Story Indigo: Separuh Jalan Ku-

Story Indigo: Separuh Jalan Ku-
5


__ADS_3

Kami masih berada di kantin, aku merasa takut saat ini. Tapi jika aku memperlihatkan ketakutan diriku kepada tante Maya dia akan khawatir.


"Tante sangat sedih ketika mendengar kabar itu Anya, tapi kamu jangan terlalu sedih" aku mengangguk kecil, rasanya senang melihat Tante Maya ada di sini. Bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya.


"Sebenarnya Tante bertemu dengan Vivin kemarin, dan sempat berbicara tentang kalian berdua" aku mengangkat alis ku.


"Maaf tante, maksudnya kalian berdua?" Ucapku dengan sopan. Tante Maya tertawa kecil, lalu ia memelukku perlahan.


Tiba-tiba anak laki-laki berjalan perlahan ke arah kami. "Sayang untung kamu di sini, ayo duduk ada yang mau mama bicarakan".


Aku menoleh untuk melihat dengan siapa Tante Maya berbicara. Saat aku melihat, aku terkejut. Laki-laki yang sama dengan orang yang berada di taman dan di kelas tadi pagi.


"KAMU!!" Kami berdua berteriak bersamaan. Tante Maya yang melihat kami berucap bersama, tersenyum "lihat kan kalian pantas untuk di jodohkan".


Aku terkejut begitu juga laki-laki itu. "Ma aku ternyata di jodohkan oleh dia. Gak salah ma?" Ketus laki-laki itu.


Aku menoleh lalu menatap dirinya tajam, "Brian kamu tuh yang sopan sama Anya, ini bukan hanya permintaan dari mama. Tapi juga dari orang tuanya Anya, termasuk Tante Vivin dan Om mu itu Dion." Aku terdiam setelah mendengar ucapan dari tante Maya.


"Tapi ma, aku mau fokus sama turnamen basket" Brian mengeluh kepada tante Maya. Tante Maya menyilang kan kedua tangannya dan menatap Brian dengan tajam.


"Eh siapa juga yang nyuruh kamu nikah sekarang, kalian itu deketan seperti pacaran baru nikah deh kalau sudah lulus kuliah tentunya." Ucap Tante Maya singkat.


Aku menunduk, sekarang aku mengingat apa yang di maksud dengan Tante Vivin dan Om Dion. Kenapa mereka tidak memberitahu diriku sebelumnya, kalau ceritanya seperti ini aku mah pindah aja. Tapi kalau aku pindah bagaimana nasib sekolah ini, ribet dah nasibku.


"Eh mama mau pergi, Brian kan sudah janji bakal jagain jodoh kamu waktu itu. Nah karena kamu sudah tau, Anya harus kamu jagain ya. Mama dengar dari Om Dion ia sering terluka di sekolah ini, awas kalau dia terluka. Mama akan membuat kamu menjadi telur gulung nantinya!" Ketus Tante Maya.


Aku terkejut mendengar kata-katanya, kenapa harus aku yang di jagain. Haduh menyebalkan ini mah, namanya om Dion nyewa bodyguard buat aku. Kalau bodyguard nya bapak-bapak sih gak papa tapi ini anak laki-laki seumuran diriku lagi.


Tante Maya pergi dari hadapan kami, ia sepertinya menuju ke ruang guru. Baguslah itu berarti aku harus ke kelas, dengan cepat aku melangkah pergi keluar dari kantin.


Tapi nasibku bertemu dengan orang ini memang membuatku kesal. Dia terus mengikuti diriku, terpaksa aku pun berhenti.


"Maaf ya Brian bisakah anda berjalan tanpa mengikuti diriku" ucapku kesal. Brian melipat kedua tangannya, "emangnya gua mau ngikutin elo, Lo itu kalau jalan lama karena Lo itu pendek. Makanya main basket, biar tinggi" Aku menepuk dahi ku, ini mah penghinaan. Dia bilang aku pendek, mentang-mentang dia itu tinggi.


"Ah sudahlah gak usah ikutin aku terus, malas rasanya. Mendingan balik sana ke kelas mu itu, aku mau balik ke kelasku" ucapku singkat.


Sebuah angin kecil bertiup di samping telingaku, pertanda bahwa seseorang ada di sini.


"Butuh bantuan nih" suara Hendra terdengar dari belakang ku. Aku menoleh secara perlahan, dan ternyata benar. Ia muncul di belakangku.


"Eh Hendra sejak kapan Lo berteman sama pendek?" Brian berbicara. Aku segera menghadap ke arahnya, "kamu bilang aku pendek!" Ucapku kesal.


Tapi niat marah-marah ku berhenti, aku mengingat sesuatu. "Eh kamu bisa lihat Hendra?" Tanyaku. Bukannya di jawab ia malah pergi begitu saja, meninggalkan aku dan Hendra sendiri.


Gak sopan anaknya, gak bilang permisi lagi. Aku melangkah menuju kelas di dikuti Hendra dari belakang, ia terlihat khawatir saat menaiki tangga menuju lantai 3. Seolah ada sesuatu dan diangkut dari masa lalu.


×××××××


Hari ini sangat melelahkan, aku masih bingung dengan pelajaran IPS. Meskipun aku anak IPS, dan aku juga sudah tau kalau aku itu di jodohkan.


Seperti biasa aku menunggu di pagar sekolah, untuk menunggu angkot. Akhir-akhir ini angkot itu jarang lewat entah mengapa.


"Anya" seseorang memanggil namaku dari belakang, aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggil.


Adit berjalan menuju arah ku. "Anya kita bareng yuk pulangnya" ucapnya dengan cepat. Aku menggeleng, tapi seolah ia tidak menggubris gelengan ku. Adit langsung menarik tanganku begitu saja.


"Eh Dit, aku naik angkot saja" aku terus mengulangi perkataan ku, tapi ia tidak mau melepaskan tanganku begitu saja.


"Anya aku mohon masuk ke mobil" Adit mulai terlihat memaksa. Aku masih tetap menggeleng sambil mencoba melepaskannya.


"Ayo masuk ke mobil ku, aku janji gak nyakitin kok" ucap Adit lagi. Aku masih tetap menggeleng, kenapa ia terus memaksaku.

__ADS_1


Sebuah tangan tiba-tiba memukul tangan Adit, sehingga membuat ia kesakitan. Aku melihat siapa dia yang telah menolongku.


Brian, kenapa harus dia. "Eh ikut campur aja, ini urusan gua dengan Anya. Lo itu siapa sok ikut-ikutan" Ucap Adit tegas.


"Maaf Lo nyakitin pacar gua" Aku terkejut saat mendengar ucapan Brian begitu saja. Pacar??, Sejak kapan.


"Anya kamu sudah punya pacar, tapi aku sudah mengucapkan isi hatiku kepadamu" Adit terlihat kecewa. Aku menunduk, merasa tidak enak.


"Lo bilang isi hati Lo doang, Anya kan gak bilang isi hatinya. Lagi pula gue dan Anya sudah pacaran karena kami saling mencintai" Brian memberikan penjelasan yang membuat Adit bungkam. Tapi bukan hanya Adit aku juga bungkam.


Adit masuk ke dalam mobil, sambil membanting pintu mobilnya. Tak lama kaca mobil itu terbuka, "Anya sampai kapanpun gue mencintai lo. Dan gue bakal ngelakuin apapun demi mendapatkan Lo" Adit menutup kaca mobilnya kembali lalu mobilnya melaju dengan cepat.


Aku menatap mobilnya berjalan, tak lama kemudian. Mobil putih berjalan menuju ke arah kami.


Mobil itu berhenti di hadapan kami, Brian berjalan dan membuka pintu mobil itu. Aku pikir ia akan masuk tapi ia malah berdiri sambil menatapku, "eh pendek malah bengong aja, ayo masuk ke mobil" aku melongo mendengar nya.


Pendek katanya?. Memangnya aku sependek itu ya sampai di bilang seperti itu. Kaca mobil yang di depan terbuka, aku melihat Tante Vivin dan Om Dion duduk di depan.


"Anya ayo kita pergi, jangan nolak pacarmu itu." Tante Vivin tersenyum lebar, kenapa aku harus mendapat nasib seperti ini.


Aku berjalan masuk ke dalam mobil, di susul oleh Brian. Mobil kami pun berjalan menuju ke sebuah tempat.


"Kafe?" Ucapku. Tante Vivin menoleh, di ikuti om Dion. Mereka tersenyum lalu melihat ke arah Brian, aku ikut meliriknya.


"Apa?" Tanya Brian datar. "Maksud Tante dan om itu sekarang?" Lanjut Brian. Aku masih bingung apa yang di maksud dengan mereka bertiga, yang jelas kami berdua di turunkan di kafe ini.


Brian berjalan lebih dulu masuk menuju kafe, di ikuti aku dari belakang. "Pendek ayo cepetan, lama banget sih jadi orang" ejek Brian. Aku menunjukkan wajah kesal padanya dan ia hanya terkekeh kecil.


"Memangnya untuk apa kita ke sini?" Tanyaku, Brian berjalan menjauh. Ia tidak menjawab pertanyaan dari ku.


Aku lebih memilih menunggu di luar, dari pada masuk ke dalam bersama dia. Tiba-tiba kedua mataku melihat perempuan berjalan secara plin-plan di bagian seberang, ia terlihat mabuk.


Sebuah mobil tiba-tiba muncul dari perempatan dengan cepat, perempuan itu sebentar lagi akan di tabrak. Aku berlari dengan cepat menuju tempat wanita itu, sebelum aku menyebrang tanganku di tarik oleh seseorang sehingga aku terjatuh.


Aku memberanikan diri untuk melihat, dan hal yang mengejutkan terjadi. Jalanan itu bersih, tidak ada darah, mobil itu sudah lewat begitu saja. Aku terheran-heran apakah perempuan itu hantu


"Pendek, malah bengong" aku menoleh ke belakang. Kedua mataku menatap mata yang hitam pekat, kedua mata kami bertemu dengan satu tatapan.


Aku berdiri dengan cepat, dan berjalan ke tempat wanita yang aku lihat. Dugaan ku memang benar, aku merasakan bau alkohol, dan darah.


"Hey pendek bukannya bilang makasih, malah pergi begitu saja. Nih sampai minuman ku tumpah lagi" aku melihat Brian, minumannya tumpah dan tidak tersisa di botolnya.


Aku berjalan mendekat ke arah Brian, dan berusaha membantunya tapi ia menolak dengan mentah-mentah.


"Maaf aku gantiin deh minumannya" ucapku berusaha meredakan amarah. Brian menatapku dengan wajah kesal, namun ia hentikan saat ponselnya berdering.


Ia berjalan menjauh dari ku untuk mengangkat telepon, sedangkan aku kembali ke tempat itu. Aku mulai merasakan gelap di sekitar ku, tapi sayangnya belum gelap itu semakin pekat. Brian menepuk pundak ku dengan keras, sehingga aku kesakitan.


"Jangan coba-coba membuat masalah dengan kemampuan indigo mu itu, ingat kamu itu pemula" Ucap Brian datar.


Aku menoleh ke arah lain, Brian hanya menggeleng karena sifat ku. "Eh pendek, kamu tau aku sudah membantu dirimu 3 kali. Jadi kamu harus membalasnya" Aku menganga saat mendengar ucapannya.


"Kamu harus mau menjadi asisten ku" Ucap Brian. Aku menatapnya dengan pandangan kesal, terlihat seperti penyiksaan menjadi Asisten nya.


"Apa yang membuatmu berpikir aku pantas menjadi asisten dirimu, aku gak terlalu ngefans banget sama orang kayak kamu" ucapku datar.


"Justru karena itu, lebih baik kamu terima atau aku batalkan perjodohan kita. Memangnya kamu mau Tante Vivin kecewa, apa lagi mamaku dan Om Dion" jawabnya cepat. Aku merasa kesal dengannya, ia membuatku harus memilih pendapatnya.


"Ya deh, terserah" ucapku singkat, dan di balas dengan anggukan kecil.


Brian memegang tanganku tapi langsung aku tepis, "aku bisa jalan sendiri".

__ADS_1


"Pendek lihat dulu di depan, mobilnya om Dion berjalan kemari" aku menoleh sesuai dengan ucapannya. Mobil om Dion berjalan perlahan kemari, aku terdiam.


Mobil itu berhenti tepat di hadapan kami, kaca mobil terbuka perlahan. "Hei bagaimana acara kecil kalian?" Om Dion bertanya sambil tersenyum.


Aku tersenyum kecil, "baik kok om" aku mengucapkan kata yang berbanding terbalik dengan isi hati. 'buruk banget'.


×××××××


Sampai di rumah, aku langsung beristirahat di atas kasur. Seperti malas untuk bangun dan mengingat kejadian tadi, yang jelas ia menyuruhku untuk menjadi asisten nya. Tapi tidak ada cara lain, tiba-tiba aku teringat sesuatu.


"Brian bisa melihat Hendra, dia juga mengenalnya. Apa itu berarti Hendra dan Brian sudah bertemu sebelumnya dan Brian itu benar-benar bisa melihat mereka"


••••


Brian POV


Lelah rasanya, kenapa juga gue dapat jodoh seperti pendek. Dia itu nyebelin, suka mengambil tindakan secara tiba-tiba tanpa berpikir dahulu. Apa lagi setelah aku tau kalau ia memiliki kemampuan Indigo juga, ini sama saja aku mengasuhnya.


Heran banget deh sama Adit, kenapa ia mau sama cewek seperti Anya. Ah lupakan saja, setidaknya ia mau menjadi asisten ku.


Aku berjalan menuju kamar tidurku, saat suara dari ruang tamu membuatku terkejut. Aku mendengar kan suara mama dan suara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.


Aku berusaha mengintip dari tembok dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Maaf aku tidak akan pernah memberikan informasi pada dirimu!" mama menegaskan kepada orang itu. Laki-laki itu terlihat tidak senang, ia menggenggam tangan mama dengan kuat. Sehingga mama kesakitan, aku berlari dan segera memukul laki-laki itu. Membuat laki-laki itu terjatuh lalu menatapku dengan matanya itu, aku mencium bau alkohol yang sangat menyengat pada dirinya.


Laki-laki itu berdiri lalu berjalan perlahan menuju pintu, ia mengusap bibirnya yang berdarah dan segera pergi begitu saja.


Sebuah pelukan hangat datang begitu saja dari belakang, aku memeluk mama yang merasa ketakutan sehingga mengeluarkan air matanya.


Mama berhenti memelukku lalu berjalan perlahan ke sofa, ia duduk dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Ma dia siapa, maaf tadi aku mendengar ucapan kalian" Aku memberanikan diri bertanya, mama menoleh kepadaku. Air matanya masih mengalir membasahi wajahnya.


"Dia adalah sahabat mama dan Ibunya Anya ketika kami masih SMA, ia adalah pembina kami. Dulu mereka sempat pacaran, tapi ia malah mencintai mama. Dan saat mama menolak cintanya dan malah menikahi papamu, ia marah dan terus meneror mama dan papamu sampai mama kehilangan kakakmu di kandungan. Karena hal itu, papa mu membawa dia ke kantor polisi. Setelah beberapa tahun ia kembali bebas, bukannya ia menjadi baik. Ia berganti menaruh perasaan kepada ibunya Anya, sampai ia mendengar bahwa ibunya Anya menikah. Rasa hancur kembali terasa, ia mulai meneror keluarga Anya. Dan sampai saat ini, ia terus mencari informasi mengenai mereka" mama mengakhiri ceritanya. Aku tidak bisa bicara lagi, aku tidak tau bahwa pendek memiliki ancaman hidup yang sangat dekat.


"Brian bisakah kamu menolong mama, lindungi lah Anya. Dia satu-satunya anak yang tersisa dari keluarga sahabat mama. Tante Vivin hanya anak angkat dari nenek Anya, sedangkan kakaknya sudah lama menghilang" mama mengucapkan kalimat yang membuatku tertekan.


Aku sudah berjanji untuk menuruti keinginan mama demi papa, tidak ada cara lain. Aku hanya bisa mengangguk lalu berdiri dan memeluk mama, aku sangat sayang kepada mamaku ini. Ia begitu tabah, kehilangan suaminya, yaitu papaku.


Aku berjalan menuju kamar, meninggalkan mamaku sendiri di ruang tamu. Aku tau ia butuh sendiri saat ini, jadi aku hanya bisa memeluknya sekali lalu pergi menuju kamar.


Sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar. Segera lah aku menutup kedua mataku, dan merasakan kegelapan yang abadi.


××××××


Pagi ini aku sarapan lebih cepat dari biasanya, alasannya hanya satu. Malas makan pagi apalagi sendirian, mama akan berangkat lebih pagi jadi ia tidak sarapan.


Aku berangkat bersama Om Dion menuju sekolah, ia akan berangkat ke rumah teman akrabnya. Karena sekolahku searah dengan temannya itu, jadi kami berangkat bersama.


Sampai di sekolah, terasa sangat sepi. Aku berjalan biasa menuju tangga, beruntung sekali karena tidak ada perempuan penggemar ku. Maaf ya bukannya tidak ingin sombong, tapi menjadi seperti diriku ini menyebalkan. Bayangkan aku mau ke kantin, mereka dekat-dekat bikin aku sesak.


Aku terus berjalan sampai berhenti di lantai dua saat melihat seseorang berdiri menatap meja pojok, aku berniat mendekat karena merasa kenal dengan dirinya. Perempuan itu menoleh ke arah lain, dan kini aku melihat wajahnya.


Kedua mataku terbuka lebar saat melihatnya, "Anya?".


.


.


.

__ADS_1


Fitria chii


__ADS_2