Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
6


__ADS_3

Anya POV•


Pagi ini aku berangkat lebih pagi, karena hari ini aku sedang piket. Sebenarnya setiap hari aku berangkat pagi, itu lebih nyaman dan segar.


Saat aku sampai, sekolah masih sangat sepi, seperti tidak ada nyawa sama sekali. Tapi aura mereka masih bisa aku rasakan, malahan banyak sekali.


Aku berjalan menaiki tangga sampai di lantai dua, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasakan bau menyengat seperti melati dan darah, aku tidak tau mengapa tapi sepertinya tubuhku bergerak sendiri menuju asal bau tersebut.


Sampai di sebuah pojokan lorong, sebuah meja guru tua berada di pojok ruangan. Aku terus menatapnya, hingga sebuah bau busuk membuatku semakin penasaran.


Aku terus berjalan mendekat ke arahnya, sampai aku merasa ada yang mendekat dari belakang. Refleks aku segera menepis tangan itu, tapi ia lebih gesit sampai ia berhasil menggenggam kedua tanganku.


"Heh pendek, ngapain pagi-pagi ada di sini. Gak ada kerjaan banget" suara itu terdengar, aku mengenal suara tersebut. Dia adalah manusia yang membuatku ingin sekali memukulnya menggunakan bola basket, aku menoleh ke atas.


Brian berdiri dengan wajah datarnya, dia menatapku. Aku sudah tau kalau ia pemilik suara itu, kenapa ia berangkat pagi.


"Brian aku sudah bilang namaku bukan pendek, sebutlah aku dengan nama panggilan ku Anya. A-N-Y-A di baca Anya." Ucapku dengan kesal, ia menghempaskan tanganku begitu saja.


"Emangnya aku gak tau, aku sudah kelas 1 SMA" Ucapnya singkat. "Oh ya nanti kamu jangan pulang, kamu dan aku harus ke ruangan basket. Kita harus latihan" lanjutnya.


Aku membuka mataku lebar-lebar, "itu latihan mu bukan latihan ku. Tapi aku sudah berjanji. Bolehkah aku terlambat sebentar" aku tersenyum kecil.


"Buat apa, enggak usah. Aku kurang suka sama orang yang terlambat" ia berkata sebentar lalu berjalan pergi meninggalkan aku sendiri di pojokan.


"Itu manusia hatinya dari batu, kok bisa sih temannya betah" aku berjalan sebentar pergi dari tempat itu, tapi yang membuatku terkejut adalah meja itu bergerak dengan sendirinya.


Aku ketakutan hingga aku berlari dengan cepat menaiki tangga sampai menabrak seseorang, bukannya ia langsung melepaskan ku. Orang itu makin erat memeluk diriku, aku melihat siapa orang itu.


"Adit!" Segera aku melepaskan diri dari pelukannya. Sebelum dia berbicara, aku pergi dari hadapannya dan masuk ke kelas, dia terus mengikuti diriku. Sampai pintu kelas tertutup sendiri, aku melihat sosok Hendra berdiri dan ia terlihat sedih.


"Hendra ada apa?" Tanyaku penasaran, ia tidak menjawab. Angin kecil terasa di kulitku, Hendra mulai menampakkan sosok seramnya. Aku menutup mulutku ketika melihatnya, sebuah cairan berwarna merah kental mengalir menuju diriku.


Dan semuanya pun gelap.


Cahaya terang sedikit demi sedikit muncul, aku melihat sekeliling. Beberapa kotak putih berisi gambaran mengenai masa lalu Hendra.


Tiba-tiba tubuhku tertarik memasuki Sebuah tempat dan terhempas begitu saja, aku berusaha berdiri dan melihat semuanya. Tapi sepertinya tubuhku terasa sangat sakit.


"Papa, Hendra akan menyelamatkan Jinger, doakan saja semoga aku berhasil" Aku melihat seorang laki-laki berbicara dengan anak SMA.


Aku menduga bahwa anak SMA itu adalah Hendra, dan laki-laki itu adalah papanya. Tapi mengapa aku tidak asing dengan papanya Hendra seperti pernah melihat dirinya sebelumnya, tapi dimana?.


Belum sempat aku berjalan ke arah mereka tubuhku tertarik kembali, dan langsung jatuh dari langit-langit ruangan.


"Siapa sih yang melempar aku seperti ini, semoga saja di duniaku aku tidak terluka" ucapku kesal.


Aku terdiam saat melihat Hendra tergeletak di tanah, sempat aku berteriak.


"Sudah aku bilang kita tidak ada waktu, taruh jasad itu di mana saja" kedua mataku menatap seseorang yang menelpon. Dia memegang handphone di tangan kanannya dan sebuah tongkat kasti di tangan kirinya  yang berlumuran darah.


Aku berlari menuju dirinya, tapi tubuhku kembali tertarik. Kali ini aku muncul begitu saja dari atap ruangan dan kali ini aku lebih siap, aku melompat dan mendarat secara perlahan.


"Yes aku berhasil" ucapku dengan senang. Aku melihat sekeliling, dan semua berubah menjadi kelabu.


"Ini adalah kelasku?". Aku terdiam menatap gadis yang sedang menghapus papan tulis. Aku berjalan dekat dengannya, tiba-tiba pintu tertutup sendiri. Aku melompat karena terkejut, dan melihat gadis itu.


Ia mundur ketakutan saat melihat sosok Hendra muncul dari papan tulis lalu merasuki tubuh gadis itu. Hendra atau gadis itu berjalan ke papan tulis dan menulis sesuatu dengan darah.


Aku ada di sini, temukan aku

__ADS_1


Aku diam, gadis itu dengan cepat menoleh ke arah diriku lalu berlari ke arahku.


Aku langsung terkejut, dan nafasku tersengal. "ANYA BUKA PINTUNYA!!!" Riris dan Adit berteriak sambil memukul pintu kelas.


Aku kembali mencium bau busuk dan darah, aku berjalan perlahan menuju papan tulis. Bau itu semakin menyengat, aku terus mendekat sampai jarak nya hanya sebatang hidung saja.


"Aku menemukanmu!" Ucapku pelan.


Segera aku berlari menuju pintu kelas, aku berteriak kepada Riris dan Adit. "Panggil semua guru dan pak satpam cepat!!!" Adit sempat terheran-heran tapi ia segera berlari dan memanggil semua guru dan satpam yang berjaga di depan.


Pukul 8 pagi. Lantai tiga di penuhi oleh murid-murid, sedangkan kelas IPS di penuhi banyak guru atas panggilanku. Mereka terus bertanya kepada diriku, mengapa aku memanggil mereka.


Aku menatap satu persatu guru laki-laki yang ada, dan kini aku berhenti kepada bapak Irwan. Aku pernah melihatnya di memori Hendra, segera aku mendekat ke arah pak Irwan.


"Permisi bapak, anda pernah bertanya kepada saya, apakah saya bisa melihat mereka" Bapak Irwan menatap diriku dengan serius.


"Anya kenapa kamu memanggil guru-guru hanya untuk bertanya seperti itu!" Terlihat pak Imran memberikan tanggapannya. Aku terdiam dan menatap pak satpam, ia melihat diriku dan segera mengangguk.


Dengan cepat kedua satpam itu mengangkat papan tulis kelas. "Pak Irwan, apakah bapak mempunyai anak bernama Hendra" mendengar ucapan ku itu. Pak Irwan terkejut, lalu mengangguk kecil. Terlihat air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Tembok itu segera di bor sampai berlubang. Tiba-tiba bau busuk keluar saat tembok itu di bor. Guru-guru melihat apa yang terjadi, kedua satpam itu mundur karena terkejut saat melihat sesuatu.


Aku berjalan mendekat, di ikuti pak Irwan. Sebuah tulang-belulang manusia selama ini berada di tembok ruangan ini. Sekali lagi pak Irwan meneteskan air matanya.


Tak lama kemudian, polisi datang. Mereka langsung mengatopsi tulang tersebut, semua orang terus bertanya apakah tulang itu adalah Hendra anaknya pak Irwan.


Aku keluar saat polisi menyuruh kami semua. Mereka butuh ruang untuk menyelidiki ini, aku merasa lega saat mengetahui hal ini.


"Wah indigo pemula bisa menuntas hal yang sebelumnya, anak indigo lainnya tidak bisa. Lumayan" aku menoleh ke sumber suara.


Terlihat Brian duduk di samping kelasku, "Brian aku sudah bilang, aku ini cukup hebat" jawabku singkat.


"Ingat kau baru saja menyelesaikan satu masalah dari Hendra, masih 2 lagi" Brian membisikkannya secara perlahan.


Aku terdiam dan menatapnya lalu pergi begitu saja, aku diam tapi hatiku kesal. Meskipun begitu, Brian juga benar. Aku belum mengetahui siapa pembunuhnya, itu berarti hanya satu hal. Aku sudah masuk kedalam urusan ini.


3 jam kemudian seorang polisi datang membawa kabar hasil lab penelitian mengenai tulang manusia tersebut, aku dan para guru termasuk pak Irwan mendengar ucapannya.


"Hasil labnya adalah, tulang tersebut milik saudara Hendra yang tak lain anak dari bapak Irwan dan murid dari sekolah ini. Saya bersama tim saya akan berusaha mencari siapa pelakunya, dan pak saya turut berdukacita atas hal ini. Saya mohon pamit, permisi" Semua guru menunduk dan segera mengucapkan turut berdukacita. Aku menghela nafas lega, saat ini Hendra akan sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Pak Irwan mendekat ke arah ku, ia berlutut di hadapan diriku. Aku merasa tidak enak, akhirnya aku menyuruh dirinya untuk berdiri kembali.


"Anya bapak sangat berterimakasih, sudah lama sekali bapak mencari Hendra. Bapak berharap bisa membalas sesuatu untuk mu" Pak Irwan tersenyum, walaupun di wajahnya masih terlihat kesedihan yang amat mendalam.


Aku tersenyum lalu menggeleng kecil, "itu sudah tugas saya untuk membantu sesama. Bapak saya mohon pamit dahulu" semua guru mengangguk, aku segera pergi dari ruang guru.


Aku terus memikirkan yang di maksud Brian, dia juga benar. Masalahnya belum selesai, pembunuhnya belum di temukan.


Semoga saja polisi lebih cepat mendapatkan pembunuh itu.


Aku berjalan perlahan melewati gerombolan murid yang terus menatapku, tatapan mereka menyakitkan. Beberapa dari mereka berbicara satu sama lain.


Mereka tidak membicarakan penemuan yang aku temukan, melainkan hubunganku dengan Brian. Aku mendengarnya saat mereka berbisik satu sama lain, mereka itu tidak pandai berbisik.


"Permisi dek" seorang kakak kelas berdiri di hadapan ku. Aku terus menunduk dan tidak berani menatapnya, "Kamu Anya kan" dia melanjutkan pembicaraannya.


Aku hanya mengangguk, dia tertawa dengan keras di ikuti teman perempuannya. "Perempuan seperti ini yang Brian pilih, kenapa ia harus memilih dia" ucap dia sambil memegang rambutku.


"Oh mungkin karena ia genit, sok lucu, dan sok keren. Dia kan anak IPS yang menemukan jasad penunggu itu" ucap teman satunya.

__ADS_1


Aku terus menunduk lalu berjalan melewati kakak kelas itu, seolah tidak memperdulikan dirinya. Pertanyaan dalam pikiran ku, mengapa ia tau hubunganku dengan Brian.


"Gak sopan banget sih jadi adik kelas" dia berteriak membuatku kesal, aku menambah kecepatan langkah ku.


Semua murid di SMA 1 diberi jam kosong, tapi bukannya malah beristirahat. Brian menyuruh tim nya untuk berlatih, dan aku pun juga di panggil.


Aku berjalan menuju ruangan basket, saat aku masuk. Banyak anak laki-laki yang menatapku, aku menelan ludah.


"Maaf, kamu tersesat?" Tanya seorang murid dari kelas PKN. Aku berjalan mundur berusaha keluar, saat aku keluar. Aku menabrak seseorang, aku memberanikan diri untuk melihatnya.


Sial


"Kamu mau kemana, ayo cepat" dia memegang tanganku. Lalu menarik diriku mendekat ke arah gerombolan anak laki-laki.


"Brian itu siapa, jangan bilang asisten baru mu" tanya salah satu teman Brian. Ia hanya mengangguk dan satu tim itu langsung membulatkan kedua matanya, aku segera bersembunyi di belakang Brian.


"Hei kalian menakuti dirinya, memangnya kenapa kalau dia asisten baruku. Sudahlah ayo kita lanjut latihannya" Brian melemparkan bola basket ke arah temannya dengan gesit mereka menangkap dan langsung berlari layaknya pemain profesional.


Brian menoleh ke arah ku, tatapannya datar. "Selama kau disini, jangan berbuat ulah dan duduk di sana." Ia kembali memberi perintah kepadaku.


Aku segera berjalan dan duduk di salah satu kursi, aku menatap Brian bermain dengan timnya. Ia terlihat bersemangat dan cara bermainnya benar-benar hebat.


Pantas saja ia di idolakan di sini, aku menatap ke arah jendela, terdapat para siswi perempuan yang melihat mereka bermain. Beberapa dari mereka menyoraki Brian, untuk bersemangat.


"Membuang-buang suara saja" aku mengomel sendiri. Membosankan hanya duduk dan melihatnya bermain.


"Andai ada sesuatu apa saja yang tidak membuatku bosan di sini" timpal ku dengan pelan.


Tak lama aku merasa kepalaku sakit, seperti ada yang memukulnya. Dan saat ini aku merasakan bau asap dan sebuah tembakan pistol. Bau itu sangat menyengat bercampur darah, aku merasa ingin muntah saat ini.


Dengan cepat aku berdiri dari tempat duduk, sayangnya gelap tiba-tiba muncul dan sebuah lingkaran putih bermunculan. Aku mendengar suara tembakan dan sebuah sorakan. Kepalaku terasa sakit aku terjatuh menuju kegelapan.


•Brian POV•


Aku terus menembak bola ini ke keranjang basket, tapi salah satu temanku menunjuk ke suatu arah. Aku masih tetap melemparkannya, dan bola itu kembali masuk ke keranjang. Aku berniat untuk melihat Anya, karena ini sudah sangat lama ia duduk di sana.


Saat aku menoleh, aku merasakan sesuatu. Sebuah sosok laki-laki muncul di samping Anya, ia memegang pistol dan terus memukulkannya ke kepala Anya. Aku menatap Anya yang tiba-tiba ingin terjatuh begitu saja, dengan cepat aku berlari dan berusaha menangkapnya.


Untungnya aku bisa mendapatkan dirinya, semua itu di lihat oleh timku dan para murid perempuan yang menonton latihan kami.


Aku terus berusaha merasakan denyut nadinya, rasa lega kembali karena ia hanya pingsan. Aku menatap sosok itu dengan tajam, ia hanya tersenyum jahat lalu menghilang.


"Pendek sadar" aku terus menepuk pipinya dengan pelan, tapi ia tetap tidak bangun. Aku berusaha merasakan sesuatu dari dirinya dan ternyata benar, ia masih di daerah penerawangan.


Aku kesal dengannya karena tidak menuruti perintah ku, aku berdiri dan segera membawanya ke UKS. Semua tim ku mengikuti diriku dari belakang, aku terus merasakan dia masih berada di daerah itu.


Beruntung sekali, karena UKS sangat dekat dari tempat latihan ku. Aku masuk dan segera membaringkan dirinya di ranjang, badannya terlihat lemas. Sosok itu terlalu jauh membawanya ke daerah penerawangan, tidak ada cara lain selain membangunkannya dengan paksa.


Aku segera mengambil air dan meneteskan air itu ke wajahnya, niatku berhasil. Matanya berkedip beberapa kali, ia terlihat perlahan membuka kedua matanya.


Aku menaruh air itu dan segera memeluknya, ia segera melepaskan pelukannya. Aku membuang muka ke arah lain, entah mengapa tapi aku merasa wajahku terasa sangat hangat.


"Brian bodoh, kenapa juga harus peluk-peluk kayak gitu. Kita di lihat tau oleh orang lain" jawab Anya kesal.


Aku menatapnya dengan datar, ia sangat berani mengatakan diriku bodoh padahal aku sudah menyelamatkan dirinya.


"Tapi Terimakasih" lanjutnya, tatapan itu aku hentikan saat ia mengucapkan terimakasih. Mungkin ia tidak seburuk itu, "hei sudah aku bilang jangan menerawang karena dirimu aku menjadi tidak nyaman dengan timku" aku memarahinya sedikit.


"Aku tidak menerawang sendiri, tiba-tiba saja semua gelap" ia memperjelas perkataannya. Aku terdiam, itu berarti sosok itu hanya ingin menguras tenaga Anya saja. Untungnya ia tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Anya, kalau tidak aku bakal di siksa habis-habisan oleh 3 orang dewasa.

__ADS_1


__ADS_2