Suami Pilihan Emak

Suami Pilihan Emak
Suami Pilihan Emak 5


__ADS_3

Huft.. kuhembuskan nafas ku. Aku kembali bangkit. Keluar kamar untuk mengambil minum. Anto masik asyik bermain dengan handphone nya.


Aku tak perduli. Saat ini aku hanya ingin menyendiri.


Tapi apa yang dilakukan anto dengan handphonenya? Seolah hidupnya tidak bisa terpisah dari handphone nya.


Anto adalah orang yang tak bisa meninggalkan handphone nya barang sebentar saja. Selama kami satu rumah, Aku juga tak pernah melihat Anto shalat.


Duh gusti! Orang seperti apakah yang menjadi jodohku ini?


Malam ini adalah malam terakhir acara tahlilan meninggalnya emak. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepada para tetangga yang sudah membantuku dari awal hingga akhir.


Setelah para tetangga pulang, aku dan wak Sani masih duduk berdua diteras rumah.


" Apa rencana mu selanjutnya Nai?" Tanya wak Sani sambil menatap bintang berkelap-kelip di langit.


Aku terdiam. Menatap wajah uwak ku yang paling terbaik dalam kehidupan kami. Andai abah seperti wak Sani tentu hidup kami bahagia, sayangnya tidak.


"Nai!" Panggilnya lagi.


" Masih ke ingat emak lagi?" Tanya uwak sambil mengusap bahuku.


Sejak emak pergi aku tidak punya gairah hidup. Semuanya buram tak berwarna.


Dan kini aku percaya, emak itu seperti cahaya dalam kehidupan, emak itu seperti mentari yang memberi kehangatan di dalam kehidupan. Tanpa seorang emak hidup kita itu menjadi tidak terarah.


" Masih wak, Nai tidak tahu harus bagaimana." Jawabku.


" Nai, andai saja kamu belum menikah mungkin kamu bisa tinggal sama uwak. Uwak juga gak ngerti kenapa emakmu bisa menjodohkan kamu dengan pria yang..!" Wak Sani tak melanjutkan pembicaraannya.


" Bismillah aja wak, mudah-mudahan jodoh pilihan emak adalah yang terbaik untuk Naima." Ucapku tersenyum.


Padahal aku sendiri ragu untuk hidup dengannya. Hanya saja aku tak ingin membuat wak Sani khawatir.


Aku memang belum mengenalnya, tetapi setelah beberapa hari tinggal dirumahku aku seperti bisa membaca tabiatnya. Tapi entahlah. Wallahu alam.


Setelah beberapa hari menikah, entah kenapa aku tak punya minat untuk sekedar bercengkrama denganya. Berbeda dengan mas Bram, pacarku yang tak pernah kembali.


Aku suka berdebat dengannya. Aku juga suka bercerita dengannya. Aku suka mendengarkannya suaranya ketika berkumandang adzan dan bershalawat di mesjid. Tapi karena kemiskinan kami harus terpisah. Mas, aku kangen! Jerit hatiku pilu.


Saat kami adyik dengan pikiran kami masing-masing, anto datang bergabung dengan kami. Tiba-tiba saja wak Sani berpamitan pulang.


Aneh sekali! Kini hanya ada aku dan Anto.


Dia mengeluarkan handphonenya dan asyik dengan dunianya. Toh tak masalah bagiku, karena aku dan dia memang tak mempunyai topik pembicaraan.


Malam mulai sepi. Aku bangkit dan masik kedalam rumah diikuti Anto.


Seperti biasa aku menyiapkan bantal, selimut juga membakar obat nyamuk. Setelahnya aku ingin rehat dikamar. Namun terhenti karena Anto memanggil ku.


" Nai!" Panggilnya.


Aku menoleh,tak menjawab. Kemudian berbalik kearahnya.


" Acara tahlilan emak sudah selesai. Apa kau mau ikut pulang bersamaku?" Tanyanya hati-hati.


" Ya. Besok pagi aku berkemas." Jawabku singkat padat dan jelas. Juga tanpa basa basi.


" Oke, sekarang tidurlah!" Ucapnya sambil memainkan handphone nya lagi.


Aku mengangguk dan melangkah masuk ke kamar.


Aku mulai baring dikasur tipisku. Besok aku akan meninggalkan rumah sejuta kenangan.


Kenangan pahit dan manis ada dirumah reot ini.

__ADS_1


Entah karena terlalu lemah, hingga kantuk begitu cepat menyerang.


****************


Keesokan pagi aku mulai berkemas. Memasukkan beberapa helai baju yang masih layak dipakai. Tak lupa aku membawa beberapa pasang baju emak sebagai pengobat rinduku.


Aku masak seadanya hari ini. Hanya tumis kangkung dan goreng tempe. Aku juga sudah mandi dan lanjut sarapan pagi. Sarapan sendiri, lelaki itu masih meringkuk di balik selimut usang milikku. Apakah lelaki ini pingsan dalam tidur? Sehingga tak mendengar aktivitas dirumah ini. Mungkin jika ada gempa atau kebakaran, maka ia akan menjadi salah satu korbannya.


Sekarang sudah pukul sepuluh. Aku sudah menyusun perlengkapan yang akan kubawa. Aku hanya sedang menunggu lelaki malas itu bangun, menyebalkan!


Aku sudah menunggu sejam, barulah nampak gelagat ia akan bangun. Ia menggeliat kemudian duduk setelah nya mencuci muka, tanpa mandi.


Selain pemalas ternyata ia penjorok. Ckckck! itu kesan pertamaku sejak hidup bersamanya.


Ia mengambil handphone dan menelpon seseorang. Sepertinya meminta jemput pada temannya.


" Sudah siap?" Tanyanya.


" Makanlah dulu!" Perintahku


" Tak usah. Bungkus saja bawa kerumahku." Ucapnya.


Aku pun bangkit dan pergi kearah dapur untuk membungkus makanan.


Aku mendengar deru motor berhenti didepan rumah ku.


Aku mendengar percakapan Anto dengan teman-temannya. Sepertinya teman-teman nya sedang menggodanya perihal malam pertama kami. Huh! Keterlaluan.


Aku melangkah keluar rumah.


Seketika mereka diam. Senyap tanpa kata.


" Uda?" Tanyanya.


Setelah bersiap, aku sempatkan berpamitan kepada tetangga disekitar rumahku. Tak lupa kami mampir ke rumah wak Sani.


Ada wajah-wajah kekhawatiran di raut wajah wak Sani.


Aku memeluknya dan meminta doanya. Ia juga berpesan agar aku selalu berhati-hati. Juga selalu mengirim kabar padanya. Tentunya dengan bisik-bisik.


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan.


Kami sempat berhenti untuk makan siang.


Sepertinya ia kelaparan karena tak mau sarapan.


Ia memesan nasi padang dengan lauk rendang empat porsi. Tak lupa es teh manisnya.


Kenyang! Itu yang kurasa siang ini.


Setelah menempuh satu jam perjalanan akhirnya kami sampai dirumah Anto.


Setelah menurunkan tas kami,ke dua teman Anto perpamitan pulang.


Rumahnya bagus, tidak seperti rumahku yang reot. Aku masih berdiri. Mematung, apakah ini alasan emak menjodohkanku dengan Anto?


Aku masih mematung didepan rumah minimalis ini. Bersih,arsi sejuk, dan banyak tanaman hijau. Siapa yang merawat rumah dan tanaman ini? Anto kah? Batinku sibuk menerka nerka hingga tak dengar saat Anto mempersilahkan aku masuk.


" Apa yang kau pikir? Masuklah Nai!" Ucapnya.


Aku mengangguk, gugup itu yang kurasa.


Anto memebuka pintu rumahnya. Kemudian membawa tas kami masuk. Aku berjalan di belakangnya.


Kami sampai disebuah kamar yang saling berhadapan.

__ADS_1


" Apa kau mau tidur sekamar dan seranjang denganku? Jika tak mau kau bisa menempati kamar itu. Jika kau mau kau bisa masuk kekamarku." Ucapnya datar.


Kembali aku mengangguk.


" Ya atau tidak?" Tanyanya lagi.


" Ya." Jawabku pelan. Bukankah kami sudah sah menjadi Suami istri. Akan berdosa jika aku selalu menjaga jarak dengannya.


Akhirnya ia membuka pintu kamarnya.


Uda dingin menerpa wajahku. Aku memandang sekeliling kamar ini. Rapi, bersih, wangi juga sejuk. Mungkin karena memiliki pendingin ruangan. Batinku sibuk nerkomentar sendiri.


" Itu lemari kosong, masukkanlah pakaianmu disana!" Perintahnya.


" Kalau mau mandi disitu ada kamar mandi. Sudah ada perlengkapan baru khusus wanita yang sudah kupersiapkan." Lanjutnya lagi.


Kemudian ia mengambil handuk dan pergi mandi.


Aku duduk sebentar diatas ranjang berukuran besar. Empuk, lain sekali dengan punya kami yang setiap malam kutiduri bersama emak.


Kemudian aku memberesi pakaianku. Lemari besar itu masih banyak yang kosong meskipun sudah terisi bajuku.


Mak, inikah tujuanmu atas pernikahan ku dengan lelaki yang tak ku cinta?


Anto sudah siap mandi. Ia janya keluar dari kamar mandi menggunakan handuk.


Aku membuang mukaku, risih.


" Pergilah mandi bawa baju mu sekalian!" Perintahnya.


Aku bergegas masuk kekamar mandi membawa perlengkapan ku. Sesampainya di dalam aku celingukan mencari wc juga mencari ember dan gayung. Semua alat yang ku gunakan saat mandi justru tak ada sama sekali. Aku keluar dari kamar mandi.


" Bang?" Panggilku.


Ia menoleh sambil menaikkan alisnya.


" Apakah tidak ada wc nya bang? Airnya juga tidak ada. Gayung ember juga tidak ada." Ucapku polos.


Dia menepuk jidatnya sambil tertawa.


Aku mengernyitkan kening. Tidak mengerti dengan arti tertawanya. Ternyata bisa tertawa juga nih orang batinku.


Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia malah melangkah masuk kedalam kamar mandi.


" Sinilah biar aku ajari!" Panggilnya.


Aku pun mendekat. Ia menunjukkan caranya. Setelah aku paham, bisa-bisanya kami tertawa bersama.


Ia pun meninggalkan ku sendiri dikamar mandi ini.


Aku telah selesai dengan aktivitas mandiku. Setelahnya aku keluar kamar. Nampak Anto sedang duduk di depan tv menonton berita.


Aku tak berani mendekat, hingga ia sadar akan kedatanganku.


" Eh, uda siap Nai? Sini duduk." Panggilnya sambil menepuk kursi dipinggir yang terlihat kosong.


Aku meragu.


Ia menghampiri ku. Menggandeng tanganku. Perlakuan manis pertama yan kuterima.


Aku bak kerbau yang dicucuk hidungnya. Tidak berkutik sedikitpun.


Kini kami sudah duduk di kursi yang sama. Ia tampak tidak fokus menonton berita di tv. Nafasnya pun seperti naik turun.


Aku bergidik ngeri. Apakah ia menginginkan malam pertama kami?

__ADS_1


__ADS_2