
Di rumah sakit.
2 pasien bernama Anya dan Brian, kondisi mereka mulai membaik.
Brian terbangun, ia melihat ke sekeliling. Ruangan putih dengan bermacam-macam alat dokter.
Ia sudah yakin kalau dirinya berada di rumah sakit. Di sampingnya terlihat tantenya, Ketryn. Ia sedang tertidur dengan pulas.
Seorang dokter masuk begitu saja, ia melihat Brian yang sudah terbangun. Dengan cepat dokter tersebut memeriksa kondisi Brian.
"Wah Brian sudah pulih, sepertinya Brian bisa pulang sore ini" Dokter mengusap rambut Brian dengan pelan. Ia merapikan alatnya dan pergi secara perlahan.
Brian memanggilnya sebelum melangkah keluar. "Dokter".
Ia menoleh menatap Brian. "Bagaimana keadaan pasien bernama Anya?" Brian bertanya dengan pelan. Dokter tersenyum lebar. "Lucu sekali, 6 menit yang lalu saat saya memeriksa kondisi Anya ia juga menanyakan hal sama terhadap dirimu, dan kini kamu juga menanyakan yang sama juga. Astaga kalian benar-benar cocok satu sama lain".
Brian membuang wajahnya karena merasa malu, dokter hanya tertawa kecil. "Dia baik-baik saja, tapi mungkin ia tidak bisa pulang secepatnya".
Brian menatap dokter itu kembali, "apakah lukanya semakin memburuk?". Ia kembali bertanya, dokter itu menggeleng kecil. "Lukanya akan segera sembuh tapi butuh waktu lama".
'seharusnya aku tidak menuruti keinginannya' dalam hati Brian. "Dokter boleh saya melihat kondisi Anya" Brian bertanya kepada dokter dengan suara pelan.
Dokter menggelengkan kepalanya. "Maaf Brian tapi kamu harus beristirahat, jika sudah waktunya. Barulah kamu boleh melihatnya" Dokter itu berkata dengan lembut, Brian hanya bisa menurutinya.
Ia kembali berbaring menatap langit-langit kamar rumah sakit. Dalam pikirannya, ia terus memikirkan Anya jika sudah terbangun. Dia pasti akan terkejut jika melihat banyak sosok di rumah sakit, beruntung sekali karena dirinya dapat menutup dan membuka mata batinnya itu.
----
Pukul 15.30
Ketryn membantu Brian untuk menyiapkan kepulangannya. Setelah itu mereka berdua langsung menuju ruangan Anya.
Di sana mereka melihat Anya dengan posisi duduk sambil menutup kedua matanya, Brian tersenyum ketika melihatnya.
Ketryn menepuk pundak Brian dengan pelan. Brian langsung menoleh ke arah tantenya itu, "Ehem Tante bakal ganggu nih kalian berdua, jadi lebih baik tante pulang aja dulu" Ketryn tersenyum jahil dan langsung pergi begitu saja.
Brian mendekat ke arah Anya, ia duduk di samping Anya. Brian memegang tangannya secara perlahan.
"Aaaaaaaaaaa!!!!" Anya berteriak begitu saja. Membuat Brian kaget mendengar teriakannya itu.
"Jangan dekat-dekat, aku janji gak bakal makan coklat banyak-banyak kalau kamu berhenti muncul di depanku" Anya berbicara sambil menutup matanya.
Brian tertawa saat mendengar ucapannya. Anya yang mendengar seseorang tertawa, memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.
Manik mata Anya melihat Brian yang sedang menahan tawa sambil menatapnya. "Hantunya pasti tertawa kalau mendengar ucapan mu tadi" ucap Brian sambil mengejek.
Anya menyipitkan kedua matanya, "ini nih hantu yang paling jelek" ucapnya dengan sebal.
Brian tersenyum melihat wajah kesalnya, ia melihat ke arah kaki Anya. Kaki kecilnya itu terbungkus dengan banyak perban, "Bagaimana dengan keadaan mu?" Anya bertanya kepada Brian.
Brian yang mendengar Anya yang bertanya langsung terkejut. "Hei kenapa kamu terkejut?" Anya bertanya kembali.
"Aku kan sudah boleh pulang, itu berarti aku sehat" Brian menjawab pertanyaannya dengan cepat.
Anya melihat pergelangan tangan Brian, ia masih memakai gelang yang ia beli.
Seorang suster masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
"Pasien bernama Anya sudah waktunya Anda makan lalu meminum obat" suster itu menyerahkan bubur itu kepada Anya, dan ia pun langsung menaruh segelas air putih dan sebutir pil putih di meja.
Suster itu permisi lalu pergi, Brian melihat Anya yang menatap makanannya itu.
"Eh pendek, makanan itu untuk di makan bukan di tatap begitu saja" Anya menoleh ke arah Brian.
"Kalau begitu ini untukmu saja, aku tidak ingin memakannya" Anya menyerahkan bubur itu kepada Brian.
"Kenapa??" Brian bertanya kepada Anya. "Aku kurang suka makanan rumah sakit, rasanya hambar" Anya berbicara dengan pelan.
"Hambar-hambar, wajah mu itu yang hambar kalo gak makan" ketus Brian dengan sebal, ia langsung mengambil sesendok bubur dan langsung mengarahkannya menuju Anya .
"Ayo buka mulutmu itu, dan makan ini. Atau aku kasih tau tante Vivin nantinya" Brian mengancam Anya dengan penuh keyakinan.
Ia tau kalau Anya selalu takut jika menyangkut dengan tante Vivin. Anya menyipitkan matanya dan langsung membuka mulutnya. Ia melahap bubur itu walau ekspresi wajahnya terlihat tidak senang.
Butuh waktu lama agar bubur itu habis tidak tersisa. Dan akhirnya Anya mau makan dan meminum obat walaupun Brian harus menyuapinya.
Anya tertidur karena obat itu, Brian terus menatapnya.
"Anya sudah tidur" Brian menoleh ke sumber suara, ia melihat Vivin dan Dion berdiri di pintu.
__ADS_1
Brian mengangguk, ia berdiri lalu menyalami Vivin dan Dion. "Kalau begitu biar tante yang menjaganya, lebih baik kamu pulang bersama Dion" Vivin memeluk Brian. Setelah itu Dion dan Brian keluar dari kamar rawat Anya.
Brian dan Dion segera pulang ke rumah Brian, di perjalanan Dion terus berbicara bersama Brian.
"Sepertinya kamu mulai menyukainya" Dion memecahkan keheningan. "Ah tidak, aku hanya kasihan padanya" Brian menjawab pertanyaan Dion dengan santai
Dion menghela nafas, "seandainya aku bisa segera pulang" Brian menatap Dion yang terlihat bersedih.
"Sudahlah, itu bukan salahmu" Brian berkata kepada Dion. Dan hanya di jawab dengan anggukan.
Mobil itu sampai di rumah Brian, ia segera turun namun Dion tidak. Ia harus kembali ke rumah sakit.
Brian segera masuk ke dalam rumah, mamanya masih berada di luar kota. Sedangkan Brian baru saja mendapat pesan dari tante Ketryn kalau ia dapat tugas dari kantornya.
Brian berbaring di tempat tidurnya. Ia mengingat kejadian tadi, ia sangat bersyukur karena Ketryn yang menjaganya saat ini. Kalau tidak maka Anya tidak akan pernah selamat.
Brian mengingat kata-katanya kepada Anya sewaktu jasad Hendra di temukan.
"Ingat kau baru saja menyelesaikan satu masalah dari Hendra, masih 2 lagi".
Brian mengusap wajahnya, ia berpikir bahwa Anya memang tidak sengaja menyelesaikan kasus itu tapi ia bisa juga terluka.
------------
Anya POV
Pagi harinya.
Semalaman tante Vivin dan om Dion menjagaku, ia terus memelukku walau aku tertidur pulas.
Aku merasa orang yang lemah, berbaring di atas kasur rumah sakit ini. Menatap langit-langit putih, entah berapa banyak nyawa orang yang ada di ruangan ku ini.
Aku kurang beruntung, karena semenjak kemarin aku masuk rumah sakit. Banyak makhluk yang mondar-mandir melewati ruangan ku ini.
Mereka sangat menyeramkan, beberapa dari mereka menatapku dari kejauhan dengan mata mereka yang putih tanpa titik hitam sedikitpun.
Itu bukan sulap atau sihir, itu hantu yang sukanya ganggu orang lagi tidur di rumah sakit. Tak heran kalau anak indigo termasuk om Dion merasa gugup jika di rumah sakit. Tapi sepertinya Brian tidak merasa takut sedikitpun, wajahnya terlihat santai seolah berada di pantai.
Tante Vivin terbangun ia melihatku terjaga. Wajahnya kembali bersemangat dan langsung memelukku kembali.
"Anya kamu sudah bangun, astaga tante sangat khawatir kepadamu" ia berucap sambil memelukku dengan erat, membuatku merasa sedikit sesak.
"Anya sudah bangun, syukurlah" om Dion langsung berdiri dan berjalan menuju diriku. Ia langsung memelukku membuat diriku semakin merasa sesak.
"Om, tante Anya sesak nih" aku berusaha berbicara. Setelah mendengar suara ku, mereka langsung melepaskan pelukannya. Aku terbatuk-batuk, aku berpikir bahwa pelukan itu adalah pelukan pencabut nyawa.
Baru kali ini aku di peluk se erat itu.
Om Dion melihat jam di handphone nya. Ia terkejut dan langsung mengambil jaketnya.
"Vivin, Anya aku berangkat dulu. Maaf gak bisa menemani kalian lama-lama" tante Vivin mengangguk sambil tersenyum.
Om Dion bergegas keluar, ia sepertinya sudah telat untuk bekerja. Aku melihat tante Vivin, sepertinya ia tidak takut terlambat.
"Jangan lihat Tante seperti itu, saat ini tante gak ada pekerjaan kok jadi bisa jagain Anya" tante Vivin tersenyum sambil mengatakannya.
Aku merasa lega dan senang karena tante Vivin yang menjaganya.
××××××
Di sekolah Brian.
Brian berjalan dengan santai menuju kelasnya, beberapa kakak kelas menatap dirinya dengan tajam layaknya serigala yang sedang mengintai mangsanya.
Ia bergegas menuju kelas tanpa harus memedulikan teman-teman di sekitarnya. Tiba-tiba seseorang memanggil dirinya dari belakang, awalnya Brian tidak mempedulikannya, namun semakin lama semakin keras.
Ia pun terpaksa menoleh, dan saat ia menoleh orang itu sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kesal.
"Apa" ucap Brian santai. Adit menatap Brian dengan tajam, "Lo budek, gua panggil-panggil dari tadi gak ada nyaut-nyaut nya".
"Ya ini gua udah bilang apa" ketus Brian dengan cepat.
"Cih" Adit membuang wajahnya, "eh gimana keadaan Anya" Adit bertanya kepada Brian kembali.
"Dia baik, sayangnya ia masih dalam proses pemulihan" Brian menjawab pertanyaan Adit.
"Nah, lo kan sudah tau. Gua mau masuk, dan jangan panggil-panggil lagi. Malas tau kalau lo yang panggil" sambung Brian.
Ia berjalan meninggalkan Adit dengan wajah kesalnya, ia langsung masuk ke dalam kelasnya.
__ADS_1
"Nanti sore Adit mau ke rumah sakit, kalau begitu aku juga akan pergi ke sana" ucap Brian dengan wajah sebal.
Reno masuk ke dalam kelas, kedua matanya melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di kursi paling depan.
Reno berjalan mendekat secara perlahan, ia berniat untuk mengagetkan Brian.
Ketika jaraknya sudah sangat dekat, ia langsung mengagetkannya. "WOY!!!" Reno berteriak sambil menepuk pundak Brian.
Karena terkejut, Brian langsung melompat dari kursinya dan nyaris memukul Reno dengan tangannya. Beruntung sekali ia bisa menghindar, kalau tidak wajahnya akan benjol karena pukulan dari Brian.
"Hei, ini gua" ucap Reno sambil tertawa-tawa terkekeh-kekeh. Brian menatapnya dengan datar, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan sahabat nya itu.
"Brian lo kenapa, kok wajahnya cemberut begitu" Reno bertanya kepada Brian.
Brian hanya menatap wajah Reno dengan datar, lalu tersenyum secara paksa.
"Sudah gua duga, ada sesuatu dengan Lo hari ini" Reno melipat kedua tangannya sambil menunggu jawaban dari sahabatnya itu.
"Reno nanti gua izin ya gak latihan" ketus Brian.
"Eh?" Reno terkejut saat mendengarnya dari Brian.
Ia sangat mengenal sahabatnya itu, sejak SMP ia selalu menjadi satu tim dengannya dan selama itu pun Brian tidak pernah izin ataupun bolos dari latihan.
"Tumben banget, memangnya kenapa?" Reno bertanya kepada sahabatnya itu. Ia sangat penasaran.
"Nanti di kantin gua jelasin" Brian menjawab dengan cepat lalu segera duduk.
Reno duduk di belakangnya, beberapa murid berdatangan dan langsung duduk di meja mereka masing-masing.
Pelajaran kelas IPA di mulai dengan sangat tegang, karena mereka semua lupa kalau hari ini akan ada ulangan Matematika.
-----
Di kantin sekolah
Brian dan Reno sedang makan siang bersama, Reno melihat sahabatnya itu.
"Oh ya, bagaimana dengan kondisi Anya" Brian melihat Reno dengan tatapan datar.
"Dia masih dalam pemulihan" Jawab Brian dengan santai.
"Anya, gadis itu benar-benar seperti mu. Dia tidak peduli akan dirinya sendiri, dan malah membiarkan dirinya jatuh untuk membantu mereka" Brian berhenti menyantap makanannya, ia menatap Reno.
"Brian Lo kan bisa bicara dan melihat mereka, bagaimana kalau Lo coba lihat mereka yang berusaha mendekati Anya. Lo bisa mulai dari tempat ini, karena Lo tau kan kalo kantin adalah tempat yang paling sering didatangi." Lanjut Brian sembari menikmati makanannya.
"Jadi maksudmu itu aku harus membuka mata batinku, dan memecahkan semua masalah di tempat ini begitu?" Ucap Brian dengan cepat. Reno mengangguk lalu kembali menyantap makanannya.
Ia memikirkan perkataan Reno, menurut nya ucapan Reno tidak lah buruk. Lagi pula jika ia melakukannya, Anya tidak akan pernah di ganggu.
Brian memejamkan kedua matanya. Lalu berkonsentrasi, dan saat ia mulai merasakan sesuatu. Dengan perlahan ia membuka matanya, semua terasa berbeda. Brian masih tidak dapat melihat sosok apapun.
Namun kini manik matanya berhenti saat ia melihat anak kecil yang sedang duduk dan terus menatapnya. Brian menatap lanjut anak kecil itu, sosok itu berdiri lalu menghilang begitu saja.
Ia menutup mata batinnya, kepalanya mulai berdengung. Sepertinya kondisinya masih kurang untuk membuka kemampuannya itu.
Reno menatap sahabatnya itu, terlihat wajah penasaran yang sangat berlebihan. "Ada anak kecil, tapi sudah menghilang gua pikir dia bukan ancaman. Jadi lebih baik kita tidak mengganggunya" kata Brian.
"Kalau begitu tempat ini kita katakan bersih, ngomong-ngomong tentang bersih nih. Sebenarnya nanti ada pembersihan sekolah dan peserta pemain basket juga di suruh ikut membantu. Sebenarnya gua curiga Lo gak ikut latihan karena lo tau tentang hal ini" ketus Reno sambil menatap Brian.
Brian menggeleng, ia langsung membisikkan sesuatu kepada Reno, mengapa ia izin hari ini.
Reno segera mundur, ia tersenyum lebar. " Pertama-tama gua minta maaf, karena sudah nuduh Lo seperti tadi. Dan Brian sepertinya lo sedang mengalami rasa cinta deh" kata Reno.
Brian diam seribu bahasa, ia malas menanggapi Reno yang terus mengatakan bahwa dirinya sudah dewasa.
Ketika Reno ingin mengucapkan kalimatnya, Brian membekap mulut Reno dengan cepat. Lalu mereka berdua terdiam.
Reno yang merasa jengkel atas apa yang Brian lakukan, segera melepaskan tangan Brian dari wajahnya.
"Reno jangan berisik, gua tadi mendengar sesuatu?!"
.
.
.
- Fitria chii
__ADS_1