suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 9 MEYAKINI HATI


__ADS_3

Usainya


acara Khotmil Qur’an itu dan pengukuran pakaian keluarga telah selesai juga aku


pamit pulang bersama karyawanku. Saat diperjalanan pulang aku dan Fina yang


duduk di kersi penumpang belakang segangkan 2 karyawan laki-laki duduk di kursi


pengemudi dan disebelahnya. Suasana didalam mobil Nampak sangat sepi tak ada


suara dari kami berempak. Hingga Fina membuka pembicaraan terlebih dahulu. Mba


Rahma tadi aku melihat mas Zaki orangnya lumayan manis  juga mba, roman-romannya lagi ada misi


penjodohan ni.


Maksut


kamu apa sih Fin, mba ga faham maksut kamu.


Yahhh.


Pura-pura **** si mba, kan saya tadi diruangan itu. Ya saya juga denger


pimbicaraan tadi. Biar kenal lebih dekat tak kenal maka ta’aruf aja sekalian.


Sudah mba sikat, orangnya ganteng manis, sukses juga. Cakepan dia kemana-mana


dari pada mantan mba.


Husss.


Kamu ada-ada aja ngomongnya Fin, sudah jangan omongin yang ga penting. Ghibahin


Zaki nanti mata dia cedutan lagi kamu omongin.


Ini


bukan ghibah mba, tapi ini saran. Mending mba terima tawaran mba Zahra sama mas


Zidan buat membantu melancarkan niar menjohohkan ini.


Astagfirullah


Fin, jangan ngomong gitu ah. Jodoh Allah yang ngatur kalo baik buat kedua belah


pihak pasti dilancarkan segala urusannya sama Allah.


Iya


sih mba, manusia kan cuma mampu berencana hasilnya Allah yang menentukan.


Tanpa

__ADS_1


terasa aku sudah sampai di kediamanku, aku meminta untuk diantarkan langsung


karena sudah lelah sekali. Setibanya aku di rumah yang aku sewa ini aku sudah


merasa sangat lengket badan ini dan aku pergi kekamar mandi untuk membersihkan


badan dan lanjut solat isya di kamar. Saat otak dan hatiku berkecamuk


memikirkan masa depan yang masih menjadi rahasia. Apakah aku terima saja niat


baik Zahra dan ustadz Zidan tapi kenapa hatiku masih ada yang mengganjal.


Apakah perasaan ini karena aku masih belum mengenal mas Zaki, yang aku tau


setelah perkenalan tadi dia sosok yang pendiam dan kamu. Apa aku mampu


menyeimbangkannya, dia laki-laki yang tampan dan sukses pasti banyak wanita


yang mengejar-ngejarnya.


Untuk


melegakan hati ini aku memilih untuk membaca Al-Qur’an mungkin dengan bisa


melegakan hati ini. aku melanjutkan bacaan Al-Qur’anku dalam beberapa lembar


dan mengakhirinya dengan membaca Surah Yasin Alhamdulillah hatiku sedikit


merasa lega. Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 22.30 sudah cukup larut,


lihat ada panggilan masuk dari Zahra. Ada apa dia menelfonku selarut ini.


Assalamualaikum


Zah,


Waalaikumsalam


Rahma, kamu belum tidur.


Ini


aku mau tidur, ada apa Zah telfon malam-malam?


Tidak,


aku hanya mau memastikan kamu sampai rumah dengan selamat tidak kurang satu apa


pun.


Alah


lebay kamu. Ada apa Zah ini kayak bukan kamu, kalau ga ada hal penting ga

__ADS_1


mungkin kamu telfon malam-malam.


Sebenarnya


ada yang mau bicarakan sama kamu Rah, tapi kamu jangan marah ya sam aku.


Iya


ada Zah? Kenapa aku harus marah sama kamu.


Jadi


setelah kepulangan kamu mama banyak menanyakan tentang kamu. Besok mama ingin


mengajakmu makan siang berdua, kira-kira kamu bisa kan?


Emmm


insyaallah ya Zah, sebenarnya pekerjaanku menumpukbanyak banget. Apalagi disain


baju pengantinmu dan seragam sekeluarga. Aku usahakan ya besok


Ga


usah dipaksakan Rah kalau kamu ga bisa, biar nanti aku bicara sama mama.


Gimana


kalau besok aku kabarin kamu jam 10.


Oke


aku tungg kabarmu, oh ya mama juga minta nomer kamu mungkin besok beliau


hubungin kamu.


Oke


siap.


Rahma,


aku juga sudah mengutarakan niatku dan mas Zidan untuk mendekatkanmu dengan mas


Zaki pada mama. Mama sangat mendukung niatan kami, semoga niat baik ini kamu


juga bisa menerimanya. Cobalah dulu buka hatimu Rah meski kamu baru saja


merasakan kekecewaan, semoga ini jadi takdir baik untuk kamu dan mas Zaki.


Bismillah


Zah, aku akan mencobanya dulu. Jika kita berjodoh Allah pasti akan melancarkan

__ADS_1


jalannya.


__ADS_2