
Weekend
memang hari yang sangat dinantikan untuk hanya bermalas-malasan di rumah yang
aku sewa untuk tinggal di Ibukota Jakarta ini. Namaku Rahma usiaku sudak tidak
muda lagi ditahun depan umurku genap berkepala tiga diakhir tahun. Sebenarnya banyak
tuntutan dari keluarga untuk segera berkeluarga dengan alasan usiaku sudah
tidak muda bagaimana jika tetap tidak mendapatkan pasangan hidup setelah usia
tua nanti atau kalau terlalu tua nanti tidak bias cepat punya momongan, serta
beberapa alas an lain yang membuatku jenuh mendengarkannya.
Bukannya
aku tidak ingin cepat berkeluarga dan hidup bersama menua dengan orang yang
menyayangiku, tapi apa dikata calonnya belum kelihatan hilalnya. Aku anak
keduan dari 3 bersaudara, kakakku laki-laki dan adikku laki-laki jadi aku anak
perempuan satu-satunya dirumahku. Bukan berarti aku dimanjakan oleh kedua orang
tuaku, aku sudah biasa hidup mandiri karena sedari aku lulus SD ayahku sudah
mendaftarkanku ke pesantren dengan agar aku bias hidup mandiri dan tidak
bergantung pada orang lain meski itu orang tua, saudara atau keluarga terdekat.
Aku
menempuh pendidikan di pesantren selama 6 tahun ditambah pengabdian di
pesantren 1 tahun, lengkaplah 7 tahun aku hidup tanpa menyusahkan dan
__ADS_1
bergantung pada orang tuaku. Di pesantren banyak pelajaran yang aku dapatkan
selain pelajaran agama dan akhlak tentunya, karena islam diturunkan kemuka bumi
untuk memperbaiki aklak manusia meski dizaman sekarang sudah mengalami
kemunduran (sudahlah, serita ini tidak membahas tentang umat manusia kebanyakan).
Di pesantrenpun belajar banyak tentang melatih keterampilan dan kepemimpinan,
keterampilan yang sangat aku senangi semua yang berbau menjahit, merajut,
menyulam dan membordir. Setelah selesai masa pendidikanku dan pengabdianku
ingin rasanya melanjutkan ke sekolah busana, tapi aku sadar diri bahwa biaya
yang dibutuhkan tidak sedikit dan belumtentu orang tuaku mampu untuk
membiayainya.
Karena
sastra inggris bukan karena aku menyukainya tapi karena takdir. Takdir yang
mengantarkanku diterima dan melajutkan pendidikan di UI Jakarta melalui jalur
beasiswa, jika bukan karena itu tidaklah aku sanggup kuliah di kampus mahal dan
biaya hidup yang mahal di Ibukota. Awalnya ibuku sedikit ragu untuk
mengiklaskan aku melanjutkan kuliah di UI karena jarak yang jauh dari kampung halamanku
yang terletak di Jawa Timur Kota Malang, tapi ayahku mencoba meyakinkan beliau
hingga ibu mulai mengiklaskan aku
Bukan
__ADS_1
bahagia setelah kuliah di kampus bergengsi ternyata sama saja setelah lulus
tetap sulit mencari pekerjaan. Bukan berhenti disana otakku tapi aku mencoba
mengadu nasip dengan membuka usaha sendiri yaitu butik El-Rumi yang didalamnya
tidak hanya menjual pakaian tapi beberapa kerajinan tangan hasil idku sendiri
dan beberapa karyawan disana. Awal aku ingin membuka butik karena sulitnya
mencari pekerjaan bahkan ijazah S1 hampir tidak ada bedanya dengan ijazah SMA,
karena aku mahasiswa maka aku punya polapikir kenapa tidak aku saja yang
membuka lapangan pekerjaan meski tidak banyak orang yang bias menikmatinya. Hingga
kini sudah tahun kelima aku membuka usaha, dan Alhamdulillah sudah 3 cabang
butik yang aku buka.
Karena
sudah diangggap cukup meraih karir oleh orang tuaku, maka semakinlah aku diburu
dengan yang namanya pernikahan. Terakhir kali ibuku sudah mencoba mengenalakanku
dengan 5 orang laki-laki yang menurutnya bias menjadi imam yang baik untukku,
ternyata semua hasilnya gagal. Ibuku mulai geram dan menargetkan aku sebelum
usiaku 30 tahun aku sudah harus menikah. Semakin berat beban hidup ini
bagainaka dalam waktu sesingkat itu satu tahun aku menemukannya calon imamku,
saling menyayangi dan memiliki satu komitmen untuk melanjutkan ke jenjang lebih
serius.
__ADS_1