
"Adrian brengsek !"
"Adrian sialan !"
"Adrian menyebalkan !"
Kata makian dan runtukan penuh sumpah serapah itu terus saja di serukan Kaysie setelah keluar dari mansion besar itu. Di samping pria itu memang pantas di maki, masalah lainnya adalah Kaysie tidak tahu dimana tempatnya sekarang.
Setelah keluar dari mansion itu Kaysie yang masih terus menangis berjalan tanpa arah tujuan, kakinya terus bergerak seirama hatinya inginkan. Alhasil, sekarang Kaysie tersesat. Kebodohan yang sungguh menyiksa.
Meskipun tangisan Kaysie sudah berhenti tapi itu sama sekali tidak menolong, Kaysie terus kebingungan akan jalan pulang ke rumahnya. Mansion itu sepertinya berada di wilayah perumahan elit, sudah pasti tidak ada satu kendaraan umum yang lewat di sana. Kaysie melihat sekelilingnya yang sangat sepi, rasanya seperti tidak ada kehidupan di wilayah ini.
Setelah berjalan lurus kini Kaysie di hadapkan pada simpang empat, kakinya yang terbalut stiletto hitam terasa sangat sakit akibat berjalan terlalu lama. Kepalanya juga pening setelah menangis dan sekarang dirinya sangat kebingungan untuk menentukan jalan mana yang harus di pilihnya. Bukankah sangat nikmat ? Kesengsaraan Kaysie belum berakhir begitu saja setelah mengucapkan perpisahan dengan Adrian.
Otak Kaysie tiba-tiba memunculkan satu ide sebagai jalan keluar akan kesulitannya ini, tangannya dengan cepat mencari benda pipih yang sangat dibutuhkannya saat ini. Memang Kaysie tidak tahu dimana tempat ini jadi sebagai gantinya Kaysie akan membagikan lokasinya lewat GPS dan meminta supir keluarganya untuk datang menjemput.
Kaysie membuka dengan cepat kunci sandi di ponselnya itu, baterainya masih tersisa 5% lagi. Kaysie akan selamat asal tangannya bergerak cepat untuk menyusuri aplikasi peta dan mengirimkan lokasinya sekarang.
"Wait... wait.. YAH ! AAAHHHH"
Sungguh sangat sial, Kaysie berseru penuh kekesalan sambil berjongkok dan kepala tertunduk dalam. Ponselnya sudah mati total sebelum Kaysie berhasil mengirimkan lokasinya pada supir keluarganya. Jangan di tanya lagi betapa kesalnya Kaysie saat ini.
Hari ini sepertinya tidak bersahabat dengan Kaysie, pertama chanel pribadinya kurang mendapatkan perhatian lalu dirinya di seret juga di cium paksa oleh Adrian dan sekarang Kaysie tidak bisa pulang karena tersesat di perumahan yang tidak tahu namanya ini.
Bagai buy 1 get 2, mending kalau itu adalah sebuah barang. Lah ini, masalah. Siapa juga yang mau. Kaysie bertekad akan mandi kembang tujuh rupa untuk melunturkan kesialannya setelah berhasil sampai di rumah nanti.
"Mama... Papa" untuk kali ini Kaysie sangat merindukan kedua orang tuanya. Kaysie akan berbakti dan menurut permintaan kedua orang tuanya dengan baik mulai kali ini.
Ini berlebihan, tapi sungguh kalau berada di posisi Kaysie semua orang akan melakukan hal yang sama. Kaysie hanya bisa menangis kembali, bukan menangisi orang brengsek macam Adrian tapi menangisi kesialan yang hari ini datang bertubi-tubi.
"Hei"
__ADS_1
Kebetulan atau memang takdir yang sudah di gariskan dalam sebuah alur oleh seorang penulis. Suara berat dan serak seorang pria yang terdengar sangat dekat membuat Kaysie mengangkat kepalanya, pandangan matanya masih buram untuk melihat siapa sosok pria di depannya ini.
"Siapa ?" tanya Kaysie dengan suara lirih bercampur serak habis menangis sambil mengusap kedua matanya yang masih tergenang dengan air matanya.
Pria di depannya itu terlihat memakai hoodie oversize lengkap dengan jeans cutting panjang dan sepatu santai dari sebuah merek ternama. Wajah pria itu tertutup kepala hoodie hingga Kaysie harus menajamkan pandangan mata agar dapat melihatnya dengan jelas.
"Sedang apa di sini ?" tanya pria itu dengan suara yang terdengar tanpa emosi di dalamnya.
Kaysie tidak menjawab karena matanya masih mencoba melihat dengan jelas sosok pria di depannya kini. Pertanyannya tidak di jawab Kaysie membuat pria itu lantas membuka hoodie yang menutupi kepalanya, rambutnya sedikit basah membuat pria itu mengusap-usapnya sejenak.
Di tengah ketidak jelasan fokus matanya, Kaysie masih sempat-sempatnya terpesona akan apa yang di lakukan pria itu. Bukan masalah wajahnya tampan, Kaysie bahkan tidak bisa melihat jelas rupa pria di depannya ini tapi gerak-geriknya seakan punya magnet tersendiri dan membuat Kaysie sangat terpesona.
"Bangunlah" kata pria itu lagi namun kini tangannya terulur kearah Kaysie.
Sejenak Kaysie menatap ragu kearah tangan pria itu, namun akhirnya Kaysie meraihnya lalu bangun dari posisi jongkok itu hingga kini Kaysie dapat melihat dengan jelas wajah pria di depannya ini.
"Om"
"Nama ku, Arsen... Jangan panggil aku Om" peringat Arsen untuk yang entah sudah berapa kalinya. Wanita di depannya ini selalu saja membuatnya kesal karena memanggilnya dengan panggilan Om. Tolonglah, dirinya tidak setua itu untuk mendapatkan predikat itu.
Bagai menemukan sumber air di tengah gurun pasir gersang, Kaysie seakan telah menemukan malaikat penolong di tengah kesusahannya. Kaysie bukan menangis sedih kali ini, tangisannya penuh haru melihat kehadiran Arsen di depannya saat ini.
Walau Kaysie tidak mengenal jelas siapa Arsen, setidaknya Kaysie yakin pria itu dapat membantunya keluar dengan aman dari tempat tanpa nama ini.
"Hiks hiks... aku tersesat" cerita Kaysie sambil menangis tersedu-sedu. Kaysie sudah tidak peduli bagaimana penampilannya kini yang sudah sangat berantakan.
Arsen yang melihat Kaysie menangis hanya menatap dengan pandangan lurus, mulutnya terkuci rapat dan ekspresi wajahnya teramat datar, sepertinya Arsen tidak tahu apa saja emosi yang di miliki manusia.
"Ikut aku" hanya dua kata itu yang Arsen katakan sambil berbalik kearah kanan lalu berjalan pergi.
Melihat Arsen yang pergi terlebih dahulu membuat Kaysie langsung terburu-buru menyusul, tangannya secara otomatis melingkar pada lengan Arsen. Bersamaan dengan itu Arsen berhenti berjalan kemudian menatap kearah lengannya dimana tangan Kaysie sudah bertengger dengan nyaman.
__ADS_1
"Jangan salah paham, aku takut tersesat lagi" jelas Kaysie dengan cepat setelah mengerti maksud dari pandangan Arsen yang tengah melihat kearah lengannya.
Arsen tidak berkomentar apa-apa setelah itu kemudian kembali berjalan menyusuri trotoar pinggir jalan bersama dengan Kaysie yang ada di sebelahnya.
Tidak ada pembicaraan apa-apa di antara keduanya. Arsen tidak bertanya kenapa Kaysie ada di wilayah ini, kenapa juga Kaysie menangis dan pertanyaan berawalan kenapa lainnya. Pria itu benar-benar menutup mulutnya rapat-rapat, sedangkan Kaysie yang juga tidak bisa berbuat apa-apa hanya sesekali melirik kearah Arsen.
Ganteng sih tapi sayang dingin banget
Hanya itu penilaian Kaysie terhadap Arsen. Bisa di bilang juga pria seperti Arsen ini adalah tipe pria yang selalu berhasil membuat darah setiap wanita mendidih.
Siapa wanita yang tidak ingin di perhatikan, tapi sayangnya jika wanita itu bersama dengan Arsen maka bisa di pastikan selamanya wanita itu tidak akan mendapatkan apapun. Jadi sudah sangat jelas kalau Arsen itu jauh dari kriteria pria idaman Kaysie, dirinya sangat manja dan kekanak-kanakan makanya tidak akan cocok dengan Arsen yang seperti itu.
Sikapnya sungguh bertolak belakang dengan wajahnya yang sempurna, Arsen benar-benar menyia-nyiakan wajahnya yang tampan itu. Kaysie yakin kalau sikap pria itu bisa berubah sedikit saja maka wanita akan berbaris rapih di depannya. Tapi kalau kenyataannya begini ? Kaysie juga ogah, lebih baik mencari pria lainnya.
Arsen membawa Kaysie menuju pintu gerbang besar, bodohnya Kaysie tidak ingat jika sebelumnya dirinya melihat pintu ini saat mobil Adrian melewatinya.
Tidak jauh dari pitu besar itu Arsen berhenti berjalan kemudian secara perlahan melepaskan tangan Kaysie dari lengannya, Kaysie yang tiba-tiba merasa tidak enak hati langsung menjauh dari Arsen dengan gugupnya.
"T--terima kasih" kata Kaysie yang menjadi gugup di tengah situasi canggungnya dengan Arsen.
Arsen hanya diam, Kaysie rasanya seperti sedang berbicara dengan batu. Benar-benar menyebalkan, tapi Kaysie akan menahan rasa kesalnya berkat perbuatan baik pria itu yang telah membantunya.
"Aku pergi" sambung Kaysie lagi kemudian membalik badannya untuk segera pergi dari sana, di samping menghindari suasana canggung itu Kaysie juga sangat malu karena kedua kalinya menangis di depan Arsen.
"Hei" Arsen memanggil Kaysie dengan kata sapaan singkat, Kaysie membalik badannya kemudian secara reflek tanyanya menangkap botol air mineral yang di lempar secara tiba-tiba oleh Arsen.
"Kamu jelek saat menangis"
Arsen hanya mengatakan hal itu kemudian berlalu pergi sambil memakai penutup kepala hoodie itu, langkah kakinya yang semakin menjauh dari Kaysie terlihat sangat ringan. Sedangkan Kaysie terlihat kebingungan sendiri setelah mendengar ucapan Arsen.
Kaysie mengerti kenapa Arsen memberikannya air minum, dirinya juga sangat haus setelah menangis cukup lama. Tapi yang Kaysie tidak mengerti adalah ucapan terkahir Arsen yang entah apa tujuannya, pria itu seperti meledeknya atau bagaimana sebenarnya ? Kaysie yang sebelumnya terharu akan sikap Arsen, langsung memutar bola matanya dengan malas kemudian berlalu pergi dengan rasa gondok di hatinya.
__ADS_1