
"Aku mau pulang,sepertinya ojeknya sebentar lagi datang. Aku takut jika monster itu pulang ia akan berbuat gila lagi." Ia bangkit mengambil tas dan anplop coklat dari tanganku.
Aku mengantarnya ke depan. Sebelum pergi ia sempet berpesan, agar aku hati-hati tinggal bersama monster itu. Bisa-bisa nyawaku yang terancam.
Aku mengganguk, trauma sekali ia menghadapi suamiku.
Aku masuk dan menutup pintu depan. Sudah pukul lima pagi. Aku mandi dan ingin mengadu ke Sang pencipta yang memiliki aku sepenuhnya.
Kini hampir setiap minggu ia membawa wanita malam kerumah ini. Hatiku pun sudah seperti batu saat mendengar jeritan juga ******* para wanita di kamar kami
Kadang aku berpikir jika jiwa ku pun sudah ketularan gila. Tanpa ada air mata aku mengobati semua wanita malam yang di pakai suamiku.
Stok obat yang harus kami minum apabila habis di hajar oleh suami tersusun rapi di lemari. Sampai kapan aku seperti ini.
Betapa murahnya harga diri kami hanya karena uang merelakan badan kami babak belur.
************
Pagi ini aku melihat wanita malam suamiku masih tertidur nyenyak di ranjang kami. Badannya lebam, di sudut matanya bengkak akibat ulah suamiku. Jangan tanya suamiku, setiap habis berhubungan ia akan pergi meninggalkan kami dirumah ini. Aku yakin dia punya rumah kedua yang tidak aku ketahui.
Aku membangunkannya. Ia membuka matanya. Saat ingin bangun ia mengeluh kesakitan.
Auw!
" Sakit!" Rintihnya.
" Ini uangmu, segeralah pergi. Sudah ada ojek yang menunggumu dibawah!" Perintahku.
Dengan hati-hati ia memakai pakaiannya. Dan berjalan tertatih-tatih menuju keluar.
Wanita itu sudah pergi bersama ojek langganan suamiku.
Sekarang aku paham, mengapa rumah ini mempunyai halaman yang luas juga rumah yang jauh dari tetangga juga dinding pagar yang tinggi. Agar para warga tidak tahu kelakuan busuk sang tuan rumah.
*************
Hari adalah bulan ke enam pernikahan ku. Pagi ini rasa mual begitu hebat menyerangku. Lelaki dingin yang bergelar suamiku itu sampai bangun dan mendatangiku. Memijit tengkuk leherku.
__ADS_1
" Kenapa?"
" Mual bang." Aku memijit keningku. Berjalan kekamar. Ia mengikutiku.
" Ayo periksa ke bidan, aku mandi sebentar. Bersiaplah! Mungkin kau hamil" Perintahnya.
Hamil? Reflek aku mengelus perutku. Jika benar ada janin di dalam perutku, betapa bahagia sekali hidupku. Walau ia harus mempunyai ayah yang mempunyai penyimpangan hidup.
Kami sudah tiba di rumah buk bidan. Air seni ku pun sudah diperiksa hanya tinggal menunggu garis muncul dipermukaaan alat tes kehamilan itu.
Kulihat buk bidan tersenyum menatap benda pipih itu. Ada apa gerangan? Aku membatin.
Rasa penasaranku begitu menggebu-gebu.
" Selamat ya buk, ibu positif hamil"
Aku dan suami ku saling menatap. Ada raut bahagia di wajahnya. Reflek dia menggenggam tanganku.
" Kehamilannya sudah dua bulan, kalau mual pusing dan tak berselera makan itu biasa dikehamilan semester pertama." Jelas buk dokter pada kami berdua.
Setelah selesai pemeriksaan, kami pulang tapi mampir sebentar ke swalayan. Anto masuk ke dalam sedangkan aku menunggu di luar. Badan ku terasa lemas hinggaalas untuk berjalan terlalu lama.
Huft! Akhirnya sampai rumah juga.
Saat aku akan melangkah kedapur, aku mendengar bunyi berisik, siapa yang memasak? Aku mengendap endap. Seorang perempuan dengan tubuh langsing sedang memasak didapurku.
Anto memegang bahuku.
" Dia cucu mbok Ram, mbok Ram sudah terlalu tua untuk bekerja dirumah ini. Aku yang menyuruhnya bekerja. Kau istirahat saja dikamar." Ia menuntunku masuk kekamar.
Aku berbaring diatas ranjang. Andai dia seperti ini selamanya, pasti aku bahagia.
" Jaga anakku baik-baik. Sejak lama aku menunggu kehadirannya, ternyata tuhan memilihmu menjadi ibu anak-anak ku." Ia mengambil kunci motor hendak berlalu pergi.
" Bang! Boleh kita bicara sebentar?" Panggilku.
" Ada apa?" Ia menghentikan langkahnya dan kembali mendekatiku.
__ADS_1
" Mau kemana? Sampai enam bulan pernikahan, aku tak pernah tahu kemana kau pergi jika tak pulang berhari hari. Apa kau punya rumah lain?" Lega sudah unek-unek yang terpendam selama ini telah tersampaikan.
Ia menatapku dingin, mendekati wajahku.
" Jangan ikut campur dengan hidupku jika tak ingin bernasib sama dengan istri keduaku." Ancamnya.
Deg! Jantungku berdetak kencang. Jangan-jangan..?
Kepalaku mendadak pusing. Apakah Anto seorang psikopat?
Pov Anto
" Ampun..."
Jeritan dikamar ibuku mengganggu malam-malam ku. Aku tidak tahu yang orang dewasa lakukan pada malam hari disaat anak-anak sudah tidur.
Pagi hari aku akan menemukan wajah ibu yang lebam. Tak jarang bibir nya pecah. Setiap ku tanya ia akan menjawab semua baik-baik saja. Dan aku tidak percaya itu.
Hingga pada suatu malam, ibu keluar dari rumah dengan membawa koper besar. Aku mengejarnya Tapi tak berhasil karena ayah memegangi ku dengan kencang.
Seminggu aku mogok berbicara dengan ayah. Seminggu juga aku kena bogem mentah dari ayah.
Sakit! Aku merasa separuh hidupku pergi. Semua menjadi sepi sejak kepergian ibu. Tidak kutemui makanan kesukaaan ku. Tidak pula kutemui sapaan ibu dipagi hari. Sejak saat itu ibu tak pernah kembali. Ibu juga tak pernah bertanya tentang kabar ku. Mungkin bagi ibu aku adalah tak penting dalam hidupnya.
Setelah satu bulan kepergian ibu, ayah pulang membawa seorang perempuan cantik dejgan baju seksi. Saat itu aku berumur tiga belas tahun. Wanita itu bernama Mala. Ternyata ia adalah istri paru ayah. Sejak itu tante Mala tinggal dirumah kami.
Suatu malam saat aku ingin mengambil minum kedapur, aku mendengar tante Mala menjerit kesakitan. Aku pun penasaran, akhirnya aku mengintip dari balik bolongan kunci yang kecil. Kulihat ayah sedang memukuli tante Mala. Aku melihat tante Mala tanpa pakaian malam itu, setelah nya mereka berhubungan. Aku hanya menonton sampai pertunjukan itu selesai.
Bahkan hampir setiap malam, aku pura-pura kedapur memastikan akan ada peertunjukan apa malam ini. Intinya aku ketagihan.
Setiap hari aku menyaksikan tubuh tante Mala yang penuh dengan luka. Hingga suatu malam saat aku sedang mengintip mereka, tante Mala meminta cerai dari ayah, tapi ayah tak mengizinkan hingga terjadi pertengkaran hebat. Akhirnya ayah mencekik leher tante Mala hingga tewas. Aku berlari kekamarku. Jujur janyungku berdetak keras melihat perlakuan kasar ayah kepada istrinya.
Pagi ini aku dikejutkan dengan kabar bahwa tante Mala bunuh diri dengan cara menggantung diri di pintu kamar mandi.
Ah, ayahku... Aku jadi ketakutan saat menatapnya. Tapi aku pura pura tidak tahu. Sejak kematian tante Mala, setiap malam ayah membawa perempuan kerumah kami. Dan setiap malam pula aku menonton perlakuan ayah kepada wanitanya itu.
Ternyata sering melihat ayah bersetubuh dengan wanita-wanita itu membuat otakku menjadi gila. Ajaib sifat kasar ayah tiru kepadaku. Hingga dua kali aku kasar kepada istriku. Dan istriku yang kedua mirip kasusnya dengan cara ayah mematikan korbannya.
__ADS_1
Tapi dengan Naima aku sering menangis jika menyakitinya. Aku sering meninggalkannya agar aku tak sering menyiksanya. Karena dekat dengannya membuat gairah *** ku bangkit. Hingga aku membawa perempuan lain untuk membuang kejenuhanku.
Kabar Naima hamil adalah kabar bahagia. Dan aku berharap Naima bisa menjaga calon anakku dengan baik.