
Ah mak, kenapa engkau harus memintaku menikah jika harus meninggalkan mu sendirian.
" Mak, ikutlah dengan ku tinggal dirumah bang Anto. Aku tak tega meninggalkan emak disini sendirian." Kusampaikan keinginanku dengan lembut, agar tak jadi perdebatan antara aku dan emak.
" Nai jangan cemaskan emak. Kehidupan barumu sudah dimulai. Nanti kalau sudah waktunya emak akan ikut dengan mu, tapi tidak sekarang." Ucap emak.
" Kalau tiba tiba emak batuk mengeluarkan darah bagaimana?"
" Emak bisa jaga diri emak , Nai." Jawab emak masih dengan nada pongahnya.
" Sudah sekarang bereskan kamar itu. Nanti malam kau dan suami mu akan tidur dikamar itu. Emak akan tidur di depan." Ucap emak lagi.
Tidur dengan Anto? Allah, tolonglah hambamu ini...batinku serasa berperang. Tak pernah terlintas dalam pikiranku jika aku harus menikah dengan pria asing dan harus sekamar dengan pria asing juga.
Matahari sudah tidur diperaduannya. Langit mulai gelap. Lampu minyak sudah ku hidupkan. Dirumah ini sekarang hanya ada kami bertiga. Makan malam sudah selesai, Jam semakin tinggi. Emak menyuruh ku masuk kekamar bersama Anto. Aku bergidik ngeri. Ini bukan waktu yang tepat untuk menghabiskan malam bersama Anto. Otakku berputar mencari alasan.
" Mak, esok kan aku akan pergi dari sini, boleh kah jika malam ini aku tidur memeluk emak?" Tanyaku hati hati.
" Tentu boleh Nai, tidurlah bersama emakmu. Aku akan tidur disini malam ini." Sahut Anto.
Yes!! Aku bersorak kegirangan. Emak menatapku tajam. Ada kemarahan diwajahnya. Namun tak mau ditunjukkan kepada menantu barunya.
Aku mengeluarkan satu bantal dan selimut usang. Tak lupa aku membakar obat nyamuk, agar malam ini ia bisa tidur nyenyak dan tak menjadi santapan nyamuk.
Malam ini aku tidur memeluk emak. Tak terasa air mataku menetes. Esok aku akan meninggalkannya sendirian dirumah ini. Esok aku tak bisa menemaninya memulung. Aku juga tak bisa menemaninya mencari lidi untuk di jual ke pengepul. Kucium pipinya yang keriput. Ada rasa sedih yang mendalam seolah aku akan berpisah dengannya. Kupejamkan mata dalam dekapan emakku tersayang.
***************
Kukuruyukkkkkkk....
Terdengar ayam tetangga mulai bersahutan. Aku bangun, ingin melihat pukul berapa sekarang .
Aku berjalan keruang tengah, tampak pria asing itu meringkuk dengan memakai selimut usang milik ku. Mungkin dia kedinginan. Jam sudah menunjukkan setengah lima. Aku kembali masuk kedalam kamar.
Aku kembali mendekap emak. Saat kulit kami bersentuhan ada rasa dingin yang amat sangat ku rasakan. Aku merasa aneh. Kuletakakan tanganku diatas perut emak. Diam, tiada napas yang membuat perut emak naik turun. Aku bangkit kuarahkan wajahku ke hidung emak, berharap wajahku diterpa oleh nafas emak. Nihil emak tak bernafas. Aku panik, dengan sekuat tenaga ku guncang badan emak.
" Mak bangun!! Bangun mak!!" Jeritku di telinga emak. Berharap emak tersayangku bangun.
Karena suara yang kuat Anto kini sudah ada di kamarku.
" Ada apa Nai?" Tanyanya panik.
"Emak bang..emak gak mau bangun." Ucapku histeris sembari tetap mengguncang badan emak.
__ADS_1
Seketika tetanggaku berhamburan datang kerumahku, karena mendengar suara histerisku.
" Tenang lah Nai, aku akan kerumah bu bidan agar memeriksa emak." Anto berlari menembus keramaian orang yang hadir dirumah kami.
" Mak bangun mak!!! Jangan bercanda mak!!"
Aku sudah seperti kehilangan kesadaran. Aku takut... Takut..sekali....
Aku meninggalkan Anto seorang diri didepan tanpa kata. Menghindar mungkin lebih baik.
Emak sedang duduk di kursi reyot nya. Aku duduk disamping emak.
" Kenapa kau duduk disini? Kau sudah menikah, duduk dan bercengkrama lah dengan suami mu." Hardik emak.
" Mak, aku hanya ingin menemani emak disini." Jawabku membela diri.
Tak ku duga Anto masuk dan bergabung bersama kami.
" Mak kalau boleh sore ini aku akan mengajak Naima untuk pulang kerumah ku." Ucap Anto.
Aku terkejut, kutatap emak meminta perlindungan, namun nihil.
" Pergilah! Dia istrimu sekarang kau bebas membawanya pergi." Ucap emak.
" Bang, bolehkah kita pergi besok saja. Aku belum siap beberes hari ini." Aku mencoba menawar.
" Kalau itu mau mu aku tak masalah." Ucapnya sambil berlalu jalan kedepan.
Aku menatap emak. Ada rasa tak tega meninggalkannya sendiri dirumah ini.
Siapa yang akan menemaninya tidur? Siapa yang akan mengkusuk kakinya jika lelah. Lalu siapa yang akan membawa emak berobat jika sakit tengah malam?
Ah mak, kenapa engkau harus memintaku menikah jika harus meninggalkan mu sendirian.
" Mak, ikutlah dengan ku tinggal dirumah bang Anto. Aku tak tega meninggalkan emak disini sendirian." Kusampaikan keinginanku dengan lembut, agar tak jadi perdebatan antara aku dan emak.
" Nai jangan cemaskan emak. Kehidupan barumu sudah dimulai. Nanti kalau sudah waktunya emak akan ikut dengan mu, tapi tidak sekarang." Ucap emak.
" Kalau tiba tiba emak batuk mengeluarkan darah bagaimana?"
Aku mulai lelah mengahadapi keras kepala emak.
" Emak bisa jaga diri emak , Nai." Jawab emak masih dengan nada pongahnya.
__ADS_1
" Sudah sekarang bereskan kamar itu. Nanti malam kau dan suami mu akan tidur dikamar itu. Emak akan tidur di depan." Ucap emak lagi.
Tidur dengan Anto? Allah, tolonglah hambamu ini...batinku serasa berperang. Tak pernah terlintas dalam pikiranku jika aku harus menikah dengan pria asing dan harus sekamar dengan pria asing juga.
Matahari sudah tidur diperaduannya. Langit mulai gelap. Lampu minyak sudah ku hidupkan. Dirumah ini sekarang hanya ada kami bertiga. Makan malam sudah selesai, Jam semakin tinggi. Emak menyuruh ku masuk kekamar bersama Anto. Aku bergidik ngeri. Ini bukan waktu yang tepat untuk menghabiskan malam bersama Anto. Otakku berputar mencari alasan.
" Mak, esok kan aku akan pergi dari sini, boleh kah jika malam ini aku tidur memeluk emak?" Tanyaku hati hati.
" Tentu boleh Nai, tidurlah bersama emakmu. Aku akan tidur disini malam ini." Sahut Anto.
Yes!! Aku bersorak kegirangan. Emak menatapku tajam. Ada kemarahan diwajahnya. Namun tak mau ditunjukkan kepada menantu barunya.
Aku mengeluarkan satu bantal dan selimut usang. Tak lupa aku membakar obat nyamuk, agar malam ini ia bisa tidur nyenyak dan tak menjadi santapan nyamuk.
Malam ini aku tidur memeluk emak. Tak terasa air mataku menetes. Esok aku akan meninggalkannya sendirian dirumah ini. Esok aku tak bisa menemaninya memulung. Aku juga tak bisa menemaninya mencari lidi untuk di jual ke pengepul. Kucium pipinya yang keriput. Ada rasa sedih yang mendalam seolah aku akan berpisah dengannya. Kupejamkan mata dalam dekapan emakku tersayang.
***************
Kukuruyukkkkkkk....
Terdengar ayam tetangga mulai bersahutan. Aku bangun, ingin melihat pukul berapa sekarang .
Aku berjalan keruang tengah, tampak pria asing itu meringkuk dengan memakai selimut usang milik ku. Mungkin dia kedinginan. Jam sudah menunjukkan setengah lima. Aku kembali masuk kedalam kamar.
Aku kembali mendekap emak. Saat kulit kami bersentuhan ada rasa dingin yang amat sangat ku rasakan. Aku merasa aneh. Kuletakakan tanganku diatas perut emak. Diam, tiada napas yang membuat perut emak naik turun. Aku bangkit kuarahkan wajahku ke hidung emak, berharap wajahku diterpa oleh nafas emak. Nihil emak tak bernafas. Aku panik, dengan sekuat tenaga ku guncang badan emak.
" Mak bangun!! Bangun mak!!" Jeritku di telinga emak. Berharap emak tersayangku bangun.
Karena suara yang kuat Anto kini sudah ada di kamarku.
" Ada apa Nai?" Tanyanya panik.
"Emak bang..emak gak mau bangun." Ucapku histeris sembari tetap mengguncang badan emak.
Seketika tetanggaku berhamburan datang kerumahku, karena mendengar suara histerisku.
" Tenang lah Nai, aku akan kerumah bu bidan agar memeriksa emak." Anto berlari menembus keramaian orang yang hadir dirumah kami.
" Mak bangun mak!!! Jangan bercanda mak!!"
Aku sudah seperti kehilangan kesadaran. Aku takut... Takut..sekali....
Apakah yang terjadi dengan emaknya naima??
__ADS_1