suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 7 MENGENAL KEMBALI


__ADS_3

Assalamualaikum


Rahma


Waalaikumsalam


Zahra


Rah


kamu besok jadi kan kerumah aku? Mas Zidan sudah mengabari keluarga besarnya


untuk datang ke rumah sekaligus besok hari jum’at mas Zidan mau mengadakan


Khotmil Qur’an besama keluarga besar ba’da solat jum’at sekalian kita


mengundangmu dan mengukur seragam keluarga besok kamu juga boleh mengajak


karyawanmu muntuk membantu pekerjaanmu agar pekerjaanmu terbantu.


Oke


makasih infonya Zah, insyaallah besok aku akan datang mungkin aku akan mengajak


3 karyawanku. Kira-kira keluarga besar kamu dan ustad Zidan ada berapa orang?


Agar aku bisa estimasi pengerjaannya. Jadi semua akan seselai sebelum acaramu


bulan depan.


Untuk


pastinya aku belum tau Rah, kemungkinan dari keluarga mas Zidan aka ada sekitar


40 orang kalau dari keluargaku hanya 4 orang.


Kok


4 Zah? Bukannya kamu anak tunggal.


Oh


ya aku lupa bilang yang akan hadir selain abi dan ummi ada juga kak Zain kakak


sepupuku dan putrinya. Kamu masih ingat dia kan? Teman 1 angkatan kita di


pesantren.


Ehmmm.


Sepertinya aku tidak ingat Zah. Ya sudahlah mungkin saat bertemu nanti aku


ingat dengannya.


Iya


ga papa deh. Oh ya besok mas Zidan punya saudara kembar lo Rah.


Hah,


masa? Aku ga pernah tau.


Ya

__ADS_1


ga akan taulah kamu, karena dia tidak di pesantren seperti kita. Dai sekolah


formal di Jakarta. Besok aku akan mengenalkanmu padanya, siapa tau kamu bisa


kenal dekat dengannya.


Aishhh


kamu Zah ada-ada aja.


Siapa


tau kamu berjodoh dengan mas Zaki, kamu ingat perjanjian kita dulu di pesantren


saat kita di kelas niha’iah (kelas akhir)? Kalau kita akan selalu ingat


persaudaraan kita karena aku tidak memiliki saudara kamulah selalu baik


kepaddaku. Kamu bilang kita harus menjadi saudara hingga kamu akan


menjodohkanku dengan kakak laki-lakimu. Tapi beliau punya pilihan sendiri,


sekarang giliranku yang akan menjodohkanmu sehingga kita bisa mewujudkan impian


kita untuk menjadi saudara.


Oh


ya aku ingat Zah, maafkan aku atas kejadian masa lalu aku ga tau kalau kakakku


punya pilihan sendiri padahal ayah dan ibuku sangat mengidamkan kamu menjadi


menantunya.


Rah, itu hanya masa lalu. Aku dan mas Zidan sudah mengatur rencana untukmu dan


mas Zaki kamu hanya perlu berkenalan secara natural biar hasil di tanggan Allah


Ya


sudahlah biarkan takdir dari Allah yang akan menjawabnya.


Ya


Rah. Wallahu a’lam bisshowab.


Sudah


dulu ya Zah. Aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu.


Oke


sampaiketemu besok. Assalamualaikum.


Waalaikumsalam.


Keamipun memutuskan sambungan telefonnya dan aku kembali ke rutinitasku di


butik ini


Alhamdulillah


pengunjung butikku semakin ramai pengunjung dengan ini maka semakin ekstra

__ADS_1


pekerjaanku, terlalu fokusnya aku pada pekerjaanku hingga beberapa jampu


berlalu tanpa terasa hingga jam sudah menunjukkan 21.30 WIB terdengar ketukan


dipintu ruang kerjaku yaitu Fina.


Asssalamualaikum


mba, sudah jam setengah sepuluh butiknya mau ditutup atau mba masih mau


menginap disini?


Waalaikumsalam


Fin. Ga kok aku mau pulang juga. Oh ya besok kamu ikut mba diacara Khotmil Qur’an


di kediaman Zahra temen aku yang tadi, sekalian mengukur pakaian keluarga besar


untuk digunakan diacara resepsi bulan depan. Besok kita berempat ya kamu bisa


ajak 2 karyawan laki-laki yang lain biar mereka yang ngendarain mobil besok.


Oke


siap mba. Nanti saya tunggu dibawah kalo mba mau pulang malam ini.


Iya


makasih Fin. Finapun beranjak pergi dari runganku. Sepeninggal Fina aku


langsung membereskan meja kerjaku seadanya dan membereskan tas untuk pulang.


Setiap


pulang dan pergi aku ke butik dari rumah sebenarnya tidak terlalu jauh, jadi


aku sendiri mengendarai motor matic milikku yang menjadi temanku berjuang dari


semenjak aku membangunn usahaku, diperjalanan pulang aku mampir ke tukanng nasi


goreng. Karena terlalu malam aku sudah malas untuk memasak sampai rumah maka


aku akan membeli kwetiau kuah pedas manis dengan ati ampela kesukaanku yang


berjualan tidak jauh dari RSUD dekat rumah. Sesampainya aku dirumah aku


langsung menyapkan mangkok untuk kwetiau dan langsung aku menyantapnya


sebelumnya berdo’a dulu. Setelah makan aku cuci muka dan berwuduk dilanjut


menunaikan solat isya, inilah kebiasaan burukku. Solat magrib di butik tapi


isyak di rumah dengan ketenangannya serta malas mandi cukup 1 kali sehari di


pagi hari. Setelah solat aku berdoa dan mencoba menyiapkan hati apakah aku siap


membuka hati lagi dan mampukan aku mengenal kembali sosok yang bernama


laki-laki. Entahlah kita lihat besok semoga saja aku tidak mengecewakan


keinginan Zahra meskipun nantinya aku tidak berjodoh dengan Zaki saudara kembar


ustad Zidan.

__ADS_1


__ADS_2