
Tidak ada orang yang baik-baik saja setelah patah hati. Hidup seperti tidak hidup adalah keadaan yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang sedang patah hati, seperti yang di lakukan Kaysie hari ini.
Gadis itu mengurung dirinya dalam kamar yang sengaja dikunci sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, panggilan dari pelayan rumahnya diacuhkannya begitu saja. Kaysie tidak ingin melakukan apapun kecuali duduk termenung diatas karpet bulu berwana putih sambil menatap kosong kearah luar rumahnya lewat sebuah jendela besar di sisi lain kamarnya.
Gadis itu hanya diam disana, entah apa yang sedang di pikirkan dalam otaknya hingga ia tidak peduli kalau sejak tadi pintu kamarnya terketuk cukup keras.
"Nona Kay, ini Bibi bawa makanan kesukaan Nona"
"Nona belum makan sejak pagi, nanti Nona bisa sakit"
"Nona Kay, tolong buka pintunya"
Pelayan rumah Kaysie berusaha membujuk dengan nada suara khawatir. Sudah kelima kali pelayan rumahnya itu mencoba membujuk Kaysie tapi hasilnya sama saja, hanya keheningan yang di dapatnya. Kaysie tidak menjawab apapun, ia seperti menulikan pendengarannya dan memilih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kembali tidak mendapatkan respon membuat pelayan rumah Kaysie hanya bisa menghela nafas berat sambil berbalik arah untuk pergi dari kamar Kaysie, namun tepat di tangga pelayan itu bertemu dengan kedua orang tua Kaysie yang terlihat panik "Bi, benar Kaysie tidak makan dan keluar kamar sejak pagi ?" tanya Ibu dari Kaysie dengan raut wajah khawatir.
Pelayan wanita itu mengangguk lemah sebagai jawabannya, ia juga merasa khawatir seperti kedua orang tua Kaysie pasalnya Nona mudanya itu tidak pernah berbuat seperti ini. Kaysie adalah anak yang periang dan ia sangat suka makan, terlebih jika menunya adalah salmon pangang madu dimana itu adalah makanan kesukaannya. Nona mudanya itu pasti akan menghabiskannya dengan semangat tapi hari ini Kaysie justru tidak menyentuh makannya sama sekali dan itu membuatnya sedih.
Kedua orang tua Kaysie segera mendekat ke kamar anak perempuannya itu, mereka berdua yakin pasti ada satu hal yang membuat anak mereka bersikap seperti itu.
Ketukan pintu kamar Kaysie kembali terdengar "Sayang, ini Mama. Buka dong pintunya, ayo cerita ada apa ?" ujar Siska - Ibu dari Kaysie.
Kembali, hanya keheningan yang di terima sebagai balasannya. Kedua orang tua Kaysie semakin khawatir, pikiran mereka sudah berspekulasi macam-macam sampai akhirnya Raka- Ayah dari Kaysie mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Bisa kamu kerumah sekarang ? Kaysie mengurung dirinya di kamar sejak pagi" Raka bicara di telepon entah dengan siapa sedangkan Siska tidak hentinya membujuk Kaysie agar mau membuka pintu kamarnya.
"Baik, segera datang" Raka menyelesaikan pembicaraan di teleponnya kemudian ia mengenggam tangan istrinya yang sudah semakin panik karena putri mereka tidak kunjung merespon.
Siska menatap Raka dengan air mata tertahannya "Kalau Kay nekat gimana Pa ? Ada apa sebenarnya sama anak itu" ujarnya khawatir hingga Raka hanya bisa menghela nafas beratnya.
"Dobrak ? Kunci cadangan ? lakukan apapun, aku ga mau anak kita kenapa-kenapa didalam" Siska sudah habis kesabaran, rasa khawatir kini berkembang menjadi perasaan takut yang mengisi semua relung jiwanya.
Raka berfikir, apa yang di katakan Siska itu benar. Ia juga sama khawatirnya terlebih Kaysie adalah putri semata wayangnya.
"Bik Tutik" Raka lantas memanggil salah satu pelayan rumahnya.
Pelayan wanita yang bernama Tutik itu dengan cepat menghampiri Raka dan Siska yang masih setia di depan pintu kamar Kaysie.
"Bawakan kunci cadangan kamar Kaysie" pintanya segera, namun pelayan wanita itu hanya bisa menunduk dalam dengan wajah sedih
"Maaf Tuan, semua kunci cadangan kamar Nona Kaysie tidak ada di tempatnya"
"Kami juga sebelumnya sudah mencarinya tapi kuncinya tidak ada, sepertinya Nona Kaysie telah mengambilnya"
Bik Tutik menjelaskan dengan jujur, penjelasan itu membuat Raka langsung menyentuh kepalanya yang terasa pening sedangkan Siska jatuh terduduk di dengan lemas di depan pintu kamar Kaysie.
"Kay buka pintunya sayang" Siska berkata lirih dengan air mata yang sudah keluar dari tempatnya.
__ADS_1
Hati seorang ibu mana yang tidak terluka melihat anaknya bersikap seperti itu, tidak makan, keluar kamar dan memilih mengurung dirinya.
Raka ikut terduduk bersama Siska kemudian ia dengan perlahan membantu istrinya itu untuk kembali berdiri "Kay, Mama mu nangis ini. Tolong buka pintu kamarnya ya. Apapun kemauan kamu akan Papa turuti tapi buka dulu kamarnya" serunya dengan suara lembut sambil terus mengetuk kamar putrinya.
Kembali hening, tidak ada respon apapun dari Kaysie.
Sebaliknya, di dalam kamar Kaysie sebenarnya mendengar semua yang di katakan kedua orang tuanya tapi ia tidak ingin merespon apapun.
Kaysie butuh waktu sendiri untuk merapihkan hatinya yang porak-poranda bak sehabis badai dahsyat, ia harus kembali memupuk kekuatannya agar dapat membalas perlakuan Adrian.
Tapi, sisi lain hatinya tidak bisa berbohong kalau ia berharap apa yang di katakan Adrian sebelumnya adalah sebuah lelucon dan pria itu tulus padanya.
Namun otak warasnya, seakan menjelaskan bawa semua itu nyata dan Adrian benar hanya memanfaatkannya berdasarkan fakta yang di dapatkannya.
Perselisihan antara otak dan hatinya berjalan cukup sengit, Kaysie merasa di dalam pikirannya sekarang sedang ada pertarungan hebat dan ia bingung harus berpihak dengan yang mana.
Rasa sakit di hatinya terlampau sulit di jelaskan dengan kata-kata, Ia sangat mencintai Adrian namun pria itu nyatanya hanya menganggap dirinya sebagai alat untuk kepentingan pria itu sendiri.
Perdebatan dalam batin Kaysie membuat gadis itu menutup kedua telinganya sambil memejamkan matanya, rasanya seperti ada dua orang yang berdebat dan merasa pendapatnya paling benar.
Kaysie 1, seakan ia adalah sisi pembela yang terus mengatakan bahwa Adrian tidak bersalah. "Aku bilang Adrian tidak seperti itu" katanya.
Namun di sisi lainnya terdapat Kaysie 2 dimana ia adalah sisi opposite yang menjelaskan kebenaran dimana hal itu sangat di tentang oleh Kaysie 1. "Tapi Adrian orang jahat" balasnya.
Sejujurnya Kaysie tidak mengalami delusional, hanya saja saat ini otak dan hatinya terus berdebat karena ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Adrian telah menyakitinya.
Kaysie akhirnya berteriak histeris dan berharap dengan cara ini ia bisa menghentikan perdebatan itu di dalam kepalanya. Bersamaan dengan itu badannya langsung bergetar hebat dan air matanya mengalir deras dari kedua matanya yang terpejam.
Teriakan keras Kaysie terdengar hingga ke luar kamarnya. Raka, Siska dan Bik Tutik langsung terkejut dengan pandangan yang mengarah pada pintu kamar Kaysie yang masih terkunci.
Ketiga orang itu secara bersamaan langsung mengetuk dengan keras pintu kamar Kaysie sambil terus berteriak memanggil nama gadis itu dengan khawatir.
"Pa dobrak Pa" Siska berseru tak sabar sambil menarik Raka.
"Minggir semuanya"
Ketiga orang itu lekas membalik badannya, tepat di sana berdiri Adrian dengan peluh yang membasahi wajahnya dan juga dada yang naik turun dengan nafas tersengal karena sepertinya ia habis berlari.
"Cepat Adrian" Siska semakin tidak sabar.
Ketiga orang itu memberikan jalan untuk Adrian agar dapat mendobrak pintu kamar Kaysie.
Duk! Duk! Duk!
Tidak mudah bagi Adrian hingga akhirnya juga Raka ikut membantunya.
Duk!
__ADS_1
Brak!
Pintu kamar Kaysie terbuka bersama dengan Adrian juga Raka yang terdorong masuk ke dalam, Siska juga Bik Tutik segera masuk kedalam dengan langkah cepat untuk menghampiri Kaysie yang masih di posisi duduknya yang berada dekat dengan jendela.
"Kaysie" panggil Siska keras lalu ia memeluk putrinya yang terlihat mengkhawatirkan itu dengan erat sedangkan Raka, Adrian dan Bik Tutik yang melihatnya ikut merasa khawatir akan keadaan Kaysie saat ini.
Kaysie tidak merespon, gadis itu hanya diam saat Siska memeluknya. Rasanya seperti jiwanya seakan pergi namun gadis itu masih tetap sadar.
Wajah Kaysie terlihat lesu, kedua matanya memerah dan bengkak karena ia habis menangis. Namun yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tatapan mata gadis itu benar-benar kosong.
"Kay" Adrian dengan hati-hati mendekat sambil memperhatikan Kaysie dengan serius.
Menyadari kehadiran Adrian, Kaysie langsung bereaksi. Ia menatap lurus kearah Adrian kemudian tanpa sadar air matanya kembali turun dan ia mulai terisak.
Siska melepaskan dirinya dari Kaysie kemudian menatap galak kearah Adrian di ikuti oleh Raka dan Bik Tutik yang langsung menatap curiga kearah Adrian, mereka merasa sepertinya ada masalah diantara Kaysie dan Adrian sampai-sampai sikap Kaysie menjadi seperti ini.
Adrian yang menyadari situasinya terpojok hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memberi gestur tangannya bahwa apa yang telah di pikirkan ketiga orang itu tentang dirinya adalah salah.
"Kita berdua ga ada masalah apapun" jelas Adrian singkat dengan wajah yang serius.
Kaysie tiba-tiba mengulurkan tangannya kearah Adrian tanpa satu katapun, Adrian melihatnya dan langsung meraihnya kemudian ia membawa Kaysie kedalam pelukannya.
"Ada apa dengan mu ?" tanya Adrian dengan hati-hati sambil mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
Tidak ada jawaban apapun yang di terima Adrian, Kaysie hanya menangis tersedu-sedu dalam pelukannya bahkan gadis itu sampai mencengkram kuat jasnya.
Ini pelukan terakhir ku
Kaysie bertekad dalam hatinya, detik ini ia akan mencoba mengubur perasannya dan secara perlahan kembali menyatukan hatinya yang hancur karena pria yang amat di cintanya ini.
Pelukan hangat ini akan di ingatnya sebagai kenangan indah di sisi lain hatinya, ini adalah hal terakhir yang mampu di lakukan Kaysie.
Selamat tinggal Adrian.
Aku yang akan meninggalkan mu sebelum kamu yang melakukan hal itu.
Rasanya terlampau sakit sampai hati ku seakan ingin meledak dan aku sulit bernafas.
Kini aku membenci mu.
Kaysie melepaskan dirinya dari Adrian, ia menatap dingin kearah pria itu kemudian.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras terarah tepat di pipi Adrian hingga seluruh orang yang ada di sana terlihat amat terkejut atas apa yang baru saja di lakukan oleh Kaysie.
"Aku membenci mu" kata Kaysie dengan nada suara dingin hingga Adrian hanya bisa terpaku di tempatnya.
__ADS_1