
"Menikahlah dengannya Naima, emak yakin dia bisa menyayangimu dan bisa menjagamu." Suara emak menahan amarah setelah beberapa kali ku tolak mentah-mentah rencananya.
" Bagaimana emak bisa yakin? Sedang pilihan emak beberapa tahun silam nyatanya salah." Ucapku sedikit menyinggung masa lalu emak.
emak menatapku tajam. " Tidak semua laki-laki seperti abah mu."
" Apa jaminannya ia tak akan seperti abah mak? Jika itu terjadi padaku, apakah aku harus mengalami apa yang emak alami. Mas depanku dan anak-anak ku nanti akan dipertaruhkan mak." Ucapku lagi.
" Kau tak berhak mengungkit masa lalu emak Nai." Ucap emak marah dan bergegas meninggalkanku.
Selalu begitu, jika ada hal yang tak sepaham dengan pikiran emak maka emak akan marah dan meninggalkanku.
Aku Naima, anak semata wayang yang harus kehilangan kasih sayang abah. Karena abah lebih memilih hidup dengan istri barunya.
Tinggalah aku dan emak bekerja keras menghidupi hidup kami. Terkadang kami mulung, terkadang kami sudah mencari sapu lidi untuk dijual ke pengepul.
Kini aku sudah berusia dua puluh tiga tahun, dikampungku, aku sudah dianggap perawan tua yang tak laku.
Bukan tiada alasan aku masih sendiri di usia ini. Aku hanya sedang menunggu bang Bram, pacarku yang menjadi TKI di luar negeri.
Ia berjanji setelah punya banyak tabungan ia akan pulang dan langsung melamarku.
Ia juga berjanji akan mengirimi aku surat setiap bulan. Nyatanya setelah tiga tahun pergi merantau satu kali pun ia tak pernah memberi kabar padaku.
Itu lah yang membuat emak begitu nekad menjodohkan aku dengan Anto yang seorang duda. Anto sendiri sudah dua kali menikah dan semuanya gagal.
Istri pertamanya kabur setelah dua bulan menikah. Sedangkan istri keduanya ditemukan tewas gantung diri dirumahnya setelah enam bulan menikah.
Aku bergidik, seram!
Lalu kenapa emak menjodohkan ku dengan lelaki yang punya produk gagal? Ku anggap dia gagal karena tak berhasil menjadi pemimpin didalam rumah tangganya.
**********
Aku mengumpulkan lidi yang sudah kami bersihkan bersama emak tadi. Sudah sore sepertinya. Matahari sudah berwarna jingga dan sebentar lagi magrib akan datang.
Lumayan banyak lidi hari ini. Esok aku tinggal menjemurnya hingga kering dan menjualnya ke pengepul dan aku akan dapat uang untuk memenuhi kebutuhan kami.
Aku sampai di bangunan yang tak layak disebut rumah. Bangunan yang hanya berdinding dari gedek( sebutan dari pelepah sawit yang dianyam lebar.) Rumah peninggalan dua puluh tiga tahun silam yang setiap hari makin rapuh tak bisa kami perbaiki. Dan mirisnya rumah kami dihimpit oleh rumah tetangga yang sudah di renovasi menjadi rumah minimalis.
Rumah tanpa listrik dan setiap malam nya hanya diterangi oleh lampu minyak buatan emak.
Aku masuk kedalam rumah. Tampak emak sedang memasak menggunakan tungku.
Wangi masakan membuat perutku semakin keroncongan.
Kriuk kriuk..
Cacing didalam perutku seperti mau berdemo.
__ADS_1
Aku menghampiri emak. " Masak apa mak? Wangi sekali." Tanyaku pelan.
" Mandilah masakannya sudah hampir matang. Kau tentu sudah lapar kan." Ucap emak tanpa melihatku. Tangannya tampak sibuk membolak balik masakan itu. Takut gosong mungkin.
Aku pun meninggalkan emak menuju bilik mandi yang seadanya. Hanya ditutupi oleh karpet dan spanduk yang sudah tidak di pakai lagi .
Setelah mandi dan berpakaian apa adanya aku mennghampiri emak. Nasi putih hangat dan semur ayam sudah terhidang di lantai. Tampak emak sudah nenunggu.
" Ayo makan Nai." Ajak emak sambil menuang nasi kedalam piring plastik.
Aku duduk disamping emak. "Mewah sekali makanan kita hari ini mak?" Tanyaku.
" Makanlah dulu yang kenyang nanti emak jelaskan! " Perintah emak.
Aku pun mulai makan dengan lahap nya. Ini adalah makan malam terenak yang tak pernah kulupakan. Dengan keterbatasan ekonomi membuat kami jarang makan enak dan lezat.
Setelah selesai makan dan memberesi piring ke dapur,emak memanggilku duduk bersamanya.
" Nai sudah siap memberesinya? Sinilah duduk sebentar."
" Ada apa mak?"
"Menikahlah dengan Anto!" Mata emak terlihat sudah berkaca kaca.
" Beri aku waktu mak!" Pintaku lembut.
" Berapa lama? Umur emak tak lama lagi Nai." Tanya emak pelan. Matanya menerawang.
" Perihal umur itu urusan tuhan mak. Yang terpenting setiap Nai sholat nama emak adalah yang pertama kali Nai sebutkan dalam doa." Aku merengkuh pundak emak. Mengusap nya, memberi kekuatan.
" Jika suatu saat emak di panggil tuhan, emak tidak meninggalkan mu dirumah reot ini sendirian Nai. Emak tidak membayangkan setiap malam kau sendirian dalam kegelapan." Emak mulai terisak-isak hingga terbatuk -batuk.
Aku berlari kedapur dan memberikan satu gelas air putih.
" Minumlah mak." Perintahku.
Emak yang terbatuk membuka mulutnya,mengambil air dari tanganku. Aku melihat di sekitar bibir emak ada sesuatu hanya saja gelap jadi tidak jelas dan gelas yang di pegang emak seperti berubah warna.
" Mak sebentar." Ucapku.
Aku berjalan mengambil lampu minyak. Dan mendekatkan ke arah mulut emak.
Merah, kuarahkan juga ke gelas yang dipegang emak juga merah.
" Darah! Mak ,emak batuk darah?" Tanyaku
Emak hanya membisu tak menjawab.
Aku mulai panik. Tangisku pecah. Sakit apakah emak????
__ADS_1
Seketika tangisku pecah saat melihat darah di bibir emak dan bekas gelas yang di pegang emak.
" Sudah, jangan terlalu dipikirkan." Jawab emak sambil mengelap sisa darah yang ada di tangan juga mulutnya menggunakan daster lusuh miliknya.
Aku memeluk emak erat. " Besok kita berobat ya mak?" Ajak ku.
" Gak usah Nai, emak ini sudah tua. Sebentar lagi juga mati. Kau hanya perlu memikirkan penawaran emak saja Nai." Tolak emak.
" Mak.." ucapku lirih
" Tidurlah, sudah malam. Emak sudah mengantuk." Emak berjalan ke kamar meninggalkanku.
Aku pun mengikuti emak.
Kami terbiasa tidur dalam satu kamar yang pengap. Hanya ada kasur tipis sebagai alas tidur untuk penghantar tidur kami.
Tak butuh waktu lama, suara dengkuran emak sudah terdengar.
Aku memegang tangan keriput milik emak. Ku letakkan didadaku. Mak kenapa takdir hidupmu susah sekali,. Padahal engkau adalah salah satu hambanya yang paling takwa dan patuh tapi mengapa duka selalu setia menemanimu mak.
***
Suara adzan subuh sudah berkumandang. Emak sudah tak ada di sampingku. Aku beranjak bangun. Di gelapnya pagi kulihat emak sudah memakai mukena bersiap hendak menunaikan dua rakaat.
" Ambil air wudhu, lekas shalat jangan ditunda-tunda!" Perintah emak.
Aku pergi kebelakang membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Sesusah apa pun hidup, sesibuk apapun diri kita jangan sampai tinggalkan shalat. Pesan emak yang selalu terngiang sampai aku tumbuh menjadi gadis dewasa.
Aku bersiap menunaikan kewajiban ku kepada sang pencipta.
Setelah selesai, tak lupa doa ku panjatkan untuk emak semoga panjang umur dan sehat selalu sehingga bisa menemaniku saat sukses nanti.
Aku melipat mukena, dan menaruhnya di atas meja.
Udara pagi hari masih terasa dingin. Emak membuka pintu depan dan sedang duduk diteras.
" Masih dingin mak." Ucapku.
" Emak hanya ingin menghirup udara pagi Nai. Segar belum kotor." Jawab emak.
" Nai, bagaimana kamu bersedia kan?" tanya emak menatapku penuh harap.
" Bersedia apa mak?" Aku pura-pura lupa.
" Jangan pura-pura lupa Nai. Jika jawaban mu iya, maka jam delapan nanti emak akan menemui Anto." Tegas emak.
Duh, kalian ada enggak sih yang di jodohkan sama emak kalian? kalau ada tulis di kolom komentar ya...
__ADS_1