Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
8


__ADS_3

Brian POV•


Aku terus menatap handphone ku, berusaha menunggu apakah Anya akan menelpon diriku kembali.


Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam, tetap saja tidak ada telepon dari dirinya. Aku melempar handphone ku begitu saja, untungnya handphone ku itu jatuh di atas kasur.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, pikiran ku berkata bahwa mungkin ia sedang tidur.


Tapi entah mengapa aku merasa ia  tidak baik-baik saja, aku menghela nafas panjang. Ingin rasanya mengistirahatkan mata, tubuh dan otakku setelah hari ini yang sangat melelahkan. Sayangnya tidak bisa karena terus memikirkan gadis itu, walaupun ia sangat menjengkelkan.


Aku tidak bisa berdiam diri, segera aku bangun dan mengambil jaket ku di lemari. Aku mengambil handphone dan kunci sepeda motor, lalu bergegas keluar kamar. Saat aku membuka pintu kamar, aku terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapanku.


"Tante Ketryn?" Aku melihat tante Ketryn dari atas sampai bawah, dia tetap terlihat muda dan cantik walau sudah menjadi janda.


"Brian mau kemana malam-malam begini" tanya tante Ketryn. Aku menoleh kanan dan kiri, aku tidak melihat mama.


"Kamu cari mama mu ya" tante Ketryn bertanya. Aku hanya mengangguk kecil, ia tersenyum lalu mengambil handphone nya dan memperlihatkan sesuatu kepadaku.


Aku membaca pesan mama yang terakhir, mama meminta tante Ketryn untuk menjagaku selama ia ada tugas di kota lain.


Aku menghela nafas lagi, jika tante menjagaku ia pasti tidak memperbolehkan diriku keluar rumah.


"Lebih baik kamu tidur, besok kamu sekolah. Dan tante dengar kamu baru saja selesai turnamen, jika kamu keluar maka besok kamu akan sakit" tante Ketryn meninggikan suaranya.


Aku kembali masuk ke kamar dengan malasnya, dan segera membaringkan tubuhku di atas kasur.


Mungkin lebih baik aku langsung menutup mata secara paksa, sambil mendengarkan lagu menggunakan handset.


Dan akhirnya aku bisa tertidur walau kurang nyaman. Mimpiku kembali gelap tidak ada cahaya sedikitpun, untungnya aku sudah terbiasa.


------


Pagi harinya tubuhku terasa sangat sakit, tante Ketryn yang memeriksa diriku tadi pagi langsung menelpon dokter.


Walaupun ia tegas tapi hatinya sangatlah lembut. Sejak kecil ketika aku terluka ia akan sibuk melakukan pengobatan agar aku nyaman dan cepat sembuh.


Aku memejamkan mataku untuk beristirahat, tiba-tiba bayangan Anya terlintas dipikiran ku. Wajahnya sangat sedih, ia kesakitan dan terlihat meminta tolong.


Aku kembali terjaga, dan langsung mengambil handphone ku. Saat ini masih pukul 8, untungnya Reno membawa handphone karena ia akan pulang lebih pagi untuk pertandingan kedua. Semoga saja dugaan ku ini benar.


Aku langsung menelpon Reno, dugaan ku benar. Ia langsung mengangkat telponnya.


"Brian, gua dengar Lo lagi sakit. Semoga cepat sembuh ya"


"Iya makasih banget, eh Reno gua minta tolong boleh" aku memperkecil suaraku.


"Apa sih yang enggak buat sahabat gue yang satu ini"


"Tolong pergi ke kelasnya Anya, kalau perlu buat dia menelpon dengan ku"


"Okelah, santuy. Gua ke sana sekarang". Telpon di matikan. Aku terus-terusan berdiam diri, hanya untuk memikirkan mengenai Anya.


5 menit kemudian, telpon masuk dari Reno. Tanpa harus berlama-lama, aku langsung mengangkatnya.


Aku mendengar suara seperti rasa gugup, "Di mana Anya?" Aku bertanya dengan sedikit meninggikan suaraku.


"Ini aku Adit" aku terkejut saat mendengar suara Adit.


"Kenapa malah kamu yang jawab, ah sudahlah di mana Anya!!" Aku mulai meninggikan suaraku.


"Kita akan membicarakannya setelah aku pulang sekolah, aku akan langsung pergi ke rumah mu"  setelah mengucapkan hal itu, Adit langsung mematikan handphone nya.


Aku menghela nafas berat, mengapa dia mengatakan hal itu. Anya sebenarnya ada apa.


×××××


Di sisi lain, Anya baru saja sadar. Ia berada di ruangan sempit dengan tangan dan kaki yang di ikat.


Pintu ruangan itu pun terbuka, Anya membuka matanya lebar-lebar.


"Kamu kan" laki-laki itu tersenyum. "Sudahlah percuma berteriak, atau melakukan sesuatu. Tidak akan yang bisa mendengar mu".


Laki-laki itu mendekat, ia langsung menatap Anya. "Setelah aku pikir, kamu lumayan cantik" Anya menatap tajam padanya.


Laki-laki itu langsung menekan leher Anya, membuat Anya kesakitan. "Aku tidak suka menyakiti wanita, jadi bagaimana kalau kita bermain-main hanya kau dan aku".


Pintu terbuka dengan cepat, seseorang berdiri dengan tatapan datar. Anya merasa pernah melihat pria itu.


"Kakak di ruangan sebelah wanita itu merasakan sakit di perutnya, sepertinya racun untuk menggugurkan kandungannya sudah berhasil" Anya terkejut saat mendengar ucapan dari pria itu.


"Ah kalau begitu, jaga wanita yang satu ini. Aku akan dengan sangat cepat membunuhnya. Sehingga aku akan lebih fokus kepada wanita ini" Laki-laki melepaskan genggamannya.


Ia langsung berdiri dan berjalan melewati pria di hadapannya. Setelah laki-laki itu pergi, pria di hadapannya mendekati Anya.


Dia duduk di hadapannya, dan langsung memegang wajah Anya.


Anya terdiam kini ia merasakan sesuatu. Anya menutup matanya, ia terbayang wajah Hendra dan seorang wanita dan juga seorang pria di sebuah bingkai foto dengan bacaan best Friend forever.


Ia juga melihat pria itu berdiri di hadapan jasad wanita yang ada di Foto, ia terus mengucapkan "maafkan aku jinger".


Anya kembali membuka kedua matanya, ia menatap pria itu dengan datar.


"Sahabat selamanya bersama Hendra dan Jinger, bukankah kalian itu adalah sahabat mengapa kamu" Anya mulai meninggikan suaranya.


Pria itu terkejut. "Bagaimana kamu bisa tau?". Anya tetap tidak menjawab.


Pria itu menunduk, "Namaku Dava, kami memang bersahabat. Tapi semenjak aku tau kalau Hendra dan Jinger sedang berpacaran. Aku takut kalau mereka akan melupakan ku" Dava tiba-tiba mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


Anya terdiam, ia langsung mendekat dirinya ke arah Deva. "Dava itu namamu kan, aku yakin Hendra tidak akan melakukan hal itu kepadamu. Tapi apa yang kamu lakukan adalah hal buruk, sahabat tidak akan pernah menyakiti satu sama lain. Kamu beruntung memiliki sahabat, sedangkan aku tidak memilikinya sama sekali".


Dava mengangkat kepalanya, ia melihat Anya yang menunduk. "Mengapa bisa begitu?" Dengan berani Dava bertanya kepada Anya. Dalam batin Anya mungkin Dava tidak seburuk apa yang ia pikirkan.


"Aku bisa melihat apa yang tidak bisa mereka lihat. Orang yang sudah tiada, arwah mereka bisa aku lihat. Sayangnya karena hal itu aku tidak pernah memiliki teman" setelah mendengar ucapan Anya, Dava segera berdiri lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil.


Dengan cepat Dava memotong tali pengikat pada tangan dan kaki Anya. Anya mulai bingung apa yang dilakukan oleh Dava sebenarnya.


"Apakah kamu sudah menemukan jasad Hendra?" Dava kembali bertanya kepada Anya.


Anya hanya bisa mengangguk, "bagaimana dengan Jinger?" Dava kembali bertanya, Anya pun menggelengkan kepalanya.


"Baiklah aku akan memberi tau di mana jasadnya, yang jelas kita harus pergi dari sini sebelum kakakku kembali" Dava mengulurkan tangannya kepada Anya.


Dengan ragu Anya memberikan tangannya dan segera menggenggam tangan Dava.


Dava dan Anya segera berjalan menuju pintu, sialnya mereka sudah di ketahui oleh laki-laki itu.


Laki-laki itu berdiri dengan tatapan marah, tangannya terlihat sedang memegang sebuah pisau.


"Dasar bodoh, sahabat mu itu sudah mengkhianati dirimu. Kenapa kamu mau membantu gadis si**an itu hah" Laki-laki itu berteriak.


"Kak sadarlah" Dava berteriak kepada laki-laki itu. Terlihat wajah marah yang meluap-luap pada laki-laki itu, dia mulai menyerang Anya dan Dava. Untungnya Dava membawa pisau juga, dengan sekuat tenaga Dava berusaha mengalahkan kakaknya itu.


Anya berjalan keluar, ia hendak mencari sesuatu. Sampai ia menemukan sebuah tongkat, dengan cepat ia berlari menuju kakak beradik yang sedang berkelahi itu.


Ia memukul-mukul tubuh laki-laki itu dengan kuat, sehingga membuatnya kesakitan. Kondisi itu Anya manfaatkan untuk melarikan diri bersama Dava dengan sekuat tenaga.


Dava dan Anya terus berlari dengan cepat, laki-laki itu tetap mengejar. Saat Anya dan Dava hampir sampai di pintu keluar.


Dor


Suara tembakan terdengar. Laki-laki itu menembakkan peluru dan mengenai kaki kanan Anya, darah mengalir begitu saja. Dava mulai panik, ia berusaha menutup luka pada kaki Anya.


Laki-laki itu berdiri sambil memegang sebuah pistol, ia tersenyum melihat Anya terdiam menatap dirinya.


"Tembakan yang kedua akan pas sekali mengenai jantungmu gadis kecil" Laki-laki itu tertawa keras. Dava mengepalkan tangannya.


"Dava lebih baik kamu bersama kakak" laki-laki itu mengulurkan tangannya kepada Dava. Tapi di tolak mentah-mentah olehnya.


"Lebih baik aku mati dari pada aku terus berada dalam kesalahan yang di buat oleh dirimu!!!" Dava meninggikan suaranya.


Laki-laki itu menunduk, lalu tersenyum.


"Kalian berdua akan mati" Laki-laki itu berteriak. Anya segera mengambil pisau yang ada di saku Dava, segera ia lempar kepada laki-laki itu. Walaupun tidak mengenai dengan kuat tapi itu berhasil membuat pistol yang ia pegang terjatuh.


Dengan cepat Dava mengambil pistol dan langsung menodongkannya kepada laki-laki itu. "Kau ingin menembak kakakmu ini, dasar adik tidak berguna!!!"


"Aku tidak berguna, bagaimana dengan kakak. Apakah dengan kakak membunuh sebuah sahabat, orang yang tidak mempunyai salah, dan adik kakak sendiri kakak akan bahagia" Dava mulai membentak kakaknya itu. Laki-laki itu menunduk, terlihat air matanya mengalir.


Dava berjalan ke arah kakaknya, mereka menatap satu sama lain. Kakak beradik itupun saling berpelukan.


Dan


Jleb


Sebuah pisau mendarat di bagian perut Dava, darah membasahi bajunya. Dava terjatuh, kini laki-laki itu menatap Anya.


"DAVA!!!" Anya berteriak, air matanya mengalir begitu saja. Bukannya bersedih laki-laki itu malah tertawa dengan puas. Ia langsung mengambil pistolnya dari tangan Dava dan langsung menodongkannya menuju Anya.


Dor


Suara tembakan terdengar keras. Anya membuka matanya perlahan-lahan, ia tidak tertembak tapi malah sebaliknya.


Laki-laki itu mengalami tembakan tepat di kepalanya. Ia terjatuh dan darah di mana-mana.


"Anya!!!" Sebuah suara terdengar keras dari belakang. Anya menoleh dengan cepat, ia tidak menyangka kini ia melihat Adit, Brian dan seorang wanita yang memegang pistol.


Brian dan Adit berlari menuju Anya, mereka langsung memeluk Anya dengan erat. "Anya kami khawatir" Brian berkata secara perlahan di telinga Anya.


Suara orang yang terbatuk terdengar oleh mereka semua. Anya, Adit dan Brian langsung menoleh ke sumber suara.


"DAVA" Anya menyeret tubuhnya menuju Dava. Ia berusaha menekan luka pada bagian perutnya. Terlihat bulir-bulir air mata mengalir dan jatuh begitu saja.


Dava melihat Anya yang sedang menangisi dirinya, sebuah senyuman terukir kecil di wajahnya, walau ia terus menahan rasa sakit.


"Anya mendekat lah" Dava menyuruh Anya mendekat. Ia membisikkan sesuatu kepada Anya. Anya mengangguk pelan sambil menangis.


"Aku akan melakukannya, tapi Dava harus selamat" ucap Anya sambil menangis. Dava memegang tangan Anya.


"Aku tidak apa-apa, lebih baik kamu pergi dan segera lakukan yang aku minta. Tolonglah sampaikan saja pada mereka, aku akan sangat berterimakasih kepada dirimu" Dava tiba-tiba melepaskan genggamannya, sontak Anya langsung menggoncang tubuh Dava.


Wanita itu mendekat dan langsung memeriksa Dava. Setelah ia memeriksa, ia menatap Anya sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf Anya, dia sudah tiada" Wanita itu menunduk. Anya menutup wajahnya dengan kedua tangan, Brian yang melihatnya langsung memeluk Anya dengan erat.


"Sudahlah, aku yakin dia sudah tenang" Brian memberikan pelukan yang begitu hangat kepada Anya.


Tiba-tiba Brian merasakan sesuatu, ia melihat ke sekeliling. Brian melihat banyak sosok wanita dengan pakaian lusuh dan wajah yang tampak sekali terlihat sangat sedih dan menderita.


Brian mengerti apa maksud dari itu semua, "Tante Ketryn, di sini banyak jasad" Brian memberitahu kepada Ketryn. Tanpa harus berlama-lama, Ketryn langsung memanggil ambulans dan polisi.


Anya melepaskan pelukannya, "Brian kita langsung ke sekolah. Ada yang harus aku tepati" Brian dan Adit menggeleng tidak setuju.


"Anya kaki mu kan terluka parah, lebih baik kita ke rumah sakit" Adit langsung berbicara.


"Adit, Brian aku mohon. Ini juga permintaan dari Dava" Anya mulai memaksa.

__ADS_1


Brian menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi kamu harus berjanji akan terus di dekatku" Brian memberikan kelingkingnya kepada Anya. Mau tak mau Anya langsung memberikan janji padanya.


"Adit  gua titip Anya sebentar, gua harus mengambil perban di mobil" Brian memberikan Anya secara perlahan kepada Adit.


Brian berlari dengan sangat cepat menuju mobil, ia mengambil kotak P3k dan langsung kembali ke Anya.


Rasa sakitnya tadi pagi, tidak terlalu terasa. Di tempat Anya dan Adit ia langsung memperban luka pada kaki Anya.


"Ayo kita pergi, perban ini tidak cukup membalutnya. Kita harus cepat sebelum lukanya membesar" Brian langsung memberi perintah.


Mereka bertiga langsung menuju mobil, tante Ketryn menyetir. Ia juga sudah menelpon polisi.


--------


Mobil mereka berhenti di gerbang sekolah. Mereka melihat ke dalam sekolah banyak orang yang berkumpul.


Dengan cepat Ketryn turun dan langsung bertanya kepada siswi di sekitar. Setelah Ketryn turun, Brian, Adit dan Anya ikut turun.


"Permisi kenapa ramai sekali" Ketryn bertanya. "Itu kak, ada yang kesurupan" salah satu siswi menjawab.


Brian menatap Anya, tidak ada raut wajah takut sama sekali. Namun Brian bisa merasakan bahwa Anya merasa tidak nyaman.


Brian membantu Anya berjalan secara perlahan menuju lantai dua. Mereka pergi secara perlahan meninggalkan Adit bersama dengan Ketryn.


Mereka berjalan secara perlahan, beberapa siswa dan siswi melihat mereka berdua.


"Anya!!" Dari kejauhan Riris berlari sambil memanggil Anya. Ia terkejut saat melihat kondisi Anya.


"Riris apa yang terjadi" Anya bertanya kepada temannya itu. "Kak steyla dia ngaku bisa melihat hantu, saat ia mencoba berkomunikasi dengan mereka di lantai 2. Yah jadinya malah begini" Brian menepuk dahinya.


"Dasar kakak kelas itu, untuk apa ia melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan" Brian meninggikan suaranya. Anya menatap Brian, wajahnya terlihat sangat kesal.


"Brian aku harus pergi ke sana" Anya berbicara kepadanya dengan tenang. Ia hanya mengangguk dan terus membantu Anya berjalan sampai lantai dua.


Di lantai dua, para guru perlahan-lahan mendekati steyla yang sedang mengamuk. Brian dan Anya berhasil sampai di lantai dua, banyak sekali murid di sana. Kini mereka semua menatap Anya dan Brian.


"Brian, Anya lebih baik kalian mundur" salah satu guru berbicara kepada mereka berdua.


Brian menatap Steyla, ia melihat sosok wanita di tubuhnya. Brian menatap Anya, "Apakah kau bisa melihatnya?" Brian bertanya perlahan.


Anya menggeleng kecil, "aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakannya" Anya menutup matanya.


Steyla perlahan-lahan menuju ke arah Brian dan Anya. Para guru berjaga-jaga, Brian mulai menutup matanya.


Semuanya kelabu, Brian dan Anya masih berada di lantai 2. Tapi semua orang menghilang, "Anya kau baik-baik saja" Brian bertanya kepada Anya.


"Aku baik, seharusnya kamu khawatir akan dirimu sendiri" Anya melihat Brian. Wajahnya berkeringat, bibirnya juga pucat.


Arwah jinger keluar begitu saja dari tubuh steyla. Ia melayang menuju sebuah meja lalu menghilang begitu saja.


Tiba-tiba suasana kembali seperti semula, Anya dan Brian melihat tubuh Steyla yang tergeletak di tanah dan tidak sadarkan diri.


"Pak tolong periksa meja itu" Brian memberi perintah kepada pak satpam yang berdiri sambil menyaksikan kejadian tersebut.


Mendengar apa yang di suruh oleh Brian, ia langsung melakukannya.


Dengan cepat ia memeriksa semua laci, hanya tinggal satu laci tersisa dan laci itu tidak dapat dibuka.


Satpam itu mengeluarkan sebuah obeng. Ia mulai merusak kunci laci tersebut. Dan saat satpam itu membukanya, bau bunga menyengat terasa begitu saja.


Satpam terkejut saat melihat sebuah daging manusia yang di awetkan. Guru-guru mendekat, wajah mereka pucat saat melihatnya.


Anya dan Brian mendekat, mereka melihat jasad yang sangat parah. Sebuah tubuh perempuan yang dipotong-potong kecil lalu di awetkan dan sampai sekarang masih utuh.


Brian dan Anya melihat ke sisi lain, terlihat sosok Hendra dan Jinger sedang berpegangan tangan. Anya mengingat hal satu lagi.


Ia menoleh ke arah Brian, dan langsung di jawab oleh anggukan. Anya mendekat ke tubuh Jinger, di bantu oleh Brian.


"Jinger, aku hanya ingin menyampaikan permintaan maaf dari Dava. Maafkan dirinya, dia memang salah. Dia hanya takut jika persahabatan kalian hancur karena cinta, namun ternyata ia salah. Persahabatan itu tidak pernah bisa di gantikan oleh cinta, setidaknya bagi dirinya kau dan Hendra adalah sahabat sejatinya" Anya tersenyum di hadapan jasad Jinger.


Brian dan Anya kini melihat 3 arwah yang terlihat bahagia. Hendra, Jinger dan Dava adalah sahabat sejati sampai saat ini.


Mereka menghilang bersama dengan cahaya terang, ini adalah pertama kalinya Anya membantu dalam kasus seperti ini. Ada rasa bahagia di dalam dirinya.


Kepala sekolah menghampiri Anya dan Brian, ia melihat penampilan Anya yang penuh dengan darah dan kakinya yang terlihat sekali terluka sangat parah.


"Anya kamu harus pergi ke rumah sakit" Pak kepala sekolah langsung menyuruh Anya dan Brian pulang.


Anya melihat Brian, wajahnya benar-benar terlihat tidak baik. "Bapak bisakah bapak telpon Ambulans" ucap Anya.


"Baiklah" dengan cepat pak kepala sekolah menelpon ambulan. Tiba-tiba Brian mulai terjatuh, ia tidak bisa menstabilkan keseimbangan tubuhnya. Anya ikut terjatuh, sekarang ia terlihat khawatir terhadap Brian.


"Brian, kamu baik-baik saja" Anya mulai merasa khawatir. Brian tetap tidak menjawab, ia berusaha mengatur nafasnya.


Ketryn berlari dengan cepat menuju Brian, wajahnya terlihat khawatir. Para guru langsung membopong tubuh Brian menuruni tangga. Sedangkan Anya di bantu oleh Tante Ketryn dan seorang guru.


Anya dan Brian di bawa ke rumah sakit menaiki ambulan. Anya terus menatap Brian yang terus-terusan berbaring. Ia menatap luka pada kakinya, sakitnya itu tidak terasa saat ini. Ia lebih khawatir kepada Brian.


"Brian aku mohon sadarlah"


.


.


.


-Fitria Chii

__ADS_1


__ADS_2