
"Nai, bagaimana kamu bersedia kan?" tanya emak menatapku penuh harap.
" Bersedia apa mak?" Aku pura-pura lupa.
" Jangan pura-pura lupa Nai. Jika jawaban mu iya, maka jam delapan nanti emak akan menemui Anto." Tegas emak.
Aku terdiam. Bingung, aku tak punya tempat mengadu selain emak. Selama ini aku selalu ikut peraturan emak.
Ku tarik napas dalam dalam bismillahirrahmanirrahim.. jika ini yang terbaik untukku dan emak ya Allah.
" Nai mau mak." Jawabku
Ada rasa berat saat kata mau ku ucapkan.
" Semoga pilihan emak adalah yang terbaik untuk nai juga bisa menjadikan emak sehat dan bahagia." Lanjutku lagi.
Emak menggenggam tangan ku. Senyumannya terkembang dari sudut bibirnya yang mulai keriput.
***
Hari ini acara lamaran berlanjut dengan perkawinan. Anto dan keluarga besarnya sudah hadir di rumah ku.
Para tetangga juga sudah membantu emak memasak.
Aku masih dirias oleh tukang makeup yang disewa oleh keluarga Anto.
Pintu kamar terbuka, uwak Sani masuk kedalam kamarku. Uwak Sani adalah kakak perempuan Abah. Uwak Sani adalah orang yang paling dekat dengan kami dan paling perduli dengan emak dan aku.
" Kenapa harus Anto, Nai?" Tanya uwak Sani berbisik-bisik. Takut kedengaran dengan orang lain.
" Jika pilihan ini membuat Nai tak durhaka kepada emak, biar lah wak.. Nai ikhlas dan ridho." Ucapku sambil menghapus air mataku yang mulai menetes satu persatu.
" Padahal uwak uda bilang sama emak mu, tapi sungguh merengkel emak kau itu." Ucap uwak lagi. Terdengar dari suara nya uwak geram dan marah.
Ku genggam tangan wak Sani. " Wak semoga pilihan emak adalah yang terbaik. Dan doakan Nai supaya pernikahan ini menjadi pernikahan yang bahagia. " Ucapku dengan pilu.
" Apa abah kau akan datang untuk menikahkan kau Nai?" Tanya uwak lagi.
" Aku tak tahu wak. Semua yang mengurus pernikahan ini adalah emak. Aku cuma boneka yang dimainkan oleh mereka."
Emak menghampiriku yang masih sesenggukan bersama wak Sani.
" Apa meriasnya sudah siap?" Tanya emak kepada tukang mekaup.
" Sudah mak."
Aku pun di tuntun emak keluar dari kamar.
Tampak orang-orang sudah menungguku termasuk pak KUA.
Dan diantara pak KUA ada sosok yang paling kukenal sepuluh tahun lalu.
__ADS_1
Abah..sosok yang kurindui saat aku masih anak-anak. Namun rindu itu berubah menjadi benci. Sampai saat ini.
" Ayo Nai! Kenapa berhenti?" Bisik emak.
" Ada abah, mak." Ucapku bergetar. Air mata sudah meluncur bak air terjun.
" Lalu kenapa jika ada Abah mu, dia yang akan menikahkan mu jika tidak maka pernikahanmu tidak akan sah." Bisiknya lagi sambil mengamit lenganku.
Aku pun berjalan dan duduk disamping Anto, pria yang tidak pernah kucintai.
' Saya terima nikahnya Naima binti Safrudin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai....'
Begitu lancarnya pria itu mengucap ijab kabul hingga kami sudah sah di mata agama dan hukum.
Jangan tanya rasanya menikah dengan orang yang tidak kita kenal dan tidak kita sukai. Air mataku pun tak mau berhenti. Dada serasa sesak. Kini aku harus mengubur kenangan manisku bersama Bram. Dan membuka lembaran baru bersama Anto.
Acara pernikahan ku sudah selesai. Keluarga besar Anto sudah pulang ke kotanya masing-masing. Tetangga juga sudah pulang Kerumahnya masing-masing. Tinggallah emak dan abah yang tak jua saling menyapa. Wak Sani sudah pamit pulang selepas ashar tadi.
Aku bingung, apa yang harus kulakukan. Anto dan abah sedang asyik berbicara di teras rumah usang ini. Sedang emak asyik memberesi piring yang berserakan.
Aku mendekati emak. " Mak jangan terlalu capek, nanti emak bisa sakit." Ku sentuh pundaknya pelan agar tak mengagetkan.
" Pergilah kedepan! Temani suami mu, bila perlu buatkan kopi untuknya juga abahmu.!" Perintah emak.
Aku melangkah kedepan. Setelah sebelumnya membuatkan dua kopi.
" Ini kopinya bang, bah.! " Tawarku pada keduanya.
" Nai, panggilah emak mu, abah mau pamit pulang!" Ujar abah sembari menyeruput kopi buatanku.
" Iya bah." Aku melangkah masuk.
Aku menghentikan langkahku,memperhatikan emak. Tampak emak mengusap matanya. Matanya kosong jauh menerawang. Mungkinkah teringat dengan masa lalunya.
Aku kembali melangkah dan ikut duduk disamping emak.
" Kenapa nangis mak?" Tanyaku lembut sembari menggenggam erat tangan tua milik emak.
Emak tak menjawab justru tangisnya sedikit kencang hingga bahunya terguncang.
Aku sedih melihatnya berduka. Allah, angkat segala duka emak. Doaku dalam hati.
" Mak, abah mau pamit." Ucapku.
Emak menghapus air matanya. Setelah sedikit tenang ia menatapku.
" Suruh saja abahmu pergi!" Perintah emak.
" Mak, sekali saja berdamai dengan abah." Pintaku menghiba.
" Luka itu tidak bisa sembuh Nai. Sampai sekarang masih sakit." Ucap emak sembari menepuk dadanya.
__ADS_1
Aku tak bisa memaksa. Jika emak sudah bilang tidak, maka itu adalah keputusan mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
Aku kembali melangkah kedepan menjumpai abah dan Anto.
" Bah, jika abah mau pamit pulang silahkan. Emak tidak bisa menjumpai abah." Ucapku pelan.
Abah menarik napasnya dalam-dalam.
" Abah pulang, sampaikan permintaan abah untuk emakmu yah! Semoga rumah tangga kalian bisa menjadi rumah tangga yang harmonis sampai kakek nenek. Anto, abah titip Nai yah." Pesan abah pada lelaki itu.
Aku menyalami tangan abah. Kini lelaki itu telah kembali pulang pada keluarganya.
Ku tatap punggung abah hingga hilang dibawa kang ojek menjauh dari pandangan ku.
Sepi...itu yang kurasa. Tinggalah aku dan Anto, pria asing bagiku.
Aku meninggalkan Anto seorang diri didepan tanpa kata. Menghindar mungkin lebih baik.
Emak sedang duduk di kursi reyot nya. Aku duduk disamping emak.
" Kenapa kau duduk disini? Kau sudah menikah, duduk dan bercengkrama lah dengan suami mu." Hardik emak.
" Mak, aku hanya ingin menemani emak disini." Jawabku membela diri.
Tak ku duga Anto masuk dan bergabung bersama kami.
" Mak kalau boleh sore ini aku akan mengajak Naima untuk pulang kerumah ku." Ucap Anto.
Aku terkejut, kutatap emak meminta perlindungan, namun nihil.
" Pergilah! Dia istrimu sekarang kau bebas membawanya pergi." Ucap emak.
Jawaban yang sama sekali tak ku harap. Ada kekhawatiran yang begitu kuat , sehingga aku begitu takut tinggal bersamanya.
" Bang, bolehkah kita pergi besok saja. Aku belum siap beberes hari ini." Aku mencoba menawar.
" Kalau itu mau mu aku tak masalah." Ucapnya sambil berlalu jalan kedepan.
Aku menatap emak. Ada rasa tak tega meninggalkannya sendiri dirumah ini.
Siapa yang akan menemaninya tidur? Siapa yang akan mengkusuk kakinya jika lelah. Lalu siapa yang akan membawa emak berobat jika sakit tengah malam?
Ah mak, kenapa engkau harus memintaku menikah jika harus meninggalkan mu sendirian.
" Mak, ikutlah dengan ku tinggal dirumah bang Anto. Aku tak tega meninggalkan emak disini sendirian." Kusampaikan keinginanku dengan lembut, agar tak jadi perdebatan antara aku dan emak.
" Nai jangan cemaskan emak. Kehidupan barumu sudah dimulai. Nanti kalau sudah waktunya emak akan ikut dengan mu, tapi tidak sekarang." Ucap emak.
" Kalau tiba tiba emak batuk mengeluarkan darah bagaimana?"
Sebel enggak sih kalau punya emak kayak emaknya Naima?
__ADS_1