
Hari sudah kelewat malam. Seorang bayi mungil telah tertidur pulas di sampingku. Bayi yang kulahirkan berkat pernikahanku dengan suamiku. Mas Baim.
"Nak, kalau kau besar nanti, mama ingin kau jadi orang besar. Seperti laki-laki yang dulu sempat mama kagumi. Ah, bahkan sampai sekarang mama masih mengaguminya. Dia laki-laki berpendidikan, berkarakter, dan semua sifatnya mama suka. Kelak tumbuhlah seperti dia. Suatu saat mama pasti akan mengenalkanmu padanya. Orang yang mama kagumi, namanya sama sepertimu,"lirihku sembari mengelus kening bayi laki-lakiku.
Bayiku memang hasil hubunganku dengan suamiku. Pernikahan sah di mata negara dan agama.
Kami menggelar upacara pernikahan kami dengan sepantasnya. Mengundang saudara, sahabat, rekan kerja, dan semua orang yang kami kenal. Pernikahan kami berjalan meriah. Penuh kebahagiaan. Mereka menyalami kami, memberi hadiah, dan mendoakan kebahagiaan untuk kami. Kami menerima hadiah mereka, menerima doa mereka dengan senyuman. Dan di mata mereka, kami bahagia. Mereka tak melihat gurat kesedihan dari wajah kami berdua.
Aku mengingatnya. Ketika bayiku lahir, Mas Baim berkata padaku, "Aku tahu bahwa kamu masih belum bisa melupakan mantan kekasihmu. Dari itu karena bayi yang terlahir adalah laki-laki, aku memberikan wewenang padamu. Berilah ia nama yang bagus, supaya kelak ia tumbuh seperti harapanmu."
Waktu itu aku menyetujui. Kami memang telah membuat kesepakatan berdua. Sebagai sarana menghibur diri karena pernikahan kami terjadi bukan atas dasar cinta. Kami menikah karena kami menghormati penilaian dari seseorang yang berjasa untuk kami. Beliau menilai, lalu mengenalkan kami. Kami tak bisa menolaknya. Lebih tepatnya, kami tak memiliki keberanian untuk menolaknya.
Bukan hanya aku yang memiliki riwayat percintaan yang menyedihkan. Mas Baim pun begitu. Dia lima tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya. Bahkan dia sempat pertunangan dan merencanakan untuk menikah. Tapi kekasihnya malah memutuskannya secara sepihak. Entah alasannya apa, Mas Baim tidak menceritakannya padaku. Aku sendiri mendengar cerita itu dari orang yang mengenalkan kami.
"Belum tidur?"
Suara lirih lembut itu membuatku menoleh ke arah pintu. Mas Baim baru pulang dari kerja.
"Belum, Mas. Dimas baru saja terjaga dari tidurnya. Aku menyusuinya," kataku sembari beranjak menyambut kepulangan Mas Baim.
Mas Baim melepas jaketnya dan menggantungkannya di balik pintu. Dia nampak lelah.
Aku mendekati Mas Baim. Meraih wajahnya, melihat kedalaman matanya, menyapu wajah lelahnya. Lalu berjinjit, mencium bibirnya.
"Terimakasih, Mas. Telah bersusah payah mencarikan nafkah untuk kami," lirihku sembari memeluk tubuh Mas Baim.
Mas Baim membalas ciuman dan pelukanku. Dia menghela napas. Dielusnya lembut jidatku, lalu katanya, "Aku mau mandi dahulu. Kau tak perlu menemaniku makan malam. Kau temani saja si Dimas. Dia lebih membutuhkanmu."
__ADS_1
Aku menurut. Mas Baim melepas kemeja kerjanya. Aku membantunya menggantungkan di balik pintu. Mas Baim bergegas keluar kamar.
Dia suamiku. Bapak dari anakku. Meski rumah tangga kami berdiri tak berlandaskan cinta, tapi kami berusaha untuk saling melengkapi. Aku membutuhkan suami, Mas Baim pun membutuhkan istri. Ternyata, kami ditakdirkan untuk bersama.
☆☆☆
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Meski sudah memiliki seorang bayi, tapi bekerjaan rumah telah kukerjakan semua. Ini berkat Mas Baim yang mau diajak bekerja sama. Kami bergantian mengerjakan bekerjaan rumah tangga. Apalagi di saat hari libur seperti ini.
"Aku sudah selesai, Mas. Mas tidak keluar hari ini?" tanyaku sembari duduk di samping Mas Baim yang sedang mengasuh Dimas. Dimas nampak bahagia bisa bercengkerama dengan bapaknya. Tertawa-tawa kecil.
"Hari ini aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu buat keluargaku. Kenapa, kau keberatan?" tanyanya sambil menimang nimang Dimas dengan gemas.
Aku tertawa kecil. "Tentu saja aku malah senang. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini. Berduaan di hari liburmu," jawabku.
Mas Baim mengernyitkan keningnya. Seolah tidak setuju dengan pernyataanku.
"Kita kan sudah menikah. Kau tak perlu cemburu dengan teman-temanku, dengan kegiatanku di luar rumah. Ketika aku keluar rumah, itu saat aku kerja. Aku bekerja untuk kalian, kan. Jadi tidak perlu cemburu berlebihan," katanya.
Ya, benar. Dia memang telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami. Aku tak perlu mencemburuinya. Lagian, aku telah memilikinya. Meskipun hanya dapat memiliki raganya, bukan hatinya.
Aku pun tak menyangkal. Bahwa hubungan antara Mas Baim dan teman-temannya penting juga untuk kehidupan Mas Baim. Entah itu untuk kehidupan karirnya, maupun untuk kehidupan yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Sebagai istri, aku harus mempercayainya. Demi kelangsungan rumah tangga kami. Rumah tangga yang kuharap berlangsung untuk selamanya meskipun kami tak saling mencintai. Tapi kami punya komitmen yang sama. Untuk bersama membesarkan dan mendidik anak-anak sampai dewasa nanti.
"Sebenarnya kalau hari ini kamu mau keluar, aku ijinkan. Barangkali kamu rindu dan ingin berkumpul dengan teman-temanmu," kata Mas Baim.
"Berkumpul, ya. Em, sepertinya itu hal yang sangat sulit. Bisa sih, asal direncanakan jauh-jauh hari. Lagipula, teman-temanku menganut paham yang sama. Setelah menikah, mereka akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga mereka," sahutku.
__ADS_1
Mas Baim mengangguk-angguk. Dia sudah tahu prinsip itu. Karena aku telah menceritakannya dahulu di awal kita bertemu.
"Tidak mau bersandar di bahuku? Aku sedang ingin disandari," katanya menawarkan bahunya.
Aku tersenyum. Kugeser tempat dudukku lebih dekat dengannya. Lalu kusandarkan kepalaku pada bahunya yang kokoh.
Semilir angin pagi menerpa wajah kami. Sesekali semerbak wangi sekuntum bunga mawar serambi menyeruak hidung kami. Terkadang, aku menginginkan saat-saat seperti ini berlangsung lama. Satu hal lain keinginanku adalah, aku ingin Mas Baim mencintaiku.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," lirih Mas Baim.
Aku mendongak, melirik Mas Baim. "Maksudnya?" tanyaku.
"Entahlah," katanya.
Dimas sudah terlelap di pangkuan Mas Baim, setelah lelah bercengkerama dengan bapaknya. Wajahnya tenang. Wajah yang menenteramkan.
Kuulurkan tanganku untuk memindahkan Dimas kepangkuanku. Mas Baim dengan hati-hati mengangkat Dimas dan meletakkan di pangkuanku. Mas Baim mengusap kepala Dimas. Lalu merengkuhku, membawaku dalam dekapannya. Rasanya nyaman sekali.
"Jika ada orang lewat, mereka akan salah sangka, Mas. Mereka bakal menyangka kalau kau sangat mencintaiku," kataku.
Mas Baim tertawa, "Bukankah mereka akan ikut bahagia kalau aku mencintaimu?"
"Bisa jadi itu yang diharapkan orang-orang jika tahu tentang kita. Sayangnya mereka tak tahu, ya," kataku.
Mas Baim menepuk-nepuk pundakku dengan lembut. Dia mengeratkan pelukannya.
"Biarlah mereka berasumsi seperti itu. Asal itu membuat mereka tidak khawatir tentang keadaan kita. Semua orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis, kan? Ngomong-ngomong, kenapa kamu memberi nama 'Dimas' untuk anak kita? Dimas itu seperti apa orangnya?" tanya Mas Baim.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang amat sangat mencintai keluarganya. Orang yang menjadikan 'Bapak' sebagai teladannya," jawabku sembari tersenyum. Sepintas bayanga Dimas terlintas di benakku. Orang yang kugagumi sejak dulu. Dimas Khan.
☆☆☆bersambung☆☆☆