
Seharian ini Baim mengawasi gerak-gerik Toni. Kebetulan meja mereka tak terlalu berjauhan. Baim mengamati bagaimana wajah Toni ketika sedang bekerja, ketika sedang melihat ponsel, dan ketika sedang menatap layar komputer. Wajah Toni nampak sumringah dan penuh senyum. Ia kerja penuh semangat.
Tak ada yang janggal dengan gerak-gerik Toni. Misal mengetik pesan sambil senyam senyum, bertelepon sambil melontarkan kalimat gombalan, dan hal absurd lainnya layaknya orang di mabuk asmara.
Toni bekerja dengan profesional. Selama ia bekerja, ia sama sekali tak menerima telepon dari orang lain yang tak punya hubungan kerja dengannya. Ia juga tak membalas pesan dari siapapun itu.
"Im, ayo makan bareng," kata Toni sembari berdiri dan menata mejanya ketika bel makan siang berbunyi.
Baim mengangguk dan berjalan menghampiri Toni.
"Aman kan hari ini?" tanya Baim berbasa basi.
"Iya. Aman. Produksi lancar. Jadi hari ini aku hanya merapikan laporan yang mau dikirim ke Jepang," jawab Toni.
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Melewati anak tangga dan sampai di lantai bawah yang luas. Operator produksi maupun bagian lain juga makan di tempat yang sama. Kantin itu ramai dengan suara sendok bersentuhan dengan tempat makan. Di depan tangga, antrian panjang pengambilan makanan terbentuk rapi. Di pojok ruangan samping loker pun, orang-orang mengantri membeli jajanan. Ada warung kecil di sana. Menjual beberapa makanan ringan, minuman, dan lauk pauk. Untuk orang yang tak terlalu cocok dengan makanan dari pabrik, bisa membeli dengan uang sendiri lauk pauk mereka di warung kecil itu.
Ada tiga pilihan lauk hari ini. Telur mata sapi balado, ayam goreng, dan sosis asam pedas. Pilihan ayam goreng dan sosis paling laris.
"Tinggal telur mata sapi, nih. Kemarin dapat telur, hari ini juga dapat telur. Besok-besok nggak mau kelamaan beresin tempat kerja, ah. Biar dapat selain telur," celetuk Irfan di belakang Baim.
Setelah mengambil jatah makanan, mereka bergegas mengisi bangku yang kosong. Kebetulan ada tiga bangku kosong dalam satu meja. Mereka duduk bersama.
"Ton, nanti jadi?" tanya Irfan di sela makannya.
Baim memgernyitkan kening. Sementara Toni yang ditanya, ia menyelesaikan mengunyah makanan, menelan, lalu menjawab, "Jadi, dong."
"Apa nih?" tanya Baim. Ia merasa ketinggalan berita.
"Itu, mau pulang duluan. Mau kencan katanya," jawab Irfan.
"Wih, kencan? Kencan sama siapa nih? Perempuan di foto kemarin?" tanya Baim. Pura-pura ia bertanya sementara hatinya sakit teriris-iris mendengar kabar itu. Sementara yang ditanya tertawa mengiyakan.
__ADS_1
☆☆☆
Sakit hati Baim melihat dua manusia tengah suap-suapan di dalam restoran. Kebetulan tempat Toni dan Maya makan persis di dekat kaca. Restoran bergaya Eropa itu membuat makan malam mereka nampak romantis.
Baim masih di luar. Memarkirkan motor di samping penjual cilok, memesan cilok, sambil melihat pemandangan di dalam restoran itu. Sementara di luar, gerimis membasahi jalanan. Namun, kendaraan masih ramai berlalu lalang. Suara klakson pun ramai mengesampingkan hujan. Jalanan utama ini memang ramai. Pedagang pun telah membuka tenda terpal mereka.
Di dalam, setelah selesai makan, mereka saling berpegangan tangan sambil bercengkerama. Sesekali Toni menggombal sambil menciumi jemari lentik Maya. Yang dicium hanya tersenyum menggoda.
Selang beberapa waktu, Baim sudah berada dalam ruangan yang sama. Karena hujan semakin deras dan Baim berdalih menunggu pesanan makanan datang. Antrean pesanan makanan tak kalah panjangnya. Baim memesan kopi susu dan duduk di ujung ruangan untuk menunggu pesanannya sambil terus mengamati sepasang kekasih itu.
Lima menit setelah ia duduk, jantung Baim berdetak kencang saat dilihatnya sosok cantik ideal bak model itu berjalan menuju arahnya. Tidak, tepatnya menuju toilet. Jalannya berlenggak-lenggok. Pakaiannya berwarna merah tua mengkilap dengan rok span hitam, menampakkan lekukan badan yang ideal. Sepatu hak tingginya menyuarakan ketukan berirama ketika menyentuh lantai. Sesekali ketika berjalan, ia menyibakkan rambut bergelombang panjangnya. Bibirnya selalu menyungging senyum. Dia lah Maya, mantan calon istri Baim.
Baim bergegas melepas jaketnya yang basah. Ia mengejar Maya.
Maya yang tak tahu kehadiran Baim, memekik tertahan ketika di rasakan tubuhnya terdorong masuk ke dalam toilet. Sepatu hak tinggi yang ia pakai membuat keseimbangam badannya tak terjaga hingga ia hampir terjungkal. Untung ada closet duduk di depannya. Dengan sekuat tenaga, ia menopang badannya dengan tangan. Sementara Baim telah mengunci pintu toilet rapat-rapat.
Maya kaget ketika menoleh. Ada Baim di hadapannya. Mata Baim yang merah dan rambutnya yang basah acak-acakan terkena air hujan. Pemandangan yang menyedihkan.
Maya terduduk di atas closet duduk yang tertutup. Baim mencengkeram bahunya erat. Ia tak bisa berkata-kata melihat mata Baim menyiratkan kemarahannya.
Baim mendekatkan wajahnya pada wajah Maya. Ingin menciumnya. Maya menghindar.
"Bilang padaku. Kamu hanya mencintaiku!" tegas Baim, mengguncangkan bahu Maya.
"Tidak," jawab Maya tegas.
"Jujur padaku bahwa hanya aku yang ada di hatimu selamanya!" kata Baim sekali lagi.
"Tidak," kata Maya sekali lagi. Kini suaranya bergetar. Ia merasakan luka hati Baim yang dalam disebabkan oleh dirinya.
Baim menghela napas dalam. Ia mengambil posisi duduk di pangkuan Maya berlahan. Maya merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Maya tak lagi memberontak. Melihat itu, Baim merengkuh wajah Maya yang kecantikannya tiada banding.
"Kau semakin cantik, Maya. Tahukah bahwa aku selalu menunggumu? Tahukah bahwa hanya ada kamu di hatiku? Dan tak seorang pun bisa menggantikanmu," kata Baim lembut. "Aku selalu merindukanmu, Maya."
Baim menyibakkan rambut Maya ke belakang telinga dengan pelan.
"Maya, katakan bahwa kau masih mencintaiku," lirih Baim memohon. Maya menggeleng.
"Kenapa? Karena kau sekarang bersama Toni? Kau tahu? Toni itu temanku. Rekan kerjaku. Apa kau mau menghancurkan kembali hatiku?" tanya Baim.
Maya terpaku. Ia sama sekali tidak tahu.
"Maaf, Im," lirih Maya.
"Maaf? Kau tak perlu meminta maaf padaku. Aku hanya ingin kau kembali lagi padaku. Maya, katakanlah. Kau hanya mencintaiku. Katakanlah, Maya," kata Baim memohon. Maya hanya memejamkan matanya. Tak merespon permintaan Baim.
Melihat tak ada respon sama sekali, kemarahan Baim memuncak. Ia memperbaiki posisi duduknya dan merengkuh Maya ke pelukannya. Kehangatan itu, Baim tak pernah lupa. Bahkan masih sama. Meski Maya tak membalas pelukannya, namun Baim bisa merasakan degupan jantungnya dan jantung Maya bersahut-sahutan.
"Aku tahu kau masih mencintaiku. Itu cukup buatku meski kau tak pernah mengakuinya," kata Baim.
Baim menciumi daun telinga Maya. Aroma wangi dari rambut Maya yang khas membuat ia teringat masa lalu. Masa-masa manis bersama Maya.
Baim melepas pelukannya ketika Maya terisak. Dilihatnya airmata mengalir di pipi Maya.
"Maaf, Im," lirih Maya.
Baim menghapus airmata itu dengan tangannya. Tangannya menepuk-nepuk pipi Maya pelan, lalu tanpa sadar Baim mulai mengelumat bibir Maya, mencoba menenangkannya. Betapa kagetnya ia ketika Maya ternyata membalasnya.
Satu hal yang Baim bisa tahu dengan pasti. Maya masih mencintainya.
☆☆☆Bersambung☆☆☆
__ADS_1