
Arsen berjalan lesu memasuki rumah Neneknya, akibat toko bunganya ramai pekerjaannya secara otomatis bertambah banyak. Arsen membuka pintu kamarnya kemudian melangkah kearah ranjang, merasa bajunya basah karena keringat Arsen memilih untuk membukanya hingga badan proporsional kebanggaannya terekspos dan menyisakan celananya saja.
"Tuan muda" suara kepala pelayan dari luar kamar membuat Arsen mengumpat kesal, baru saja kedua matanya hendak terpejam.
Tanpa niat sama sekali Arsen berjalan kearah pintu kemudian membukanya dengan ekspresi tak bersahabat, "Cepat katakan" tuntut Arsen tak sabar. Kepala pelayan itu hanya bisa memaklumi sikap Arsen yang kasar itu.
"Nyonya besar berpesan kalau besok Tuan muda harus pergi ke tempat ini" ujar kepala pelayan itu sambil menyerahkan secarik kertas kepada Arsen.
Arsen mengambilnya kemudian memberikan gestur dengan tangannya agar kepala pelayannya segera pergi. Kepala pelayan itu langsung undur diri dengan sopan, sedangkan Arsen sudah menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Kertas itu di remas kemudian Arsen menjatuhkan dirinya keatas ranjang, tubuhnya benar-benar sudah berontak untuk meminta di istirahatkan setelah sibuk berkerja hari ini. Tidak butuh waktu lama, Arsen sudah berangkat ke alam mimpinya dengan damai.
Lain dengan Kaysie, wanita itu duduk termenung di jendela kamarnya yang terbuka. Udara dingin yang menusuk kulit tidak di indahkan begitu saja, Kaysie seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Melelahkan" ujarnya lirih dengan ekspresi sendu yang tergambarkan jelas.
Kaysie bersandar pada kusen jendela, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri dan matanya menerawang ke arah langit malam. Kejadian kurang mengenakkan beberapa waktu kebelakang membuat Kaysie tersiksa.
Adrian menyakitinya begitu dalam dan kini Kaysie hilang arah setelah acara mukbang nya gagal total. Meskipun hidupnya teramat nyaman Kaysie tidak ingin hanya diam saja, ada begitu banyak impian di dalam kepalanya namun semuanya bahkan gagal setelah dirinya melangkah.
Tok tok tok
Pintu yang terketuk dari luar membuat Kaysie segera menutup jendelanya kemudian berbaring di ranjangnya, bisa gawat kalau pelayan ataupun orang tuanya melihat keadaannya mengenaskan seperti ini. Kaysie berseru lantang untuk mempersilahkan siapapun yang hendak masuk kedalam kamarnya.
"Bunda" seru Kaysie riang setelah tau tamunya adalah sang Bunda -Siska
"Belum tidur sayang?" tanya Siska penasaran sambil berjalan mendekati ranjang putrinya.
Kaysie bangun dari posisi tidurnya kemudian menggeleng kecil, "Kalau Bunda datang 10 menit kemudian mungkin aku sudah tidur" balasnya sambil bercanda hingga Siska tertawa kecil lalu membelai rambut panjang Kaysie.
"Ada apa Bun?" Kaysie bertanya terus terang setelah menangkap kekhawatiran yang ada di raut wajah Siska.
Siska tersenyum kecil kemudian merengkuh kedua tangan Kaysie dengan hati-hati, sedangkan Kaysie menunggu dengan penasaran.
"Besok ikut Bunda ya"
"Kemana?"
"Sebuah pertemuan"
Kaysie mulai curiga sorot matanya bahkan meminta penjelasan, sedangkan Siska mulai kebingungan untuk mengajak anaknya ini.
"Ada satu keluarga yang mengundang Bunda, kamu mau ya temani Bunda" pinta Siska dengan wajah memelas tapi insting Kaysie tidak bisa di akali begitu saja.
Kaysie menepuk-nepuk punggung tangan Siska, "Kalau acaranya tidak aneh-aneh aku kau ikut" jelasnya final namun Siska nampak kebingungan sendiri.
"Acaranya apa Bun?" Kaysie bertanya lagi setelah mulai yakin ada sesuatu yang di sembunyikan Bundanya ini.
Siska gelagapan, sambil bergumam kecil Siska mencoba mencari alasan yang masuk akal. Putrinya ini benar-benar pintar, jadi Siska harus cukup mampu membuat alasan terbaik agar Kaysie mempercayainya.
"Pertemuan biasa sayang. Teman Bunda bilang di rumahnya ada banyak mawar, kamu bukannya menyukainya?"
Mendengar tentang bunga mawar Kaysie berbinar senang, sejak dulu itulah bunga favoritnya berkali-kali bahkan Kaysie mencoba menanam di belakang rumah namun tidak satupun yang tubuh dengan baik.
"Oke, Kaysie mau ikut" seru Kaysie dengan semangat hingga Siska tak bisa menutupi kelegaan di wajahnya.
Siska menarik Kaysie kedalam pelukannya, "Terima kasih sayang. Selamat tidur ya" ujarnya lembut dan tak lupa membelai rambut panjang Kaysie penuh kasih sayang.
Kaysie mengangguk kecil kemudian tersenyum senang, bayangan kebun mawar kini memenuhi kepalanya. Sungguh Kaysie berharap esok akan datang dengan cepat. Siska pamit pergi setelah mematikan lampu kamar Kaysie senyumannya benar-benar merekah indah bak bunga mawar yang tengah mekar di musim semi.
"Gimana?" Raka bertanya tanpa sabar setelah Siska sudah menutup pintu kamar Kaysie.
Siska memberikan isyarat agar suaminya itu mendekatinya, "Berhasil dong. Kaysie akan bertemu Mr. Xavier" serunya riang hingga Raka yang ikut senang langsung mendekap erat istrinya itu.
Perjodohan yang berkedok pertemuan tenyata sungguh ampuh, awalnya Siska sangsi Kaysie bersedia ikut dengannya namun setelah ingat di kediaman Xavier ada kebun mawar maka Siska dengan percaya diri membujuk putrinya.
Nyatanya tidak sia-sia bukan usaha Siska, ini akan menjadi awal yang baik untuk putrinya setelah kandasnya hubungan dengan Adrian. Tentu saja Siska dan Raka ingin yang terbaik untuk Kaysie, beberapa riset juga sudah mereka lakukan dan beruntungnya pihak keluarga Xavier menyambut baik hal ini.
Kaysie tertidur nyaman setelah puas membayangkan kebun mawar, pasti akan sangat cantik dengan kelopak yang mekar sempurna. Kaysie mungkin akan minta beberapa bibit untuk ditanamnya di rumah.
*******
Di tempat berbeda Adrian nampak larut dengan minuman alkohol. Berbagai sloki kosong berjejer dengan acak di mejanya, berharap alkohol dapat meredakan rasa frustasinya karena Kaysie yang mendadak membencinya.
"One more" ujar Adrian pada bartender setelah menandaskan alkohol terakhirnya.
Tidak jauh dari tempat Adrian saat ini, terlihat Arsen berjalan masuk dengan langkah ringan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Arsen terus berjalan ke dalam bar kemudian memasuki salah satu ruangan VIP.
"Arsen!" seorang pria bule berseru lantang setelah melihat kehadiran Arsen.
Tidak cukup hanya itu, kini Arsen mendapat atensi besar dari beberapa perempuan yang ada di dekat pria itu. Mereka menaruh minat akan Arsen, meskipun saat ini dalam mode santainya pesona Arsen tidak luntur begitu saja.
"Duduk di sini" semua perempuan itu berseru tak ingin mengalah sambil menepuk sisi kosong sebelah mereka untuk Arsen.
__ADS_1
Arsen yang tidak peduli hanya berdiri di dekat pintu sambil melipat kedua tangannya kearah dada, tatapan matanya kearah pria itu benar-benar seperti hendak membunuh. Pria itu sepertinya sudah mabuk sampai tidak menyadari kalau Arsen tidak dalam mode bersahabat malam ini.
"Selesaikan dan pulang! Lo ganggu waktu gue Dave" Arsen berujar amat kesal kearah pria bule yang ternyata bernama Dave itu.
Dave mengangkat gelasnya kemudian mendekati Arsen dengan langkah sempoyongan, "Join with me. let's drink bro" ujarnya sambil menyerahkan gelas berisi alkohol yang entah apa jenisnya kearah Arsen.
Arsen mengambil gelas itu dari Dave kemudian membantingnya kearah lantai hingga semua perempuan yang ada di sana memekik terkejut. Fakta baru, jangan ganggu Arsen saat ekspresi pria itu benar-benar tidak bersahabat. Itu baru gelas bukannya Dave yang Arsen banting ke lantai.
"Wow! relax bro"
"Shut up! let's go home NOW!"
"Okay okay. Give me a minute"
Dave kembali ke posisinya kemudian menarik salah satu perempuan di dekatnya keatas pangkuannya. Dave mengucapkan selamat tinggal dengan sebuah ciuman persuasif, sedangkan Arsen langsung memutar bola matanya dengan malas akan aksi menjijikkan dari sahabatnya itu.
Tidak ingin lama-lama di sana Arsen memilih keluar, pikirnya biar nanti dirinya kembali lagi setelah Dave memuaskan diri dengan para wanita itu. Arsen duduk di meja bar tanpa memesan minuman karena akan mengemudi setelah ini. Kepalanya tertunduk kearah meja bar, sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang masih lelah tanpa peduli alunan musik yang ada di bar itu.
"Adrian!" suara nyaring seorang perempuan yang familiar membuat Arsen membuka matanya.
Kaysie datang tergesa-gesa setelah bartender menghubunginya lewat ponsel Adrian, mantan tunangannya itu benar-benar mabuk dan tidak mungkin untuk pulang seorang diri. Alhasil bartender itu berinisiatif menghubungi nomor terakhir yang ada di dalam ponsel Adrian dan itu kebetulan adalah nomor ponsel milik Kaysie.
"Kamu mabuk" ujar Kaysie teramat kesal melihat keadaan Adrian.
Adrian masih tepar di meja bar sedangkan Kaysie langsung menyelesaikan pembayaran milik Adrian, "Aku beneran benci kamu Adrian" omelnya langsung setelah menerima rekap bill milik Adrian.
Bukan masalah nominal yang ada di sana, Kaysie masih mampu membayarnya.Tapi yang membuatnya amat kesal adalah Adrian menganggu waktu tidurnya yang berharga, padahal besok Siska akan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
"Kaysie... Kay aku merindukan mu" racau Adrian tiba-tiba hingga Kaysie terpaku, itu namanya yang tersebut Adrian.
Tidak ingin larut akan perasaan sesaat. Kaysie menepuk bahu Adrian, "Ayo pulang. Kamu nyusahin aku" katanya dengan jujur sambil mencoba mengangkat Adrian dengan kekuatan yang tidak seberapa.
Tubuh Adrian yang besar membuat Kaysie benar-benar kesulitan, tak ayal beberapa umpatan kasar Kaysie serukan demi melampiaskan rasa kesalnya akan kelakuan mantan tunangannya itu.
Adrian sesaat membuka matanya setelah inderanya mencium parfum Kaysie, "Kay" ujarnya dengan parau sambil berusaha keras membuka matanya untuk melihat apakah benar Kaysie.
"Apa sih?! Ayo udah pulang, aku mau tidur" sahut Kaysie tak sabar sambil memapah Adrian untuk pergi dari bar itu.
Suara samar-samar milik Kaysie membuat Adrian senang. Tanpa perlu usaha ekstra Adrian berjalan sendiri dengan lengan yang memeluk pinggang ramping Kaysie.
Semua kejadian itu di saksikan oleh Arsen, awalnya tidak peduli namun setelah Arsen ingat kalau Kaysie adalah wanita menyebalkan itu. Sikap acuh Arsen luntur, atensinya benar-benar tinggi mengamati setiap pergerakan Kaysie dan Adrian.
"Jangan peluk aku" Kaysie kembali mengomel karena Adrian terus saja memeluk pinggangnya.
Kaysie yang kelelahan membawa Adrian yang sangat berat akhirnya berhenti di depan salah satu ruangan. Adrian menyenderkan tubuhnya kearah pintu kemudian menatap tak percaya akan kehadiran Kaysie saat ini.
"Kay"
"Apa?!"
Adrian tertawa kecil, ini benar Kaysie setelah mendengar omelan yang benar-benar khas dan selalu Adrian ingat. Sejenak Adrian menatap lekat kearah Kaysie, mantan tunangannya ini benar-benar unik dan menggemaskan. Ini adalah bar tapi pakaian Kaysie adalah piyama ? Bukannya sangat lucu, terlebih Kaysie sedang merajuk hingga Adrian semakin gemas.
"Kay" panggil Adrian lagi, belum sempat menengok Kaysie amat terkejut karena Adrian menariknya hingga mempersempit jarak.
Kaysie tentu saja berontak, namun Adrian jauh lebih kuat dan mengunci tubuh Kaysie dengan kedua lengan kekarnya. Adrian menatap lekat Kaysie bibirnya tersenyum samar, "I miss you" ujarnya dengan suara rendah sambil merengkuh wajah Kaysie.
"I'm not, go away Adrian" seru Kaysie penuh penolakan sambil menepis tangan Adrian yang ada di wajahnya.
Setelah ini Kaysie benar-benar harus berendam bunga, bekas sentuhan Adrian sudah seperti najis dan Kaysie akan membersihkannya dengan serius agar tidak berbekas di tubuhnya.
Penolakan Kaysie nyatanya tidak berefek apapun, Adrian justru mempersempit jarak kemudian menekan tengkuk Kaysie sebelum menciumnya dengan dalam dan penuh emosi. Kaysie benar-benar berontak hebat, namun tenaganya benar-benar tidak sebanding dengan Adrian.
Tidak hanya mencium paksa, Adrian dengan sigap membuka pintu yang ada di dekatnya kemudian membawa Kaysie masuk kedalam. Adrian mendorong Kaysie kearah dinding kemudian kembali menciumnya dengan kasar.
"Lep..mmmpppttt" Kaysie bahkan tidak bisa bicara sedikitpun karena bibir Adrian mendesak penuh paksaan.
Kaysie yang ketakutan hanya bisa menangis sambil terus berusaha menolak sentuhan Adrian. Batin Kaysie berontak hebat, nama Adrian kini semakin buruk di matanya.
Tidak hanya itu, Adrian juga meraba-raba tubuh Kaysie yang terbungkus piyama tidur. Kaysie benar-benar ketakutan hingga tubuhnya yang bergetar hebat. Adrian benar-benar brengsek, itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya dan menghancurkan hatinya yang tersisa.
BRUK!
Secara tiba-tiba Arsen masuk kedalam ruangan itu kemudian menjauhkan Adrian dari Kaysie. Tidak bicara apapun Arsen melepas jaketnya kemudian melampirkan di tubuh Kaysie, sedangkan Adrian nampak berang karena Arsen datang menganggu.
"Sialan!" maki Adrian marah sambil mencoba memukul Arsen.
Berhubung saat ini Adrian tengah mabuk, Arsen dengan mudah menghindar hingga Adrian terjerembab kearah lantai sambil berteriak kesakitan. Arsen tersenyum remeh kemudian menghiraukan keadaan Adrian yang mengenaskan.
"Ayo" ajak Arsen sambil memapah Kaysie yang masih ketakutan untuk keluar dari ruangan itu.
Setibanya di luar ruangan tangisan Kaysie pecah seketika. Arsen lekas menarik Kaysie kedalam pelukannya kemudian tangannya menepuk-nepuk punggungnya, "Kamu sudah aman. Tidak apa-apa" ujarnya dengan tenang.
"Aku ga mau di sini" ujar Kaysie di tengah-tengah tangisannya.
__ADS_1
"Kita pergi" sahut Arsen cepat kemudian memapah Kaysie untuk keluar dari bar itu.
Kaysie masih menangis dalam rengkuhan Arsen, ketakutannya masih tersisa belum lagi sejak tadi Kaysie berkali-kali menyebut dirinya kotor setelah Adrian berbuat tidak senonoh dengannya.
"Rumah mu dimana?"
"Aku ga mau pulang"
Pulang dalam keadaan seperti ini bukan pilihan terbaik, kedua orang tuanya bisa-bisa terkena serangan jantung setelah melihat keadaannya yang mengenaskan seperti ini. Lagipula Kaysie merasa perlu menenangkan dirinya sendiri.
Arsen yang kebingungan pada akhirnya menelepon seseorang untuk sesaat, sedangkan Kaysie masih terus menangis sambil mengusap-usap bibirnya yang habis di cium paksa oleh Adrian.
"Iya, semalam aja. Oke" putus Arsen kemudian kembali menyimpan ponselnya.
"Benar kamu tidak mau pulang?" tanya Arsen untuk sekali lagi, siapa tau selagi dirinya menelepon tadi Kaysie merubah keputusannya.
Kaysie menggeleng tegas sebagai jawabannya, Arsen yang mengerti kemudian kembali memapah Kaysie lalu berjalan kearah parkiran mobil. Arsen memperlakukan Kaysie dengan hati-hati dan penuh hormat, meskipun berita yang beredar bilang sebaliknya.
Mobil sport Arsen berjalan dengan laju sedang, Kaysie masih terisak hanya bisa memeluk tubuhnya yang kini terbungkus oleh jaket besar milik Arsen.
Sesekali Arsen melihat kearah Kaysie, pikirnya pasti masih ketakutan. Arsen yang mengerti hanya membiarkan Kaysie tenang tanpa ingin menganggu, meskipun sedikit banyaknya Arsen penasaran akan siapa pria mabuk tadi.
20 menit kemudian mobil Arsen berhenti di sebuah kawasan apartemen. Arsen memarkirkan mobilnya kemudian keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu Kaysie, "Turunlah. Kamu bisa menenangkan diri di sini untuk sementara" ujarnya dengan satu nada.
Kaysie nampak ragu, pikirannya masih kental akan arah negatif, terlebih belum benar-benar sadar kalau pria di depannya ini adalah Arsen.
"Aku hanya mengantar mu lalu pulang. Jangan takut aku berbuat macam-macam"
Penjelasan Arsen itu pada akhirnya membuat Kaysie keluar dari mobil. Arsen kembali memapah Kaysie dengan perlahan untuk masuk kedalam gedung apartemen. Setelah menekan password Arsen membawa Kaysie masuk, lift angka 10 adalah tujuannya.
Ini adalah apartemen milik salah satu temannya, Arsen meminjam untuk semalam karena tidak mungkin kalau membawa Kaysie ke rumah Neneknya kecuali dirinya sudah siap di depak dari keluarga Xavier dengan tidak terhormat.
Arsen membuka salah satu ruangan dengan password yang sudah diingatnya. Lampu secara otomatis menyala saat sensornya mendeteksi kehadiran manusia, Arsen membawa Kaysie ke salah satu kamar dengan perlahan.
"Kamu bisa istirahat di sini. Aku akan pulang sekarang" ujar Arsen setelah mengantar Kaysie dengan aman dan selamat di apartemen temannya ini.
Kaysie lekas menahan tangan Arsen, "Terima kasih" ujarnya dengan tulus dan Arsen hanya mengangguk sebagai responnya.
"Kamu tidak bisa di sini sebentar? Aku takut" pinta Kaysie dengan memohon, namun Arsen dengan cepat menggeleng.
"Kamu akan aman di sini, tidak ada orang satupun. Kamu bisa menenangkan diri" Arsen menjelaskannya lagi sambil melepas tangan Kaysie yang tengah menahannya.
Rela dan tak rela, memang Kaysie memerlukan waktu untuk sendiri tapi di saat yang sama dirinya juga masih ketakutan. Adrian itu gila dan Kaysie takut kalau tiba-tiba pria itu muncul lagi dan mulai melakukan hal yang sama.
Kaysie bangun dari duduknya kemudian menatap Arsen dengan lekat, "Can you kiss me?"
Sebuah permintaan gila yang sama sekali tidak Arsen duga. Pikirannya bertanya-tanya apakah wanita di depannya ini tengah mabuk ? Kenapa mengajukan permintaan yang tidak masuk akal seperti itu.
Kaysie seakan menyadari kebodohannya setelah melihat Arsen tanpa reaksi apapun, "Lupakan saja. Aku sangat gila karena bekas pria itu masih ada di tubuh ku" ujarnya terus terang kemudian menunduk dalam-dalam.
Tidak mengindahkan permintaan gila itu, Arsen berjalan keluar kamar kemudian menutup pintunya kembali. Kaysie langsung menangis dan Arsen mendengarnya dari balik pintu yang tertutup.
Sejenak Arsen berada di sana, mendengar semua tangisan Kaysie yang terdengar pilu. Arsen menutup kedua matanya sambil menghembuskan napas berat. Tak lama setelahnya Arsen membalikan badannya kearah pintu itu, tangannya bergerak ragu kearah handle pintu.
Kini Arsen meragukan kewarasan mentalnya karena entah atas pertimbangan apa Arsen kembali membuka pintu itu. Kaysie terpaku akan kehadiran Arsen, pikirnya Arsen sudah pergi tapi nyatanya pria itu kini berada di depannya.
"Aku harap kamu tidak menyesal" Arsen seakan memberikan peringatannya.
Kaysie termangu tak mengerti akan maksud Arsen, sampai akhirnya pupil matanya membesar terkejut. Arsen secara tiba-tiba menyisipkan tangannya pada tengkuk Kaysie kemudian dengan gentleman mencium bibir Kaysie.
Perlakuan Arsen benar-benar berbeda dengan Adrian. Jika sebelumnya Kaysie nampak ketakutan, kini tubuhnya hanya diam saja atau mungkin merespon atas apa yang sedang Arsen lakukan ini.
Jika di pikirkan dengan logika, seharusnya Kaysie lebih takut dengan Arsen karena biar bagaimanapun pria di depannya ini adalah orang asing. Tapi Kaysie beraksi sebaliknya, bahkan tangannya secara alamiah melingkar di leher Arsen dan kakinya sedikit berjinjit untuk membalas ciuman itu.
Arsen tidak menyangka kalau Kaysie membalas ciumannya. Pikirannya mendadak beku, namun tubuhnya mengkhianatinya dengan menikmati apa yang tengah di terimanya dari Kaysie saat ini.
"Touch me" bisik Kaysie di sela adegan itu, Arsen yang tidak mengerti karena otaknya seakan berhenti berjalan hanya termangu di tempatnya.
Entah keberanian dari mana Kaysie membawa tangan Arsen menuju perutnya. Tepat di sana tangan menjijikkan Adrian menyentuhnya, jadi Kaysie juga menginginkan Arsen untuk menghapusnya.
Tangan Arsen hanya diam di sana. Kaysie melepas pautan bibirnya kemudian menatap kearah Arsen dengan penasaran, bukannya perintahnya sudah jelas ? Lalu kenapa Arsen hanya diam aja ? Arsen benar-benar seperti orang bodoh yang tidak mengerti persoalan orang dewasa.
"Pria sinting itu juga menyentuh ku. Tolong aku untuk menghapus bekasnya" ujar Kaysie dengan berani sambil menarik satu lagi tangan Arsen yang masih bergerak bebas.
Arsen melihat tangannya yang sudah ada di perut Kaysie dengan pandangan kosong. Kaysie yang habis kesabaran akhirnya kembali mencium bibir Arsen.
Sejenak Arsen terdiam kemudian menjauhkan Kaysie, "Are you sure? How I can't control myself?"
Dua pertanyaan itu membuat Kaysie terdiam, namun ada iblis yang secara sengaja membuat Kaysie menganggukkan kepalanya hingga Arsen terlihat tidak percaya.
"That's okay" balas Kaysie yang sekarang semakin kehilangan akal warasnya.
Arsen berpikir sejenak, namun nyatanya tubuhnya bereaksi terlebih dulu. Arsen mendekati Kaysie lagi tanpa ragu kemudian meletakan tangannya pada tengkuk leher Kaysie lalu mencium bibirnya, gerakannya hati-hati dan sangat lembut.
__ADS_1
Jika sebelumnya Arsen hanya diam saja di perut Kaysie, kini tangannya mulai bergerak untuk mengusap-usapnya. Kaysie benar-benar lega, kini bekas sentuhan Adrian sepenuhnya terhapus oleh Arsen.