Suami Bukan Pilihanku

Suami Bukan Pilihanku
Eps.5


__ADS_3

Kupatut diriku di depan cermin setengah badan. Kupakai dress batik berwarna cokelat, dan bando yang menghiasi rambutku. Dengan rambut tergerai, kurasa aku nampak anggun. Ini adalah setelan yang Dian pilihkan untukku.


Hari ini adalah hari di mana Mas Baim ingin mengenalkanku pada orangtuanya. Kami akan bertemu di sebuah rumah makan di dekat pasar lama.


Tiga puluh menit sebelum waktu bertemu di tentukan, aku sudah berdiri di pinggir jalan dan memilih angkot untuk kunaiki. Angkot berwarna merah bernomor 17. Angkot menuju pasar lama.


Lima menit sebelum waktu ditentukan, aku sudah sampai di depan rumah makan. Ternyata, Mas Baim sudah berdiri menyambutku di samping pos jaga.


"Halo, calon istriku," sambutnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Aku tersenyum agak canggung.


"Halo, Mas Baim." Kusambut uluran tangannya. Tangannya besar dan hangat ini kali kedua aku bersentuhan dengannya setelah pertemuan pertama.


Mas Baim memegang tanganku erat. Tak kunjung melepaskannya. Sambil menatapku, ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, lalu mencium punggung tanganku dengan lembut. Aku tersipu.


"Aku benar ingin menikahimu. Menikahlah denganku, Nggar," katanya.


"Baiklah, Mas. Tapi lepaskan dulu tanganku. Malu melakukan hal seperti ini di tempat terbuka," kataku.


Ia melepaskan genggamannya. Namun beralih melingkarkan tangannya ke pinggangku. Membuat wajahku memerah. "Ayo kita masuk ke dalam. Orang tuaku telah menunggumu."


Dia terus membimbingku. Rasanya nyaman bersentuhan dengannya. Kurasakan badan yang lebih kekar, hangat, dan rasa yang tak bisa kutuliskan dengan kata-kata.


Aku mendongakkan kepala menatap wajahnya.


"Ada apa? Suka?" tanya Mas Baim.


"Ternyata tinggiku hanya sepundakmu, Mas," kataku sembari tersenyum.


"Kalau gitu bersandarlah terus di pundakku," katanya sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.


"Malu dilihat orang," kataku.


Meja yang telah dipesan ternyata ada di pojok ruangan. Orang tua Mas Baim benar-benar telah menunggu kami.


"Bu, Pakde, ini calon istri yang kemarin aku ceritakan pada kalian," kata Mas Baim memperkenalkan.


"Salam kenal, calon menantuku," sambut Ibu Baim hangat.


"Salam kenal, Ibu, Pakde. Perkenalkan nama saya Enggar," kataku.


"Silahkan duduk," kata Pakde Baim mempersilahkan.

__ADS_1


Kami mengobrol santai sembari menunggu hidangan yang datang. Ternyata orangtua Mas Baim bukan orang kaku seperti bayangan yang kutakutkan.


"Kamu pernah dengar pasti, Nggar. Dulu Baim punya pacar, mau dinikahi, tapi pacarnya lebih memilih karirnya lalu meninggalkan Baim sendiri. Padahal pacarannya sudah lama. Nah sekarang, belum lama kenal dengan kamu, dia sudah mau mengajak kamu nikah. Sepertinya Baim benar-benar mencintaimu, Nggar," kata Pakde penuh senyum.


"Saya beruntung dipilih Mas Baim untuk mendampingi hidupnya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa melayaninya," jawabku mantap.


"Baguslah. Kalau kalian saling mencintai, ibu tak perlu khawatir lagi. Ibu harap pernikahan kalian segera di gelar," kata ibu.


"Bu, Baim sudah memutuskan untuk tinggal di kota ini. Baim akan segera mencari rumah untuk kami tinggali setelah menikah. Ini demi kelancaran kerja Baim dan Enggar juga. Juga kenyamanan kita berdua," kata Mas Baim.


Aku menoleh. Menatapnya dengan serius. Pertama kali aku dengar langsung dari mulut Mas Baim rencananya setelah menikah denganku.


Meski kami belum saling mencintai, ternyata Mas Baim telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Dia juga mempertimbangkan bagaimana masa depan kami nanti. Mas Baim adalah pria yang bertanggungjawab. Bodoh sekali mantan pacar yang telah meninggalkannya.


"Kalau kalian sudah punya anak nanti, apakah akan membiarkan Enggar kerja, Im," tanya Ibu khawatir.


"Tentu saja itu keputusan ada di tangan Enggar, Bu. Bagaimana, Nggar. Apa kamu mau di rumah mengurus anak kita nanti?"


Pertanyaan itu tiba-tiba ditujukan untukku.


"Ah, iya. Impian saya tentu saja bisa mendampingi tumbuh kembang anak setiap waktu. Tentang pekerjaan, saya kebetulan punya sedikit keterampilan untuk dikerjakan dari rumah dan bisa menghasilkan uang. Jadi saya kira semuanya tidak masalah," jawabku.


Semua orang nampak puas dengan jawabanku.


Aku sudah berembug dengan keluargaku tentang acara pernikahan. Mereka setuju dengan rancangan dari aku dan Mas Baim.


Kami memang meminta tolong kepada wedding organizier untuk mempersiapkan semuanya melalui video call dan perbincangan via telepon juga. Undangan juga aku sudah memesannya. Gedung pernikahan pun sudah dipersiapkan. Meski semua serba lewat online, tapi persiapan kami telah matang.


"Acara masak memasak sudah dapat dari gedung, bukan?" tanya Ibuku.


"Iya, Bu. Nanti hanya minta tolong disebarkan undangan saja. Ketika mendekati hari H dan kerabat dari Mas Baim berdatangan, tolong di tempatkan di rumah baruku saja. Karena lebih dekat dengan gedung pernikahan. Oh, iya, Bu. Mas Baim tidak tahu dan jangan pernah beritahu kalau aku sudah punya rumah dan sawah, ya. Biar itu jadi rahasia," kataku pada ibu.


Ibu mengiyakan. Tentu saja beliau paham untuk apa aku merahasiakan hal itu.


☆☆☆


Mas Baim mengajakku berkeliling mencari rumah untuk kami tinggali beberapa hari yang lalu.


Kini rumah baru yang di maksud sudah dibeli dan telah berpindah kepemilikan. Ini adalah rumah kami. Rumah yang dibeli berdasarkan banyak pertimbangan.


Baru saja kami mengisi perabotan rumah. Perabotan pokok hampir semuanya sudah lengkap.


"Nggar, kamu tinggallah di sini saja. Sudah tak perlu memikirkan uang kos lagi, ya. Sekalian merawat rumah kita," kata Mas Baim di sela-sela kesibukannya mengecat ulang tembok rumah.

__ADS_1


"Boleh, Mas. Lagipula pekerjaanku sudah tak sebanyak dulu. Jadi bisa lah. Di sela-sela waktu luang mengurus rumah," jawabku.


Laki-laki ini, entah mengapa setiap hari semakin mengagumkan. Rasa percayaku padanya menjadi semakin besar.


"Aku mau masak dulu, ya. Sekaligus mencoba peralatan dapur yang serba baru," kataku.


"Masak yang enak," sahut Mas Baim sambil memoleskan kuasnya di tembok.


Meski tak pandai memasak, kurasa makananku kali ini bakalan habis di makan. Karena kami sama-sama lelah.


Menuku kali ini adalah sayur sup bakso dengan lauk kerupuk. Kubuat juga bakwan untuk hidangan setelah makan. Dan es teh sebagai minumannya.


"Mas, sudah matang, mari makan," kataku sembari meletakkan hidangan di lantai. Maklum, kami belum membeli meja dan kursi untuk makan. Jadi kami makan di lantai tanpa karpet.


Terndengar suara gemericik air. Mas Baim mencuci tangannya dan mengganti baju. pekerjaan mengecatnya selesai bersamaan dengan telah siapnya hidanganku.


"Laparnya," katanya sambil menempatkan diri. Duduk di lantai.


"Segini cukup? Atau kurang?" tanyaku sambil menyendokkan nasi ke piringnya.


"Itu terlalu banyak, Nggar," kata Mas Baim. "Kurangin sesendok nasi," katanya.


"Haha, maaf, Mas. Kupikir laki-laki itu semuanya punya porsi makan yang banyak," kataku sembari tertawa.


"Laki-laki memang punya porsi makan lebih besar dari wanita. Tapi kalau segitu ya kebanyakan buat aku," kata Mas Baim. Dia menyeruput es teh manis buatanku.


"Rasanya sudah seperti suami istri, ya, Mas," kataku.


"Jangan menggodaku, Nggar. Meski di rumah sendiri, untuk saat ini kita belum sah menjadi suami istri. Jangan menggodaku begitu. Atau tidak aku bisa bertindak gegabah sebagai laki-laki," katanya.


Aku tersipu. Meskipun tidak bermaksud untuk menggodanya.


" Sini. Mendekat sebentar," perintahnya sambil menepuk-nepuk lantai di dekatnya.


Aku menurut dan mendekat kepadanya.


"Sebentar lagi kita akan menikah. Semoga pernikahan kita bisa bertahan lama. Semoga cinta kita bisa tumbuh sedikit demi sedikit. Aku menikahimu karena rasa percayaku padamu," katanya sambil mencium keningku.


"Aku berbakti padamu, Mas. Aku berjanji untuk selalu menemanimu," jawabku. Meraih tangan kanan Mas Baim dan mencium punggung tangannya.


Semoga pernikahan kita terjadi sekali untuk selamanya. Semoga kehidupan kita bahagia selamanya.


☆☆☆Bersambung☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2