
"Jadi kupikir alangkah baiknya kalau kita segera menikah," kata Mas Baim. Lima menit yang lalu kuterima telpon darinya.
"Segera?" tanyaku panik.
Belum ada seminggu kita berkenalan. Memutuskan langsung menikah membuatku terkejut.
"Iya. Menikah. Apa belum siap?" tanya Mas Baim.
"Em, bukan gitu, Mas. Aku mau diajak kenalan juga karena aku sudah siap segalanya," jawabku.
"Terus apa yang membuatmu ingin berpikir ulang?" tanya Mas Baim.
"Anu, maaf. Sebelumnya aku minta kita saling memperkenalkan keluarga kita. Sampai saat ini aku belum sama sekali bercerita tentang kita di keluargaku. Mohon ijin, Mas Baim," kataku sambil menggigit bibir.
Bibirku terasa kering. Wajahku memerah. Mungkin jika berhadapan langsung, Mas Baim akan melihat betapa saat ini aku sedang berada di perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, malu, grogi, terkejut.
"Nah, makanya kalau kamu mau, nanti aku kenalin. Jawab dulu pertanyaanku. Mau kah kamu menikah denganku? Dalam waktu dekat," tanya Mas Baim sekali lagi.
Jantungku berdetak kencang. Sampai dadaku bergetar saking cepatnya detakannya.
"Iya, Mas. Aku mau," jawabku.
"Baik lah. Seminggu yang akan datang, aku akan memperkenalkanmu pada orangtuaku. Persiapkan dirimu, ya," kata Mas Baim.
"Baik, Mas. Kalau begitu sampai jumpa seminggu yang akan datang," kataku mengakhiri telepon.
Lemas sendi-sendiku membuat aku jatuh terduduk. Ini merupakan sentakan batin. Kabar yang tiba-tiba.
☆☆☆
Sebelum berkenalan dengan Mas Baim, aku memiliki seorang yang kukagumi karena pemikirannya. Kita pernah berada dalam satu ruangan yang sama selama dua Minggu. Aku tak begitu mengingat wajahnya, namun aku sering bertukar kabar dengannya.
Cara bertukar kabar kami unik. Melalui pesan di WhatsApp, kami saling mengolok-olok, saling menjatuhkan. Tapi dari semua itu membuat diriku merasa nyaman dengannya. Bahkan tanpa sungkan, aku seringkali curhat masalahku kepadanya. Dan dia selalu menanggapi curhatanku dengan serius dan berdasar. Semua masalahku yang aku tak mampu memikulnya sendiri, dia bantu memecahkannya lewat pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. Namanya Abdi. Seorang laki-laki yang saat ini bertengger apik di dalam hatiku.
"Aku mau menikah kalau sudah ada yang melamar. Em, targetku tahun depan," kataku pada Abdi ketika dia bertanya, "Kapan pulang?"
"Bentar lagi dong, ya. Orang mana?" tanyanya di dalam chat.
__ADS_1
Satu kata dari lubuk hatiku: Kecewa. Niatku adalah ingin mengetahui perasaan Abdi kepadaku. Adakah kemungkinan Abdi mencintaiku? Adakah kemungkinan Abdi akan mengejarku jika aku berkata aku akan menikah dengan orang lain? Tapi jawabannya: Abdi hanya menganggapku teman.
Rupanya hanya aku selama ini berharap banyak padanya. Berharap Abdi lah yang akan menjadi pedamping hidupku, menggantikan Dimas. Karena kupikir Abdi tak beda jauh dari Dimas.
Jadi selama ini aku hanyalah obat pengusir sepi untuknya. Tapi aku terlalu berharap banyak.
「Aku ingin jadi paspampers, biar kalau kamu mau minta tanda tangan presiden, aku yang mintain.」Ternyata itu hanya ucapan manis saja. Kupikir aku dan Abdi ada hubungan, lalu dia menempatkan aku di suatu tempat teristimewa di hatinya.
"Ya, belum tahu orang mana. Kalau jadi dan kalau ada yang ngelamar, kok," balasku.
Abdi, padahal aku ingin kau menggantikan Dimas di hatiku. Aku yakin kau lah yang mampu menekan egoku. Kau bisa menetralkan emosiku. Kau sudah menjadi tempat sampah untuk semua luka, kekecewaan, dan ketidakjelasan sifatku. Kau pula bisa jadi tongkat kala kerapuhan dan keresahanku melanda. Tapi kenapa aku tak ada di hatimu? Haruskah aku menerima lamaran dari Mas Baim saat ini? Meski hatiku mengharapkanmu.
Abdi, apa yang harus aku lakukan? Aku masih sama seperti dahulu. Gengsi untuk menyatakan perasaanku. Abdi, apakah kau sering baca cerita medsos ku? Semua pesan tersirat di medsos ku itu untuk kamu.
Abdi. Aku mohon, menikahlah denganku. Kapan pun waktunya, tolong perjelas perasaanmu. Biar aku bisa bertindak. Menerima lamaran Mas Baim atau menolaknya.
☆☆☆
Dear, Mas Dimas.
Aku merindukanmu, sungguh-sungguh merindukanmu. Kau lelaki pertama yang membuatku melimpahkan cinta. Mungkin jika denganmu kebahagiaanku tak pernah ada batasnya. Kau adalah panutanku, inspirasiku, dan mantan calon masa depanku, bukan untuk sekarang, dan bukan untuk masa laluku. Kamu adalah bayangan yang selalu menghantui, bukan jiwa raga yang bisa kugenggam.
Mas, kau tahu. Semua yang kulalui saat berada di sekitarmu adalah hari-hari bahagiaku. Itu dahulu. Kini kau sudah menikah. Melihatmu bahagia dengan kehidupan baru bersama istri dan anak-anakmu juga adalah kebahagiaan untukku. Semoga kalian hidup rukun selamanya.
Mas Dimas, saat ini aku sedang bingung memilih pasanganku. Mana yang harus aku pilih? Orang yang tidak kucintai tapi siap menikahi atau orang yang kucintai tapi belum siap menikahi? Ah, sebenarnya bukannya belum siap menikahiku. Kurasa dia memang tidak ingin menikahiku.
Mas Dimas, kamu menjadi patokanku dalam mencari suami. Bolehkah begitu? Aku ingin suamiku nanti karakternya kuat sepertimu.
Mas, aku benar-benar bingung harus bagaimana.
Ini adalah surat yang ke sekian kali kutulis untukmu. Surat ini tak akan pernah sampai di tanganmu seperti surat-surat sebelumnya. Mas, bantu aku berdoa.
☆☆☆
"Sampai di tahap mana kesiapan kamu untuk menikah?" tanya Dian.
Hari ini aku langsung mengajak Dian, sahabatku, makan bersama di sebuah warung makan di Lippo Mall Cikarang. Kami memilih tempat paling dekat dengan jendela, dan menikmati makanan sambil menatap tetesan air hujan mengguyur dedauanan di halaman mall. Beberapa percik air membentuk butiran menempel pada kaca tempat kami makan. Syahdu rasanya.
__ADS_1
"Kalau tentang finansial mungkin aku sudah siap semuanya. Hanya tentang hati, kurasa aku masih bimbang. Aku belum bisa memantapkan diri," tanyaku sambil menyeruput es teh yang baru datang.
"Nggak siapnya di mana? Jangan-jangan kamu kepikiran Dimas?" tanyanya curiga. Dian merupakan sahabat kentalku. Masalah percintaanku yang kandas, dia tahu semua. Bahkan tentang aku yang nyaris gila karena cinta, dia pun tahu. Tak ada yang kututup tutupi darinya.
"Aku tidak ada niat sama-sekali untuk melupakan Dimas," jawabku.
Dian berdecak kesal. Lalu katanya, "Tuh, kan. Susah ngomong sama kamu. Kalau patokanmu Dimas terus, kamu bakalan rusak masa depan. Nggak bakalan ketemu pasanganmu. Sadarlah, Dimas sudah menikah. Carilah laki-laki lain yang mau sama kamu. Itu ada yang mau malah kamu bimbang."
Aku menghela napas. Sudah sering mendengar nasihat begitu dari Dian.
"Selain Dimas, aku punya seseorang lagi yang aku harapkan. Namanya Abdi. Dia beda dengan Dimas secara banyak hal. Tapi ada kemiripan di karakternya," kataku.
"Terus dia mau sama kamu?"
"Sepertinya dia belum siap menikah. Dia hanya menganggapku teman," kataku.
Dian tertawa. "Kamu mah gitu. Coba nyatain perasaanmu dulu. Bilang lah kalau kamu suka sama dia, gitu. Jaman sekarang nggak papa cewek ngungkapin perasaan dulu pada cowok. Kamu gengsinya terlalu tinggi, sih. Coba deh buang gengsimu," kata Dian.
Aku menggeleng, "Nggak bisa. Aku takut ditolak."
Dian menghela napas. Mengambil sendok dan mencicipi dessert yang dipesannya.
"Kalau gitu nggak ada salahnya kamu memilih orang yang sudah jelas memantapkan dirinya utukmu. Tunggu apa lagi? Masalahnya hanya ada di kamu. Kamu mau membuka hati atau tidak. Kalau kamu nggak mau membuka hati dan tak mau memberi kesempatan, selamanya kamu akan hidup seperri ini. Suka, diam, lama-lama yang disukai pergi. Menikah dengan orang lain. Sudah lah. Cintamu mungkin akan bersemi setelah menikah nanti," kata Dian.
Aku menghela napas. Memalingkan wajahku, memandang rentetan air menggaris di jendela. Pemandangan luar jendela sudah mulai kabur. Kabut menutupi jarak pandangku. Kalau kusentuh jendela, pasti akan terasa dingin menyejukkan. Sesaat aku ingin kabur dari kenyataan. Menyatu dengan hujan, lalu menghilang saat reda, mengalir dan merembes ke dalam tanah.
"Tuhan, kadang hidup tak seperti yang kuinginkan. Jika aku bisa, kan kutulis kisahku sendiri. Kisah hidupku, kisah asmaraku, kisah rumah tanggaku, kan kutulis dengan elok penuh cinta dan keharmonisan. Tapi mungkin takdirku berbeda dari impianku," lirihku sembari mengaduk es tehku.
"Ha, kamu bilang apa barusan?" tanya Dian penasaran.
"Enggak. Itu hujan kapan berhentinya, ya. Kayaknya bakal awet. Mendungnya merata tergantung di langit. Tak ada angin sama sekali," kataku.
"Habis ini mau pulang?"
"Tidak. Bantu aku memilih pakaian untuk kupakai di acara perkenalan itu."
☆☆☆Bersambung☆☆☆
__ADS_1