Story Of The King Summoner Aciel

Story Of The King Summoner Aciel
Perjalanan


__ADS_3

"Baiklah mari kita istirahat aciel..."


Kasur di tempat kan dibawah ranjang dan aku naik ke ranjang atas, kami akhirnya bisa tidur terpisah setelah beberapa Minggu dan kami membeli kasur bekas, dan tempat tidur kami di ranjang atas atau di kasur bawah juga menjadi perdebatan yang sengit waktu itu.


Dan akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Liliana, dia menyuruh aciel untuk tidur di ranjang atas dan dia di kasur bawah, setelah naik ke kasur dan lilin telah padam Liliana berbicara.


"Apa anda mau mencari slime? mereka monster terlemah..."


"Em...ya, sebenarnya aku ingin mendapatkan ingatan ku lagi tentang bertarung bersama monster"


"Oh.. Kalau begitu aku akan menemanimu!"


"Tidak tidak perlu aku sendiri saja..."/


"Hmp! bagaimana jika kau dalam bahaya tempat yang disebut perbatasan itu lumayan jauh tau!"


"Tapi aku tidak ingin merepotkan Anda lagi..."


Aciel mengungkapkan pikiran nya, ya.., dia malu untuk terus dibantu oleh seseorang, seharusnya dia sebagai laki-laki yang membantu seseorang.


"Aciel... ingat kau adik angkat ku kan? tentu saja aku mau direpotkan oleh mu, tidak perlu tidak enak karena suatu saat mungkin aku yang membutuhkan bantuan anda..."


"Liliana kau yang terbaik!!"


Aciel tidak kuat menahan rasa asam dari dirinya, dia langsung berbaring di kasur dan menutup mata dan wajah dengan selimut, dia benar benar ingin menangis sekarang, Liliana benar benar seperti kakak nya Alya dan kebaikan yang diterima oleh nya begitu indah dan penuh kasih sayang.


Liliana tersenyum lembut saat kepalanya telah berbaring di kasur, dan berkata kepada aciel.


"Aku akan minta cuti untuk menemanimu ke sana"


"Baik!!"


"Tidur lah!"


"Selamat malam Liliana semoga mimpi indah"


"Kamu juga aciel"


Dan kami pun mulai tertidur pulas.


...****************...


Sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh ku tiba, aku bisa pergi ke tempat monster lemah berada yaitu slime, kami berpamitan dengan para tetangga dan naik kereta pedagang barang yang kebetulan lewat beberapa kali untuk menjual barang dari desa ke desa, agar kami lebih cepat sampai, mungkin aku juga berharap bahwa aku bisa segera menaikkan level dan menukar experience.

__ADS_1


"Kakak apa kakak pernah kesana?"


"Em? maksud mu tempat yang kami tuju?"


"Ya"


"Tidak pernah"


"Eh!? nanti kita tersesat dong?"


"Hahaha... Aciel sangat lucu kan kita akan berhenti di penginapan terdekat sana, dan jika kita tersesat kita bisa bertanya kepada orang lain"


"Tapi..."


Aku merasa ragu karena kata orang-orang, wanita itu tidak pernah tahu jalan...., baca Google map saja susah, aku pernah nyasar sekali bersama kakak ku Alya. dan aku yang menyetir nya yang dimarahi tidak benar.


"Tenang saja aciel karena di sana banyak papan petunjuk jalan"


"Baiklah..."


Butuh satu hari semalam untuk sampai ke ujung desa padang rumput ini, di sini cukup ramai karena termasuk area penting satu-satunya jalan penghubung desa Padang rumput ke luar kota, dari pada Melawati jalur pegunungan yang menyulitkan, di sana terlalu curam dan terlalu banyak monster yang tinggal di gunung.


Akan bahaya jika pedagang pedagang yang ingin mampir ke desa kami melewati jalur pegunungan, sudah susah melewati jalan yang curam juga harus sedia setiap saat melawan monster yang ada, Liliana membangunkanku yang tertidur di dalam gerobak dan dibangunkan oleh pedagang yang kami tumpangi keretanya.


"Paman ini adalah pedagang yang baik"


Sedangkan kereta itu melaju ini sudah pagi sekitar pukul 03.00 pagi sepertinya, karena di sini bahkan tidak ada jam, tapi mungkin saja hanya ada di ibukota.


Aku meregangkan badan sebentar dan bertanya kepada Liliana "Kakak, apakah kita akan pergi ke penginapan dulu?"


"Apakah kamu masih mengantuk Acil?"


"Tidak juga ini waktu yang tepat untuk berolahraga"


"Tapi sebaiknya kita mencari tempat tinggal terlebih dahulu"


"Baiklah saya akan mengikuti saran kakak, karena kakak yang tahu daerah sini lebih baik daripada aku"


Dan akhirnya kami mencari sebuah penginapan di pagi hari buta, Untung saja kami bisa mendapatkan penginapan dan segera membereskan barang-barang kita.


Kami memesan satu kamar tapi dengan dua ranjang, awalnya aku sudah menolak untuk meminta 1 kamar untuk masing-masing. dan aku dengan jelas mengatakan bahwa aku akan membayarnya dengan uang yang ku kumpulan sendiri berkat bekerja, tapi Liliana mengatakan akan membayar nya dan keras kepala untuk tetap memilih satu kamar berdua, hanya karena khawatir aku tersesat atau kejadian yang lain.


Jadi tentu saja aku mengikuti permintaannya, dan setelah itu kami memutuskan untuk berjalan-jalan di luar mungkin sekitar jam 04.00 pagi juga mulai mengajari di diri ku tentang sihir, dia menawarkannya saat kami memutuskan untuk pergi ke sini, karena Liliana biasanya sangat sibuk aku tidak tega membuatnya mengajariku tentang sihir.

__ADS_1


Dia sudah lelah bekerja masa aku harus merepotkan nya lagi untuk mengajariku sihir? jadi selama di rumah aku hanya berlatih membentuk otot dan juga membaca baca buku tentang sihir untuk praktek sekali aku kan pernah di dalam hutan kematian kurasa memang yang aku butuhkan itu adalah MP nya.


"Oh ya Acil..."


"Ya kakak apa yang kau tahu tentang pemahaman sihir"


"Sihir itu terjadi karena sebuah reaksi bukan?"


"Hm? contohnya?"


Liliana penasaran mata nya berkilau indah saat cahaya matahari malu malu untuk naik dan menyinari wajah nya.


"Misalnya saja kita bertepuk tangan pasti akan menimbulkan sebuah bunyi, jika tidak ada gaya maka tidak akan ada reaksi, apa benar?"


"Itu jawaban yang bagus Acil..., meskipun belum tepat, apa kamu pernah mencoba sihir sebelumnya, HM.... maksud ku saat kau hilang ingatan?"


"Ya aku mencoba nya, aku membuat api menyala di tangan ku"


"Contoh kan sekarang"


Dan aku segera membayangkan api dijari ku, dan itu benar benar terjadi


"Hm bagaimana?"


"Sangat kecil ya?"


Liliana menatap takjub dengan api yang ku hasilkan, tapi sepertinya dia tidak menghina ku karena sihir air nya adalah yang paling sering kulihat dan sangat indah, dia memengangi tangan ku memeriksa mana ku. sedangkan aku telah membuka status dan melihat MP ku yang menurun drastis.


"Kamu langsung kehabisan mana ya?"


"Ya..."


"Cukup, mati kan sihir mu"


Dan aku segera menghilang kan api itu. Liliana menimbang nimbang sesuatu dan berkata.


"Tapi memang benar kau hanya kekurangan mana, jika sihir Aciel pasti sudah mahir, hm.... memang benar seperti kata aciel anda lebih baik langsung membunuh monster lemah terlebih dahulu untuk mengurus masalah mana mu yang sedikit...."


"Karena aku pernah mendengar dari para prajurit bahwa beberapa orang bisa menaikkan mana, jika dia sedang di ambang hidup dan mati, katanya ya.... itu belum pasti...., tapi aku juga pernah membunuh beberapa monster kecil dan merasa aku semakin kuat."


"Hm? apa jangan-jangan dunia ini memang ada sistem naik level sama experience tapi tidak diberi kan layar status, itu bisa jadi kan?"


Aku jadi terfikir kan hal itu.

__ADS_1


"Baiklah mari mulai pelajaran pertama sihir dari ku!"


Liliana berkata dengan semangat.


__ADS_2