
Anya POV
"Apakah kamu bisa melihat mereka".
Aku terkejut saat mendengar ucapan guru itu, bagaimana ia bisa mengetahui bahwa aku bisa melihat mereka.
"Eh sudah pak, ini Anya harus segera di bawa ke UKS" Salah satu guru mendekat. Ia segera membantuku keluar dari kelas, aku menoleh ke arah guru yang menanyakan diriku tadi. Ia masih di kelas menatap sekeliling, namun raut wajahnya terlihat sedih.
×××××
"Halo bu, ini saya ingin memberitahukan tentang Anya. Mohon kedatangannya ya" telepon ditutup.
Aku menghembuskan nya dengan perlahan. Apa tante akan marah, jika ia melihat diriku seperti ini. Aku menatap tanganku yang di perban, suster dari rumah sakit umum itu melakukannya dengan rapi.
"Permisi ibu, bagaimana dengan keadaan teman kelas saya" aku memberanikan diri bertanya kepada ibu yang menjagaku di ruang UKS.
"Oh maksud Anya itu Erin. Ibu gak tau tapi ia sudah di bawa ke rumah sakit, kamu tenang saja ya" Singkat nya.
Hari ini aku mengerti bagaimana sosok Hendra ketika ia sedang mengamuk. Benar-benar menyeramkan, tapi dia seperti itu karena Erin yang memulainya dahulu.
Keheningan terjadi di ruangan ini, meskipun hanya beberapa menit. Itu karena tante Vivin tiba-tiba masuk dan langsung memelukku.
"Ayo bu, dan Anya kita ke ruang kepala sekolah dulu" Guru itu berdiri, dan berjalan keluar di ikuti kami dari belakang.
Saat aku masuk ke ruangan kepala sekolah, aku melihat Om Dion duduk dan berbicara dengan kepala sekolah ku.
"Mari bu" Ucap guru itu lagi. Tante Vivin duduk di samping Om Dion sedangkan aku lebih memilih duduk sendiri di belakang.
"Saya sebagai kepala sekolah, mohon maaf atas kejadian ini. Kami memang sudah melakukan hal spritual kepada hal yang sama, namun hasilnya selalu gagal" Om Dion mengangguk paham, ia berdiri di ikuti tante Vivin.
"Saya permisi dahulu ya pak" pamit om Dion kepada kepala sekolah. Tante Vivin memegang tanganku sambil berjalan mengikuti om Dion.
Aku melihat ke belakang, teman sekelas ku menatap kepergian ku. Bukan hanya itu saja kakak kelas pun juga melihat diriku sampai mereka di bubarkan oleh bapak guru.
×××××
"Anya tante minta tolong, jangan selalu berlari ke arah yang berbahaya. Kalau sudah seperti ini, lebih baik kamu pindah sekolah saja. Tante khawatir sama kamu, dulu memang kamu selamat. Tapi bukan berarti kedua kalinya kamu akan selamat. Tante mohon sekali lagi, tolong jangan melakukan itu lagi" aku diam sambil menatap jendela mobil.
__ADS_1
"Ayolah Vivin, itu bukan kesalahannya" Ucap Dion menenangkan. Vivin mengangkat alisnya.
"Kamu tau kan, aku memiliki hal yang sama seperti Anya. Dan aku sudah melihatnya, itu semua karena gadis itu yang tidak sopan" Vivin memukul pundak Dion.
Dion menoleh ke arah Vivin, ia melihat wajah kesal terukir di wajah kekasihnya itu.
"Anya, tante ingin kamu pindah sekolah saja. Dion akan mengurus tempat yang paling aman untuk mu" Aku menghela nafas kesal. Kenapa aku harus pindah sekolah, kenapa mereka tidak mengerti kalau sekolah itu adalah impianku. Lagi pula aku tidak ingin merepotkan tante Vivin juga.
Suara deringan terdengar dari tas milik tantenya. Dengan cepat tante Vivin mengambil sebuah handphone lalu berbicara dari handphone itu.
"Eh iya pak, saya akan segera ke sana" ucap tante Vivin terakhir. Tante vivin menoleh ke arah ku, aku hanya membuang muka ke arah lain.
Lalu ia kembali menatap kekasihnya, Dion yang melihat rasa khawatir dari raut wajah Vivin pun lalu mengangguk.
Vivin tersenyum lebar, lalu mengucapkan terimakasih. Mobil om Dion berhenti di sebuah gedung, tante Vivin pun segera turun lalu melambaikan tangannya kepadaku dan Om Dion.
Mobil kembali melaju, beberapa kali om Dion menatap diriku. "Anya kita ke taman yuk cari udara segar" Ucap Dion. Dan dibalas olehku dengan anggukan.
××××
"Masih sakit?" Tanya nya. Aku menggeleng. "Kita duduk di sana yuk" Sambil menunjuk kursi dekat pohon.
Aku berjalan secara perlahan, menuju tempat duduk. Sayangnya aku tidak memperhatikan jalan sampai aku terjatuh.
Tapi.....
Kenapa empuk ya tanahnya??. Aku membuka kedua mataku, kini aku melihat seseorang memelukku begitu saja.
Dengan cepat aku melepaskan pelukannya, "Eh anda main peluk-peluk aja!!" Ucapku sebal.
"Dasar, gue tadi nolongin elu. Balasannya malah kayak gini, lagi pula siapa juga yang mau meluk orang kayak lu. Sudah pendek, gendut lagi, mending gua peluk orang gila" ucapannya itu membuatku kesal.
Aku segera berdiri dan berjalan melewatinya dengan cepat, sehingga aku menabrak dirinya sedikit.
Aku duduk di taman sambil menatap ke sekeliling arah. Kedua mataku merasa lega saat melihat Om Dion berjalan kemari sambil membawa 2 es krim.
"Ngantri ya om, kok lama beli nya?" Tanyaku ketika ia sudah sampai.
__ADS_1
"Maaf ya, tadi om ketemuan dengan keponakannya om. Jadi masih bicara sebentar" jawabnya.
"Lah kok gak di suruh kesini om?" Tanyaku sambil mengambil es dari tangannya.
"Oh dia sibuk" Aku berkata oh panjang. Es krim aku santap dengan nikmat, sejak kecil aku sangat suka dengan es krim. Bahkan ayah selalu mengisi lemari es dengan es krim.
"Oh ya, mengenai pindahan mu dengan sekolah. Sepertinya itu tidak boleh terjadi" aku menoleh dengan cepat ke arah om Dion. Aku juga berharap itu tidak terjadi, masalahnya tante sangat ingin aku pindah.
"Bagaimana dengan tante" ucapku pelan. Om Dion tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kamu tenang saja, asalkan kamu ikut membantu oke" aku mulai merasakan rencana yang amat buruk untukku. Entah apa yang di rencanakan Om Dion, apa tante akan mau begitu saja atas bujukannya.
×××××
Malam pukul 8.00
Suara deringan handphone ku terdengar. Aku mengambil handphone ku dan melihat di layar.
"Tante?" Segera aku angkat.
"Halo Anya, tante mau bicara tentang sekolahmu" aku menghela nafas berat, apa om Dion tidak berhasil membujuk tante Vivin.
"Tante, maaf sebenarnya Anya gak mau pindah. Tante tau kan kalau ini sudah takdir Anya, jadi meskipun tante memindahkan Anya ke sekolah lain bukan berarti Anya bisa berubah" aku merasa bodoh mengucapkannya, bagaimana perasaan tante Vivin.
"Anya tante tau, dan tante menelpon bukan untuk memindahkan dirimu. Tapi membicarakan bahwa kamu tidak jadi pindah, sebagai gantinya besok kamu harus menuruti apa yang di katakan tante" Aku ingin berteriak saking senangnya.
"Tante beneran nih, gak bohong kan" Ucapku dengan senang.
"Bener ini loh, tante gak bohong" aku melompat dengan senang hati, mendengar ucapan dari tante Vivin. Tapi lompatan kegirangan itu segera aku hentikan.
Aku mengingat kata-kata tante Vivin, memangnya besok aku di suruh apa sama tante??. Ah sudah lah, pusing mikirin itu.
Aku berjalan menuju kamar dan tidur dengan tenang, walau aku masih penasaran apa yang di maksud dengan ucapan tante.
.
.
__ADS_1
.
- Fitria chii