
Emak bang..emak gak mau bangun." Ucapku histeris sembari tetap mengguncang badan emak.
Seketika tetanggaku berhamburan datang kerumahku, karena mendengar suara histerisku.
" Tenang lah Nai, aku akan kerumah bu bidan agar memeriksa emak." Anto berlari menembus keramaian orang yang hadir dirumah kami.
" Mak bangun mak!!! Jangan bercanda mak!!"
Aku sudah seperti kehilangan kesadaran. Aku takut... Takut..sekali....
"Mak........ Bangun mak... Jeritku.
Jangan tinggalkan aku mak!
Wak sani memelukku. "Istighfar Nai!" Bisiknya di telingaku.
" Wak...emak enggak mau bangun wak..." Ucapku lemas. Tenaga ku sudah habis. Suaraku pun sudah serak
" Assalamu'alaikum."
" Waalaikumsalam." Ucap tetangga yang ada di rumahku.
Buk bidan dan Anto sudah datang.
" Buk, tolong emak buk!" Ucapku memohon. " Selamatkan rmak, buk!" Cicitku tak berdaya.
" Kita periksa dulu ya Nai." Ucap buk bidan sembari memeriksa ibuku.
Jantungku berdetak kencang. Tak siap menerima kenyataan pahit nanti.
Buk bidan menatap ku dalam. Menarik nafas.
" Nai, sabar ya.. emak udah gak ada." Bergetar suara buk bidan.
Aku menggeleng.
Semua yang hadir kompak mengucap innalilahi wa innailaihi roji'un...
Aku menggeleng. Pandanganku buram tak mampu untuk menatap dunia ini.
" Nai, Nai, bangun Nai." Begitu banyak suara-suara yang memanggil namaku. Wangi minyak kayu putih menyeruak di indra penciumanku.
Aku membuka mata.
Kulihat orang orang sibuk mempersiapkan pemakaman emak. Sebagian tetangga sedang mengaji di hadapan jenajah emak.
Aku di tuntun wak Sani untuk mendekati pembaringan emak. Kain putih menutupi wajah emak. Ku sibak kain itu, kulihat wajah emak yang memucat. Kembali air mataku tumpah.
" Nangislah Nai, tapi jangan bersuara." Pesan wak Sani.
Aku mengangguk.
Mak.. ku usap wajah tuanya yang sudah dingin. Kucium pipinya yang sudah keriput. Maafkan kesalahan Nai mak.. ucapku sesenggukan.
__ADS_1
"Mak, aku berjanji tidak akan bercerai dengan lelaki pilihan mu mak, sekalipun hidupku nanti dipertaruhkan mak." Ucapku dalam hati.
********
Proses pemandian, mengkafani dan menyolatkan emak sudah selesai. Kini kami sudah ada di pemakaman. Anto terlihat turun keliang lahat. Abah ternyata datang.
Sejauh itu hubungan ku dengan abah, sampai saat aku terpukul begini pun ia tak berdiri disampingku untuk memberi ku kekuatan dan ketabahan.
Pantaskah ia kusebut orang tua?
Aku memandang anak laki-laki disebelah abah. Kuperkirakan usianya sekitar sepuluh tahun. Anak lelaki itu sudah mencuri dan merebut masa-masa emas ku bersama abah.
Aku kembali fokus ke pemakaman emak. Kini liang lahat itu sudah ditutup dengan tanah.
Tegar, aku mencoba tegar. Biarpun air mataku masih menetes satu persatu. Setidaknya aku tak meraung. Aku tidak ingin emak sedih, karena aku belum ikhlas menerima kenyataan.
Para tetang sudah pulang meninggalkan pemakaman ini. Hanya tinggal aku, Anto, abah dan anak lelakinya.
Aku mencium nisan emak. Mengucap perpisahan juga berjanji akan rajin mengunjunginya.
Aku tidak perduli kepada tiga laki-laki yang mengikutiku pulang kerumah reot milikku.
Sesampai dirumah aku membersihkan diri. Nampak para tetangga sedang membuat makanan untuk acara tahlilan emak. Aku tak tahu dana dari mana, mungkin sedekah dari tetangga.
Aku masih duduk di kasur tipis milik emak. Aku mendekap selimut bututnya. Mencium aroma tubuhnya yang masih tertinggal di ruangan pengap ini.
Gorden pintu terbuka,tampak wajah wak Sani menyembul di baliknya " Nai, makan lah dulu!" Ajak wak Sani.
Aku mengangguk berjalan keluar kamar.
Aku duduk di samping suamiku. Acara makan dimulai. Selayaknya suami istri, ku isikan nasi beserta lauknya kepiring Anto.
Aku memandang makanan di hadapanku.
Ada ayam gulai, telur sambal juga rebusan daun singkong dan sambal terasi. Begitu banyaknya lauk yang terhidang di hadapan. Makanan yang ku impikan dari dulu. Makanan yang dulu membuat air liurku menetes. Namun sama sekali tak menggugah selera makan ku.
" Makanlah Nai!" Ucap wak Sani mengusap punggungku.
Aku mengambil piring dan mengambil secukupnya.
Mak hari ini aku makan emak, tapi emak gak ada. Makanan enak ini tiada arti untuk ku mak.
Jika boleh aku meminta, biarlah aku hidup susah tapi tetap ada emak disampingku, menemaniku.
Ah, ternyata air mata ku belum kering juga walau seharian sudah aku menangis.
Acara makan hari ini selesai. Tetangga pamit pulang.
Tinggallah Anto abah juga anak lelakinya.
Wak Sani masih setia mendampingi ku.
" Nai, jangan bersedih terus. Emak mu sudah bahagia di sana. Tugas mu saat ini adalah mendoakan emakmu agar selalu dilapangkan kuburnya." Ucap ayah.
__ADS_1
Aku menatap lelaki separuh baya itu. Sok bijak, itu penilaian ku.
Emosiku memuncak seketika, hal yang selama ini aku pendam seketika ingin meledak bak gunung yang meletus mengeluarkan lava.
" Iya, emakku kini sudah bahagia. Tidak lagi merasa disakiti oleh masa lalu emak. Tidak lagi dibayang-bayangi oleh penghianatan suaminya. Tidak lagi merasakan hidup miskin bersama anaknya. Tidak lagi...!" Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Sakit, itu yang kurasakan.
"Nai..." Ucap wak Sani lirih.
" Belasan tahun emakku menderita, sementara lelaki ini lebih memilih hidup bersama istri barunya. Kurang menderita apa lagi emakku kamu buat?" Ah, ternyata aku sudah tak mampu menghormati lelaki ini.
Dan lelaki yang kusebut abah ini hanya menunduk diam tanpa membantah sedikitpun perkataanku.
" Sekarang pergilah! Dari kecil aku tidak butuh belas kasihmu." Ucapku membuang mukaku.
Lelaki itu menangis tersedu-sedu. Dan anak lelakinya hanya memperhatikan bapaknya menangis.
" Maafkan abahmu ini Nai." Pintanya menghiba.
Tak sudi, aku tak sudi memaafkan orang yang telah membuat luka di hati kami.
Aku berlari masuk kedalam kamar. Menangis tersedu sedu. Hingga lelah Dan aku ketiduran.
***
Aku terbangun, mataku terasa berat dan sembab. Magrib telah tiba. Kuambil air wudhu untuk mengadu pada sang pencipta tentang duka laraku hari ini.
Wak Sani juga abah tampak sudah pulang.
Tinggallah Anto yang sedang memainkan gawai nya.
Aku tak menyapanya. Mulutku serasa terkunci untuk berbasa basi dengannya.
Kumandang adzan sudah terdengar. Aku bersiap untuk menunaikan panggilan illahi.
Malam ini acara tahlilan malam pertama akan digelar. Tetangga sudah memenuhi halaman rumahku untuk mengirim doa kepada emak.
Mak semoga emak ditempatkan ditempat yang sebaik baik nya ya mak. Diampuni segala dosa semasa hidup nya. Amin ya Allah.
Acara tahlilan emak sudah selesai.
Kini dirumah ini hanya ada aku dan Anto.
Ku keluarkan bantal dan selimut tak lupa aku membakar obat nyamuk. Tanpa kata kutinggalkanbia di ruang tengah.
Aku masuk kekamar dan membaringkan tubuhku yang lelah keatas kasur peninggalan emak.
Satu persatu kenangan mulai berputar putar dikepalaku.emak yang selalu memaksaku menikah, juga akhir-akhir ini emak yang suka marah-marah.
Huft.. kuhembuskan nafas ku. Aku kembali bangkit. Keluar kamar untuk mengambil minum. Anto masik asyik bermain dengan handphone nya.
Aku tak perduli. Saat ini aku hanya ingin menyendiri.
Tapi apa yang dilakukan anto dengan handphonenya? Seolah hidupnya tidak bisa terpisah dari handphone nya.
__ADS_1
Ada enggak suaminya yang kelakuannya mirip Anto?