suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 1PROLOG


__ADS_3

Weekend


memang hari yang sangat dinantikan untuk hanya bermalas-malasan di rumah yang


aku sewa untuk tinggal di Ibukota Jakarta ini. Namaku Rahma usiaku sudak tidak


muda lagi ditahun depan umurku genap berkepala tiga diakhir tahun. Sebenarnya banyak


tuntutan dari keluarga untuk segera berkeluarga dengan alasan usiaku sudah


tidak muda bagaimana jika tetap tidak mendapatkan pasangan hidup setelah usia


tua nanti atau kalau terlalu tua nanti tidak bias cepat punya momongan, serta


beberapa alas an lain yang membuatku jenuh mendengarkannya.


Bukannya


aku tidak ingin cepat berkeluarga dan hidup bersama menua dengan orang yang


menyayangiku, tapi apa dikata calonnya belum kelihatan hilalnya. Aku anak


keduan dari 3 bersaudara, kakakku laki-laki dan adikku laki-laki jadi aku anak


perempuan satu-satunya dirumahku. Bukan berarti aku dimanjakan oleh kedua orang


tuaku, aku sudah biasa hidup mandiri karena sedari aku lulus SD ayahku sudah


mendaftarkanku ke pesantren dengan agar aku bias hidup mandiri dan tidak


bergantung pada orang lain meski itu orang tua, saudara atau keluarga terdekat.


Aku


menempuh pendidikan di pesantren selama 6 tahun ditambah pengabdian di


pesantren 1 tahun, lengkaplah 7 tahun aku hidup tanpa menyusahkan dan

__ADS_1


bergantung pada orang tuaku. Di pesantren banyak pelajaran yang aku dapatkan


selain pelajaran agama dan akhlak tentunya, karena islam diturunkan kemuka bumi


untuk memperbaiki aklak manusia meski dizaman sekarang sudah mengalami


kemunduran (sudahlah, serita ini tidak membahas tentang umat manusia kebanyakan).


Di pesantrenpun belajar banyak tentang melatih keterampilan dan kepemimpinan,


keterampilan yang sangat aku senangi semua yang berbau menjahit, merajut,


menyulam dan membordir. Setelah selesai masa pendidikanku dan pengabdianku


ingin rasanya melanjutkan ke sekolah busana, tapi aku sadar diri bahwa biaya


yang dibutuhkan tidak sedikit dan belumtentu orang tuaku mampu untuk


membiayainya.


Karena


sastra inggris bukan karena aku menyukainya tapi karena takdir. Takdir yang


mengantarkanku diterima dan melajutkan pendidikan di UI Jakarta melalui jalur


beasiswa, jika bukan karena itu tidaklah aku sanggup kuliah di kampus mahal dan


biaya hidup yang mahal di Ibukota. Awalnya ibuku sedikit ragu untuk


mengiklaskan aku melanjutkan kuliah di UI karena jarak yang jauh dari kampung halamanku


yang terletak di Jawa Timur Kota Malang, tapi ayahku mencoba meyakinkan beliau


hingga ibu mulai mengiklaskan aku


Bukan

__ADS_1


bahagia setelah kuliah di kampus bergengsi ternyata sama saja setelah lulus


tetap sulit mencari pekerjaan. Bukan berhenti disana otakku tapi aku mencoba


mengadu nasip dengan membuka usaha sendiri yaitu butik El-Rumi yang didalamnya


tidak hanya menjual pakaian tapi beberapa kerajinan tangan hasil idku sendiri


dan beberapa karyawan disana. Awal aku ingin membuka butik karena sulitnya


mencari pekerjaan bahkan ijazah S1 hampir tidak ada bedanya dengan ijazah SMA,


karena aku mahasiswa maka aku punya polapikir kenapa tidak aku saja yang


membuka lapangan pekerjaan meski tidak banyak orang yang bias menikmatinya. Hingga


kini sudah tahun kelima aku membuka usaha, dan Alhamdulillah sudah 3 cabang


butik yang aku buka.


Karena


sudah diangggap cukup meraih karir oleh orang tuaku, maka semakinlah aku diburu


dengan yang namanya pernikahan. Terakhir kali ibuku sudah mencoba mengenalakanku


dengan 5 orang laki-laki yang menurutnya bias menjadi imam yang baik untukku,


ternyata semua hasilnya gagal. Ibuku mulai geram dan menargetkan aku sebelum


usiaku 30 tahun aku sudah harus menikah. Semakin berat beban hidup ini


bagainaka dalam waktu sesingkat itu satu tahun aku menemukannya calon imamku,


saling menyayangi dan memiliki satu komitmen untuk melanjutkan ke jenjang lebih


serius.

__ADS_1


__ADS_2