Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
7


__ADS_3

Brian POV •3


Pukul 15.00


Aku berjalan di ikuti Anya dari belakang, ia terlihat terus-menerus menunduk. Aku melihat sekeliling, gerombolan kakak kelas melihat Anya dengan tatapan tajam dan datar.


Aku mendekat ke arah Anya, "aku tau kamu di awasi oleh mereka. Bisakah aku membantu mu" aku berbisik kepadanya.


"Apa maksudmu?" Ia menjawab bisikan ku. Aku tersenyum lalu menggenggam tangannya dengan erat. Seperti dugaan ku reaksi yang di berikan oleh kakak kelas adalah terkejut.


Aku tersenyum kecil saat melihat mobil Om Dion datang menuju kami. Perlahan jendela mobil terbuka.


"Kenapa kalian sangat cocok" Aku hanya tersenyum kecil, tapi Anya tetap terlihat murung.


"Om Dion" Anya mulai mengangkat suaranya. Suara yang sangat berat, seolah ia sedang bersedih.


"Iya, ada apa Anya?" Om Dion menjawab dengan cepat. "Anya hari ini enggak pulang sama Om, Brian pulang saja dulu. Anya masih ada urusan" Om Dion menundukkan kepalanya.


Aku menatap Anya tapi ia tidak menatapku. "Om mengerti, kalau begitu jika ada apa-apa telepon saja Om" Aku terkejut saat mendengar ucapan dari om Dion.


"Brian ayo masuk, Anya akan baik-baik saja" om Dion memperkecil suaranya. Aku hanya menurut dan masuk ke dalam mobil. Kami berangkat, aku membuka jendela mobil.


Aku melihat Anya berjalan ke arah yang berlawanan, beberapa kali anak perempuan itu mendekat ke arahnya. Namun ia tetap diam dan terus berjalan, aku merasa penasaran kemana ia akan pergi.


"Brian sudahlah, Anya bisa jaga diri kok. Tapi ingat jangan kasih tau soal ini kepada mamamu dan tante Vivin" Ia tertawa kecil setelah mengucapkannya.


"Memangnya om tau dia pergi kemana?" Ucapku. "Anya pergi ke pemakaman orang tuanya. Dia sangat kesepian, tante Vivin dan om tidak bisa terus-terusan mendampingi dirinya." Om Dion terus berbicara mengenai Anya sampai akhirnya kami sampai di rumahku.


Aku mengucapkan terima kasih lalu segera keluar dari mobil. Langkah ku terhenti, aku berjalan kembali menuju mobil om Dion.


"Om, Brian boleh minta nomor teleponnya" om Dion tersenyum lalu mengambil handphone miliknya. Dia mengetik sesuatu di handphone nya.


"Sudah, nomer Anya sudah terkirim melalui SMS. Cepet sana ambil pas SMS sampai malam" om Dion tersenyum. Aku memberikan wajah cemberut padanya, ia hanya tertawa lalu kembali menjalankan mobilnya.


Aku berjalan menuju rumahku, mama masih belum datang jadi rumah memang terlihat sangat sepi.


Sampai di dalam, aku langsung membersihkan diri dan mulai mengerjakan tugas sekolah ku. Setelah itu aku menelpon timku untuk persiapan turnamen besok.


Begitu banyak pekerjaan yang harus di lakukan. Mungkin butuh semalaman untuk mengerjakannya. Aku menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 18.00.


Aku mengingat perkataan om Dion, aku mengambil handphone ku dan mencari SMS dari om Dion. Aku melihat nomer dengan bacaan Anya, segera aku menyimpan nomer tersebut.


Aku menulis si pendek pada nomer tersebut, aku masih penasaran apakah dia benar-benar nomer telepon milik Anya.


Aku menekan nomer tersebut, deringan terasa. Tanpa butuh waktu lama, telepon ku terjawab. Dan benar saja seperti apa yang di katakan om Dion, ini nomer milik Anya. Aku mendengar suaranya, dia terus mengatakan hallo tanpa aku jawab sedikit pun.


Aku mematikan telpon kami. Aku yakin dia pasti sedang mengumpat kasar. Mungkin aku harus mengirim pesan singkat kalau aku adalah Brian.


Aku menuju pesan, dan menulis kata-kata yang benar-benar singkat. "Ini aku Brian" dan langsung mematikan handphone ku.


Aku mulai menutup kedua mataku, dan berusaha menikmati sebelum rasa lelah di hari esok tiba.


×××××


Pukul 6.00


Hari ini aku ada turnamen di sekolah lain, jadi aku akan izin ke sekolah sebentar lalu berangkat bersama tim ku menuju sekolah tersebut. Bapak pembina menyuruh kami untuk berkumpul di sekolah pukul 8, tapi aku berangkat pagi untuk pamit ke kepala sekolah sekalian menemui pendek, eh maksudku Anya.


Sampai di sekolah aku segera menuju ruangan kepala sekolah, ia terlihat baik sampai ia menyemangati diriku dan timku. Setelah dari ruangan kepala sekolah, aku bergegas menuju kelas IPS untuk bertemu dengan pendek.


Sampai di sana aku melihat dirinya duduk dengan 2 orang, salah satu dari mereka aku mengenalnya, dia Adit. Aku merasakan rasa cemburu di hatiku, dengan cepat aku menarik pendek sampai ia jatuh ke pelukan ku.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukan itu saat aku merasakan kesal dari dirinya. Adit dan anak perempuan itu berdiri, terlihat wajah kesal pada Adit sedangkan pada anak perempuan itu terdapat pada rasa kagum.


"Brian ngapain Lo kesini!!" Ucap kesal Adit padaku, sebelum aku menjawab anak perempuan itu langsung memukul pundak Adit sampai ia kesakitan.


"Eh kamu Brian kan, kenalin nih aku Riris temannya Anya. Aku ngefans banget sama kamu" kata anak perempuan yang bernama Riris itu. Aku hanya mengatakan oh panjang menanggapi dirinya.


Pendek menarik tangan ku membawa diriku ke pojokan. "Ish tiang ngapain di sini. Gak takut murid yang ngefans banget sama Lo ngejar lagi, lagi pula ngapain coba kayak gituan. Untung banget gak ada guru atau murid lain" ucap Anya kesal.


"Eh pendek ngapain kamu deket-deket sama Adit" jawabku tak kalah kesalnya dengan dia.


Dia menoleh ke arahku lalu terlihat wajah iseng. "Tiang cemburu ya!".


Aku membulatkan kedua mataku lalu membuang wajahku ke arah lain, "ngapain juga aku cemburu, idih pede banget sih jadi orang" ketus ku.


Ia tersenyum lebih lebar, lalu menyilangkan kedua tangannya. "Terus ngapain ke sini?" Tambahnya lagi.


"Ehm aku hanya ingin berbicara kepada mu, aku nih mau berangkat ke turnamen di sekolah lain" ucapku.


Anya hanya mengatakan oh panjang lalu berjalan mendekat ke arah ku. "Semoga berhasil" ia membisikkan itu kepadaku membuat wajahku memanas.


Anya mundur lalu berjalan menuju Riris dan Adit, aku melihatnya begitu bahagia. Senang rasanya ia seperti itu, walau harus dekat dengan Adit. Aku tidak tau bagaimana bisa aku cemburu, yang jelas tujuanku adalah menjaga Anya dari siapapun. Aku memang tidak berniat untuk mencintai dirinya, aku hanya ingin menjaganya.


Aku berjalan dengan cepat pergi dari lantai satu sampai seseorang memanggilku dari belakang, aku menoleh dan melihat siapa itu.


Aku melihat Anya berlari sambil memegang sesuatu, ia tampak bahagia dan kelelahan.


"Ada apa pendek" ucapku jahil, Anya menunjukkan wajah cemberutnya. Ia menarik tanganku dan memasangkan sesuatu, sebuah gelang dengan huruf A yang menggantung.


Aku mengangkat alisku sambil bertanya-tanya pada dirinya, "apa ini?" Tanyaku.


Ia hanya tersenyum lalu mengangkat pergelangan tangannya, ada gelang yang sama dengan huruf B yang menggantung.


"Anya untuk Brian dan Brian untuk Anya, bagus kan." Dia mengatakan itu sambil tersenyum, aku tidak menyangka perempuan ini bisa membuatku seperti ini.


Aku hanya mengangguk saat melihat wajah datarnya, gadis ini memiliki 2 wajah pribadi, dia bisa sangat lucu dan menggemaskan tapi ia juga bisa menyeramkan melebihi mama yang marah karena aku mendapat nilai kecil.


"Ya, iya makasih" ucapku cepat, aku mendekat ke arahnya lalu melihat kanan-kiri. Dengan cepat aku mengecup keningnya, membuat ia terdiam kaku.


Aku berlari meninggalkan dirinya sendiri, dia tetap terdiam menatapku berlari menjauh.


×××××


Anya menutup wajahnya karena malu atas perbuatan Brian tadi yang secara tiba-tiba, untungnya tidak ada yang melihatnya. 


Ia berjalan pergi, namun langkahnya terhenti. Karena Riris berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam menatapnya.


"Riris aku bisa jelasin" Anya berusaha menenangkan Riris yang masih menatap dirinya dengan tajam.


Anya memegang tangan Riris lalu menariknya menuju taman sekolah, sampai di sana Anya memastikan bahwa hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Ris kamu jangan marah ya, aku dengan Brian hanya teman biasa kok". Anya berusaha menjelaskan kepada Riris tentang hubungannya dengan Brian. Ia tidak ingin Riris tahu kalau Brian dan dirinya sedang di jodohkan, dia takut temannya ini akan sakit hati. Anya melihat Riris.


Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya dan meninggalkan Anya sendiri, ia pergi begitu saja.


------


Pukul 15.00 (pulang sekolah)


Anya berjalan perlahan menuju gerbang sekolah, tidak ada Brian yang menemaninya. Om Dion hari ini juga sedang sibuk begitu juga Tante Vivin. Terpaksa ia harus naik angkot.


Anya melihat ke arah kanan dan kiri, ia mengeluh kesal karena masih belum ada angkot yang datang.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, banyak murid yang sudah pulang. Sekolah sepi hanya tertinggal Anya sendiri di gerbang sekolah, ia masih mengeluh karena masih tidak ada angkot yang datang.


Anya menoleh ke beberapa arah, sampai kedua matanya melihat seseorang yang terlihat mencurigakan masuk menuju sekolahnya.


Anya terus menatap orang itu, sampai kepalanya mulai terasa sakit. Anya memegang kepalanya, penglihatan Anya terus mengurang sampai semuanya gelap begitu saja.


Suara jantung berdetak kencang, suara petir juga terdengar keras. Anya terbangun, namun ia sadar bahwa dirinya tidak berada di masanya. Anya sadar bahwa dirinya berada di masa lalu, yang masih berlokasi di sekolahnya.


Seorang laki-laki berlari sambil membawa pemukul kasti menuju lantai 2, raut wajahnya terlihat sangat marah dan kesal akan sesuatu.


Anya berlari mengikuti laki-laki itu, ia terlihat Familiar dengan dirinya. Seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat.


Anya terus mengingat sosok laki-laki itu, dia terus mengingat sampai akhirnya ia mengetahuinya.


"Hendra!!!" Anya berteriak. Ia sekarang mengerti bahwa dirinya saat ini berada di masa Hendra meninggal.


Hendra berhenti di bagian pojok lantai 2, di hadapannya terlihat 2 anak laki-laki dan 1 orang wanita.


Kedua mata Anya melihat, wanita itu memiliki banyak luka, seolah ia benar-benar tersiksa. Sedangkan kedua laki-laki itu salah satu dari mereka pernah Anya lihat, laki-laki itu tersenyum di hadapan Hendra.


"Ternyata benar ya, kalau sudah mencintai, seseorang akan berkorban. Nyawa rela mereka korbankan hanya untuk kekasihnya" laki-laki itu mendekat ke arah wanita itu.


Anya membulatkan kedua matanya, "kekasih?!" Ucap Anya. Hendra tidak ambil diam ia dengan cepat memukul laki-laki itu dengan tongkat kasti nya, darah terlihat mengalir di wajahnya.


Karena kesal laki-laki itu mengejar Hendra sambil memegang pisau, Hendra refleks berlari menuju lantai tiga. Anya berhenti menatap wanita itu dan seorang pria yang masih memegang dirinya. Wajah pria itu ia benar-benar pernah melihatnya.


Anya kembali berlari mengejar Hendra dan laki-laki itu, sampai mereka berhenti di sebuah kelas yaitu kelas IPS.


Anya berlari mengikuti mereka sampai masuk ke dalam kelas, sayangnya Anya melihat cahaya putih dan ia kembali ke masanya.


Anya membuka matanya secara perlahan, kini ia melihat seseorang berada di hadapannya. Anya mundur secara perlahan, "kamu pembunuh itu kan" ucap Anya secara cepat.


Orang itu mengangkat alisnya, dia tidak mengerti apa yang di maksud dengan Anya.


Anya segera berdiri ia menatap laki-laki itu, sebelum Anya berjalan pergi. Laki-laki itu berdiri dan menatapnya.


"Apa maksudmu tadi!" Dia memegang tangan Anya, Anya yang melihat tangannya di pegang menjadi panik.


"Kamu yang membunuh Hendra!!" Ucap Anya sekuat tenaga. Laki-laki itu membuka matanya lebar-lebar, ia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.


Laki-laki itu menarik Anya ke sebuah mobil, Anya berusaha melawan. Ia menggigit tangan laki-laki itu lalu berlari secepat kilat.


Anya terus berlari sampai dia melihat mobil laki-laki tadi berhenti di hadapannya. Anya mundur beberapa langkah, tapi ia malah terjatuh. Laki-laki itu dengan cepat keluar dari mobil, ia berjalan menuju Anya yang berusaha berdiri.


Anya segera berdiri tapi tangannya kembali di pegang. Anya menoleh ke arah laki-laki itu, tanpa Anya sadari laki-laki itu memegang sebuah kain.


Dengan cepat ia membekap mulut Anya, beberapa kali Anya memberontak. Sayangnya usahanya tidak berhasil, ia berhasil di lumpuhkan oleh obat bius yang ada pada kain tersebut.


Laki-laki itu membawa Anya menuju mobil, ia langsung mengendarai mobil tersebut menuju ke suatu tempat.


--------


Di sisi lain Brian terus merasa khawatir terhadap Anya, ia segera mengambil handphone nya dan mulai menelpon Anya. Wajahnya terlihat khawatir saat ia mengetahui nomor tersebut tidak dapat dihubungi.


"Anya kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku".


.


.


.

__ADS_1


Fitria chii


__ADS_2