Suami Pilihan Emak

Suami Pilihan Emak
Suami Pilihan Emak


__ADS_3

Aku bak kerbau yang dicucuk hidungnya. Tidak berkutik sedikitpun.


Kini kami sudah duduk di kursi yang sama. Ia tampak tidak fokus menonton berita di tv. Nafasnya pun seperti naik turun.


Aku bergidik ngeri. Apakah ia menginginkan malam pertama kami?


Ting.. tong..ting..tong..


Bel rumah Anto berbunyi. Ia bangkit untuk membuka pintu. Aku hanya memperhatikan dari tempat dudukku. Kemudian ia masuk membawa satu buah kotak bertuliskan ' pizza'.


Ia memberikan kotak itu padaku


" Bukalah!" Pintanya.


Aku membuka kotak itu, wangi menguar ke indra penciumanku.


" Pernah makan?" Tanyanya sambil meletakkan dua teh manis di meja.


Aku menggeleng, " Enggak." Jawabku.


" Makanlah!" Ucapnya sambil mencomot sepotong pizza.


Aku pun ikut mengambil sepotong pizza. Kumasukkan kedalam mulut.


Allah... Lezat sekali rasanya. Dulu aku tidak pernah membayangkan bisa mencicipi makanan ini.


" Enak?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


" Habiskan ya, aku mau keluar sebentar. Kalau kau lapar atau mau makan silahkan masak sendiri." Ucapnya sambil berlalu.


Aku menatap punggungnya yang hilang dari pandanganku.


Kupandangi rumah ini. Mewah, bahkan masuk dalam kategori nyaman.


Lalu kenapa istri pertama Anto harus kabur jika kehidupannya setenang ini?


Istri keduanya pun memilih bunuh diri.


Masih banyak misteri yang harus aku tahu.


***


Malam telah hadir menemaniku. Ini adalah malam pertama aku berda di rumah Anto. Sepi itu yang kurasa. Suara lolongan anjing bersahutan diluar. Tak pernah aku setakut malam ini.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Anto yang sejak sore tado pergi belum menunjukkan batang hidungnya. Suara motornya pun belum terdengar.


Aku bangkit, mengintip dari balik horden. Sudah tidak ada orang lewat lagi. Aku memastikan pintu sudah terkunci dengan baik.


Aku memilih masuk kedalam kamar. Tak lupa pintu kamar kukunci dengan baik. Ya Allah lindungi hamba.. doaku dalam hati.


Aku memilih naik keatas kasur empuk ini. Ingin rasanya mataku terpejam tapi masih saja dikalahkan oleh rasa takut.


Kriek!


Aku seperti mendengar pintu depan dibuka. Jika itu Anto mengapa aku tak mendengar suara motornya?


Jantungku berdebar. Keringat mulai banjir di tubuhku. Air mata mulai turun satu persatu. Lemas terasa badanku.

__ADS_1


Kriek!


Kini pintu kamar yang akan terbuka. Aku berlari tanpa suara ke sudut lemari.


Pintu terbuka, wajah yang kukenal muncul di balik pintu.


Aku reflek berlari memeluk Anto. Menangis sesenggukan. Ia memelukku, mengusap pucuk kepalaku. Padahal Sebelumnya kami tak pernah sedekat ini.


Setelah tangisku reda barulah aku sadar tubuh kami bersentuhan. Malu! Itu yang kurasakan.


" Kau kenapa?"


" Takut." Jawabku cepat.


Entah kena angin apa tiba- ia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


Ada apa dengannya? Apakah ketakutanku baginya itu lucu?


Setelah tawanya reda" rumah ini lebih aman dari rumah mu Nai." Tidak ada orang yang bisa masuk kerumah ini." Jelasnya.


" Sudah malam, tidurlah!" Ucapnya sambil mengambil handuk.


Aku naik keatas ranjang empuk itu. Jujur mataku sudah mengantuk. Tanpa menunggu lama aku sudah bermimpi indah.


******


Aku tersadar ketika mendengar burung berkicau. Tak pernah aku melewatkan dua rakaat ku, tapi ada apa dengan hari ini? Terlalu nyamankah tempat tidur ini hingga aku tidak sedetikpun terjaga dari tidur nyenyakku.


Ya Allah maafkan hamba mu ini.. baru diberi kenikmatan sedikit saja sudah lupa akan kewajibannya.


Pagi ini aku memasuki bagian dapur milik Anto. Aku terpesona melihat penampilan dapur ini yang di dominasi warna hitam putih. Begitu banyak barang-barang, ada kulkas, meja makan, blender, dispenser,komper gas dan lain lain.


Ingin memanggil Anto tapi aku tidak tau dimana ia sekarang.


Ups! Tidur dimana ia semalam? Kenapa aku bisa tidak tahu.


Akhirnya aku memilih duduk di meja makan


" Hai sedang apa?"


Aku terkejut dengan sapaannya.


" Aku ingin masak tapi aku gak bisa gunain." Jawabku malu-malu.


" Kamu gak usah masak, sebentar lagi yang kerja dirumah ini juga akan datang." Ucapnya lagi. Kali ini jarak kami sangat dekat. Hingga aku bisa memcium aroma tubuhnya yang wangi. Berbeda ketika ia dirumahku dulu.


Tanpa ku duga ia mengecup bibirku tiba-tiba. Allah apa yang harus ku lakukan.


Sunggu ini tidak berdosa, tapi aku merasa belum siap. Aku mundur satu langkah memberi tahu bukan sekarang waktunya.


Tiba tiba ia pergi keluar menghidupkan motornya. Aku tidak mengerti dengannya kadang sudah bersikap manis terkadang sudah buas. Aku seperti linglung. Akhirnya kuputuslan duduk di meja makan.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk kedalam rumah ini. Siapa dia? Bukankah pintu tadi di kunci dari luar? Seketika aku merasa oleng.


Dia tersenyum menatap ku.


" Selamat pagi bu? " Sapanya.


Aku tersenyum.

__ADS_1


" Perkenalkan saya mbok Ram, saya pekerja dirumah ini. Jadi say bisa masuk kerumah ini kapan saja." Jelas mbok Ram.


Ia seperti bisa membaca isi pikiranku.


" Saya Naima, mbok. Istri bang Anto."


" Oh. Saya permisi dulu buk mau bekerja." Ia lantas meninggalkanku.


Aku heran, kenapa ia seperti menghindar. Sepertinya takut kalau aku terlalu banyak bertanya.


***********


Setelah aku pindah kerumah Anto, aku sudah tidak bekerja lagi. Kalau dibandingkan hidup ku yang dulu, sekarang jauh lebih baik.


Walaupun sampai sekarang aku masih perawan. Tak masalah bagiku.


Dari pada suntuk aku berjalan-jalan mengelilingi taman yang ada di sekitar rumah Anto. Aku juga menyempatkan untuk berkenalan dengan tetangga kiri kanan. Lingkungan yang menyenangkan.


Mak terimakasih karena sudah memberikan jodoh terbaik. Nai yakin pelan-pelan rasa cinta akan tumbuh di hati Nai.


***


Hari sudah sore, mbok Ram sudah pulang dari tadi. Tinggallah aku sendiri dirumah ini. Sudah dua hari tinggal di rumah Anto, aku mulai bosan dengan keseharian ku yang sekarang. Mandi, makan dan tidur. Semua pekerjaan rumah sudah di kerjakan mbok Ram.


Aku mulai rindu dengan kesibukan ku dulu. Tiada hari tanpa kerja dan tiada hari tanpa cuan.


Disini aku tidak punya teman ngobrol, Anto setiap hari keluar entah kemana. Jika ada emak di sini pasti menyenangkan.


Dulu hal yang sederhana impian aku dan emak adalah punya tv, jadi saat kami libur bekerja kami bisa menonton gosip selebriti yang lagi hangat. Tapi sampai emak meninggal impian itu tidak terwujud. Dari mana mau punya tv jika memasang listrik saja kami tak bisa. Dan kini setelah emak menjodohkan ku dengan lelaki pilihannya, aku bisa merasakan hal yang tak bisa kurasakan bersama emak.


Semoga Anto memang pilihan emak yang terbaik untuk ku.


Deru suara motor Anto memasuki teras rumah. Aku membuka pintu, ia tersenyum padaku. Dan aku membalasnya. Toh senyum pada suami sendiri itu berpahala batinku


Ia tak banyak berbicara. Ia langsung pergi mandi. Setelahnya kami makan bersama.


Tak banyak yang kami bicarakan, kami asyik dengan pikiran masing-masing.


Makan telah selesai, aku membereskan meja dan mencuci piring.


Tiba-tiba ada tangan seseorang yang memeluk pinggangku. Aku terkejut, dan ternyata itu perbuatan Anto. Tubuhku menengang.


" Bolehkah aku meminta hak ku sebagai suami?"


Tanpa basa basi ia memintanya. Allah haruskah sekarang waktunya? Jika aku menolak, tentu aku yang berdosa pikirku.


Aku pun mengangguk.


Ada raut bahagia juga cemas diwajahnya. Ia memapah tubuhku ke kamar.


Eits! Kenapa bukan kekamar yang biasa aku tidur. Kamar siapa ini sebenarnya? Ia meletakkan ku diranjang berukuran besar dengan seprai berwarna putih.


Ia tak seta merta mencumbuku, ia berjalan menuju lemari. Aku terplongo! Begitu banyak gaun tidur seksi di kamar ini.


Tunggu! Ada yang aneh dikamar ini. Mengapa kamar ini tidak mempunyai pentilasi sedikit pun? Ruangan apa sesungguhnya ini?


Belum hilang rasa heran ku, Anto melemparkan gaun tidur berwarna merah kepada ku.


Aku terkejut dengan caranya yang melemparkan gaun ini. Apakah tak bisa ia memberi dengan cara yang baik?

__ADS_1


__ADS_2