
Perkataan Kaysie pada Adrian membuat semua orang terkejut, mereka tidak menyangka bahwa Kaysie akan mengatakan hal itu. Terlebih Adrian, ia dirundung kebingungan perihal Kaysie yang tiba-tiba membencinya.
Kaysie tidak peduli akan reaksi mereka semua, ia lantas menjauh dari Adrian kemudian berlalu kearah ranjangnya.
"Papa bilang mau mengabulkan permintaan ku. Benar ?" Kaysie bertanya kearah Raka.
Anggukan mantap di lakukan Raka sebagai responnya, "Benar, apa yang kamu inginkan ?" tanyanya balik sambil berjalan mendekat kearah putrinya.
Kaysie menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh badannya dan menyisakan hanya bagian kepalanya saja. Gadis itu terdengar mengambil nafas panjang untuk sesaat kemudian membalik badannya hingga memunggungi semua orang yang ada di dalam kamarnya itu.
"Usir Adrian pergi" Kaysie mengatakan permintaanya tanpa hambatan.
Lagi-lagi ketiga orang itu memberikan ekspresi wajah yang sama, terlebih Adrian dimana ia yang menjadi pusat perhatiannya. Perubahan mendadak Kaysie membuatnya sakit kepala, ia tidak tahu apa salahnya tapi kenapa Kaysie terlihat membencinya.
"Papa" tegur Kaysie lagi setelah menyadari kalau Adrian masih ada disana.
Raka tersadar akan keterkejutannya, ia lekas pergi menghampiri Adrian kemudian membawa pria itu pergi dari kamar putrinya. Adrian yang masih belum mengerti alasan Kaysie bersikap seperti ini mencoba untuk mendekat kearah gadis itu, namun tangan Raka dengan sigap menahannya.
"Tunggu Paman, aku harus tau alasannya apa" seru Adrian memohon pada Raka agar ia memberinya kesempatan untuk berbicara pada Kaysie.
Raka sebenarnya juga bingung, ia tahu Kaysie itu sangat mencintai Adrian sejak dulu tapi kenapa dalam sehari sikap putrinya berubah drastis, sepertinya Adrian juga tidak tau kenapa Kaysie bersikap seperti itu.
"Kay, jelaskan dulu ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu membenci ku ? Ingat kita akan menikah, kenapa sikap mu begini" ujar Adrian lagi, rasanya ia seperti sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Kata demi kata yang di ucapkan Adrian membuat luka goresan di hati Kaysie semakin perih. Sungguh Adrian sangat layak mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar atas aktingnya, rasanya memuakkan sekaligus menyakitkan bagi Kaysie.
"Kaysie jawab aku" Adrian kembali bicara dan kini ia menaikan satu oktaf nada suaranya hingga Raka, Siska bahkan Bik Tutik memberikan tatapan galaknya secara bersamaan.
"Semuanya tolong pergilah, aku janji akan makan nanti. Tapi sekarang tolong pergi dulu" Kaysie berkata dengan nada memohon. Ia harus secepat mungkin menjauh dari Adrian kalau tidak hatinya akan goyah dan membuat rasa sakit itu bertambah berkali lipat.
Tidak ada yang berbuat apa-apa, mereka semua sangat terkejut atas sikap Kaysie. Pandangan mereka bahkan kompak mengarah kepada Kaysie yang sudah memejamkan matanya.
"Kay kamu belum jawab pertanyaan ku" Adrian kembali bicara namun Siska dengan sigap langsung menarik tangan pria itu menjauh setelah melihat suaminya tidak melakukan apapun padahal Kaysie sudah bilang untuk mengusir Adrian.
Adrian terkisap karena Siska menariknya untuk pergi dari sana"Bibi tunggu sebentar, Adrian belum selesai bicara dengan Kaysie" ujarnya dengan sopan bicara pada Siska
Gelengan kepala Siska adalah jawabannya, ia tidak ingin Kaysie kembali histeris seperti tadi jadi lebih baik menuruti terlebih dahulu permintaan putrinya itu. Masalah ada alasan di balik sikap Kaysie pada Adrian akan di pikirkan nanti.
Adrian benar-benar di tarik paksa keluar dari kamar Kaysie. Setelah Siska menutup pintu kamar putrinya ia menatap serius kearah Adrian "Bibi ga tau ada apa diantara kalian tapi lebih baik hari ini kamu pergi dulu, setelah Kaysie lebih tenang nanti kalian bisa bicara" ujarnya dengan bijaksana.
Tatapan mata Adrian penuh makna memandang pintu kamar Kaysie yang tertutup. Kenapa rasanya seperti ia di campakkan oleh Kaysie, tapi apapun itu Adrian paling penasaran akan alasan di balik itu semua. Memorinya terulang, ia mencoba mengingat apakah ia pernah membuat Kaysie marah atau ia telah membuat kesalahan yang tidak di ketahui olehnya.
"Pergilah Adrian" kini Raka yang bicara setibanya ia di luar dengan suara tegas tanpa ingin di bantah, belum lagi ekspresinya sangat tidak bersahabat.
Adrian mengangguk kecil kemudian ia berlalu pergi dari sana dengan banyak pertanyaan yang membingungkan di dalam pikirannya.
Keadaan kamar Kaysie kembali kosong, gadis itu membuka kedua matanya kemudian bangkit dari posisi tidurnya hingga kini ia duduk dengan kedua kaki yang di lipat dan tangan yang memeluk kakinya itu.
Kaysie tidak lagi menangis, ia hanya tengelam akan pikirannya sendiri. Mungkin sesaat ia merasakan penyesalan akan keputusannya untuk meninggalkan Adrian, namun ia juga tidak bodoh untuk membiarkan dirinya di manfaatkan oleh Adrian begitu saja.
Pertama kalinya Kaysie berharap ia kehilangan ingatannya dan bisa melupakan semua rasa sakit itu. Ia ingin memulai hidup baru dengan lembaran kertas baru.
Tapi sepertinya tidak mungkin, kecuali kalau Kaysie nekat melukai dirinya sendiri agar keinginannya tercapai tapi lagi-lagi ia tidak sebodoh itu lagipula jika di pikirkan Adrian tidak seistimewa itu hingga Kaysie harus mengorbankan dirinya.
"Bodo amat lah" keluh Kaysie lagi, sudah cukup gadis itu merasa sedih hari ini jadi ia harus kembali pada realita.
Mau menangis selama apapun, hatinya yang luka tidak bisa di sembuhkan dan ingatannya tidak akan menghapus fakta bahwa Adrian adalah pria brengsek yang hanya memanfaatkan dirinya untuk mengambil alih aset keluarga Lucia.
*******
Jika Kaysie sedang berjuang atas perasaannya sendiri maka Arsen sedang berjuang menahan omelan Neneknya yang sudah berlangsung selama hampir 30 menit.
"Tugas mu hanya mengantar bunga, apa itu susah ?" pertanyaan ini sudah di tanyakan oleh Neneknya untuk yang ketiga kalinya.
Arsen hanya menunduk dalam seraya memohon maaf pada Neneknya, rasanya akan sia-sia kalau ia membalas ucapan Neneknya karena pasti akan kembali di tanyakan. Jadi lebih aman kalau ia hanya diam seraya berucap kata maaf.
Neneknya itu duduk dengan ekspresi kesal yang masih terukir jelas di wajahnya yang menua "Pekerjaan mudah saja kamu tidak bisa melakukannya dengan sempurna jadi bagaimana bisa nanti kamu memimpin Xavier Corp ?" kalau ini pertanyaan pertama yang ditanyakan Neneknya, Arsen kembali meminta maaf kemudian ia mengangkat kepalanya.
Pertanyaan itu membuat harga dirinya terluka, selama beberapa tahun belakangan di sepanjang 26 tahun hidupnya Arsen tidak berhenti berusaha keras untuk belajar agar nanti ia bisa memimpin Xavier Corp dan membawa banyak kesuksesan, tapi kenapa Neneknya begitu menyebalkan dengan membandingkan pekerjaan mengantar bunga dengan pekerjaan sebagai pemimpin Xavier Corp.
"Nek, ini pertama kalinya aku melakukan pekerjaan kasar jadi kenapa Nenek tidak bisa memakluminya ?"
"Aku hanya kekurangan satu tangkai bunga kenapa harus di bandingkan dengan perjuangan ku selama 26 tahun untuk menjadi pemimpin Xavier Corp ?"
Dua pertanyaan Arsen membuat wanita paruh baya itu terkejut, ia tidak menyangka akan reaksi serius dari cucu laki-lakinya itu. Ia lantas mengambil nafas panjang kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Pemimpin Xavier Corp ditakdirkan untuk tidak melakukan kesalahan apapun. Kamu yang melakukan perkejaan kecil saja masih melakukan kesalahan bagaimana nanti saat menjadi pemimpin Xavier Corp ?"
"Apa kamu berniat menghancurkan Xavier Corp dengan tangan mu ?"
"Tentu tidak !" seru Arsen dengan tegas, ia sangat tahu dari mulai Kakek buyutnya hingga ayahnya bagaimana kerasnya mereka memperjuangan Xavier Corp hingga kini menjadi satu-satunya perusahan yang paling berkuasa di kota S ini.
Neneknya itu tersenyum samar akan jawaban tegas Arsen. "Lakukan pekerjaan mu dengan benar, Nenek harap ini tidak terulang lagi" ujarnya memberi peringatan.
Bukan tanpa alasan Neneknya itu memperlakukan Arsen dengan kejam seperti itu. Karena demi menjadi pemimpin Xavier Corp memang perlu didikan keras, di samping harus membuat Xavier Corp semakin sukses pimpinan dari Xavier Corp harus memiliki jiwa dan hati yang tahan banting.
Karena menjadi satu-satunya perusahan terkemuka pastinya memiliki banyak pesaing, tujuan mereka hanya satu 'membuat Xavier Corp gulung tikar'. Mereka bahkan tidak segan menggunakan cara apapun tidak terkecuali sampai berani mencelakai Arsen.
Demi mendapatkan besi dengan kualitas terbaik, tentu harus di bakar di atas bara api kemudian di tempa dengan keras sama seperti apa yang di lakukan Neneknya kepada Arsen. Ia hanya ingin cucu laki-lakinya itu lebih kuat lagi hingga mampu melindungi Xavier Corp. Hanya itu keinginannya, dan ia berharap Arsen menyadarinya.
Arsen melihat kepergian Neneknya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa kesal dan marah atas ucapan Neneknya tapi ia juga mengerti maksud sebenarnya.
Sejak awal ia tau tidak mudah menjadi pemimpin Xavier Corp tapi ia tidak menyangka kalau jalannya akan sesulit ini, ia bahkan mendapat didikan spesial dari Neneknya di kota ini sedangkan seluruh keluarganya kini berada di kota L.
Arsen kembali menghela nafas berat kemudian ia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, ia butuh udara segar untuk menenangkan perasaan hatinya.
__ADS_1
******
Malam ini begitu dingin padahal sekarang ini adalah musim panas, Arsen berjalan dengan kedua tangan yang di masukan kedalam saku hoodie hitam miliknya. Ia sudah terlalu bosan berkeliling kebun mawar merah Neneknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan di pusat kota S.
Arsen sudah memarkirkan mobil boxnya di dekat taman kota, ia kemudian berjalan dengan santai menyusuri jalan-jalan setapak. Walau jarum jam sudah menunjukan pukul 12 tengah malam tapi suasana kota S masih ramai, memang beberapa toko sudah ada yang tutup tapi masih ada juga toko yang buka hingga banyak orang yang belum tidur memilih datang kesana.
Kaki Arsen berjalan ringan, ia kemudian berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang memiliki gaya modern dengan ukiran kaca besar diatasnya yang bertuliskan Xavier Corp.
Arsen merenung melihat gedung kantor Xavier Corp yang megah itu, pikirannya melenggang jauh sambil mengingat apa yang sebelumnya telah di katakan Neneknya.
Apa aku bisa memimpin perusahaan ini ?
Berbagai pemikiran itu di bungkus dalam sebuah kalimat tanya yang bahkan ia tidak tau jawabannya. Rasanya seperti ada beban berat di punggungnya padahal ia belum menjadi pimpinan Xavier Corp.
Tidak ingin larut akan pikirannya sendiri. Arsen memutuskan pergi dari sana, namun belum juga ia berjalan seorang gadis dengan hoodie putih oversize menabraknya hingga gadis itu mengaduh kesakitan karena kepalanya yang terbentur badan Arsen.
"Bisa hati-hati ga sih" keluh gadis itu kesal sambil menunduk dan mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Arsen hanya menggelengkan kepalanya, disini siapa yang sebenarnya harus di salahkan ia yang hanya berbalik arah atau gadis itu yang berjalan sambil menunduk.
Mood Arsen lagi tidak baik hari ini, ia hanya akan mengacuhkan gadis itu dan pergi dengan tenang untuk melanjutkan perjalannya namun gadis itu dengan cepat menahan Arsen dengan menarik hoodie hitamnya.
"Kamu melupakan sesuatu" ujar gadis itu lagi masih sambil menunduk dan menyentuh kepalanya.
Arsen bingung, apa ia telah meninggalkan sesuatu disana ? Matanya kemudian melihat kearah belakang gadis itu, siapa tau memang benar apa yang di katakan oleh gadis itu.
"Tidak ada yang aku tinggalkan" ujar Arsen setelah ia tidak menemukan barangnya yang tertinggal di depan gedung Xavier Corp.
Gadis itu mengangkat kepalanya sambil melepaskan penutup kepala hoodie putih miliknya lalu menatap galak kearah Arsen "Permintaan maaf mu kare.. Loh Paman mawar merah" seru gadis itu terkejut setelah melihat wajah Arsen.
Gadis beehoodie putih yang ternyata adalah Kaysie. Ia bahkan menyebut Arsen dengan panggilan Paman mawar merah tanda bahwa ia mengenal Arsen.
Arsen terdiam sambil mengulang kembali memorinya, "Ah" ujarnya singkat setelah ingat gadis di depannya ini.
Bagaimana bisa Arsen lupa karena Kaysie adalah alasan utama Neneknya menceramahinya hari ini. Arsen tidak sengaja bertemu Kaysie kemarin saat ia sedang mengantarkan bunga ke salah satu toko bunga di pusat kota ini.
Dimulai dari Kaysie yang bertanya arah padanya sampai ia menemukan gadis itu tengah menangis di belakang tembok toko bunga. Arsen yang hendak mengantarkan satu tangkai bunga mawar yang tertinggal di mobilnya justru memberikan bunga itu pada Kaysie agar gadis itu berhenti menangis.
Tapi nyatanya perbuatan baik Arsen untuk menghibur Kaysie membawa malapetaka bagi dirinya sendiri. Toko bunga itu memberikan keluhannya akan pekerjaan Arsen sampai akhirnya Neneknya itu memberikan ceramah panjangnya.
"Paman bunga mawar merah ingat pada ku ?" tanya Kaysie memastikan sambil menatap lekat kearah Arsen.
Arsen hanya mengangguk kecil sambil melepaskan tangan Kaysie yang sedang menarik hoodie hitamnya, ia juga menatap kearah Kaysie dengan pandangan menilai.
Gadis di depannya ini terlihat menyedihkan, kedua matanya dan hidungnya memerah seperti habis menangis di tambah ekspresinya terlihat sayu.
"Terimakasih" ujar Kaysie dengan tulus sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Hal kecil yang di lakukan Arsen saat itu cukup membuat hatinya jauh lebih baik, setidaknya untuk sesaat ia bisa melupakan ingatannya akan ucapan jahat Adrian dengan wanita lain di dalam Cafe itu.
Arsen menghembuskan nafas lelahnya. Ia kemudian membalik badannya agar menghadap kearah Kaysie, sungguh hari ini moodnya tidak baik terlebih ia harus bertemu dengan Kaysie dimana gadis itu secara tidak langsung ikut andil akan terciptanya mood buruknya hari ini.
"Tolong jangan salah paham, tapi aku tidak suka berhutang budi pada orang lain jadi aku akan membalas kebaikan Paman" Kaysie berkata dengan tenang sambil memandang kearah Arsen.
"Tidak perlu" tolak Arsen langsung, ia kembali membalik badannya untuk pergi tapi lagi-lagi Kaysie menghentikan langkahnya. Gadis itu menghalangi jalan Arsen sambil membentangkan kedua tangannya.
"Aku janji tidak akan menganggu Paman lagi, aku akan berpura-pura tidak mengenal Paman kalau kita bertemu kembali. Tapi tolong jangan menolak permintaan ku" ujar Kaysie dengan keras kepala.
Sejak dulu ia tidak suka berhutang budi, walau ia tidak lupa mengucapkan terima kasihnya namun ia merasa harus membalasnya bagaimanapun caranya. Papanya selalu mendidiknya seperti itu.
Ini pertama kalinya Arsen bertemu dengan gadis yang sangat keras kepala, ia merasa sudah cukup dengan ucapan terima kasih toh juga saat itu ia ikhlas melakukannya untuk Kaysie.
"Apa yang kamu inginkan ?" tanya Arsen, ia hanya akan menyelesaikan ini dengan cepat dan membuat gadis di depannya ini segera menjauh darinya.
Kaysie memberikan senyuman kecilnya, ia menarik tangan Arsen agar mengikuti langkahnya sedangkan Arsen hanya menatap bingung kearah tangannya yang sekarang dipegang oleh Kaysie.
Malam yang semakin larut menemani jalan keduanya di tengah kota itu, tidak ada pembicaraan apapun sampai keduanya kini berada di satu wilayah dimana ada banyaknya restoran yang masih buka.
Kaysie berhenti berjalan begitupun dengan Arsen, gadis itu kemudian melepas tangannya dari Arsen kemudian menatap kearah pria itu "Pilihlah Paman, mau makan dimana ?" tanyanya.
"Terserah kamu" jawab Arsen cepat, sebenarnya ia tidak lapar tapi demi mengusir Kaysie pergi dengan terpaksa ia akan menurut.
Kaysie kemudian melihat deretan restoran itu dengan pandangan menilai, ia kemudian kembali menarik tangan Arsen agar mengikutinya.
Restoran daging panggang adalah pilihannya, Kaysie dan Arsen masuk kedalam restoran yang cukup ramai itu lalu menempati meja yang ada di lantai dua restoran itu.
"Tolong dua set daging premium dan sup tulang" pesan Kaysie setelah pelayan datang ke meja mereka berdua.
Arsen melihat sekilas menunya, ia amat terkejut setelah mendengar pesanan Kaysie. Bukan soal harganya yang memiliki angka 5 di awal dengan 6 digit angka 0 di belakangnya namun yang membuat Arsen terkejut adalah jumlah dari makanan yang di pesan Kaysie.
Satu set daging premium itu terdiri atas 100 gram daging strip (bagian punggung atas) 50 gram daging bagian T-bone, 50 gram bagian Porterhouse, 100 gram ribeye, 50 gram ribs dan terakhir adalah 100 gram tenderloin belum lagi Kaysie juga memesan sup tulang.
Arsen sangsi kalau Kaysie dapat menghabiskan semua itu seorang diri, kalau dirinya mungkin bisa karena umumnya pria memiliki nafsu makan yang lebih besar tapi kalau Kaysie ? Arsen berani bertaruh gadis di depannya ini tidak akan menghabiskan makanannya.
"Paman makanlah dengan bahagia, kalau ingin bungkus untuk keluarga Paman di rumah boleh kok" jelas Kaysie lagi dengan santainya.
Arsen menatap serius kearah Kaysie, ia mulai merasa sebal sekarang. Apakah ia terlihat setua itu ? Apakah penampilannya menjelaskan kalau ia adalah seorang kepala keluarga yang memiliki istri dan anak di rumah ?
"Umur mu berapa ?" Arsen menanyakan pertanyaan lain dan memilih tidak menanggapi ucapan Kaysie sebelumnya.
"Segini" Kaysie lantas memberikan gestur di kedua tangannya untuk membentuk angka 24.
Arsen tersenyum samar, gadis di depannya sudah dewasa justru memanggilnya dengan sebutan Paman padahal perbedaan umur mereka hanya 2 tahun.
"Kalau begitu berhenti memanggil ku Paman, umur ku baru 26 tahun" ujar Arsen menjelaskan sedikit tentang dirinya sambil menyenderkan badannya ke belakang kursi itu.
__ADS_1
Tanpa protes apapun, Kaysie hanya mengangguk sebagai jawabnya "Lalu aku harus memanggil mu apa ?" tanyanya lagi dengan bingung.
"Arsen" lanjut pria itu lagi memperkenalkan dirinya pada Kaysie.
Gadis itu tersenyum kecil kemudian ia mengulurkan tangannya pada Arsen "Kaysie, senang bisa bertemu dengan mu. Arsen" ucapnya dengan tulus.
Arsen tertegun setelah namanya di sebutkan oleh Kaysie, ia menatap ragu kearah tangan Kaysie namun akhirnya ia tetap membalas jabatan tangan dari gadis itu.
Keduanya melepaskan tangan mereka secara bersamaan disusul oleh tibanya pesanan milik mereka berdua. Meja kosong itu kini tersusun rapat piring-piring berisi makan yang terlihat enak.
Kaysie mengenakan kain putih untuk menutupi celananya kemudian ia mulai menikmati makanannya begitupula dengan Arsen.
Daging premium itu di olah dengan banyak jenis masakan, ada yang di tumis ada pula yang di bakar sampai potongan tenderloin yang nanti akan di panggang.
Keduanya mulai makan dengan tenang, baik Arsen maupun Kaysie tidak melupakan table manner yang sudah di ajarkan oleh keluarga mereka masing-masing bahkan tidak ada yang bersuara selagi mereka makan.
Dinner tegah malam yang di lakukan Kaysie dan Arsen berlangsung damai. Kaysie juga terlihat menikmati makanannya padahal sebelumnya ia mogok makan karena rasa sakit hatinya namun sekarang gadis itu nampak bahagia saat menyantap makanannya bersama dengan Arsen.
Suasana santai di restoran itu membuat sesi dinner mereka berjalan ringan, beberapa potongan daging yang terasa empuk berhasil mendarat sempurna di perut Kaysie dan juga Arsen.
Kini tersisa satu menu terakhir, tenderloin panggang. Pelayan sudah membawa piring kosong milik Kaysie dan Arsen lalu menggantinya dengan panggangan besar dan dua piring daging tenderloin yang sudah di bumbui.
Kaysie menyalakan kompor elektrik itu kemudian menuang butter sebelum ia mulai memanggang dagingnya, Arsen menatap kearah Kaysie dengan pandangan tidak percaya.
Setelah sekian banyak makanan belum juga bisa membuat gadis di depannya itu merasa kenyang.
Apa dia tidak makan selama seminggu ?
Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya saat melihat Kaysie masih bersemangat untuk memanggang daging itu.
Bunyi desis terdengar merdu hingga Kaysie tersenyum senang, ia menata potongan tenderloin yang telah disusunnya dengan rapih sambil mengontrol api yang ada di kompor elektrik itu.
"Apa masih ada ruang kosong di perut mu ?" tanya Arsen pada akhirnya, ia terlalu penasaran akan kapasitas perut Kaysie yang menurutnya tidak normal jika di ukur berdasarkan standar seorang perempuan.
Kaysie melihat sekilas kearah Arsen, ia kemudian mengangguk penuh keyakinan "Daging ini sungguh enak, Paman harus mencobanya" jawabnya santai hingga tanpa sadar memanggil Arsen dengan panggilan Paman.
Arsen hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar Kaysie memanggilnya dengan sebutan Paman lagi. Detik ini Arsen membenci panggilan itu, ia baru berusia 26 tahun bukannya itu terlalu muda jika ia di panggil Paman terlebih oleh orang asing seperti Kaysie.
Kaysie tidak menyadari kesalahannya karena ia sangat sibuk dengan aktivitas memanggang dagingnya. Gadis itu dengan serius membalik daging yang telah matang untuk memasak bagian daging lainnya sedangkan Arsen hanya menatap lekat kearah Kaysie, ia masih tidak percaya akan kemampuan makan gadis di depannya ini.
Beberapa menit kemudian daging yang di panggangnya telah matang, Kaysie kemudian memotong daging itu dalam ukuran lebih kecil agar mudah di makan lalu menyerahkan beberapa potongan daging kepada Arsen terlebih dulu.
"Paman makanlah" ujarnya dengan riang namun setelah melihat tatapan galak Arsen ia langsung menutup mulutnya dan menyadari kesalahannya.
"Saat manusia merasa nyaman akan satu hal maka itu akan menjadi satu kebiasaan" ujar Kaysie lagi dengan ambigu sampai Arsen mengerutkan dahinya tanda ia tidak mengerti akan apa yang di katakan Kaysie.
Kaysie mengangkat bahunya tanda tak tahu, ia tidak ingin menjelaskannya lagi karena ia yakin nanti Arsen akan mengerti maksudnya.
Daging panggang di depannya berhasil membuat Kaysie berbinar senang, ia mengambil sumpitnya kemudian mencelupkan potongan daging itu kedalam saus lalu menikmati nikmatnya rasa daging itu di dalam mulutnya.
"Kamu terlihat bahagia" ujar Arsen tiba-tiba hingga Kaysie memberikan ekspresi bingungnya.
Arsen meletakan sumpitnya kemudian ia menengguk air mineral untuk membersihkan tenggorokannya "Wajah mu bersinar saat makan makanya aku bilang kamu terlihat bahagia" jelasnya panjang lebar, Kaysie mengangguk setuju kemudian ia kembali makan sisa dagingnya dengan semangat.
Senyuman samar Arsen mengembang namun ia dengan cepat merubah kembali ekspresinya menjadi kembali tenang. Arsen merasa gadis di depannya ini bukan orang yang sama seperti sebelumnya, di ingatannya Kaysie adalah gadis cengeng dengan wajah sedihnya yang terlihat amat jelas namun sekarang ? rasanya semua terbalik begitu saja, Kaysie menjadi lebih bahagia saat ia sedang makan.
"Kenapa kamu menangis saat itu ?" tanpa sadar Arsen bertanya hal itu.
Kaysie berhenti mengunyah makanannya, tangannya yang sedang memegang penjepit mengambang di udara setelah mendengar pertanyaan dari Arsen.
Merasa pertanyaannya terlalu lancang membuat Arsen panik, ia lekas duduk dengan tegap kemudian menatap Kaysie dengan pandangan canggung "Tidak, tidak lupakan saja. Maaf" ujarnya dengan cepat.
Kaysie diam sesaat namun tak lama kemudian ia justru tersenyum lebar hingga pipinya yang masih penuh dengan makanan langsung menyembul dengan lucunya, gadis itu seperti seekor tupai yang sedang mengunyah makanannya dan itu membuat Arsen tertawa geli.
Pandangan galak Kaysie membuat Arsen susah payah menahan tawanya, ia sangat ingin memberikan kaca untuk Kaysie agar gadis itu dapat melihat betapa lucu wajahnya sekarang.
Kaysie dengan tidak peduli kembali mengunyah makanannya, ia menandaskan air mineralnya setelah aktivitas makannya telah selesai. Arsen lantas menyerahkan dua lembar tissue makan untuk Kaysie dan di terima oleh gadis itu dengan senang hati.
Kaysie mengusap bibirnya kemudian menatap kearah Arsen dengan serius "Aku dikhianati oleh pacar ku, dia berselingkuh dengan wanita lain" jelasnya tiba-tiba menceritakan alasannya kenapa saat bertemu dengan Arsen waktu itu ia sedang menangis.
Arsen terdiam mendengarnya, gadis di depannya ini sedang patah hati rupanya.
"Lupakan, masih banyak pria di dunia ini" lanjut Arsen lagi dengan santai dan berharap itu cukup membantu menghibur Kaysie.
Kaysie mengangguk setuju, ini kedua kalinya pria itu mencoba menghiburnya. Gadis itu langsung mengembangkan senyumannya
"Termasuk Paman ?"
"Maksud ku Arsen, eh tapi pasti kamu sudah memiliki keluarga bukan ? aku jadi merasa bersalah pada istri dan anak mu, mereka pasti sedang menunggu mu di rumah"
Kaysie berkata dengan cepat meralat ucapan asalnya sebelum Arsen mulai marah karena pria itu di panggil dengan sebutan Paman lagi.
Arsen tidak mengerti isi kepala Kaysie, kenapa gadis itu terus mengatakan omong kosong. Bagaimana bisa Kaysie sangat keras kepala dengan mengatakan kalau ia adalah pria yang sudah berkeluarga padahal gadis itu tidak bertanya terlebih dahulu padanya.
"Baiklah sudah amat larut, jadi aku akan pulang. Sekali lagi terima kasih telah menghiburku, dari kemarin atau sekarang" ucap Kaysie dengan tulus sambil bangkit dari posisinya lalu ia mendudukkan sedikit kepalanya kemudian mengambil bill makanan mereka.
Melihat Kaysie yang hendak pergi membuat Arsen dengan cepat menahan tangan gadis itu, keduanya kini saling bertatapan dengan dua jenis pandangan yang berbeda.
"Aku tidak punya istri ataupun anak" jelas Arsen yang mendadak menjelaskan statusnya.
Kaysie lekas terdiam, sorot mata tajam milik Arsen seakan menghipnotisnya hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali. Waktu yang berjalan seakan berhenti dan Kaysie hanya menatap kearah Arsen dengan pandangan yang sulit di jelaskan.
"Apa aku harus move on pada mu ?"
Kaysie bertanya tanpa sadar saat matanya masih setia memandang kearah Arsen yang juga sedang menatap lekat kearahnya.
__ADS_1