
Pagi ini aku bersiap dengan rapi, walau tanganku masih di perban. Segera aku menaiki angkutan umum dan berangkat menuju sekolah lebih pagi.
Aku tau tentang ucapan Hendra mengenai sebuah peringatan dan sungguh kali ini aku tidak akan mengikutinya. Biarkan semua itu terjadi, aku harap bisa menjadi gadis normal.
Dan benar saja sampai di kelas tidak ada gangguan apapun, aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi mereka sepertinya tidak ingin muncul di hadapanku hari ini, apakah itu kabar baik atau tidak, yang jelas Hendra juga tidak menampakkan dirinya.
Pelajaran pertama dan kedua berjalan dengan sempurna, saat bel istirahat tiba. Sepertinya teman kelasku mulai menunjukkan raut wajah kebencian kepada diriku.
Riris berjalan mendekati kursi ku. Aku menoleh wajahnya sebentar, lalu membuang wajahku ke arah makanan ku.
"Aku tau apa yang terjadi kemarin Anya" aku tersedak makanan, segera aku mengambil air dan meneguknya perlahan.
"Anya apa..." Sebelum Riris melanjutkan perkataannya segera aku berdiri dan menatap nya secara tajam. "Apa kamu mau bilang aku adalah anak aneh, sama seperti yang mereka katakan kepadaku. Jika boleh aku ingin sendirian sekarang, kenapa kamu tidak bermain dengan yang lain di luar. Dan tinggalkan aku sendiri di kelas ini" aku berteriak kepada Riris.
Entah bagaimana aku bisa membentaknya, mungkin perasaan Riris sangat sedih setelah aku membentaknya. Riris berdiri dan berjalan keluar kelas dengan perlahan, ia terus menunduk lalu berhenti di depan pintu.
Ia menoleh ke arahku, "kau tau aku tidak ingin mengatakan itu. Aku hanya ingin menjadi teman yang baik untukmu" katanya membuat aku terdiam kaku.
Aku melihat kotak makanan ku masih ada 2 sandwich yang tersisa. Aku berpikir sejenak, mungkin aku terlalu kasar kepadanya. Aku mengambil kotak makanan ku dan berlari keluar, tapi langkahku terhenti saat sosok laki-laki muncul begitu saja di hadapanku.
"Hendra!" Ucapku senang. Hendra berdiri dengan senyum tipis. "Hendra kenapa kamu tidak muncul kembali di hadapanku?" Ucapku penasaran.
"Aku pikir, kamu marah denganku?" Raut wajah Hendra berubah menjadi sedih. Seolah ia merasa bersalah saat melihat tanganku yang di perban.
"Maaf" ucapnya singkat. Aku tersenyum kecil dan mengangkat tangan memberikan gerakan seperti memeluk. Hendra yang melihat diriku, segera melakukan gerakan yang sama seperti diriku.
Kami melakukan pelukan tapi tidak menyentuh satu sama lain. "Hei beberapa temanmu melihat dirimu, kamu tidak malu" aku menoleh ke arah jendela, aku memang di lihat oleh beberapa teman sekelas.
"Tidak aku tidak peduli, tapi bolehkah aku pergi. Aku harus meminta maaf kepada seseorang, kamu jangan buat masalah oke"Hendra hanya mengangguk lalu kembali menghilang.
Aku keluar dari kelas, teman kelasku menatap diriku. "Anya kamu itu cantik, pintar, tapi kenapa kamu itu aneh" banyak temanku yang mengucapkan nya.
Aku seolah tidak peduli berjalan perlahan menuju Riris yang duduk di kursi taman sekolah.
Kini di hadapanku Riris duduk dengan arah yang berlawanan, aku merasa takut untuk mengucapkannya. Tapi ini harus di lakukan,
"Riris" ucapku sambil menepuk pundaknya, ia menoleh perlahan lalu melihat diriku yang di belakangnya.
"Untuk apa kamu menghampiriku, bukannya kamu ingin sendiri" ucapnya ketus, aku menyipitkan mataku. Ia benar-benar membuat aku sedikit kesal, tapi aku juga yang salah.
"Ini sandwich, masih ada dua kamu boleh ambil semuanya" ucapku singkat. Riris menatap kotak bekalku, lalu ia menatap diriku dengan tajam.
"Kamu yakin?" Tanya nya kepada ku.
"Iya ris" Ucapku singkat. Ia mengambil kotak makanan ku dan mengambil sebuah sandwich. Karena aku merasa sudah selesai, jadi aku berjalan pergi. Tapi langkahku terhenti saat merasa tanganku di pegang oleh seseorang.
"Hei kamu mau kemana, temani aku" aku melihat Riris memegang tanganku, dan ia terlihat memaksa.
Aku duduk di samping Riris, ia menyantap sandwich yang aku buat. Setelah ia menghabiskan satu sandwich, ia mengembalikan kotak makanan ku dengan sebuah sandwich yang tersisa.
"Terimakasih" Ucapnya tiba-tiba. Aku tersenyum di lanjutkan Riris, senang rasanya memiliki teman yang akrab.
"Eh Anya kamu tau, ada murid baru loh. Ganteng orangnya, pintar lagi. Dia itu tuh baru masuk sudah dipilih jadi pemain basket. Dengarnya nih sekolahnya yang dulu itu, dia termasuk pemain basket. Ya maklum lah dia masuk pemain basket, banyak cewek yang ngincar dia loh. Tapi sayang banget dia itu cuek, dingin dan gak peduli sama yang di sekitarnya" Aku tertawa saat Riris membuat wajah cemberut.
Ia terlihat sangat tertarik dengan murid baru itu, tapi bagiku tidak. Laki-laki hanya bisa meninggalkan saja, susah mencari laki-laki yang baik seperti om Dion.
Suara bel sekolah terdengar, waktunya kami masuk ke kelas. Senang akhirnya aku mendapat teman baru, Riris juga terlihat sangat baik. Mungkin kami akan menjadi teman selamanya, semoga saja ia dapat bertahan denganku yang sudah di cap sebagai anak aneh di kelas IPS.
×××××
Sepulang sekolah seperti biasa aku menunggu angkutan umum, Riris sudah pulang sejak dari tadi. Hanya aku di sini sendirian, di gerbang sekolah yang terbuka sangat lebar.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang sekolah, aku melihat siapa yang ada di dalam.
"Anya kamu gak pulang" aku terkejut bukan main. "Adit!?".
Ketua kelasku yang bernama Adit itu memang anak orang kaya, ayahnya adalah pemilik mall terbesar di kota ini.
"Belum, ini masih nunggu angkot" ucapku. Adit keluar dari mobilnya, ia berjalan ke arah ku. "Dit, kamu kok belum pulang?" Tanyaku.
Adit tersenyum kecil, "tadi aku sudah pulang tapi kembali lagi ke sini, soalnya buku tugasku lupa di kelas".
Buku tugas?. Aku terdiam lalu entah seperti terpukul oleh batu, aku mengingat sesuatu.
"Oh astaga buku tugasku juga ada di kelas" sambil menepuk jidatku. Dasar aku ini memang pelupa.
Mengapa buku itu bisa lupa, untungnya Adit juga lupa bukunya jadi ada yang ingatin deh. Kalau enggak aku gak bisa ngerjakan tugas yang baru saja di kasih oleh pak Yahya.
"Ya udah, kita bareng saja" Aku terdiam sebentar, aku gak enak bareng sama Adit. Tapi dari pada sendirian sih, Hendra juga bilang gak boleh pergi ke sekolah sore hari.
Ah gak ada pilihan lain, andai saja aku tadi ingat pasti sudah aku ambil. "Okelah ayo" Adit berjalan di depan, di ikuti diriku dari belakang.
"Anya aku tau kamu pasti sering di ejek sama teman sekelas kita kan, tapi aku itu gak seperti yang lain" Aku menoleh lalu menyilang kan kedua tanganku.
"Apa yang ingin kamu katakan" ketus ku. Adit menarik nafas dalam-dalam, ia langsung mengucapkan tiga kata.
"I love you" aku menoleh dengan cepat, langkahku terhenti sejenak.
"Sebenarnya saat pertama kali aku melihat mu, aku merasakan sesuatu dalam hati ku" pengakuan Adit membuatku terdiam lalu memilih membuang muka.
__ADS_1
"Sudahlah kita bisa membicarakan itu nanti, aku ingin kita cepat ke kelas dan mengambil buku itu" aku berjalan lebih dulu meninggalkan Adit sendirian di tangga.
Tak ada percakapan lanjut dari kami sampai di kelas. Dengan cepat kami mengambil buku kami di meja masing-masing.
Kami bergegas pergi dari kelas dan menuruni tangga, sampai kami berada di lantai 2. Sebuah suara terdengar begitu keras, seperti meja yang terjatuh satu-persatu.
Adit melihat ke sekeliling, aku juga membantunya melihat apa yang ada di sini. Yang jelas kami tidak sendiri, ada seseorang.
Sebuah bisikan tiba-tiba terdengar di daun telingaku.
Lari
Kata itu terdengar sampai sebuah teriakan wanita terdengar di lorong. Adit menatap apa yang ada di ujung lorong, aku juga ikut melihat.
Kedua mataku kini melihat sosok perempuan mendorong sebuah meja. "Anya kita harus lari!!" Adit menggenggam tanganku dan menariknya. Kami berlari dengan cepat tapi sosok itu tetap mengikuti sampai di lantai 1.
Aku berlari dengan cepat, tiba-tiba kakiku terpeleset. Aku terjatuh, dan semuanya terlihat gelap.
Aku melihat seorang laki-laki dewasa dan ia terlihat sangat sedih. Ia membawa sebuah plastik besar lalu menaruhnya di sebuah meja. Baunya seperti mayat yang membusuk.
Tiba-tiba sebuah suara seperti memanggil namaku. Dan kini semuanya terlihat sangat terang, sebuah wajah terlihat olehku.
"Adit!!!" Segera aku terbangun. Berarti sedari tadi aku tidur di pangkuannya, "tenang kita di mobil ku kok" ucapnya dengan tenang.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Dit apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Tadi kamu terpeleset lalu tidak sadarkan diri, jadi aku menggendong mu sampai ke mobil. Sayangnya kamu masih belum sadarkan diri, jadi aku suruh sopir untuk membeli air minum" aku terdiam.
Adit menggenggam tanganku, tapi segera aku tepis. "Dit terimakasih tapi saat ini aku harus pulang" ketus ku.
Aku segera membuka pintu mobil, saat aku turun aku pun terjatuh. Kaki ku terasa sakit sehingga membuatku tidak bisa berdiri maupun berjalan.
Adit yang melihat diriku terjatuh langsung menolong ku, dan membantuku masuk kembali ke mobil. "Anya aku akan mengantarmu, tolong terima bantuan ini".
Adit terlihat memaksa, aku pun harus menurutinya lagi pula aku tidak bisa berjalan. Sepertinya kaki ku ini terkilir, sopirnya datang dengan membawa 2 buah air mineral.
Adit menyuruh sopirnya untuk menjalankan kami menuju alamat rumahku. Adit memberikan air kepadaku, aku menerimanya dengan ragu.
"Tuan kita hampir sampai" ucap sang sopir, Adit mengangguk lalu menoleh ke arahku lagi. Aku merasa tidak enak saat di lihat, itu membuatku setres.
Mobil berhenti di halaman rumahku, Adit segera keluar dan langsung membukakan pintu mobil nya untukku.
"Dit kamu gak usah kok ngelakuin hal ini, aku gak enak jadi nya" ucapku. Adit menggeleng, ia membantuku untuk berjalan menuju rumah.
Aku terkejut saat rumahku tidak terkunci, "eh Anya kamu lupa gak kunci rumah" tanya Adit.
Aku menggeleng, "tidak".
"Anya?" Sebuah suara terdengar dari belakang. Refleks aku segera menghadap ke belakang.
"Om Dion?" Ucapku. Om Dion menatap Adit dengan tajam, ia seperti memeriksa sesuatu dari Adit.
"Adit sudah malam mungkin kamu harus pulang, lagi pula ada om ku. Terimakasih ya sudah membantu ku" ucapku singkat. Adit tersenyum lalu mengangguk.
Ia membantuku duduk di teras rumah secara perlahan, lalu pamit kepada Dion. Ia bergegas menaiki mobil, aku melihat mobil itu melaju menuju arah yang berlawanan.
"Anya kamu kemana saja, om sama tante kamu khawatir" Om Dion terlihat sedih, ia sangat mengkhawatirkan diriku.
"Iya Om maaf, tadi Anya mau ngambil buku ini, eh malah terpeleset. Jadi kakinya Anya sakit, Adit deh yang antar Anya".
Om Dion bergegas membantuku untuk masuk ke dalam, di dalam ada tante Vivin yang baru saja selesai memasak.
Ketika ia melihat ku ia langsung menghampiri ku. Tante benar-benar khawatir, ia membuatku di manjakan seharian.
Aneh si rasanya, aku tidak tertarik di manjakan seperti itu. Karena aku lebih suka hal yang mandiri, jika aku mengatakan kepada tante dan Om bahwa aku bisa sendiri pasti mereka akan mengatakan.
"Kamu itu lagi sakit, biar tante sama om yang ngerawat kamu".
Aku hanya terkilir bukan orang yang patah tulang, tinggal di urut saja udah sembuh kok nantinya.
Aku pikir hanya sampai malam tante dan om menginap di rumahku. Tapi mereka sampai pagi, bahkan aku di antar oleh mereka berdua. Awalnya aku di minta untuk di bawa ke dokter agar kaki ku ini di perban, tapi aku menolaknya.
×××××
Pagi ini aku berjalan secara perlahan menuju kelas, susah sekali karena kelasku itu berada di lantai 3.
Secara perlahan aku melangkah sambil menahan sakit. Sampai di lantai 3, aku merasa senang karena kelasku sudah dekat. Aku tau kelasku ini akan sepi, karena tidak ada yang mau masuk ke kelas itu pagi-pagi.
Saat aku membuka pintu, aku terkejut siapa yang ada di dalam.
"KAMU!!!" Teriakku, tanpa berkata-kata apapun. Ia langsung membekap mulutku dengan tangannya.
Ia menarik ku kebawah, aku berusaha melepaskan diri. Tapi dia benar-benar mengunci tanganku.
"Eh Lo bisa diam gak, nanti kedengaran lagi" Aku membuka mataku lebar-lebar tak percaya apa yang ia katakan.
Apakah ia seorang pencuri, makanya ia bersembunyi. Tapi kok ia pakai seragam sekolah ya, aduh aku kok bingung.
Yang jelas aku harus bisa lepas lalu teriak deh. Aku menggigit tangannya sehingga ia berteriak kesakitan.
__ADS_1
Murid-murid perempuan tiba-tiba masuk, mereka langsung mengejar laki-laki itu.
"Aku tidak akan mengampuni mu" ucapnya, ia berdiri lalu berlari dengan cepat menghindari para anak perempuan. Gerakannya sangat gesit, aku mencibir seolah tidak merasa terbebani.
Aku berdiri lalu berjalan secara perlahan menuju meja. Suara tawa terdengar pelan-pelan. Aku tersenyum mendengarnya, "Hendra kamu di sini" ucapku kecil.
Dan benar apa dugaan ku, Hendra muncul sambil tersenyum kecil, seperti biasa ia muncul dari papan tulis.
"Iya aku memang ada di sini, lucu banget tadi" ucapnya. Aku ikut tertawa saat ia tertawa. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang.
Aku menoleh, "Riris". Ia tersenyum kepadaku, "lagi ngomong sama dia ya" ucapnya.
"Andai aku juga bisa melihatnya" tambahnya lagi. Aku melihat Hendra, ia tampak menggeleng tidak setuju.
Hendra mendekat ke arahku, ia membisikkan sesuatu. "Jika dia melihat diriku, itu tandanya ia akan mati" aku terkejut atas apa yang aku dengar.
Aku menoleh kepada Riris. "Mungkin lebih baik, kamu tidak melihatnya" ujar ku. Riris mengangkat alisnya, ia mulai terlihat cemberut.
"Hei jika Hendra masih di sini, bisakah ia melakukan sesuatu yang membuatku percaya ia ada?" Aku diam, tidak bisa menjawab.
Itu sih apa kata Hendra, aku bisa apa. "Ris, kalau itu aku gak bisa membantu mu. Karena itu di luar kemampuan ku" Riris menidurkan kepalanya.
"Oh baiklah" jawabnya singkat. Kami berdua diam di kelas. Keheningan terjadi, aku sibuk membaca Diary ibuku, sedangkan Riris terus terdiam melihat papan tulis di depan.
"Anya kamu merasa aneh gak sama papan tulis itu?" Timpal Riris. Aku menoleh lalu melihat apa yang Riris tatap.
Setelah sekian lama aku melihat papan tulis kelas kami, aku merasakan sesuatu. Dengan cepat aku berjalan ke depan, seolah sesuatu memanggilku.
Semakin aku mendekat, baunya semakin menyengat. Riris menyusul dari belakang, ia merasa tidak menanggapi apapun.
"Ris kamu gak merasa ada bau busuk" Saat aku bertanya kepada Riris dan benar saja ia tidak merasa bau ini. Itu berarti ini termasuk kemampuan dariku.
Aku memberanikan diri menyentuh papan tulis, dan semuanya pun gelap. Aku melihat seseorang ia berdiri sambil membawa sekop yang berlumuran darah.
"Hei kamu sudah melakukannya" orang itu berbicara kepada seseorang melalui handphone nya. Dan segera pergi begitu saja. Aku melihat apa yang ada di balik papan tulis, tapi niatku hilang saat aku merasa bagian kepalaku sakit.
Sebuah cahaya terang kembali lagi. Aku melihat sekeliling, sepertinya aku kembali ke masa ku saat ini.
Aku masih merasa kepalaku sakit. "Anya kamu gak papa kan?" Aku terkejut saat melihat siapa yang di hadapanku.
"Adit" ucapku. Aku melihat Riris yang terus memegangi ku, wajahnya terlihat kesal. Matanya terus menatap seseorang yang di depan.
"Eh kalian itu kenapa, suka banget belain anak aneh itu" tegas seseorang. Aku melihat siapa yang di hadapan Riris dan Adit.
'Erin' dia ada di sini. Aku melihat tangan Erin memegang botol minumnya, apa dia yang membuat kepalaku sakit.
"Kamu yang salah, kenapa harus mukul kepala Anya pakai itu coba" ketus Riris. "Lo tau gak kalau Anya yang membantu, saat Lo lagi kesurupan" Timpal Adit.
"Bantu apa, dia yang membuat aku kesurupan. Dia itu pembawa kutukan, dia yang membuat penunggu kelas ini marah" aku melongo mendengar nya.
Kenapa aku, memangnya harus aku yang salah. Kenapa harus berdebat sama dia sih, malas jadinya.
"Kalian bisa berhenti berdebat, kepala ku terasa sakit. Adit dan Riris terimakasih, untuk Erin maaf memang aku yang salah" aku menghela nafas panjang. Sebenarnya kepalaku tambah sakit bukan karena ada luka tapi mendengar perdebatan panjang seperti rapat OSIS di sekolah.
Selain itu aku juga merasakan angin di seluruh kulitku, seperti sesuatu akan terjadi. Aku yakin Hendra tidak menyukainya.
Aku berjalan menuju kursi ku, teman kelasku melihat aku berjalan dengan santai menuju tempat duduk di ikuti Adit dan Riris. Melewati Erin yang menatap kami.
Tiba-tiba Hendra berada di hadapan Erin begitu saja, tatapannya begitu terlihat marah. Ia seperti ingin mendorong Erin. Dengan cepat aku berdiri dan menarik tangan Erin sehingga membuat kami berdua terjatuh.
Karena tindakan tergesa-gesa ku itu, bukan hanya teman kelas, tapi guru pengajar kami juga melihatnya.
"Erin, dan Anya kalian ikut bapak ke ruangan BK saat ini" dengan tegas bapak itu berkata dari depan pintu. Aku berdiri secara perlahan di ikuti Erin yang terus menatapku.
××××××
Sampai di ruangan BK, kami berdua di tatap oleh Ibu Desi. Ia adalah guru BK yang sangat perhatian terhadap muridnya, dan di kenal sangat baik.
"Kenapa kamu melakukan itu Anya" aku terdiam menatap Ibu Desi. "Anya tolong jawab pertanyaan ibu" ucapnya lagi.
"Jika saya mengatakan hal yang sebenarnya apa ibu akan percaya" ucapku pelan. Ibu Desi hanya mengangguk saja, dengan berani aku mengatakan 4 kata.
"Saya bisa melihat hantu" Ibu Desi bungkam. Ia tidak bisa berkata apa-apa, sedangkan Erin terlihat menahan tawa.
"Kamu ada aja deh, mana ada hantu di siang bolong kayak gini" ucap Erin sambil meledek.
Aku menunduk, sudah kuduga mereka tidak akan percaya. Sebuah suara terdengar, aku merasa pernah mendengar suara itu.
"Ibu Desi, saya ingin meminta laporan murid kelas IPA" aku menoleh. Melihat siapa yang berbicara.
"Tante Maya?" Ucapku. Tante Maya menoleh kepadaku, matanya terlihat ingin menangis dengan cepat ia memelukku erat.
"Anya kamu sekolah di sini" aku mengangguk kecil. Erin membuka mulutnya lebar-lebar, Ibu Desi berdiri dari tempat duduknya saat ia mendengar ucapan dari tante Maya.
"Maaf Bu Maya, apa ibu kenal Anya?" Tanya Ibu Desi. Kami menghentikan pelukan itu, tante Maya terlihat lebih senang saat melihatku.
"Begini bu, Anya adalah anak dari sahabat saya. Dulu ia dan keluarganya mengalami kecelakaan yang sangat besar. Saya saat itu berada di kota lain, jadi saya tidak bisa menjenguk mereka dengan cepat. Tapi pada saat akhirnya, saat saya bisa ke rumah sahabat saya. Menurut para tetangga kedua orangtuanya Anya sudah meninggal, tapi Anya dan kakaknya menghilang entah kemana. Saya tidak menyangka bahwa saya bekerja di tempat Anya bersekolah." Tante Maya tersenyum melihat ku, mendengar cerita dari tante Maya, Ibu Desi segera tersenyum lalu mengangguk kecil.
Erin terlihat tidak senang, sebaliknya aku sangat senang ketika melihat tante Maya di sini.
__ADS_1
Kami berdua selesai dari ruangan BK ketika bel istirahat berbunyi, tante Maya mengajakku untuk pergi ke kantin bersama. Menurutnya ada yang harus di bicarakan, aku hanya mengikuti dirinya.
Ketika aku sampai di kantin, sekarang aku lebih khawatir. Karena kantin yang aku kunjungi adalah kantin yang terakhir kali aku melihat sosok itu, bukankah berarti aku masuk ke zona yang berbahaya.