunci, ia ingat dulu ibunya memberikan gelang dengan bentuk kunci di sekitarnya. Dengan cepat Anya berlari menuju kamarnya, ia mencari gelang yang selalu ia simpan.


"Ketemu" teriak Anya. Ia langsung berlari menuju ruang tamu dan memberikan gelang itu kepada tante Vivin.


"Kita coba buka ya" Vivin memasukkan kunci itu ke tempatnya dan kotak itu pun bisa di buka. Saat Anya melihat kotaknya ia terkejut apa yang ada di dalamnya.


.


.


.


.

__ADS_1


X Fitria chii


__ADS_2