Suami Bukan Pilihanku

Suami Bukan Pilihanku
Eps.3


__ADS_3

Aku sedang mengedit foto ketika hapeku berdering. Sesaat kulihat nama seseorang muncul di layar hapeku. Aku tersentak. Syifa. Seorang kawan lama dari jauh sedang meneleponku.


"Halo," sapaku setelah kusentuh simbol telepon berwarna hijau.


"Hallo, Enggar. Apa kabar? Lama sudah tidak berjumpa. Kamu semakin sukses, ya," kata suara di seberang. Syifa.


"Iya, kabar baik dari sini. Apa kabar di sana? Anaknya sudah bisa apa?"


"Baik juga. Anakku sudah bisa macem-macem ini. Eh, Enggar, langsung saja nih. Kamu punya uang tiga juta nggak? Kalau ada aku mau pijam dulu, dong. Bapak aku sakit. Aku butuh biaya buat pengobatan bapak. Nanti aku balikin kalau suami aku sudah gajian," pinta Syifa.


Syifa adalah teman satu kerjaku dahulu. Di sebuah pabrik elektronik di kawasan industri MM2100. Sudah lama sekali kami tidak bertemu.


Karena satu perusahaan dan kebetulan saat melamar bersamaan, aku merasa dia sudah menjadi teman dekatku. Kami selalu curhat masalah pekerjaan. Kesal, marah, dan menangis bersama. Bagiku, dia memang sahabat dekatku saat itu.


Kini ia datang meminta pinjaman uang. Siapa orang yang tak tersentuh hatinya melihat teman dekatnya kesusahan?


"Bapak sakit apa, Syifa?" tanyaku ikut prihatin.


"Bapakku mau cuci darah, Nggar. Dan aku sama sekali tidak punya uang. Bapakku sudah tua. Pipis di mana-mana. Aku yang mengurus bapak sendiri. Mana anakku masih kecil juga. Beberapa waktu lalu, bapak juga pasang ring di jantungnya," lirih sedih Syifa.


Badanku semakin gemetar. Tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Syifa.


"Yang sabar, ya, Syifa. Ibu ada, kan?" tanyaku.


"Ibuku sudah meninggal, Nggar. Beberapa minggu setelah aku menikah," kata Syifa.


"Ah, maaf. Kalau saudara?"


"Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Punya kakak dua berasa nggak punya kakak. Yang satu kakakku tinggal di Bekasi, tapi seolah menyerahkan semuanya kepadaku. Seolah enggak mau tahu tentang kondisi bapak. Setidaknya walau sedikit mau bantu lah sebagai anak. Tapi ini enggak, Nggar. Aku pusing sendiri. Aku capek sendiri. Rasanya kayak pingin bunuh diri. Boleh nggak sih kalau bunuh diri? Dosa enggak sih? Yang satu lagi kakakku jadi pengangguran. Tinggal satu rumah sama aku, tapi malah hanya jadi bebanku. Aku lelah, Nggar. Lelah," kata Syifa sambil tersedu.


"Ya, Tuhan, Syifa. Jangan menyerah dong. Berdoa. Suami kamu gimana?" tanyaku.


"Suami aku masih kerja. Tapi gajinya nggak cukup buat hanya mengobati bapak. Aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi. Rasanya ingin menyerah," lirih Syifa.


"Baiklah, Syif. Nanti aku usahain, ya. Kamu yang sabar, ya. Suatu saat ada kok balasan buat kebaikanmu. Kamu kirim nomor rekening kamu sekarang," kataku.

__ADS_1


"Makasih, Nggar. Nanti aku ganti kalau suami aku sudah gajian, ya," katanya sambil menutup telepon.


Telepon dari Syifa dan permasalahannya, membuat inspirasiku untuk mengedit foto menjadi buyar. Kupandangi foto di layar komputer yang baru setengah jalan kukerjakan. Buntu. Sudah tidak ada minat untuk mengerjakannya.


Ku simpan dulu lembar kerja Photoshopku, lalu mematikan komputer.


Tanpa banyak pikir, ku cari nomor seseorang yang bisa membantuku. Ibu. Kutelepon beliau dan langsung tersambung.


"Bu, aku mau minta tolong," kataku segera tanpa basa basi segera setelah telepon tersambung.


"Ada apa?" tanyanya setelah salamnya tak dijawab olehku. Pasti ibu telah tahu ada masalah penting.


"Ibu ada saldo di rekening? Boleh minta tolong ditransferkan ke rekening temanku? Kebetulan dia lagi butuh uang, Bu. Dia meminjamku, tapi aku lagi tidak ada saldo. Tanggal sepuluh nanti kalau aku sudah menerima gaji, segera akan aku kembalikan, Bu," pintaku memohon.


"Berapa? Nanti ibu cek dulu," kata suara di seberang.


"Tiga juta rupiah," jawabku.


Sesaat tak ada suara dari seberang. Hening. Barangkali ibu tengah berpikir.


Aku menarik napas dalam. Kalau ditanya percaya atau tidak percaya, tentu saja aku percaya. Alasannya satu. Syifa adalah temanku. Aku mengenal dia, dia mengenal aku. Meskipun mengenal hanya sebatas rekan kerja.


"Namanya Syifa. Orang Majalengka. Dia teman kerjaku dulu. Orangnya baik, aku percaya padanya," kataku.


"Ya sudah. Nanti ibu cari waktu senggang untuk keluar ke atm. Kapan dibutuhkannya?" tanya ibu.


"Tiga hari lagi harus sudah ada, ya, Bu," jawabku.


Ibu mengiyakan dan segera menutup teleponnya. Aku menghela napas lega. Dalam hati berharap untuk ketabahan Syifa dan kesembuhan bapaknya.


Memang siapapun orangnya, kalau dimintai tolong oleh orang kesusahan, pasti bagaimana caranya jika ia mampu ia akan mengusahakannya. Apalagi menyangkut nyawa orang. Ada pepatah bilang, siapa yang berbuat kebajikan suatu saat akan kembali kepadanya. Siapa pula yang berbuat keburukan, suatu saat akan kembali pula kepadanya. Maka berbuat baiklah selagi bisa.


Belum ada satu menit pikiranku menjadi sedikit tenang, ada pesan dari Mas Baim untuk meminta bertemu. Minta ditemani belanja membeli kado untuk kakak sepupunya yang baru melahirkan.


"Maaf, Mas. Hari ini aku ingin tidur sebentar. Kelelahan," tulisku, membalas pesannya.

__ADS_1


☆☆☆


Ibu telah mengirimkan bukti transfernya. Aku segera mengirimkannya pada Syifa. Syifa berkali-kali mengucapkan terimakasihnya.


Aku menguap, lalu mengeliat, meregangkan persendianku. Rasanya tegang setelah duduk dua jam di depan komputer, mengedit foto, lalu mengunggahnya di Shutterstock, mengisi deskripsi foto menggunakan bahasa Inggris, dan mencari kata kunci yang tepat supaya foto mudah ditemukan di mesin pencari.


Selama dua jam itu aku hanya mampu mengunggah lima lembar foto. Sedih memang, jika kita memiliki keterbatasan dalam berkarya. Tapi semua yang bisa kulakukan hari ini patut untuk disyukuri. Aku harus bisa mengapresiasi diri sendiri.


"Mari ngopi, dulu. Kamu istirahat dulu, ya, Zen," ucapku pada komputerku. Ryzen 7. Aku menamainya begitu.


Ku beranjak dari kasur tipisku. Rasanya nyaman dan tenang setelah berhasil mengunggah foto-foto tercantikku.


Kubuat secangkir kopi susu di dapur, lalu membawanya kembali ke dalam kamar.


Sesaat ketika melewati cermin di samping pintu kamar, aku berhenti dan tertegun melihat rupaku. Rambut acak-acakan, kulit kusam, belek masih menempel di ujung mata kiri, dan muka bangun tidur masih terlihat dari pantulan cermin.


"Apakah jodohku nanti begini? Katanya jodoh adalah cerminan diri. Apa nanti Mas Baim juga begini? Ah, tapi kan Mas Baim baru calon. Nggak tahu berjodoh atau enggak," kataku pada diri sendiri sambil berpaut menampilkan berbagai macam ekspresi.


Tiba-tiba aku kepikiran tentang masalah Syifa. Keningku berkerut seketika.


Kelak jika aku sudah berumahtangga nanti, aku tak ingin menjadi beban untuk suamiku. Bukan berarti aku menganggap Syifa adalah beban untuk suaminya, lho, ya. Aku hanya belajar dari masalah Syifa. Untuk itu, aku akan berusaha untuk mencari uang sendiri.


Rasanya setelah menikah pun, istri yang berpenghasilan sendiri lebih berkesan elegan. Dia bisa menggunakan uang hasil kerjanya untuk membeli make up dan pakaian yang disukainya. Dan membeli beberapa makanan ringan untuk dicamil sembari bekerja.


Jika sudah memiliki anak pun, ada baiknya mencari pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Jadi, meskipun jadi ibu rumah tangga, masih tetap bisa bekerja di sela-sela waktu luangnya. Semisal pekerjaan rumah sudah selesai dan anak-anak sedang tidur.


Meskipun hasilnya tak banyak, setidaknya ada kepuasan batin ketika kita melakukannya.


"Ah, entahlah. Semua itu hanya ada dalam angan-angan. Bisa atau enggaknya tergantung nanti bagaimana kenyataannya. Rasanya sebelum menikah memang aku harus mewujudkan impianku dahulu," lirihku sambi mengangkat sebelah alisku.


Kopi yang kubuat sudah mulai dingin. Aku menyeruputnya, lalu bernyanyi sambil berjalan memasuki kamar.


Kutemukan hapeku bergetar. Pesan masuk dari Mas Baim.


"Nggar, besok ayo telponan. Mari kita bicarakan rencana selanjutnya," katanya.

__ADS_1


☆☆☆Bersambung☆☆☆


__ADS_2