Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
2


__ADS_3

"Kita coba buka ya" Vivin memasukkan kunci itu ke tempatnya dan kotak itu pun bisa di buka. Saat Anya melihat kotaknya ia terkejut apa yang ada di dalamnya.


××××


Sebuah kalung kecil berbentuk hati dengan mata berlian berwarna biru, foto keluarga kecil Anya dan sebuah buku diary. Anya melihat sebuah surat yang di tempelkan di penutup kotak.


Anya mengambil surat itu dan membacanya.


Dear Anya, tersayang.


Saat ini kau sudah berumur 16 tahun. Seolah masa kecil akan terlepas dari batangnya. Anya ibu memberikan ini kepada dirimu, entah apa ibu ada di sisimu atau tidak. Kalung itu adalah peninggalan nenek mu, ibu harap kau menggunakannya. Ibu yakin kamu akan terlihat cantik.


Diary itu untuk mu sayang memang ada beberapa lembar yang telah di isi oleh ibu, karena dulu itu diary ibu hanya tidak pernah di pakai. Diary itu juga adalah pemberian dari Ayahmu.


Anya kamu pasti bingung kan kenapa ada Foto keluarga kita, itu karena jika kau sudah besar. Ibu harap kamu tidak melupakan kami semua. Tolong jaga baik-baik ya sayang, karena ini adalah harta yang sangatlah berharga tapi tidak terlalu besar. Karena sesungguhnya Anya dan kak Abie adalah anak yang sangat berharga bagi ibu dan Ayahmu. Ibu percaya kepadamu.


Cinta kasih dari Ibu mu.


Sebuah air mata mengalir dari mata Anya, seolah mengingatkan rasa rindu yang berlebih. Dion yang melihat Anya menangis langsung memeluknya, "Anya jangan sedih dong nanti ayah sama ibu Anya tambah sedih" Ucap Dion menenangkan.


Anya mengusap air matanya, ia menatap tante Vivin dan Om Dion. Senyuman kembali terukir di wajahnya, ia tidak perlu bersedih. Di hadapannya masih ada keluarga yang masih ia sangat sayangi. Anya mengambil Foto itu dan melihat satu orang yang selama ini tidak pernah ada kabar.


'Kak Abie, kakak di mana?' Batin Anya.


Anya POV-----


Pukul 8 malam tante Vivin dan Om Dion pulang ke Apartemennya masing-masing, aku kembali sendiri di rumah ini. Untuk itu aku mengambil semangkuk es krim di kulkas, dan menikmatinya di kamar.


Aku membuka buku Diary ibu, melihat tulisan yang ia tulis di buku tersebut. Satu kalimat yang membuat ku tercengang.


Aku tau, dia saat ini mencintai diriku. Tapi saat ini aku sudah memiliki keluarga yang sempurna. Aron terlihat marah ketika ia terus datang dan menemui diriku, entah apa yang akan ia lakukan kepada keluargaku. Yang jelas aku sudah tidak lagi mencintai dirinya.


Aku terkejut saat melihat nama Ayah di tulisan ibu. Tapi apa yang di maksud tulisan ini, siapa yang terus datang menemui ibu.


Rasa kantuk mulai terasa, aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Dan segera menutup kedua mataku, saat ini gelap mulai terlihat tapi sebuah cahaya mulai mengantarkan ku menuju suatu tempat.


•Anya ' s Dream•


"Anya kamu tenang ya, kita pasti akan menyelamatkan kakak. Anya jangan nangis lagi. Ayah jangan terlalu cepat, ini terlalu berbahaya" ucap seorang wanita. Ia duduk di bagian belakang sambil memeluk anaknya.


"Gak bisa Bu, Ayah gak mau sesuatu terjadi kepada anak Ayah" jawab laki-laki itu. Suara klakson mobil terus berbunyi, mobil tersebut melaju dengan cepat mengejar mobil yang di depan.


Sampai di sebuah persimpangan, saat mobil itu ingin mengerem. Tiba-tiba rem mobil tidak berfungsi. Alhasil mobil tersebut tidak bisa di kendalikan.


"Ayah bagaimana ini" Tanya Wanita dengan gelisah, ia terus memeluk anaknya itu dengan erat. Laki-laki tersebut gelisah, ia berusaha mengendalikan mobilnya itu.


Sampai.......


Sebuah truk melaju dan menabrak mobil tersebut. Mobil tersebut terpantul sangat jauh, suara teriakan terdengar dari dalam mobil.


Suara sirine berbunyi. Orang-orang ramai berkumpul di tempat kecelakaan. Menyaksikan kejadian yang mengerikan tersebut, mobil dan truk tersebut hancur.


Brug......


Aku terbangun dari tidurku dan terjatuh dari tempat tidur. Aku melihat jam, masih tengah malam. Aku mengusap wajahku dengan kasar, keringat dingin mulai bercucuran.


"Kecelakaan itu terus terngiang dari pikiran ku" Aku menghela nafas berusaha menenangkan diri.


Suara ketukan terdengar dari pintu luar. Aku berdiri dan berjalan membuka pintu kamar, suasana sepi. Entah siapa yang datang tengah malam seperti ini.


Semakin aku mendekat, baunya semakin aneh. Bau darah yang sangat menyengat, membuatku ingin muntah. Aku melihat di jendela, tidak ada siapapun yang ada di luar.


Aku kembali berjalan menuju kamar, tapi sebelum aku melanjutkannya. Ketukan itu terdengar kembali, aku berjalan perlahan menuju pintu.


Sekali lagi aku melihat dari jendela, nihil tetap tidak ada siapapun. Angin terasa, dan bulu kudukku berdiri dengan cepat.


Aku melihat sekeliling, seolah seperti ada yang mengawasi diriku. Aku menutup kedua mataku, berusaha merasakan di manakah dia.


Kau bisa melihatku, maka bantu aku menemukan dirinya.


Aku kaget mendengar suara tapi tidak ada wujudnya. "SIAPA KAMU, TUNJUKKAN WUJUD MU!!!" Aku berteriak, entah apa yang aku katakan. Tapi yang jelas itu akan membuat diriku berada dalam masalah.


Sebuah sosok laki-laki, wajahnya pucat pasi. Darah terlihat mengalir dari kepalanya, seolah telah di pukul oleh benda yang sangat keras. Muncul begitu saja, ia memakai seragam sekolah. Dan sebuah rantai yang mengelilingi lehernya.


Sosok laki-laki itu pernah aku lihat di sekolah, lebih tepatnya di kelas. Aku segera mengambil bantal sofa.

__ADS_1


"Untuk apa bantal itu?" Tanya sosok itu terheran-heran.


"Ji-ka ka-kamu men-de-kat aku a-a-kan melem-par ban-tal i-i-ni"  jawabku terbata-bata.


Sosok itu mengangkat tangannya mengarah tepat ke arah ku. Bantal itu terlepas dengan sendirinya dan melayang menjauh dari diriku. Sontak aku kaget, dan melihat kembali ke arah sosok itu.


"Kamu itu sebenarnya apa" Ucapku. Bantal itu tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya.


"Aku ahli sulap" Jawab enteng sosok itu. Aku menyipitkan kedua mataku, seolah aku baru tau ada hantu seperti dia di dunia ini.


"Aku ini sosok laki-laki yang ada di kelas mu. Orang memanggilku hantu penunggu, tapi aku tidak mau di panggil dengan sebutan itu" ucapnya.


Aku menggosok rambutku, "kalau kamu tidak mau di panggil hantu, lalu kamu mau di panggil apa??" Tanya ku


"Namaku Hendra, panggil aku Hendra" ucapnya pelan. Anya terdiam menatap Hendra dari atas sampai bawah. Ia harus benar-benar memperhatikannya, ia benar-benar sosok hantu atau bukan.


"Kamu bisa berdiri, tapi kaki mu gak napak ke tanah. Kamu itu seperti hidup tapi gak bernafas. Kamu bisa bercanda tapi wajah mu pucat kayak nasi" Ketus ku.


Hendra menggeleng tidak percaya, ia seperti salah orang untuk membantunya. "Eh, bukannya kamu yang membuat temanku kerasukan. Beraninya kamu membuat dia seperti itu" tegasku.


Hendra tertawa tapi terlihat sedikit menyeramkan. "Kamu itu anak yang aneh, hantu kok di lawan. Yah emang aku yang melakukan itu, itu semua karena dia berbicara yang tidak sopan terhadap kelas ku" aku terdiam.


Apakah dia baru saja berkata kelasku. "Itu kelas mu?" Tanya ku.


Hendra mengangguk, wajahnya terlihat sedih seolah ia terlihat menangis tapi, tidak ada air mata yang mengalir hanya darah yang terus keluar dari wajahnya.


"Aku tidak bisa membantu dirimu, aku terlalu takut untuk melakukan itu" Hendra berhenti ia menatapku tajam. Kini sosoknya lebih menyeramkan dari tadi.


Aku menelan ludah, lalu menutup kedua mataku. "Kumohon pergilah, aku tidak bisa membantu dirimu" suara bisikan kecil mulai terdengar dari daun telinga.


Aku semakin keras mengucapkannya, angin kencang mulai terasa. Jendela terbuka dan tertutup dengan cepat, membuatku terkejut.


Saat semua mulai terasa sunyi, aku memberanikan diri untuk membuka kedua mataku. Sosok Hendra tidak lagi ada di hadapanku, aku segera berlari menuju kamar dengan cepat.


Aku menatap waktu di jam dinding, masih tengah malam. Sedangkan bermacam-macam suara terdengar di luar sana. Termasuk benda-benda yang jatuh lalu pecah, suara tersebut terus terdengar sampai pukul 3 pagi.


Aku terbangun dengan posisi duduk di atas lantai, sekali lagi aku melihat jam. Sudah pukul setengah 4, aku berdiri dan membuka pintu perlahan-lahan.


Terasa sepi, dan gelap. Aku menghela nafas lega, aku berdiri perlahan. Berjalan dengan perlahan-lahan menuju ruang tamu.


"Lagi mencari aku ya" Aku kaget saat melihat sosok Hendra muncul begitu saja di hadapanku. Tapi kali ini sosoknya tidak menyeramkan dari sebelumnya. Darah tidak muncul di kepalanya, meskipun wajahnya tetap pucat dan dingin.


"Ah lupakan, eh sebentar kamu bakal maksa aku untuk membantu diri mu kan" Ucapku sinis.


Hendra terdiam lalu menoleh ke arah lain, "Yah aku gak pernah memaksa, sebenarnya aku ingin kamu membantu diriku. Tapi aku yakin kamu butuh waktu untuk memikirkannya, jadi yasudah aku pasrah aja" Aku tersenyum kecil.


Dia benar-benar hantu yang sangat aneh, aku berjalan mendekat ke arahnya. "Hendra terimakasih" ucapku pelan.


Dia menoleh dengan cepat, wajahnya terlihat lebih bahagia. Tidak di sangka dari sosok ini, ia terlihat sangat tampan. Entah bagaimana dia bisa menjadi hantu, tapi aku lebih suka dia berpenampilan seperti ini.


"Anya apa boleh aku meminta sebuah pertemanan kepada mu" Aku mundur perlahan.


"Aku mohon, aku sendirian di tempat itu. Beberapa orang sering menggunakan ritual untuk memanggilku. Setidaknya aku bisa berkeluh kesal terhadap dirimu, aku janji tidak akan menyakiti dirimu" Melihat pengakuannya aku tambah bingung.


"Sepertinya aku membutuhkan waktu, karena ini baru bagi diriku" Hendra menunduk, wajahnya terlihat sedih. Setelah beberapa detik ia menghadap lalu mengangguk dan menghilang begitu saja.


Aku menghela nafas berat, sedih ketika melihat seseorang seperti itu. Tapi aku tidak bisa begitu saja menerimanya, mungkin aku akan bertanya kepada kak Dion untuk masalah seperti ini.


××××


Pagi ini aku berangkat lebih pagi, benar-benar sangat pagi. Yah ini semua karena Hendra yang membuatku terbangun.


Aroma-aroma yang sangat menyengat, membuatku harus mulai terbiasa. Kelas IPS berada di lantai 3, beberapa kali aku merasakan ada yang mengikuti diriku.


Aku terus melangkah menaiki tangga, aku terus berpikir bahwa itu Hendra tapi kenyataannya. Itu bukan Hendra, lebih dari yang aku ketahui.


Sampai di kelas, aku segera masuk dan duduk di kursi ku. Segera aku mengatur nafasku yang memburu.


"Ada apa Anya?" Hendra tiba-tiba muncul begitu saja di sampingku. Membuat jantungku berdegup kencang.


"Serius dah, kenapa harus muncul seperti itu" Ucapku kesal. Hendra tertawa kecil, ia berjalan menuju papan tulis.


"Anya tau, dulu ini kelasku. Dulunya kelas ini tidak terlalu bagus, papannya masih menggunakan alat kapur. Tapi sekarang menggunakan spidol hitam. Sayangnya entah mengapa aku terus berada di sini, sendirian. Aku merindukan seseorang Anya, dia tidak pernah muncul di hadapanku. Aku tidak tau ia sudah seperti diriku atau masih berada di sana" Ucapnya sambil menatap papan tulis.


Aku menunduk, ia sepertinya sangat merindukan seseorang yang ia maksud. Tapi aku tidak bisa membantu apapun, aku masih pemula.

__ADS_1


"Hei Anya, sejak kapan kamu bisa melihat makhluk seperti diriku?" Tanya nya dengan penuh penasaran. Ia menghilang lalu muncul dengan cepat di kursi belakang.


Aku menarik nafas lalu menghembuskan nya dengan perlahan. "Sewaktu itu mobil keluarga ku tertabrak oleh sebuah truk, kedua orangtuaku meninggal dunia di tempat itu. Aku masih selamat, aku hanya mengingat teriakan dan tangisan saat kejadian, dan pelukan terakhir dari ibuku. Kata tante ku, aku sempat koma selama 2 bulan. Dan  setelah aku bangun dari koma ku, aku bisa melihat kalian."


Hendra ber- Oh~ panjang. Lalu ia kembali muncul di hadapan papan tulis, aku sempat heran mengapa ia terus-menerus kembali ketempat itu.


Ingin sekali bertanya, tapi kalau aku bertanya maka dia akan terus memintaku untuk membantu dirinya.


"Oh ya Anya, aku kasih tau kamu jangan terlalu sering berangkat terlalu pagi atau pulang terlalu malam dari sekolah ini" Ucapnya sambil mengusap rambutnya.


Aku mengangkat alis "kenapa?". Hendra menghela nafas panjang, lalu ia mengangkat wajahnya "Sekolah ini memiliki banyak penunggu dari pada yang kamu pikirkan, dulu sekolah ini pernah memiliki murid yang sama seperti kamu. Beberapa dari kami meminta bantuan dengan cara yang baik, tapi yang lainnya meneror mereka dengan sangat kejam. Hasilnya banyak yang pindah, bahkan sampai masuk rumah sakit" Jawabnya cepat.


Aku menelan ludah, aku tidak mau masuk rumah sakit. Jika sekolah ini banyak penunggunya, bagaimana dengan rumah sakit. Itu mah lebih banyak lagi, eits salah bukan banyak. Tapi membanjiri rumah sakit.


Jika aku pindah, gak enak juga sama tante. Ia harus bekerja keras untuk membiayai sekolahku ini.


Kring


Suara bel berbunyi sebentar lagi kelas akan di mulai, seperti biasa teman kelasku akan memastikan siapa yang ada di kelas. Jika ada salah satu teman mereka akan baik-baik saja.


Sayangnya mereka tidak tau, kalau penunggu kelas ini adalah Hendra. Hantu yang amat aneh, dan nakal. Aku tetap heran mengapa para hantu lebih memilih menampakkan diri mereka secara tiba-tiba, jika seandainya pelan-pelan mungkin mereka tidak di takuti.


Aku tersenyum kecil saat memikirkannya tapi jangan lah lama-lama. Alasannya hanya satu guru pengajar sudah datang, jika aku melanjutkan senyumku itu maka aku akan dianggap orang gila. Namun lebih buruknya, akan di panggil ke depan.


Pelajaran pertama selesai dengan cepat karena ini masih awal pertama sekolah, lebih tepatnya yang kedua.


Bel istirahat berbunyi, semua orang keluar kelas dan bergegas menuju kantin. Untungnya aku membawa bekal, jadi aku diam di kelas. Walau teman sekelas ku sudah menjelaskan bahwa berbahaya, aku tetap tidak menanggapi mereka.


Karena yang mereka katakan penunggu itu adalah Hendra, entah bagaimana bisa Hendra yang sifatnya seperti itu membuat satu sekolah ketakutan.


Saat istirahat, aku menatap Hendra kebingungan. Dia lebih suka memutari papan tulis berulang kali.


"Hey Hendra, bagaimana kamu bisa menakuti banyak orang" Tanyaku. Hendra tertawa keras, ia membuatku meringis ketakutan.


"Entahlah, aku hanya muncul begitu saja lalu mereka berteriak" Aku mengelus dadaku akan kesabaran diriku.


"Apa kamu pernah berjalan-jalan ke tempat lain selain di kelas ini?" Tanyaku lagi. Hendra mengangkat tangannya, aku masih tidak mengerti.


Lalu ia menunjuk ke sebuah arah, aku segera melihat. Kini kedua mataku melihat teman kelasku yang berdiri di depan pintu kelas. Mata mereka menatap ke arah sekeliling lalu menatap ke satu arah yaitu diriku.


Mereka berlari masuk kedalam lalu menatap diriku dengan tajam. "Oh pantas saja ya, kamu gak takut berada di sini. Penunggu kelas ini adalah temanmu, dasar perempuan bodoh" perempuan itu mengucapkannya tanpa merasa bersalah.


Sebelum aku berdiri, sebuah angin bertiup kencang. Mereka gugup, kedua mataku menatap perempuan itu.


Teman kelasku yang lain berteriak lalu berlari keluar, di kelas hanya ada aku dan temanku itu.


Meja dan kursi tiba-tiba bergerak sendiri, bukannya takut. Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Dia merekam kami di kelas, lalu mengarahkannya ke semua arah.


"APA YANG KAMU LAKUKAN" aku berteriak kepadanya, ia terlihat kesal. Dengan cepat ia mendorong diriku sampai terjatuh, kepalaku terbentur meja di belakangku.


"Hei hantu bodoh, apa kamu bisa muncul saat aku merekam dirimu" Ucapnya. Aku berdiri secara perlahan, rasa sakit terasa di kepalaku.


Sebuah darah muncul di papan tulis begitu saja, perempuan itu mendekat secara perlahan-lahan. Aku berdiri dengan cepat dan segera menahannya, ia menepis pegangan ku.


Suara teriakan yang sangat menyeramkan di susul dengan wajah busuk yang muncul dari papan tulis. Sosok itu masuk ke tubuh temanku.


Aku berteriak "Hendra hentikan", nihil ia tidak mendengarkan. Temanku yang di kendalikan Hendra mengamuk tidak jelas dan terus merobek bajunya. Ia juga membanting dirinya ke arah meja dan kursi.


Dia berlari menuju meja guru, dan mengambil sebuah gunting. Aku membulatkan kedua mataku saat ia berusaha melukai dirinya.


Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan berusaha merebut gunting itu darinya. Sampai gunting itu mengenai telapak tanganku, darah menetes dari telapak tanganku. Aku meringis kesakitan, lalu menatap dirinya dengan tajam.


"Hendra apakah ini jati dirimu sebenarnya" Dia terdiam lalu menatapku. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, lalu sebuah awan hitam keluar begitu saja dari tubuhnya.


Brak


Pintu kelas di dobrak oleh pak satpam, mereka langsung masuk di ikuti beberapa guru di belakang mereka.


Salah satu guru mendekati diriku, ia menatap lukaku lalu beralih menatap mataku.


"Apakah kamu bisa melihat mereka".


.


.

__ADS_1


.


X Fitria chii


__ADS_2