
Aku sedang mengetik di ruang tamu ketika Mas Baim pulang. Suara motor menghentikan jemariku dan menuntun kakiku menyambut kepulangan Mas Baim.
"Kok belum tidur?" tanyanya ketika pintu terbuka dan melihat wajahku masih segar bugar.
Mas Baim melihat meja ruang tamu dipenuhi banyak kertas. Laptopku pun masih menyala di sana.
"Ini sudah larut, lho. Kenapa belum tidur? Kasihan Dimas. Ia masih kecil. Kalau asinya tak terpenuhi karena ibunya kebanyakan begadang bagaimana? Kamu sudah jadi ibu, lho," tegur Mas Baim.
Ia tak memelukku seperti biasa. Ia tak menyapaku dengan hangat seperti biasa. Ia nampak sangat lelah malam ini. Barangkali di tempat kerjanya ada kendala. Tapi mengapa baru pulang jam segini?
"Mas, bau rokokmu masih lekat," kataku.
"Aku tahu. Tidurlah. Jangan terlalu gila bekerja," kata Mas Baim sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Melihat ekspresi Mas Baim yang tidak ramah seperti biasa, aku menjadi tahu bahwa ia sedang dalam masalah. Mungkin lebih baik untuk saat ini aku tidak menambah masalah untuknya. Lebih baik aku melakukan apa yang Mas Baim perintahkan.
Segera kurapihkan kertas-kertas referensi dan coretanku. Kumatikan laptop dan masuk ke kamar. Di sana, Dimas tengah tertidur pulas.
Tentu saja aku tak bisa langsung tidur melihat Mas Baim yang begitu. Kutunggu beberapa saat, namun Mas Baim tak kunjung masuk ke kamar.
"Dimas, ayah kamu kenapa? Mama harus gimana, Dim?" bisikku pada Dimas. Aku mencium kening Dimas dan bersiap untuk tidur.
☆☆☆
Baim merebahkan tubuhnya di sofa. Rasanya terlalu lelah hari ini. Bukan lelah karena bekerja, melainkan lelah karena pikiran masa lalu.
Baim meraih hapenya dan membuka media sosial. Ia mencari nama mantan calon istrinya. Maya Yuriska.
Dilihatnya foto-foto Maya dengan gaya terpelajarnya yang khas. Dengan caption yang berkelas dan latar belakang suasana kampus luar negeri.
Rasanya baru kemarin Baim tak menilik beranda media sosial Maya. Sejak berkenalan dengan Enggar, ia memutuskan untuk tidak menilik profil Maya sedikit pun. Bahkan Baim juga sudah tak membuka lagi media sosialnya karena takut foto Maya tiba-tiba muncul di layar hapenya. Foto Maya yang membuat hati Baim berdebar, bahkan sampai saat ini.
Baginya Maya adalah cinta sejatinya. Dari dulu hingga sekarang. Meski kini telah berusaha untuk mengubur rasa cintanya, namun sekali melihat foto Maya saja, hati Baim memberontak. Rasanya semua tentang Maya telah terpatri di hati Baim. Ia telah menyatu dengan jiwanya. Maya, wanita itu, adalah ratu di lubuk hati Baim yang terdalam.
"Dulu kamu memutuskan sepihak pertunangan kita. Kupikir kau akan kembali lagi padaku. Nyatanya selama ini kau tak pernah mengingatku. Apa artinya aku bagimu, Maya-ku?" Baim mengernyitkan dahinya. Matanya merah menahan tangis. Syaraf-syaraf matanya memerah.
"Mungkin bagimu aku adalah orang tak berguna yang menghambat karirmu. Aku melepas untuk membuatmu merdeka dan berlari mengejar impianmu. Tapi kenapa kau meninggalkan rasa yang tak pernah bisa kulupakan? Kenapa, Maya. Kenapa kau menyiksaku dengan perasaan ini? Rasa cinta yang tak berujung," lirih Baim. Dadanya terasa sesak. Seluruh kenangan indah terbayang kembali di ingatannya. Kenangan indah yang membuatnya menderita. Baim memijat keningnya.
☆☆☆
__ADS_1
Jam dinding di kamarku menunjuk angka dua dini hari, ketika kusadari Mas Baim belum juga masuk kamar.
Aku mengerjapkan mataku. Kulihat Dimas masih tertidur pulas. Perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Mengikat rambutnya yang berantakan, lalu membuka pintu kamar perlahan.
Kulihat Mas Baim tengah tertidur di sofa kecil di ruang tamu. Ia mendengkur. Tangan kirinya munutup jidat dan tangan kanannya menjulur hampir menyentuh lantai. Sementara posisi kakinya bersilang di atas lengan sofa. Posisi yang tak mengenakkan.
"Mas, kamu kenapa?" lirihku sambil memperbaiki posisi tidur Mas Baim. Mas Baim mengeliat tanpa sadar. Ia masih tetap tertidur.
Kupakaikan selimut yang kubawa dari kamar. Lalu kukecup keningnya.
"Maafkan aku yang tak bisa meringankan bebanmu, Mas. Maafkan aku yang tak tahu persoalanmu. Semoga semuanya berjalan lancar," lirihku.
Wajah Mas Baim benar-benar kusut. Ada bekas aliran air mata di ujung matanya. Ia pun tertidur begitu saja tanpa melepas seragam kerja.
Hape Mas Baim menyala. Ada notifikasi masuk. Aku yang selama ini sama sekali tak pernah menyentuh hape Mas Baim, tergerak hatiku untuk menyentuhnya.
Ketika kuusap layar, layar ponsel Mas Baim menampilkan tampilan media sosial dan sedang menyorot sebuah foto profil. Dengan keterangan pemilik foto bernama "Maya Yuriska."
Aku tersentak. Pernah kudengar nama itu dari ibu mertua. Tapi tak pernah sekali pun aku mencoba mencari tahu seperti apa rupa pemilik nama itu.
Malam ini aku tahu semuanya. Aku lihat wajah itu, aku ketahui kesehariannya, kuketahui pendidikannya, kuketahui semuanya. Sosok yang tak pernah bisa kusingkirkan dari hati Mas Baim. Sosok yang tak pernah bisa kutandingi.
"Kau tak akan bisa melupakannya, Mas. Kau tak akan pernah bisa mencari penggantinya. Sekalipun di sini ada aku yang telah melahirkan putramu," lirihku tersedu.
Aku bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Kunyalakan keran dan aku menangis di antara suara air yang mengalir.
"Ternyata begini rasanya sakit hati. Ternyata begini rasanya saat tahu bahwa pasangan hidup kita masih mencintai orang lain. Ternyata begini. Meski dari dulu aku tahu konsekuensinya, meskipun aku sendiri masih mencintai Dimas dan menjadikan nama itu akrab di telingaku, ternyata masih sesakit ini. Mas Baim, ternyata aku mencintaimu, Mas," isakku.
Setelah puas menangis, aku tak bisa tidur lagi. Aku hanya bisa menuliskan berlembar-lembar puisi patah hati di atas kertas tisu.
Dimas sesekali mengeliat dan menangis kecil. Namun setelah ditepuk dengan lembut, ia kembali terlelap. Aku memandang wajah Dimas kecil yang teduh.
"Padahal kau telah hadir di antara kami. Hasil dari malam-malam panas setelah pernikahan. Kau anak kandung Mas Baim. Tapi kenapa Mas Baim masih memiliki cinta sebesar itu pada Maya?" tanyaku. "Padahal aku tak lagi mengharapkan Dimas masa laluku."
☆☆☆
Aku telah selesai mempersiapkan sandwich untuk menu sarapan. Mas Baim harus segera bersiap-siap berangkat kerja. Tapi ia belum bangun juga dari tidurnya. Sebagai istri yang baik, aku menghampiri dan membangunkannya dengan kelembutan.
"Mas, Mas Baim. Ayo bangun. Sudah Subuh," lirihku di telinganya sambil menggoyang-goyangkan badannya.
__ADS_1
"Em," jawab Mas Baim. Ia hanya mengubah posisi tidurnya.
Kuulangi lagi menggoyang-goyang badannya. Akhirnya ia membuka mata, mengerjap, menggaruk-garuk kepalanya, lalu memandangku yang bersimpuh di hadapannya.
"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak.
"Jam lima. Ayo lah bangun. Bersiap-siap. Hari ini sarapan dengan sandwich dan segelas susu," kataku.
Mas Baim bangkit. Berjalan terhuyung menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan berdandan rapi, Mas Baim berjalan menuju ruang makan. Di meja melingkar dan empat kursi itu, aku telah menunggunya. Kami duduk berhadap-hadapan. Mas Baim mengambil sandwich dan menikmatinya tanpa berkata sepatah kata pun.
Aku memperhatikan cara makannya tanpa berkedip sekali pun.
"Ada apa?" tanyanya seolah tak pernah terjadi apapun.
"Bukankah seharusnya itu pertanyaanku untukmu, Mas?" Aku balik bertanya.
Mas Baim hanya mengangkat sebelah alisnya sambil terus mengunyah sandwich. Ia juga terus menatapku. Kami bertatap-tatapan tanpa ada rasa ingin menjelaskan apapun.
Mas Baim menghabiskan sandwich-nya dan meminum segelas susu.
"Terimakasih," katanya sambil mengelap bibir dengan tisu.
"Hanya terimakasih?" tanyaku. Aku berdiri dan membungkukkan badan. Mendekatkan wajahku pada wajahnya meski jarak kami terhalang meja.
"Kemari lah," kata Mas Baim. "Wajahmu terlalu jauh. Aku tak bisa mengecupmu."
Aku menghampiri Mas Baim yang masih duduk di tempatnya. Kurangkul lehernya, kudekatkan wajahku pada wajahnya. Kukecup pelan bibirnya.
"Aku tak tahu apa yang telah terjadi padamu. Dan kau belum bercerita apapun semalam," kataku. Kukecup bibirnya sekali lagi.
Mas Baim tak membalasnya. Ia hanya menghela napas.
Kueratkan rangkulanku. Lalu berkata, "Apa kau ingat bahwa aku telah melahirkan anakmu? Sampai kapan kau akan terus merindukan wanita yang tak pernah bisa kau sentuh?"
Aku mengecup sekali lagi dan lagi sampai Mas Baim membalasnya. Kami berciuman cukup lama. Memanas, membakar kalori dan menghangatkan suasana di pagi hari.
Pagi itu dalam hati aku berjanji. Aku tak akan membiarkan Mas Baim bersedih atas masa lalunya.
__ADS_1
☆☆☆Bersambung☆☆☆