Suami Pilihan Emak

Suami Pilihan Emak
Suami Pilihan Emak 8


__ADS_3

Kini aku sudah siap belanja, hanya tinggal membeli sabun. Aku berjalan ketoko di pinggir jalan itu. Banyak orang yang mengantri dikasir. Pasti toko ini murah. Aku pun bergegas masuk. Mengambil belanja dan mengantri di kasir. Aku adalah orang terakhir yang akan dilayani oleh mas kasir. Saat menaikkan keranjang meja kasir, aku di buat kaget oleh mas kasir itu.


Aku mengenalnya! Bahkan dulu aku selalu merinduinya. Tiga tahun lebih aku setia menunggunya.


Dia adalah orang yang dulu kurindui kedatangannya. Dia adalah orang yang menjanjikan harapan indah untukku. Dan aku adalah orang yang setia menunggunya selama tiga tahun ini.


Bram!


Aku menutup mulutku.


" Nai!" Panggilnya.


Aku berlari tak jadi Membayar belanjaan. Barang-barang yang sudah ku ambil kutinggal begitu saja di meja kasir.


Tak kusangka ia mengejarku. Kami jadi pusat perhatian orang. Ia berhasil menarik tanganku.


Aku berontak, berusaha melepaskan diri.


" Sebentar Nai," pintanya sambil menarik napas.


Aku menatap matanya. Mata itu masih sama seperti beberapa tahun lalu. Mata itu masih teduh.


" Nai, mengapa kau memilih menikah dengan pria lain?" Ucapnya pelan. Takut didengar orang yang ada disekitar ki.


" Apa perduli mu? Tiga tahun aku menantimu, merinduimu, namun sepotong surat pun tak pernah kau kirim untukku. Lalu aku harus apa?" Jawabku sesak.


Ah, aku hanya tak ingin menangis.


" Setiap bulan aku mengirim surat untukmu. Kuselipkan sedikit uang agar kau dan emak tak Terlalu bekerja keras."


Aku terkejut mendengar penjelasannya. Bahkan sepotong surat dan seribu rupiah pun aku tak pernah menerima. Kujelaskan semua itu dengan derai air mata.


" Kau tahu Nai, aku memilih berhemat disana Agar aku bisa membangun toko ini sesuai impian kita. Kau masih ingat kan impian kita?"


Ia mengingatkan impianku dulu.


Aku menggeleng.


" Semuanya sudah selesai, tidak ada yang perlu kita bahas. Aku sudah menikah dengan pilihan emak. Carilah jodohmu sendiri yang lebih baik dari aku." Ucapku lirih.


" Nai, kau menikah dengan Anto . Dia bukan pria yang baik. Bagaimana aku bisa tenang?" Tanyanya.


" A..ak..ku bahagia dengannya." Bohongku.


" Tatap mataku jika kau benar-benar bahagia." Pintanya.


Aku membuang mukaku. Mana sanggup aku menatap mata teduh itu.


" Hei, bajingan berani kau pegang-pegang istriku!" Tak kuduga, entah datang dari mana Anto sudah memegang kerah baju Bram dan menghadiahkan satu pukulan kewajahnya.


Aku menjerit ketakutan. Dan meminta tolong kepada orang yang ada disekitar kami. Perkelahian di lerai oleh warga. Bram dibawa masuk ke toko.


Sementara aku menarik pulang Anto dengan susah payah. Kami pulang, Anto membawa motornya dengan kencang.

__ADS_1


Apakah lelaki akan berkelakuan begini jika cemburu?


Kami sampai dirumah. Ia mendorong ku masuk. Hampir saja aku terjungkal menatap meja.


" Dasar ******, murahan!" Makinya.


" Apa maksudmu?"


Dia menarik tanganku masuk kekamar kedap suara ini. Aku ketakutan, badan ku bergetar. Allah tolong aku... Pintaku.


Dengan sigap ia mengambil tali pinggang yang tergantung di dinding. Tanpa permisi ia melibasku tanpa ampun.


Ampun..... Jeritku.


Tak berhenti diri ku menyebut Asma Allah.


Setelah puas menggunakan tali pinggang, ia menggigit tangan dan perutku. Tak lupa menamparku. Kemudia ia memintaku melakukan hubungan suami istri. Dalam ketidak berdaya ia melepas hasrat nafsunya.


Allah, aku gak sanggup rintihku.


Setelah selesai, ia memakai bajunya.


" Itu hukuman untuk ****** seperti mu. Jangan coba bermain api dengan ku. Paham!" Ucapnya sambil mencengkram wajahku.


Ia keluar kamar, pintu di kunci dari luar.


Aku meringkuk di kamar, kamar ini menjadi saksi penderitaanku. Umur pernikahanku baru berumur satu bulan, tapi derita ku sudah seperti seumur hidup.


Hanya karena bertemu dengan mantan pacar ia bisa seperti singa lapar. Buas liar dan brutal.


Sial sekali nasibku!


*************


Sampai malam aku masih di kamar ini. Jam di dinding sudah diangka sebelas malam. Perutku terasa keroncongan. Lapar!


Lelaki itu sepertinya belum pulang. Apa harus menunggu esok pagi aku baru bisa keluar dari kamar.


Apakah aku harus kabur. Aku berjalan tertatih tatih mencari jendela. Nyatanya kamar ini tak mempunyai lubang angin sedikitpun.


Inilah jawaban atas kegagalannya dalam berumah tangga sebanyak dua kali.


Aku belum tidur meski sudah jam dua dini hari. Mataku enggan terpejam.


Kriek!


Pintu kamar ini terbuka. Dua wajah muncul dari balik pintu.


Anto bersama perempuan cantik dan seksi. Tanpa banyak kata ia meninggalkanku dan masuk kekamar kami bersama petempuan itu. Yang aku tahu pintu kamar di kunci dari dalam.


Apa yang akan mereka lakukan? Batinku ribut sendiri. Aku tertatih tatih berjalan kedapur. Aku mencari mie untuk mengganjal perutku malam ini.


Aku menikmati makanan ku. Tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari dalam kamarku. Perempuan itu seperti memukul pintu berusaha keluar.

__ADS_1


Aku memakan sisa mie ku sambil menangis.


Bukan hanya aku yang terluka, tapi perempuan itu.


Aku masih merenung di meja makan.


Senyap, apa perempuan itu sudah tak berdaya bersama suamiku?


Setelah satu jam, suamiku keluar. Ia mendekatiku.


" Urus dia. Kalau sudah sadar berikan uang ini." Perintahnya sambil menyodorkan amplop coklat di meja.


Ia berlalu dengan angkuhnya. Suara motor terdengar menjauh meninggalkan rumah ini.


Sampai sekarang aku tidak tahu dia akan pergi kemana, demgan siapa, serahasia itu hidup nya.


Aku berjalan tertatih masuk kekamar. Perempuan itu meringkuk diatas kasar tanpa sehelai benang pun menempel di badannya. Memar penuh luka. Ia menangis sesenggukan. Aku duduk di sampingnya.


Entah mengapa ada rasa iba dihatiku melihat wanita ini. Aku mencari obat yang pernah diberi mbok Ram saat pertama kali merasakan kekejaman suamiku.


Botol pil ini masih penuh. Aku mengambil satu buah dan segelas air putih. Tadinya dia menolak untuk meminum, mungkin takut kalau aku memberikan racun padanya.


Aku mengatakan kalau ia minum obat maka sekujur badannya tidak akan sakit. Akhirnya ia pun menerimanya. Syukurlah!


" Siapa namamu?" Aku mencoba akrab dengannya walau beberapa jam yang lalu ia habis bercumbu rayu dengan suamiku.


" Wulan." Jawabnya singkat. Ia berusaha memakai bajunya dengan hati-hati karena menahan nyeri.


" Kenapa kau mau tidur dengan suamiku?" Aku ingin tahu alasan wanita ini.


" Aku butuh uang, dan dia menyanggupi permintaanku. Dia suamimu?" Tanyanya balik.


Aku merenung, apakah karena uang kami rela disakiti oleh lelaki macam Anto?


"Kak!"


Aku tersentak. Ah, ternyata aku melamun.


" Kau tanya apa?" Aku kembali fokus mengobrol dengan Wulan sang wanita malam.


" Dia suami mu?" Ia mengulang pertanyaannya.


" Iya. Kenapa? Kau menyukainya?" Penasaran aku melihat gadis ini.


" Apa kau tidak takut tinggal dengannya? Dia itu tidak cocok disebut suami, ia lebih cocok disebut monster." Cerocosnya.


Aku tersenyum.batinku setuju dengan pendapatnya. Suami ku lebih cocok di panggil monster.


" Aku mau pulang,sepertinya ojeknya sebentar lagi datang. Aku takut jika monster itu pulang ia akan berbuat gila lagi." Ia bangkit mengambil tas dan anplop coklat dari tanganku.


Aku mengantarnya ke depan. Sebelum pergi ia sempet berpesan, agar aku hati-hati tinggal bersama monster itu. Bisa-bisa nyawaku yang terancam.


Aku mengganguk, trauma sekali ia menghadapi suamiku.

__ADS_1


Aku masuk dan menutup pintu depan. Sudah pukul lima pagi. Aku mandi dan ingin mengadu ke Sang pencipta yang memiliki aku sepenuhnya.


__ADS_2