
Ketika semua hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang di inginkan, itu menyebalkan namun pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah siaran pertama mukbang Kaysie di rilis dalam chanel pribadinya, antusiasme orang-orang tidak terlalu besar. Kaysie yang selalu memantaunya langsung terlihat sedih dan kecewa.
Kaysie awalnya tidak menyerah, beberapa video lainnya juga di publish. Jenis menunya juga semakin beragam dan Kaysie juga sengaja memilih restoran tertentu untuk tempat syuting agar tidak membosankan.
Semua itu sepertinya sangat sia-sia karena chanelnya masih saja sepi, memang ada beberapa yang berkomentar tapi itupun hanya memberikan sebuah emoji smiley tanpa kalimat apapun. Akun-akun yang memberinya like juga dapat di hitung dengan jari.
Hatinya langsung mendung bagai badai petir, Kaysie menjadi putus asa dan melupakan sejenak siaran mukbang. Saatnya sekarang Kaysie rehat diri untuk mencari inspirasi demi menarik minat orang-orang terhadap chanel mukbang miliknya.
Di alun-alun kota Kaysie berjalan santai, Stiletto hitam yang di pakainya bersinggungan dengan jalan blok pada sisi area khusus pejalan kaki. Kaysie hanya berjalan sambil terus berpikir dalam otaknya, di temani dengan pemandangan senja dan angin malam yang mulai berhembus tidak membuat Kaysie terganggu.
Pikirannya melalang buana, ide-ide cemerlang harus segera diciptakannya demi kemajuan chanel pribadinya. Helaan nafas terus saja terdengar dari Kaysie, rasa putus asa sudah menunggunya layaknya ujung jalan ini yang ada di depannya. Kaysie berhenti berjalan kemudian menunduk sedih karena tidak ada satu ide yang dapat ditemukannya.
"Kay"
Panggilan suara dari arah belakang yang menyebut namanya membuat Kaysie langsung membalikan badannya. Secara otomatis Kaysie memutar kedua matanya dengan malas setelah mengetahui siapa yang telah memanggil namanya.
Tidak berminat menambah keruh hatinya membuat Kaysie meneruskan kembali jalannya tanpa peduli akan kehadiran orang itu.
"Kay tunggu aku" suara itu berucap lantang
"Kay, berhenti menghindari ku"
Setelah kalimat itu Kaysie tersentak kaget, tangannya tergenggam dengan erat hingga ringisan kecil terucap di bibirnya, "Adrian lepaskan aku" tuntutnya
Seorang yang paling malas Kaysie temui nyatanya kini ada tepat di depannya, Adrian menatapnya dengan pandangan serius sambil tanpa tega menahan tangan Kaysie.
"Ikut aku, berhenti melawan atau tangan mu semakin sakit" peringat Adrian dengan tegas kemudian membawa Kaysie pergi dari sana.
Kaysie yang terus menolak dengan susah payah melawan, bermodalkan tenaga seadanya tentu saja kalah telak dengan kekuatan seorang pria. Perlawanan itu justru membuat tangannya semakin memerah dan menimbulkan rasa yang teramat perih.
"Mau kemana sih ?" tuntut Kaysie sudah kepalang kesal akan tingkah Adrian yang seenaknya seperti ini.
Adrian bergeming, mulut pria itu tertutup rapat namun langkahnya terus bergerak menuju mobilnya. Kaysie tidak mendapatkan jawabannya hanya bisa mengerutu sambil terus melayangkan sumpah serapah di dalam hatinya untuk mantan tunangannya itu.
Pintu mobil di buka Adrian dengan kasar kemudian memerintahkan Kaysie untuk masuk kedalamnya.
"Aku ga mau" tolak Kaysie langsung sambil berusaha pergi dari sana.
Adrian dengan sigap menghadang dengan badannya, kedua tangannya menyentuh bahu Kaysie kemudian sorot matanya terlihat tidak ingin di bantah sama sekali.
"Masuk" katanya singkat namun penuh tuntutan.
"Kamu menyebalkan" maki Kaysie dengan keras tepat di depan wajah Adrian kemudian dengan sangat terpaksa masuk kedalam mobil pria itu.
Di dalam sana Kaysie sudah terlihat masam. Rasa kesal, marah, kecewa dan sedih terkumpul menjadi satu dalam hati Kaysie. Selama ini usahanya sangat keras untuk menghindari pria ini, Kaysie tidak ingin bodoh lagi dengan mempercayai Adrian.
__ADS_1
Rasa cintanya pada pria itu yang masih tersisa benar-benar di kubur Kaysie dengan penuh paksaan. Tapi kenapa sekarang dirinya harus bertemu kembali ? Sungguh merepotkan.
*******
Mobil Adrian memacu jalan raya, membelah kota menuju sebuah tempat yang sama sekali tidak di ketahui oleh Kaysie. Berkali-kali Kaysie bertanya namun Adrian setia menutup mulutnya rapat-rapat dan memilih fokus kearah depan.
Tidak berselang lama mobil Adrian memasuki pekarangan sebuah mansion besar, Kaysie tidak tahu dimana tempatnya berada sekarang menjadi waspada. Kalau sampai Adrian berani macam-macam, tidak akan ada ampun lagi bagi pria itu. Tekadnya.
Adrian memarkirkan mobilnya kemudian keluar dari kursi kemudi, pintu mobil itu di buka oleh Adrian untuk mempersilahkan Kaysie turun.
"Kita dimana ? Aku mau pulang" rengek Kaysie dengan wajah merajuk, Adrian kembali bergeming namun tangannya langsung menggenggam tangan Kaysie.
Kembali lagi Kaysie melayangkan protesnya, namun genggaman tangan Adrian sangat kencang hingga akhirnya Kaysie hanya bisa pasrah dan meningkatkan kewaspadaannya.
Adrian membawa Kaysie menuju pintu mansion, jika di lihat keseluruhan mansion ini sangat cantik. Gaya bangunannya benar-benar Eropa, cat dinding yang berwarna coklat hingga cream dan beberapa ukiran khas yang ada di langit-langitnya.
Kaysie terpesona sesaat akan bangunan itu namun tetap saja tidak suka di bawa secara paksa seperti ini oleh Adrian. Terlebih Kaysie sekarang sedang berusaha mati-matian melupakan perasaannya pada pria itu.
"Duduk di sana" perintah Adrian sambil menunjuk kearah sofa.
Kaysie lantas memutar kedua bola matanya akan perintah menyebalkan Adrian, bisa-bisanya pria itu memberikannya perintah padahal hubungan keduanya telah berakhir. Lebih baik menurut Kaysie memilih hanya berdiri sambil menyentuh lengan tangannya yang memerah karena perbuatan pria itu.
"Kaysie" tegur Adrian langsung setelah melihat Kaysie enggan menuruti perintahnya.
Kesabaran Kaysie ada batasnya, Adrian yang seenaknya mengatur-atur membuat darah Kaysie mendidih. Tinggal sedikit lagi Adrian memancing gara-gara maka amarah Kaysie akan meledak.
"Aku mau pulang !" tuntut Kaysie lagi tak gentar sambil memberikan ekspresi wajah tidak bersahabat pada Adrian.
"Sebentar, aku janji. Duduk dulu" bujuk Adrian dengan sesabar mungkin, Kaysie yang keras kepala tidak bisa di hadapi dengan cara yang salah kalau tidak ingin wanita itu semakin marah.
Melalui pertimbangan khusus akhirnya Kaysie duduk di sofa mewah itu, wajah merajuknya tetap konsisten bahkan pandangan matanya enggan menatap kearah Adrian. Sungguh Kaysie hanya ingin segera selesai lalu pulang untuk memikirkan ide baru untuk chanelnya.
Adrian duduk di sofa depan Kaysie, pandangan pria itu terarah lurus sedangkan Kaysie memilih menatap kearah pajangan keramik. Tidak berniat sedikitpun Kaysie untuk memandang wajah rupawan milik Adrian yang dulu dikaguminya.
"Kenapa kamu menghindari ku ?"
Adrian membuka percakapan dengan pertanyaan yang terasa penuh akan tuntutan penjelasan. Baginya sudah cukup selama dua bulan ini Kaysie terus menghindarinya, segala komunikasi di putus dan Adrian tidak lagi mendapatkan akses untuk masuk kedalam rumah wanita itu.
Kaysie tidak menjelaskan secara rinci kenapa sikapnya sangat berubah seperti ini, padahal acara pertunangan sudah di siapkan dengan rapih oleh Adrian. Tapi Kaysie langsung memutus hubungan begitu saja di tambah wanita itu berkata dengan lantang kalau tidak ingin saling bertemu kembali.
Pertanyaan Adrian membuat Kaysie tertawa, sungguh hebat pria di depannya ini. Kaysie benar-benar akan memberikan dukungannya jika Adrian masuk nominasi aktor terbaik karena kemampuan aktingnya yang luar biasa.
"Kaysie ini tidak lucu. Aku serius, kamu tahu aku sudah menyiapkan pertunangan kita" sahut Adrian tak mengerti karena tiba-tiba Kaysie tertawa akan pertanyaan seriusnya.
Kaysie melipat kedua tangannya kearah dada kemudian menatap lurus pada Adrian, "Aku serius, pertanyaan mu itu layak di tertawaan. Tidak ada gunanya lagi, aku tidak ingin menjadi tunangan mu" balasnya dengan serius.
"Kenapa ?" tanya Adrian langsung, otaknya sama sekali tidak dapat mengerti sikap Kaysie yang seperti ini.
__ADS_1
Merasa pembicaraan ini tidak penting lagi membuat Kaysie langsung bangun dari duduknya, "Sudahlah aku muak melihat kepura-puraan mu" ujarnya dengan kejam. Adrian tercengang, apa maksudnya ? kenapa Kaysie menduga kalau semua yang dilakukannya adalah kepura-puraan.
"Aku pulang" kata Kaysie lagi dengan suara dingin sambil berlalu pergi dari sana. Langkah kakinya terasa berat namun Kaysie harus tetap pergi, demi mempertahankan hatinya yang tersisa.
Kaysie yang baru berjalan tiga langkah langsung terkejut kala Adrian langsung menahannya. Kali ini tidak hanya itu, Adrian tiba-tiba mencium bibir Kaysie dengan paksa. Kaysie yang tersadar langsung mendesak Adrian untuk menjauh darinya, tangan Kaysie memukul dada bidang Adrian secara brutal sambil terus berupaya menjauhkan dirinya dari pria itu.
Tidak ada kelembutan sama sekali, Adrian terus mencium bibir Kaysie penuh dengan tuntutan. Kaysie yang melayangkan perlawanan sepertinya tidak ada hasil sama sekali, air matanya seketika mengalir deras rasa sakitnya bertambah lipat akan sikap kasar Adrian ini.
Pautan yang harusnya terasa manis dan lembut kini amat menyiksa bagi Kaysie. Adrian terus mencumbunya dengan tanpa jeda, perlawanannya sangat sia-sia karena kedua tangannya tertahan kuat oleh tangan Adrian.
"Eemmmpptt..." usaha Kaysie bicara pun tidak membuahkan hasil karena Adrian yang mencium bibirnya dengan sangat kasar.
Seakan tidak cukup, Adrian mendorong Kaysie kearah tembok tanpa berniat melepas cumbuannya yang semakin intens. Kaysie yang semakin putus asa akhirnya memakai cara terakhir, kedua matanya terpejam sesaat kemudian menggigit bibir Adrian dengan kencang hingga darah segar milik pria itu dapat di rasakannya.
Adrian menjauh sambil menyentuh bibirnya yang sedikit robek dan langsung mengeluarkan darah segar karena Kaysie menggigitnya dengan kencang.
"Kamu gila ?!" maki Adrian langsung sambil menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Di sebut gila membuat Kaysie bereaksi keras, siapa yang disini harus di sebut gila ? Bukannya sejak awal yang gila adalah pria itu ? Kaysie sudah tidak tahan lagi, ini level terakhir kesabarannya.
Kaysie mengusap bibirnya dengan kasar, bekas pria itu harus benar-benar hilang dari seluruh tubuhnya. Sungguh sangat menjijikkan.
"Kamu yang gila !" maki Kaysie balik dengan ekspresi penuh penghinaan pada Adrian.
Kemarahan Kaysie benar-benar meledak, dadanya naik turun dan pandangan matanya menyala terang penuh emosi marah yang meletup-letup.
"Aku tahu semua niat busuk mu Adrian, kamu ingin menikah dengan ku karena semua aset keluarga ku. Berhenti berpura-pura kalau kamu mencintai ku"
"Kamu memang brengsek !"
Kaysie mengakhiri penjelasannya yang penuh amarah sambil menatap lurus kearah Adrian, pria itu kini terdiam sambil memikirkan baik-baik ucapan Kaysie.
"Cari wanita lain yang bisa kamu manfaatkan, KITA SELESAI !"
Kaysie berkata dengan lantang di akhir kalimatnya, ini benar-benar yang terakhir kalinya. Kaysie sungguh tidak sudi melihat Adrian lagi, keseluruhan cintanya yang tersisa kini lenyap bersama dengan air mata penuh kesedihan dan kekecewaan yang mengalir deras di kedua matanya.
Tidak ingin terlalu lama di sana, Kaysie mendorong Adrian kemudian berlalu pergi sambil terisak-isak. Rasanya teramat perih bagi Kaysie, perasaan tulusnya di balas dusta yang mengiris hati. Kepercayaan penuhnya di hancurkan hanya demi harta yang tidak ada artinya.
Adrian terpaku di tempatnya, semua perkataan Kaysie sangat susah di cerna dalam otak cerdasnya. Semuanya serba mendadak, emosinya juga sempat tidak terkontrol dan akhirnya membuat Kaysie menangis.
"Ah sialan !" maki Adrian dengan kesal sambil mengusap kasar wajahnya sedangkan Kaysie terus berjalan pergi kearah pintu.
Kaysie tidak ingin menangis hanya karena ini, tapi air matanya berkhianat dan terus saja mengalir tanpa henti. Isakan tangisnya semakin kencang bersama dengan bahunya yang naik turun. Ini adalah batas level ketahanan hatinya, semua emosi yang selama ini di tahannya tumpah ruah.
Pintu besar itu di buka Kaysie, sesaat pandangannya teralih kearah Adrian yang berdiri mematung di tempatnya sambil melihat kearahnya dengan pandangan yang tidak bisa Kaysie mengerti dan enggan untuk di mengertinya.
"Selamat tinggal Adrian" ujar Kaysie dengan suara lirih kemudian berlalu pergi setelah menutup pintu itu.
__ADS_1
Ini adalah akhirnya. Segala akhir dari perjalanan kisahnya bersama pria pertama dalam hidupnya sejak bertahun-tahun lamanya.
Cintanya telah berakhir layaknya bunga yang layu dan kini, Adrian adalah masa lalunya.