
Usainya
acara Khotmil Qur’an itu dan pengukuran pakaian keluarga telah selesai juga aku
pamit pulang bersama karyawanku. Saat diperjalanan pulang aku dan Fina yang
duduk di kersi penumpang belakang segangkan 2 karyawan laki-laki duduk di kursi
pengemudi dan disebelahnya. Suasana didalam mobil Nampak sangat sepi tak ada
suara dari kami berempak. Hingga Fina membuka pembicaraan terlebih dahulu. Mba
Rahma tadi aku melihat mas Zaki orangnya lumayan manis juga mba, roman-romannya lagi ada misi
penjodohan ni.
Maksut
kamu apa sih Fin, mba ga faham maksut kamu.
Yahhh.
Pura-pura **** si mba, kan saya tadi diruangan itu. Ya saya juga denger
pimbicaraan tadi. Biar kenal lebih dekat tak kenal maka ta’aruf aja sekalian.
Sudah mba sikat, orangnya ganteng manis, sukses juga. Cakepan dia kemana-mana
dari pada mantan mba.
Husss.
Kamu ada-ada aja ngomongnya Fin, sudah jangan omongin yang ga penting. Ghibahin
Zaki nanti mata dia cedutan lagi kamu omongin.
Ini
bukan ghibah mba, tapi ini saran. Mending mba terima tawaran mba Zahra sama mas
Zidan buat membantu melancarkan niar menjohohkan ini.
Astagfirullah
Fin, jangan ngomong gitu ah. Jodoh Allah yang ngatur kalo baik buat kedua belah
pihak pasti dilancarkan segala urusannya sama Allah.
Iya
sih mba, manusia kan cuma mampu berencana hasilnya Allah yang menentukan.
Tanpa
__ADS_1
terasa aku sudah sampai di kediamanku, aku meminta untuk diantarkan langsung
karena sudah lelah sekali. Setibanya aku di rumah yang aku sewa ini aku sudah
merasa sangat lengket badan ini dan aku pergi kekamar mandi untuk membersihkan
badan dan lanjut solat isya di kamar. Saat otak dan hatiku berkecamuk
memikirkan masa depan yang masih menjadi rahasia. Apakah aku terima saja niat
baik Zahra dan ustadz Zidan tapi kenapa hatiku masih ada yang mengganjal.
Apakah perasaan ini karena aku masih belum mengenal mas Zaki, yang aku tau
setelah perkenalan tadi dia sosok yang pendiam dan kamu. Apa aku mampu
menyeimbangkannya, dia laki-laki yang tampan dan sukses pasti banyak wanita
yang mengejar-ngejarnya.
Untuk
melegakan hati ini aku memilih untuk membaca Al-Qur’an mungkin dengan bisa
melegakan hati ini. aku melanjutkan bacaan Al-Qur’anku dalam beberapa lembar
dan mengakhirinya dengan membaca Surah Yasin Alhamdulillah hatiku sedikit
merasa lega. Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 22.30 sudah cukup larut,
lihat ada panggilan masuk dari Zahra. Ada apa dia menelfonku selarut ini.
Assalamualaikum
Zah,
Waalaikumsalam
Rahma, kamu belum tidur.
Ini
aku mau tidur, ada apa Zah telfon malam-malam?
Tidak,
aku hanya mau memastikan kamu sampai rumah dengan selamat tidak kurang satu apa
pun.
Alah
lebay kamu. Ada apa Zah ini kayak bukan kamu, kalau ga ada hal penting ga
__ADS_1
mungkin kamu telfon malam-malam.
Sebenarnya
ada yang mau bicarakan sama kamu Rah, tapi kamu jangan marah ya sam aku.
Iya
ada Zah? Kenapa aku harus marah sama kamu.
Jadi
setelah kepulangan kamu mama banyak menanyakan tentang kamu. Besok mama ingin
mengajakmu makan siang berdua, kira-kira kamu bisa kan?
Emmm
insyaallah ya Zah, sebenarnya pekerjaanku menumpukbanyak banget. Apalagi disain
baju pengantinmu dan seragam sekeluarga. Aku usahakan ya besok
Ga
usah dipaksakan Rah kalau kamu ga bisa, biar nanti aku bicara sama mama.
Gimana
kalau besok aku kabarin kamu jam 10.
Oke
aku tungg kabarmu, oh ya mama juga minta nomer kamu mungkin besok beliau
hubungin kamu.
Oke
siap.
Rahma,
aku juga sudah mengutarakan niatku dan mas Zidan untuk mendekatkanmu dengan mas
Zaki pada mama. Mama sangat mendukung niatan kami, semoga niat baik ini kamu
juga bisa menerimanya. Cobalah dulu buka hatimu Rah meski kamu baru saja
merasakan kekecewaan, semoga ini jadi takdir baik untuk kamu dan mas Zaki.
Bismillah
Zah, aku akan mencobanya dulu. Jika kita berjodoh Allah pasti akan melancarkan
__ADS_1
jalannya.