
Di suatu wilayah sebelah barat kota S terdapat hamparan kebun bunga mawar merah yang membentang sejauh kurang lebih 1 hektar dari halaman belakang sebuah rumah besar, rumah bergaya classic dengan pilar putih khasnya membuat rumah itu terlihat lebih megah hampir seperti sebuah kastil kuno.
Terlihat beberapa orang terlihat sibuk di kebun mawar itu dengan berbagai peralatan perkebunan yang ada di tangan mereka, tugas mereka pun beragam ada yang membersihkan ilalang ada pula yang menambahkan pupuk hingga memangkas kelopak bunga mawar merah yang telah kering demi menjaga kelestarian bunga mawar itu.
"Hati-hati jangan sampai merusak kelopak mawar yang berharga" seruan perintah dari seorang wanita paruh baya dengan penampilan vintage yang kental, dress bunga-bunga dengan lengan panjang berenda di tambah topi pandora hitam membuat wanita itu nampak lebih muda dari usianya.
Seruan perintah wanita paruh baya itu membuat semua karyawannya membalas dengan kalimat yang sama, "Baik nyonya besar" kata mereka dengan patuh.
Wanita itu kemudian berkeliling kebun dengan tongkat kayu untuk menyeimbangkan langkah kakinya, ia dengan teliti memeriksa pekerjaan karyawannya agar tidak melakukan kesalahan sekecil apapun.
Tuk !
Tongkat kayu itu kemudian di arahkan wanita itu kearah kepala seorang pria yang terlihat sedang merapihkan daun-daun bunga mawar yang tumbuh tidak teratur.
Tak pelak karena pukulan tongkat pria itu langsung menggaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang menjadi korban kekerasan dari wanita paruh baya itu.
"Dimana sarung tangan mu ?" tegur wanita itu dengan tegas sambil melihat kedua tangan pria itu yang nampak memerah karena duri batang mawar yang menancap di kulitnya.
Pria itu hanya tersenyum tanpa dosa kemudian ia menundukkan kepalanya sesaat "Maaf, saya akan mengambilnya" ujarnya penuh dengan sopan santun.
Bukannya merasa senang karena ucapannya di dengarkan dengan baik, wanita paruh baya itu justru menggelengkan kepalanya sesaat sebelum tangannya meraih daun telinga milik pria itu sambil menariknya agar mengikuti langkahnya dalam istilah lebih sederhana pria itu kini sedang di jewer.
"Ini sungguh sakit nyonya besar, maafkan kesalahan saya" keluh pria itu dengan susah payah sambil menahan daun telinganya yang mungkin sekarang sudah memerah.
Wanita paruh baya itu tidak peduli akan aksi protes dari pria itu dan terus menariknya sampai masuk kedalam rumah.
"Tolong nyonya besar ini sungguh sakit" pria itu memohon dengan wajah menyedihkannya.
Wanita paruh baya itu akhirnya melepaskan tangannya dari telinga pria itu kemudian menatapnya dengan pandangan penuh intimidasi.
"Panggil aku Nenek, dimana sopan santun mu Arsenio Bamantara Xavier" ia memberi perintah sekaligus sebuah teguran keras.
Pria itu yang bernama Arsen lekas menunduk dalam setelah wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Neneknya sudah mulai menunjukan kemarahannya.
"Baik Nek" responnya dengan singkat namun terdengar nada penyesalan disana.
"Duduklah" perintah wanita paruh baya itu lagi.
Dua detik kemudian Arsen sudah duduk di kursi sebelah neneknya dengan wajah penuh kecemasan, hatinya bahkan sejak tadi tak henti merapalkan doa agar Neneknya itu tidak memakinya hari ini.
"Kemana kamu sebulan ini ?" Neneknya memulai sesi introgasinya.
Arsen merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap kemudian memberikan ekspresi beraninya walau sebenarnya ia sangat takut saat ini.
"Ada beberapa hal yang harus aku urus di luar negeri, maaf aku tidak memberi Nenek kabar sebelumnya" jelasnya dengan sopan namun terdengar meyakinkan.
Mendengar penjelasan dari cucu laki-lakinya itu membuatnya hanya bisa menghela nafas berat.
"Jangan ulangi lagi, sebagai gantinya kamu Nenek hukum untuk mengurus kebun termasuk mengantar kepada pembeli"
Arsen yang mendengar hukumannya lantas bereaksi namun Neneknya langsung memberikan isyarat dengan tangannya agar Arsen diam terlebih dahulu.
"Nenek ga butuh protes mu, lupakan kalau kamu adalah seorang Xavier selama kamu sedang di hukum"
"Tapi Nek..."
"Sini serahkan kalung mahkota itu dan lakukan hukuman mu"
Neneknya itu benar-benar serius akan perkataanya, apapun yang dikatakan Arsen tidak akan berpengaruh jadi dengan amat terpaksa Arsen menyerahkan kalung berliontin mahkota itu kepada Neneknya.
Namun belum sempat Arsen menyerahkannya ia menatap sedih kearah Neneknya "Apa ini tidak keterlaluan Nek ? Ini kalung berharga ku" ujarnya mencoba membujuk.
"Kamu akan berlaku seenaknya dengan kalung itu, jadi selesaikan hukuman mu lalu Nenek akan mengembalikannya" putusan final dari Neneknya membuat Arsen tak berdaya.
Pria itu menyerahkan kalungnya dengan tak ikhlas, Neneknya lekas mengambilnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Arsen yang terlihat semakin menyedihkan.
Bukan tanpa alasan Arsen tidak rela kalungnya di ambil, karena kalung itulah satu-satunya yang dapat membantunya hidup nyaman dan membuktikan kalau dirinya adalah seorang Xavier.
Seluruh orang yang tinggal di kota S tau bagaimana berkuasanya keluarga Xavier, bahkan keluarga Adrian dan Kaysie tidak ada apa-apanya jika di bandingkan keluarga Xavier.
Fashion, real estate dan industri parfum adalah beberapa bisnis yang berada di bawah kekuasaan keluarga Xavier karena itulah kasta sosial tertinggi dalam beberapa dekade masih di kuasai oleh keluarga Xavier.
Oleh kerena itu juga simbol dari keluarga Xavier adalah sebuah mahkota dimana melambangkan kekuasaan tak terbatas dalam kasta sosial, artian lainnya adalah dengan menggunakan kalung itu siapapun bisa melakukan hal yang diinginkannya tanpa perlu bekerja keras.
Arsen kini harus merelakan dirinya untuk sementara waktu bukan bagian dari keluarga Xavier, tapi disisi lain ia juga masih beruntung karena Neneknya berbaik hati untuk tidak menendangnya pergi melainkan hanya menghukumnya sesaat dan nanti mengembalikan identitasnya sebagai seorang Xavier.
"Sekarang hanya ada Arsenio Bamantara" ujarnya dengan sedih kemudian ia berlalu dengan lesu keluar dari rumah besarnya.
Kemunculan Arsen dari dalam rumahnya membuat banyak pegawai Neneknya menatapnya dengan pandangan khawatir, dari arah belakang seorang pria paruh baya berpenampilan pelayan datang mendekat kearah Arsen.
"Tuan muda tidak apa-apa ?" tanyanya khawatir.
Arsen menatap datar kearah pria paruh baya itu "Saya bukan tuan muda lagi, perhatikan bicara mu Frank atau Nenek akan menghukum mu" ujarnya memperingatkan kemudian ia berlalu pergi untuk menyelesaikan pekerjannya.
Bayangkan hidup seorang tuan muda dengan banyak kemewahan kini pupus bagi Arsen, nyatanya sekarang ia tidak lebih dari seorang pegawai kebun mawar merah Neneknya.
__ADS_1
Jika di pikir-pikir sebenarnya Arsen juga bersalah kerena ia pergi hampir satu bulan tanpa memberikan informasi pada Neneknya lalu sekarang ia tiba-tiba muncul dengan berpura-pura menjadi pegawai kebun mawar merah agar Neneknya tidak marah.
Ekspektasi yang selalu jauh dari realita membuat Arsen terjebak dengan rencananya sendiri, sudah ia kehilangan kehormatan Xavier miliknya lalu sekarang ia menjadi pegawai kebun mawar merah Neneknya. Nasibnya hampir sama seperti habis jatuh lalu tertimpa tangga, sungguh sial.
Arsen yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya merasa sudah lelah, ia bangkit dari posisi jongkoknya kemudian melihat seberapa banyak lagi pekerjaannya yang tersisa. Tugasnya hanya merapihkan daun-daun mawar merah yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya tapi kenapa rasanya tenaganya sudah mulai terkuras habis.
Mata pria itu menatap sekelilingnya kemudian ia mengambil nafas panjang, kebun mawar merah milik Neneknya itu sungguh sangat besar jadi mustahil dalam sehari pekerjaannya akan selesai. Arsen kini menyadari kenapa Neneknya itu memiliki pegawai yang banyak hanya untuk mengurus kebun mawar merahnya.
"Arsen" panggilan seorang wanita dari arah belakang membuat Arsen membalikkan badannya sambil memberikan ekspresi marahnya.
Arsen sudah cukup lelah sekarang di tambah lagi pegawai Neneknya itu memanggilnya hanya dengan nama Arsen saja, padahal ia adalah tuan muda Xavier. Betapa tidak sopannya, pikir Arsen.
Wanita itu langsung menciut ketakutan melihat wajah Arsen yang menyeramkan "Maaf, tapi Nyonya besar menyuruh kami memanggil Tuan muda dengan nama Arsen saja" jelasnya dengan gugup.
Mendengar penjelasan itu membuat Arsen langsung tertunduk lesu, ia baru ingat kalau baru beberapa jam yang lalu ia telah kehilangan status Xavier jadi wajar kalau pegawai Neneknya hanya memanggilnya dengan nama Arsen saja.
"Tidak apa-apa, ada perlu apa ?" Arsen balik bertanya dengan suara tenang dan ekspresi datarnya.
Wanita itu menyerahkan kertas kecil kepada Arsen "Tolong antar satu kotak penuh mawar merah ke alamat ini" pintanya dengan hati-hati.
Arsen mengambil kertas itu kemudian mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia telah mengerti.
"Kendaraan dan barangnya sudah siap jadi Tuan... maksud saya Mas Arsen bisa berangkat" jelas wanita itu lagi lagi kemudian ia langsung buru-buru pergi dengan langkah cepatnya sebelum Arsen kembali menampakan ekspresi menyeramkan milik pria itu.
"Dari tuan muda jadi mas Arsen, turun banyak" keluh Arsen kesal kemudian ia berlalu pergi sambil menggenggam kertas yang di berikan wanita itu sebelumnya.
Arsen berjalan dengan langkah beratnya menuju bagasi mobil yang berada di sisi lain rumahnya, ia membuka pintu kecil sebelah pintu besi bagasi yang tertutup rapat.
"Tuan muda, ini kuncinya" Frank datang lagi dengan sikap sopannya sambil menyerahkan kunci mobil pada Arsen.
Arsen mengambilnya dengan tanpa niat "Kalau Nenek dengar kamu bisa di hukum Frank, panggil saja Arsen untuk kali ini. Saya mengijinkannya" ujarnya lagi kembali memperingati kepala pelayan rumahnya itu.
Frank mengangguk patuh walaupun keliatannya ia juga tidak yakin, ia tahu tuan mudanya itu paling benci jika di panggil hanya dengan namanya.
Maklum saja, Arsen adalah cucu laki-laki pertama dari keluarga Xavier yang sejak dulu sudah di sematkan panggilan Tuan muda hanya untuknya jadi rasanya tidak sopan bagi seluruh pegawai keluarga Xavier kalau harus memanggil Arsen hanya dengan namanya saja.
Mobil box hitam yang sudah berisi satu kotak besar mawar merah sudah siap di tempatnya, Arsen berjalan mendekat namun langkah kakinya terhenti saat matanya menatap mobil sport mewah berwarna hitam miliknya yang terparkir di sebelah kiri persis mobil box itu.
Lagi-lagi hanya helaan nafas berat yang bisa Arsen lakukan hari ini, akan percuma kalau ia protes atau mengeluh karena Neneknya tidak akan berubah pikiran jadi satu-satunya cara adalah dengan menerima takdirnya saat ini.
Tidak ingin larut akan kekesalannya Arsen segera masuk ke dalam mobil box itu kemudian menyalakan mesinnya, pintu besi bagasi itu terbuka dengan sendirinya lalu tak lama kemudian Arsen pergi dari sana.
*******
Hari yang menjelang petang seperti ini justru membuat suasana kota semakin ramai, ada banyak orang yang berjalan santai sambil berbelanja sampai hanya ada yang sekedar duduk-duduk di taman kota yang sangat nyaman sambil berbincang ringan.
Suhu panas yang sebelumnya dirasakan di pagi hingga siang hari kini mulai menurun, angin juga berhembus dengan sejuknya jadi tidaklah heran ada banyak orang yang berkumpul termasuk Kaysie.
Gadis itu sore ini memiliki pertemuan dengan teman-teman semasa sekolah menengah atas, ia sudah berdandan rapih dengan celana jeans juga cropped top hitam yang terbungkus cardigan panjang hingga semata kaki dan heels warna hitam setinggi 5 cm membungkus kedua kaki cantiknya.
Kaysie menatap sekelilingnya sambil sesekali melihat ponselnya, tempat janjian dengan temannya berada di sebuah Cafe tapi sampai saat ini Kaysie masih kesulitan menemukan tempatnya.
"Ini bener kok jalannya, tapi mana Cafenya ?" tanyanya bingung sambil melihat kearah kiri dan kanannya.
Kaysie yang tidak ingin terjebak akan kesulitannya sendiri membuatnya dengan berani bertanya dengan seseorang, ia lekas menghentikan seorang pria yang hendak masuk kedalam sebuah toko bunga yang berada tak jauh dari tempatnya berada.
"Maaf Mas, saya mau tanya. Apa Mas tau tempat ini ?" Kaysie bertanya sambil menunjukan ponselnya yang tertulis nama Cafe yang ingin ditujunya.
Pria itu menurunkan barang yang tengah di bawanya kemudian melihat lebih dekat kearah ponsel yang di tunjukkan oleh Kaysie.
"Di persimpangan sana, anda belok kiri. Tempatnya ada di belakang supermarket itu" jelasnya kemudian.
Kaysie mengangguk mengerti akan instruksi dari pria itu "Terima kasih" ujarnya sopan kemudian ia berlalu pergi kearah yang di tunjukan oleh pria itu sebelumnya.
Setelah mengikuti instruksi dari pria itu akhirnya Kaysie telah sampai di Cafe tempatnya janjian dengan teman-temannya. Ia memasukan ponselnya kedalam saku celana jeans-nya kemudian masuk kedalam Cafe yang terlihat ramai sore ini.
"Selamat sore Nona, untuk berapa orang ?" tanya pelayan wanita setelah Kaysie masuk kedalam Cafe.
"Teman saya sudah booking, atas nama Sisilia" jelas Kaysie lagi.
Pelayan itu tersenyum sopan kemudian membawa Kaysie ketempat yang sudah di pesan oleh temannya.
Cafe itu benar-benar ramai, namun ternyata Cafe itu memiliki dua lantai dan di lantai paling atas terlihat lebih sepi. Meja dan kursi di susun rapih lengkap dengan dekorasi bunganya jadi sudah bisa di tebak kalau lantai paling atas Cafe itu adalah tempat ekslusif dimana harus melakukan reservasi terlebih dahulu.
Kaysie nampak puas akan suasana Cafe itu, pikirnya temannya itu benar-benar punya selera yang bagus untuk memilih tempat pertemuan mereka.
Pelayan wanita itu mempersilahkan Kaysie menuju ke sebelah kiri setelah mereka sampai di lantai atas, namun Kaysie mendadak berhenti berjalan dan matanya menatap lurus kearah samping kanan Cafe itu.
"Adrian" ujarnya dengan riang setelah menyadari kalau kekasihnya juga berada di sana.
Kaysie dengan semangat berjalan mendekat kearah Adrian, membuat kekasihnya itu terkejut adalah ide iseng yang tiba-tiba masuk kedalam otaknya.
Setelah meminta pelayan wanita itu untuk menunggu sejenak, Kaysie berjalan perlahan mendekat kearah Adrian. Rencananya ia akan membuat Adrian terkejut tapi sepertinya ia yang jauh lebih terkejut.
Kakinya mendadak tidak bisa bergerak setelah matanya melihat jelas ada seorang wanita yang berada di sebelah Adrian, ia tidak bisa melihat wajahnya karena posisinya yang berada di belakang wanita itu tapi ia bisa melihat wajah Adrian yang terlihat bahagia saat berbincang dengan wanita itu.
__ADS_1
"Itu mungkin teman kerjanya" Kaysie berusaha berfikiran positif, di umurnya yang sekarang bukan saatnya untuk gampang mengambil kesimpulan. Ia harus mencari informasi lengkapnya jika tidak ingin mengalami penyesalan pada akhirnya.
Bagaimanapun Kaysie berfikiran positif tetap saja hatinya tidak tenang, baru kemarin Adrian melamarnya tapi sekarang ia melihat dengan matanya sendiri kalau Adrian sedang bersama wanita lain. Ada berbagai spekulasi dalam otaknya tapi hatinya menolak menerima semua itu.
"Mba, saya mau duduk disana saja" Kaysie akhirnya mendapatkan cara untuk membuktikan spekulasinya.
Gadis itu menunjuk meja yang berada tepat di belakang meja Adrian dan wanita itu, karena Cafe itu memiliki sekat-sekat berlubang jadi kemungkinan Adrian melihat kehadirannya cukup besar jadi Kaysie terpaksa memilih tempat di belakang pria itu walau ia sudah melihat ada tulisan 'Reserved' disana.
"Tapi Nona, tempat itu sudah dipesan" ujar pelayan wanita itu kemudian.
Kaysie mengambil dompetnya dari dalam saku cardigannya kemudian menyerahkan kartu kreditnya "Saya bayar dua kali lipat dari biaya reservasi" ucapnya dengan nada tak terbantahkan.
Pelayan wanita itu terdiam sesaat sampai akhirnya tangannya mengambil kartu kredit milik Kaysie yang berarti kesepakatannya berhasil dan meja itu miliknya sekarang.
Bohong kalau di bilang keadaan Kaysie baik-baik saja sekarang, nyatanya hatinya terasa campur aduk saat ini. Wanita mana yang tahan melihat kekasihnya bersama wanita lain tanpa sepengetahuannya, mungkin memang rekan kerja atau temannya tapi itu tetap saja membuat hati seorang wanita tidak nyaman.
Kaysie berjalan kearah meja itu dengan hati-hati, ia tidak boleh ketahuan Adrian. Pelayan wanita itu juga pergi untuk mengurus pembayaran untuk Kaysie. Kini tinggal Kaysie seorang diri dengan wajah murungnya, ia duduk tepat di belakang Adrian sambil mencoba mempertajam pendengarannya.
"Lalu apa rencana mu ?" wanita di sebelah Adrian bicara dengan nada santai.
"Menikahinya dan menceraikannya" Adrian yang kini bicara.
Wanita itu tertawa kecil "Kamu gila" balasnya lagi.
Kaysie mendengarnya, ia bingung apa maksud Adrian. Jika menikah, apakah kedua orang itu tengah membicarakannya lalu cerai ? Apa maksudnya ?
"Kaysie tidak lebih dari seorang anak kecil yang polos"
"Harta keluarganya sangat banyak tapi ia hanya bisa menghamburkannya sesuka hati"
"Anak bodoh itu akan menyesal setelah seluruh asetnya menjadi milik ku, kita akan menikah dan aku akan mengalahkan keluarga Xavier"
Deg!
Hari ini indera pendengarannya berkeja normal, ia menangkap jelas namanya tersebut dalam pembicaraan Adrian dan wanita itu. Kaysie berulang kali mengambil nafas untuk meredakan emosinya, ia tidak hanya di libatkan di dalam pembicaraan itu tapi ia juga di juluki anak bodoh oleh Adrian.
Sungguh hatinya hancur, Adrian yang akan menjadi suaminya sangat tega berbicara seperti itu. Pria itu benar-benar memanfaatkannya untuk mengambil alih semua asetnya.
Kaysie mencengkram meja itu dengan keras, emosinya sungguh tertahan. Rasa marah bercampur sedih tidak lagi bisa di bedakan di dalam hatinya, ia tidak bisa menangis karena hatinya sudah hancur sepenuhnya.
Jika Kaysie ingin, ia akan datang menghampiri Adrian lalu memukulnya hingga pria itu sekarat tapi itu bukanlah gaya Kaysie. Adrian akan merasa besar kepala dan menganggap dirinya sangat hebat.
Kaysie menyentuh tombol stop di ponselnya, sejak awal ia sudah merekam semua pembicaraan Adrian dan wanita itu. Mungkin sangat menyakitkan bagi hatinya tapi Kaysie tidak bisa membiarkan otaknya berhenti berjalan. Ia harus membalas Adrian dengan cara terhormat, membuat pria itu memohon ampun di kakinya.
Sesaat Kaysie memejamkan matanya kemudian ia bangkit dari posisinya lalu pergi dari sana dengan langkah beratnya. Seharusnya hari ini ia bersenang-senang dengan temannya tapi justru hatinya berubah menjadi debu karena pengkhianatan Adrian.
Kaysie menyelesaikan pembayarannya setelah ia berhasil meminta rekaman cctv yang memperlihatkan Adrian bersama dengan wanita itu sebagai bukti tambahan yang mampu memperkuat bukti rekaman suara yang di milikinya.
Gadis itu berhenti di depan pintu Cafe sambil melihat kearah langit yang entah kapan mulai gelap, saat di dalam Cafe mungkin ia bisa menegakkan dirinya dan berjalan dengan percaya diri seperti biasanya tapi setelah keluar dari Cafe ia langsung menggenggam pinggiran pembatas tangga untuk menopang tubuhnya.
Kaysie merasa kakinya tidak lagi punya tenaga untuk berdiri tegak, kehancuran hatinya ternyata berefek ke seluruh anggota tubuhnya.
Sekuat tenaga Kaysie berjalan pergi dari tempat itu, ia bahkan menyeret kakinya dengan paksa seakan kakinya habis keseleo. Sepanjang jalan ia hanya menatap kosong kearah depannya, sampai akhirnya ia berhenti berjalan lalu menyentuh dadanya yang mendadak terasa sesak.
Tidak jauh dari sana, tepat di sebelah toko bunga ada sebuah gang kecil. Kaysie kemudian berjalan kesana, ia butuh waktu sendiri setidaknya ia harus mengembalikan lagi ketenangannya walau hatinya sudah hancur sepenuhnya.
Kaysie berjongkok di balik dinding milik toko bunga itu, ia memeluk lututnya sendiri kemudian menunduk dalam. Ingatannya mengulang secara random akan kenangannya dengan Adrian sampai akhirnya ia mulai terisak saat ingatan beberapa menit yang lalu, dimana Adrian secara jelas menyatakan niat buruk kepadanya.
Tangisan Kaysie semakin keras hingga tubuhnya bergetar dan nafasnya yang tidak beraturan. Sudah cukup baginya untuk berpura-pura kuat, biar bagaimanapun rasanya amat sakit sampai bernafas pun rasanya sangat menyiksa.
Kaysie terus menangis tersedu-sedu dalam gang kecil itu, tidak akan ada orang yang akan memperhatikannya jadi ia bisa sepuasnya menangis disana namun apa yang diharapkannya tidak berjalan semestinya.
Walau Kaysie sedang menunduk, tapi ia bisa melihat tepat depannya sekarang ada seseorang karena ia melihat sepasang sepatu kets berwarna putih.
Kaysie mengangkat kepalanya, kedua matanya juga hidungnya sudah memerah dan basah karena ia menangis cukup lama.
Seseorang di depannya itu terlihat tinggi, Kaysie kesulitan melihat wajahnya karena orang itu menutupi sinar redup matahari senja tapi Kaysie tahu kalau orang itu adalah seorang pria karena penampilannya.
"Untuk mu, jangan menangis lagi"
Pria itu bicara dengan singkat dengan nada suara beratnya sambil menyerahkan sebuah benda kearah Kaysie.
Kaysie terpaku di tempatnya, benda yang di berikan pria itu adalah setangkai bunga mawar merah. Kaysie tidak merasa tersentuh, ia justru heran akan pria itu.
Ini pertama kalinya bagi Kaysie, saat ia menangis justru di berikan setangkai bunga mawar merah sebagai bujukan agar ia berhenti menangis.
Walaupun kebingungan, Kaysie tetap meraih bunga mawar merah itu kemudian menggenggamnya dengan erat. Ia tidak peduli kalau duri pada bunga itu akan menyakitinya karena rasa sakitnya kini lebih besar dari itu.
"Kalau kamu ingin menghibur ku, belikan aku es krim"
Kaysie berkata random, tapi entah kenapa tiba-tiba otaknya terpikir es krim pisang vanilla kesukaannya jadi sekalian saja ia katakan permintaannya.
Pria itu terlihat tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya dari Kaysie " Kamu mau es krim ?" tanyanya memastikan.
Kaysie mengangguk dengan semangat "Es krim rasa pisang vanilla" katanya lagi dengan serius hingga pria didepannya itu hanya bisa menggerakkan sedikit kepalanya tanda kebingungan.
__ADS_1