Suami Bukan Pilihanku

Suami Bukan Pilihanku
Eps. 9 Cinta yang Terbalas


__ADS_3

Aku membuka pintu ketika Mas Baim pulang. Kali ini ia membawa banyak makanan Korea yang dibungkus sterofoam. Aku mengambil alih barang bawaan Mas Baim.


"Tumben, Mas," kataku. Sambil melakukan ritual penyambutan kepulangan Mas Baim seperti biasa. Mas Baim tak menolaknya.


"Iya, kebetulan lagi pingin makanan ini. Lagipula kita jarang makan di luar. Kupikir daripada makan di luar dengan membawa Dimas kecil, lebih baik membawa pulang makanannya saja. Toh rasanya sama saja, kan?" kata Mas Baim. Ia melepas jaketnya yang basah.


"Jaketnya taruh ember saja, Mas. Sekalian besok aku cuci," kataku sambil berjalan menuju meja makan. kubuka bungkusan itu dan kuletakkan di atas piring.


"Dimas sudah tidur?" tanya Mas Baim. Aku mengangguk.


Mas Baim mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia kemudian berjalan menuju sofa, mengambil remot, dan menyalakan televisi. Sambil duduk, matanya menatap layar televisi yang sedang menayangkan panggung menyanyi sementara kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut.


Aku menghampiri Mas Baim dengan sepiring makanan Korea dan teh hangat.


"Kerjanya lancar, Mas?" tanyaku sambil duduk di sofa di dekatnya.


"Ya, lancar," katanya.


Aku tahu dengan jelas jam kerjanya. Dan tahu dengan jelas jam lemburnya. Tapi jika ia pulang tak tepat waktu, aku tak pernah bertanya alasan ia pulang terlambat. Mungkin ia berkumpul dahulu dengan teman-temannya. Ya, hanya kepercayaan lah yang kuyakini bisa melindungi keluarga ini sampai akhir.


****


"Ton, gimana kemarin kencannya? Aman?" celetuk Irfan yang tiba-tiba mampir ke meja kerja Toni.


"Awal-awal sih aman, ya. Tapi kayaknya kemarin doi tiba-tiba sakit perut. Mau haid katanya. Setelah dari toilet, minta pulang duluan," jawab Toni.


"Cewek mah gitu kalau lagi haid, ya," kata Irfan.

__ADS_1


"Entahlah. Tapi untungnya doi baik-baik saja setelah aku telpon tadi pagi. Kemarin sempat khawatir pas lihat matanya tiba-tiba sembab. Katanya kalau lagi haid perutnya sakit banget. Makanya nangis," kata Toni menambahkan.


Baim tersentak mendengar percakapan kedua sahabatnya itu, meskipun ia tak sedang duduk bersama. Tapi apapun yang berkaitan dengan Maya, Baim selalu pasang telinga.


Baim sudah lama mengenal Maya. Selama itu pula, Baim tak pernah mendengar Maya pernah sakit perut karena haid. Maya tak pernah nyeri haid sampai harus menangis. Ketika haid, ia hanya tidak sanggup berdiri terlalu lama. itu saja.


Ah, tiba-tiba Baim teringat kejadian semalam. Ketika ia memaksa Maya untuk memenuhi hasratnya. Selama ini, Baim tak pernah melakukan hal seperti itu. Barangkali, Maya terkejut. Lalu menangis. Dan untuk mengelabuhi Toni, Maya mengatakan alasan itu.


****


Maya membuka halaman buku kenangan miliknya. Dibuka dan dilihat lembar demi lembar dengan penuh suka cita. Buku kenangan itu berisi dirinya dan Baim. Bagaimana kisah cinta mereka terjalin.


Ketika sedang asyik menikmati kenangan yang mengalir di kepalanya, terdengar suara ketukan pintu. Dengan malas Maya beranjak dari kursinya dan membukakan pintu.


"Lagi apa, sayang?" tanya mama Maya dengan lembut.


"Ada apa, Ma? Maya hari ini libur. Dan mau ngelakuin hal apapun yang Maya suka. Mama gak bermaksud mbahas kerjaan sama aku, kan?" tanya Maya balik.


"Enggak, kok. Mama nggak mau bahas pekerjaan. Lagian wajar dong kalau seorang ibu menemui anaknya," kata Mama Maya santai. Tiba-tiba matanya menatap sebuah buku kenangan yang terbuka di atas meja. "Ini apa, Sayang?"


"Bukan apa-apa," jawab Maya sambil secepat kilat ia mencoba meraih buku kenangan itu. Tetapi tangan mama Maya lebih cepat dibanding gerakan Maya.


Maya berusaha merebut kembali buku itu. Tapi Mama Maya menangkis tangan Maya.


"Kamu cinta pertamaku," kata Mama Maya sambil mengeja tulisan yang ada di buku itu. "Semoga cinta kita langgeng sampai kakek nenek."


Maya menghela napas dalam. Ia pasrah dengan keadaan.

__ADS_1


Mama Maya membanting buku kenangan itu. Buku kenangan jatuh dengan kasar. Beberapa lembarnya terlipat dan bagian tepinya koyak.


"Buat apa kamu masih menyimpan ini? Mama sudah bilang berkali-kali sama kamu. Tinggalkan masa lalu kamu. Tinggalkan sosok tak jelas bernama Baim itu. Ia bukan pria yang baik buat kamu!" bentak Mama Maya. Tangannya berkacak pinggang setelah puas menunjuk-ninjuk buku kenangan di lantai.


"Aku cuma nggak sengaja melihatnya, Ma," sahut Maya. Ia jongkok untuk memungut buku itu. Tapi kaki Mama Maya lebih cepat. Ia menendang buku hingga terhempas sampai di pojok pintu.


" Nggak sengaja melihat kamu bilang? Mana ada alasan seperti itu. Sekali kamu melihat foto itu, kamu akan mengingat semua tentang hubungan kalian! itu tidak boleh terjadi!" hardik Mama Maya.


"Kenapa sih Mama selalu mengatur pertemuan. Mama seolah tak menerima takdirku tau, nggak? Mama seolah mau jadi Tuhan buatku."


"Kamu ingat kan. Pilihan kamu itu selalu salah. Kamu anak mama satu-satunya, Maya. Mama nggak mau kamu salah mengambil langkah. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Mama ingin kamu punya pasangan yang layak. Yang kelak bakal menjaga kamu menggantikan Mama sama Papa," kata Mama Maya.


Maya menggelengkan kepalanya. Tidak menyetujui omongan Mamanya.


"Mama kan hanya tidak terima Baim saja. Kalau Mama sudah tahu bagaimana kepribadian Baim, aku yakin Mama akan menyetujui hubunganku dengan dia. Lagian jika dia dulu tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan, sekarang ia sudah punya gelar sarjana, Ma. Jika Mama menghawatirkan ia tak bisa menamatkan kuliahnya, Mama salah," kata Maya. Ia menahan airmatanya supaya tidak menetes.


Mati-matian ia menutupi perasaannya untuk Baim dari Mamanya. Sejak ia menggagalkan rencana pernikahannya, ia selalu menyesali. Ia menyesal kenapa tak berani melawan kehendak sang Mama. Dari dulu, bahkan sampai sekarang. Hanya karena Maya masih menghormati Mamanya selaku perempuan yang telah melahirkannya.


"Kamu masih suka sama Baim?" tanya Mama Maya menekankan kata 'suka'.


Maya mengangguk. Pertemuannya dengan Baim sewaktu di restoran, pertemuan-pertemuan lain yang hanya Maya saja yang menyadari, meyakinkan Maya bahwa Baim memang separuh jiwanya. Hatinya selalu berdegup kala melihat Baim, bahkan dari kejauhan pun. Hatinya sakit ketika melihat Baim dan istrinya sedang bersama. Maya selalu mengawasi Baim.


"Baim sudah menikah!" kata Mama Maya tegas. "Tidak ada lagi celah kau bisa memasuki kehidupannya. Cintanya sudah milik orang lain. Ia sudah beranak. Kamu hanya orang luar, Maya."


Maya mendengus kesal. "Bahkan jika aku hanya orang luar, jika ia telah beranak istri sekalipun, jika aku masih ada di hatinya, aku bisa menggeser mereka. Aku bisa mengambil kembali Baim untukku.


"Jika kamu melakukan itu, maka kau mempertaruhkan nama keluarga kita! Persetan dengan cinta cintaan mu. Kau hanya akan menikah dengan pria pilihan Mama!"

__ADS_1


Mama Maya melangkah keluar. Meninggalkan Maya yang meringkuk menahan kepedihan.


****bersambung****


__ADS_2