
Dulu, setelah patah hati karena cintaku bertolak sebelah tangan, kurasa aku tak akan lagi bisa jatuh cinta dengan mudah. Rasa sakit kala itu membuatku terpaksa harus menjalani hari-hari yang suram. Menjalani hari dengan beban batin terberat selama hidupku.
Kalau bisa memilih, aku akan memilih mencintai Dimas sepanjang usiaku. Jika bisa berharap, aku telah berharap untuk bisa menikah dengan Dimas meskipun kini ia telah beristri. Lagipula bukankah tidak masalah seorang lelaki mempunyai istri lebih dari satu? Maka aku hanya harus menunggu keajaiban itu datang padaku.
Ternyata aku salah. Memiliki harapan itu tidak mudah. Ketika aku utarakan harapanku pada teman-temanku, mereka mengejekku. Mereka seolah menertawakan kebodohanku. Mereka memaki maki diriku. Mereka berkata, "Seperti tidak ada pria lain saja selain Dimas. Di luar banyak lho pria lajang. Kau hanya perlu memperbaiki penampilanmu. Berdandan, lalu pergilah keluar. Mungkin kau akan menemukan pasanganmu. Jangan seperti ini. Kau tidak mau jadi pelakor, kan?"
Dan aku selalu menjawab, "Tentu saja aku bukan pelakor. Aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan dia. Aku hanya ingin menjadi pelengkap rumah tangganya. Ingin melengkapi apa yang istri pertamanya tidak bisa berikan padanya. Bukankah itu lebih baik? Aku bersedia jadi istri kedua. Kalau pelakor, mungkin aku takkan rela menjadi istri kedua. Aku pasti akan menggeser posisi istri pertama. Itu kalau aku pelakor. Nyatanya tidak, kan? Aku hanya ingin jadi pelengkap."
Dan mereka hanya bisa menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Mungkin kamu memang dibuat gila oleh cinta. Sampai menutup telinga pada orang yang menasihatimu dengan benar."
Dan pada akhirnya seiring berlalunya waktu, aku memang belum bisa bangkit dan melupakan cinta bertepuk sebelah tanganku. Tapi aku berusaha mampu mencari orang lain untuk mengisi kekosongan hatiku. Menjadikan seseorang selain Dimas menjadi pendamping hidupku.
Hanya saja kriteria pasangan idealku menjadi tinggi. Setidaknya meskipun tidak sama, pasanganku harus mendekati Dimas. Baik pemikiran, perilaku, dan pendidikan. Untuk wajah, aku tak banyak mempersalahkannya. Biar bagaimanapun, jika aku mencintai ketiga tolak ukurku, pasti aku pun akan mencintai wajahnya.
Orang bilang, aku terlalu pilih-pilih. Terlalu memilih dalam mencari pasangan. Makanya sampai usiaku 27 tahun, aku belum juga menemukan pasanganku. Tapi bukankah dalam hal memilih pasangan memang harus pilih-pilih? Bukankah tidak ada orang yang mau salah dalam hal memilih pasangan? Apakah ada orang yang ingin rumah tangganya berantakan hanya karena tidak ada kecocokan antara satu sama lain? Jadi, tidak masuk akal jika mereka menyarankanku untuk tidak terlalu memilih pasangan.
"Eng, kamu jangan diam saja. Ayo tanya-tanya. Jangan hanya menjawab pertanyaan dari saya. Kamu juga, Im. Yang aktif dong kalian berdua," kata Ibu Sarasvati kepadaku.
Satu bulan yang lalu, Ibu Sarasvati mempersiapkan kencan buta untukku. Beliau ingin mengenalkan salah satu mahasiswanya kepadaku. Entah mengapa, niat sekali untuk menjodohkan kami.
Orang yang ingin beliau kenalkan adalah seorang mahasiswa tingkat akhir. Dia berprestasi dan aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Namanya Baim. Orangnya ganteng, kulit langsat, dan wajah teduh.
Aku hanya tersenyum. Sesekali mencuri-curi pandang pada pria di depanku.
"Mas Baim, kenapa mau diajak kenalan?" tanyaku memulai pembicaraan dengannya. Aku rasa dengan status mahasiswa berprestasi yang disandangnya, dia tak akan kesulitan memperoleh pasangan. Tentu saja karena aku membayangkan betapa banyak cewek-cewek di sana yang mengantri untuknya.
Baim tersenyum tipis. Lalu jawabnya, "Aku ingin menjalin tali persaudaraan dengan banyak orang."
Aku mengangguk-angguk mendengar jawaban itu. Meski aku tahu arti tersirat dalam jawaban singkatnya itu. Baim tidak tertarik padaku.
Aku sadar diri. Panampilanku begini saja. Tak beraturan. Kulitku kusam, gelap, dan tak terawat. Umurku juga sudah tua. Tiga tahun lebih tua dari usia Baim. Sedangkan Baim adalah pria dengan penampilan yang enak dipandang.
__ADS_1
"Kalau kriteria istri idamannya Mas Baim? Ah, tentu saja aku bertanya karena ingin mengenal lebih jauh tentangmu. Mari berbicara seolah kita adalah teman lama," kataku. Entah kenapa, rasa gugup mulai menyerangku.
"Aku tidak punya kriteria khusus untuk istri idamanku. Tapi perlu kau tahu, sebelum ini aku pernah bertunangan dan gagal menikah. Setidaknya untuk menjadi istriku, seseorang itu harus mau denganku," jawabnya. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
Ya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari luka yang kupunya. Pantas saja ketika Ibu Sarasvati memberikan akun media sosialku untuk diintip profilnya, dia tak merespon. Kemungkinan meresponnya ada, tapi tak tertarik kepadaku.
Aku memang tak punya wajah yang menarik dan tubuh yang seksi. Bisa dibilang, aku tak menarik sebagai seorang wanita. Dengan keterbatasanku itu, aku yakin bahwa aku punya otak dan semangat tiada tanding dibanding perempuan-perempuan cantik di luar sana. Setidaknya, aku punya hal berharga itu.
"Kalau kamu, kenapa mau datang di perkenalan ini?" tanya Baim.
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Kupikir dia tahu alasanku dengan menebak-nebak. Tapi ternyata, dia ingin aku menjawab jujur.
"Umurku sudah 27 tahun. Di kampungku, perempuan dengan umur segitu dan masih lajang bakal dikatakan sebagai perawan tua. Aku ke sini karena niatku untuk mencari jodoh," jawabku jujur. Sebenarnya aku merasa tengah merendahkan diriku sendiri.
"Hahaha, obrolan kalian sudah semakin dalam. Kalau begitu, saya mau meninggalkan kalian berdua sebentar di sini. Saya mau telpon dahulu dengan rekan dosen saya, ya. Silahkan dilanjutkan obrolannya. Nanti saya kembali," pamit Ibu Sarasvati bergegas pergi meninggalkan kami.
Kami tersenyum mengantar kepergian Ibu Sarasvati.
"Kamu harus tahu sesuatu. Siapa nama kamu tadi? Enggar?" tanyanya sambil mengernyitkan sebelah alisnya. Aku mengangguk.
Baim mulai memperlihatkan sisinya yang lain. Aku sudah bersiap untuk itu. Tapi tubuhku tak bisa berbohong bahwa aku sedikit gugup. Kuraih sebutir anggur ungu dan kucicipi untuk mengurangi kegugupanku.
"Aku datang ke sini karena menghormati Ibu Sarasvati. Tidak ada niat untuk lebih dari itu. Jadi, sebaiknya kamu jangan terlalu berharap," kata Baim.
"Aku mengerti. Aku juga datang dengan alasan yang sama. Lagipula, aku yakin bahwa kau sama sekali tak tertarik padaku," jawabku.
Suasana semakin tegang. Seolah kami sedang duduk berhadapan sebagai musuh.
"Kamu sama sekali belum pernah pacaran?" tanyanya padaku.
"Sejak aku patah hati karena cintaku bertolak sebelah tangan, aku belum pernah membuka hati untuk pria manapun. Meskipun penampilanku begini, aku punya standar tinggi. Aku bukan perempuan yang suka membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak penting," jawabku.
__ADS_1
"Apa menurutmu pacaran itu tidak penting?" tanya Baim.
"Apa menurut Mas Baim dengan pacaran itu seratus persen bisa menikah?" tanyaku balik. Yang kutanya hanya diam. "Maaf jika menyinggungmu, Mas. Bukan maksudku untuk menyinggung. Tapi itulah prinsip yang kuanut sekarang. Aku akan menempatkan diri sesuai posisiku. Jika seseorang mengatakan bahwa aku adalah temannya, maka aku akan bertindak sebagai temannya. Jika seseorang mengatakan bahwa aku adalah calon istrinya, maka aku akan bertindak sebagai tunangannya. Hidupku mengalir seperti air. Dan itulah aku."
Baim mulai memahami perkataanku. Dia mengangguk-angguk paham. Aku menghela napas dalam.
Sesaat kemudian tawanya pecah.
"Kita mengobrol terlalu dalam sampai jadi tegang begini, ya," kata Baim di tengah tawanya.
"Iya, juga, ya. Haha. Sepertinya aku terbawa suasana, mas."
"Apa kau menghomati Ibu Sarasvati?"
"Ya, aku menghormatinya. Makanya aku tidak bisa menolak pertemuan ini," jawabku. Suasana mulai mencair.
"Aku pun demikian. Aku sangat menghormatinya. Tadinya aku berencana untuk menggagalkan pertemuan ini. Tapi kuurungkan karena kupikir Ibu Sarasvati tidak akan memperkenalkanku dengan orang sembarangan. Dia pasti telah menilai dengan cermat sampai harus mengadakan pertemuan ini," katanya.
Aku mengangguk, mengiyaka ucapan Baim.
"Awalnya aku mengira bahwa kau tak seperti ini. Setelah tahu sedikit tentangmu, maukah kau buat kesepakatan denganku, Eng?"
"Apa itu?"
"Bagaimana kalau kita lanjutkan perkenalan ini?"
"Maksudnya?"
"Demi Ibu Sarasvati, jadilah kau calon istriku!"
☆☆bersambung☆☆
__ADS_1