
Tumbuh kembang Dimas tiap hari kupantau dengan benar. Dimas adalah generasi penerusku dan Mas Baim. Oleh karenanya, aku rela meninggalkan pekerjaanku. Ah, bukan meninggalkan sepenuhnya. Melainkan, aku mengurangi jam kerjaku. Kebetulan sekali bahwa kerjaku bukan kerja penuh waktu.
"Dimas, nanti gede mau jadi apa, Nak?" tanyaku sembari menimang-nimang Dimas dalam gendongan.
"Mau jadi kayak Om Dimas? Jadi manager di perusahaan besar di luar negeri. Atau mau jadi seperti ayah? Jadi buruh pabrik tapi punya banyak banyak ladang di kampung? Atau mau jadi kayak mama? Menulis apapun yang ingin kamu tulis?"
Dimas kecil mengisap jemarinya sambil menatapku dengan tenang.
"Apapun yang kamu impikan nanti, semoga tercapai ya, Nak, ya. Semoga kamu tumbuh jadi laki-laki tampan dan berwibawa. Sekolah pinter, bergaul juga pinter, jadi pemimpin juga berwibawa," kataku.
Bayi laki-lakiku. Entah mengapa, mirip sekali dengan wajahku.
"Kamu wajahnya mirip mama, ya, Nak. Yang kamu warisin dari ayah apanya, Nak? Jidatnya, ya? Jidat lebar kayak punya ayah."
Dimas menguap. Aku menutup mulutnya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang kurapatkan.
Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Di luar suhu udara masih panas. Angin berhembus sesekali membawa butiran debu.
Kunyanyikan lagu nasional untuk meninabobokan Dimas. Lagu Syukur yang entah sudah delapan kali kuulangi. Dan Dimas tak kunjung tidur. Dia hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Dimas, Dimas mau rebahan aja? Tidur di kamar, yuk," kataku.
Kulangkahkan kaki menuju kamar. Di lantai samping meja kerjaku, tergeletak sebuah playmat. Yakni alas yang didesain dengan gambar dan warna cerah untuk menstimulasi penglihatan bayi. Ya, itu adalah tempat bermain Dimas akhir-akhir ini.
Kubaringkan Dimas di atas playmat dengan hati-hati. Dimas menggerak-gerakkan mulutnya. Seolah mengerti bahwa dia diletakkan di tempat bermainnya.
Di atas playmat tergantung beberapa mainan ringan yang bisa diraih oleh Dimas kecil. Mainan itu bisa berbunyi dan menyala bila disentuh. Dimas menjejal-jejalkan kakinya. Seolah ia menunjukkan rasa ketertarikannya pada mainan.
"Nah, coba diraih, Dimas. Bisa berbunyi, kan," kataku sembari memegang sebuah bandulan.
Setelah memastikan Dimas nyaman dengan posisinya, aku beranjak mengambil laptop. Memangku laptopku, dan duduk di samping Dimas sambil bersandar di tembok.
"Dimas, main sendiri dulu, ya. Mama mau kerja sebentar," kataku pada Dimas.
Kubuka file lama yang tak pernah kusentuh lagi. Kubaca sekilas. Isi file adalah sebuah cerita pendek. Rasa-rasanya aku harus mengedit isi dari cerita itu, lalu mengunggahnya di sebuah media digital. Jika diterima, bayarannya lumayan bisa digunakan untuk membeli popok Dimas. Lagipula isinya masih masuk akal dan sesuai keadaan sekarang.
Tak menunggu bermenit-menit, aku mulai tenggelam dalam kesibukanku. Sementara di sampingku, Dimas tengah asyik memainkan mainannya.
☆☆☆
__ADS_1
Alarm tanda jam kerja selesai telah berdering. Segera terjadi pergantian shift dengan cepat.
Baim bergegas berjalan menuju tempat absen dan menempelkan sidik jarinya di mesin absensi. Orang-orang pun melakukan hal yang sama. Sesaat kemudian setelah melalui lorong yang panjang, ia telah sampai di lokernya. Mengambil tas dan bergegas keluar menuju parkiran.
"Im, mau makan ikar bakar lesehan, nggak? Aku traktir deh. Sudah lama kan kita tidak nongkrong berlima," celetuk Irfan. Ia memakai jaket hitam kesayangannya.
"Boleh, tuh," jawab Baim sambil menstarter motornya.
"Kalian duluan. Aku menyusul. Beli minum buat Satria hitamku," kata Yoga sambil mengeluarkan dompet lipat dan menghitung uang yang ada di dalamnya.
"Oke," kata Irfan. Ia paling dulu keluar dari parkiran di susul teman-temannya yang lain.
Jam menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit ketika mereka sampai di lesehan tempat biasa mereka nongkrong, setelah bersusah payah menyibak kemacetan karena jam pulang kerja bersamaan dengan perusahaan lainnya. Itu adalah hal yang wajar dan selalu terjadi.
"Bang, kopi susu. Kopinya yang banyak, susunya yang sedikit," kata Irfan memesan utuk dirinya sendiri.
"Air putih, Bang," kata Baim.
"Apa? Air putih? Woi, Im. Tanggal berapa ini? Masih tanggal muda lho. Kenapa pesan air putih. Ah elah," celetuk Toni.
"Maklum lah. Bapak-bapak anak satu memang beda," kata Robi menimpali.
Baim tersenyum. Diambilnya sebatang rokok dan segera disulutnya. Lalu katanya, "Belum beli rokok lagi. Rokok terakhirku aku pakai istirahat tadi. Sekarang di rumah pun ada larangan merokok. Bayiku masih harus menghirup udara tanpa rokok."
"Hahaha, ini nih. Suami takut istri. Istrimu galak, ya?" kata Irfan.
Baim menghela napas berat. "Baik. Dia tidak galak kok. Yah, itu keuntungan kalau pasangan kita itu hasil perjodohan. Pilihan dari orang yang kita segani. Kami sama-sama berprinsip untuk menjalani kehidupan ini dengan damai," kata Baim.
"Pilihan dosenmu itu, ya?"
"Iya. Begini begini, aku adalah anak didik kesayangannya waktu itu. Beliau yang mengantarkanku sampai aku bisa meraih pendidikanku dan jadi atasan di perusahaan ini." kata Baim.
Aroma ikan bakar menyeruak malam yang ramai. Tempat tongkrong mereka adalah pusat kuliner malam di tengah kota padat penduduk.
"Katanya Toni punya kenalan baru, lho," kata Irfan.
"Lagi ngomongin aku?" Toni yang baru tiba mendengar dirinya disebut. Ia langsung ikut gabung dengan mereka.
"Gebetan kamu namanya siapa, Ton?" tanya Irfan.
__ADS_1
Toni segera menunjukkan hapenya dan memperlihatkan sebuah foto galeri. Foto perempuan cantik tampil di layarnya.
Meski sekilas melihat, Baim mengenali siapa perempuan itu. Ia kaget. Hatinya teriris. Perempuan itu adalah mantan calon istrinya!
"Namanya Maya," kata Toni memperkenalkan.
"Cantik, ya. Kok kamu bisa dapat kenalan secantik ini? Bagi tips dong buat aku yang jomblo ini," kata Yoga.
"Makanya jadilah cowok populer. Nanti juga banyak cowok yang mengantri. Sering-seringlah pasang foto keren di media sosialmu. Nanti juga cewek-cewek banyak yang minta kenalan," kata Irfan.
Mereka tertawa lepas. Kecuali Baim. Ia tidak tertarik dengan becandaan mereka. Hatinya masih sakit. Luka yang dulu mulai sembuh, kini tergores lagi. Ingatan yang dulu susah payah ia tutup, kini muncul lagi. Maya, cinta pertamanya, kini datang bagai bayangan setan. Baim masih mencintainya begitu dalam. Ia juga merasa terkhianati dan tersakiti dalam waktu bersamaan. Rasa sakitnya sama besar seperti rasa cinta dan obsesinya pada Maya.
"Dia wanita baik-baik. Wanita karir, cantik, kaya, bukan wanita yang tiba-tiba mengirim pesan untuk mengajak kencan di media sosial. Kebetulan kita sempat bertemu dulu di sebuah seminar. Dari situlah kita berkenalan," kata Toni menjelaskan.
Toni. Toni memang laki-laki tertampan di pabrik. Selain tampan, ia juga pandai bergaul. Tak heran jika banyak yang menyukainya.
"Dia satu kampus denganku," kata Baim setelah lama terdiam.
"Hah, serius?" tanya mereka serempak.
"Ah, iya. Aku ingat. Kamu dan dia sama-sama dari universitas yang sama. Dan kalau tidak salah, ia pindah kampus di luar negeri, ya," tanya Toni. Matanya nampak bersinar.
"Kalian saling mengenal?" tanya Irfan.
"Kalau aku sih tahu dia. Semua orang di kampus pasti kenal dia. Tapi, kalau dia sih mungkin nggak kenal aku," tutur Baim. Ia menekankan kata 'nggak kenal'-nya.
Yoga mengangguk-anggukkan kepala. "Ya jelas lah. Cantik sih," katanya.
Dalam hati, Baim menangis. Kenapa Maya yang dulu ia sayang setengah mati malah mengabaikan cintanya. Memutuskan hubungan hanya karena masalah karir. Tapi kini ia malah memilih Toni, sahabat Baim, sebagai laki-laki spesial di hatinya. Apa karena Maya telah dibutakan oleh harta? Apa Maya dibutakan oleh ketampanan? Apa Maya hanya memanfaatkan kebaikan Baim?
Baim menyulut rokok untuk kedua kalinya. Ia tak lagi peduli dengan teman-temannya yang tengah mengobrolkan Maya. Baginya, Maya adalah rasa sakit. Dan kini Baim tengah merasakan rasa sakit itu. Rasa sakit yang lebih sakit dari biasanya.
Kenapa Maya harus datang sedekat itu dengan kehidupannya? Kenapa ia harus ada bersama sahabatnya? Kenapa Baim tak kunjung bisa melupakan sosok Maya?
"Kenapa kau tak segera makan, Im? Punya kita sudah mau habis, lho," celetuk Robi.
Baim tersadar. Ia telah melamun begitu lama. Lalu katanya, "Aku sedang memuaskan diri dengan rokokku. Nanti di rumah sudah tidak bisa merokok lagi."
☆☆☆Bersambung☆☆☆
__ADS_1