
Sepekan
setelah pernikahan Aditya dan Chintya aku sudah bisa menata lagi kehidupanku
dan mulai sibuk lagi dengan rutinitasku lagi di butik. Sudah sepekan ini banyak
sekali pesana di butik bahkan stok pakaian yanga ada dibutikpun sudah mulai
menipis amaka saatnya aku dan beberapa karyawan ditempatku mulai kerja ekstra
untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Pelanggan
yang dating kebutikku memenag abanyak dari para tamu yang hadir dipernikahan
Adit sesuai janjiku aku memberikan diskon kepada mereka 30% sebenarnya ini termasuk startegi pemasaranku untuk
semakin mengembangkan usaha butik yang aku miliki. Bukan menjadi rugi tap
Alhamdulillah semakin banyak keuntungan yang butik aku dapatkan hingga
membuatku menambah karyawan untuk bekerja. Serta aku sudah bisa membuka pabrik
sendiri yang didalamnya sudah ada 10 penjahit yang akan membantuku menjahit
pakaian yang sudah aku desain atau baju-baju pesanan pemebeli.
Sebelumnya
aku mempunyai 3 butik tapi tidak
memiliki panjahit sendiri sehingga masih menjalin kerjasama dengan beberapa
penjahit, hingga sekarang aku meminta para penjahit itu untuk bekerja denganku
dan hanya menjahit untuk butikku. Ditengah kesibukanku sekarang ibu dan ayah
aku di kampung juga mulai mendesakku untuk segera mencari pendamping karena
untuk karir dan keuangan aku sudah bisa memenuhinya. Ibuku hanya takut semakin
sukses seorang wanita maka akan semakin sulit mendapatkan pendamping yang
sesuai dan mau mengalah atas kesibukan istrinya.
Sekarang
aku duduk dibalik meja kerjaku setelah menyelesaikan beberapa disain pakaian
yang sedang dikejar target, aku hendak melanjutkan pekerjaanku tapi perutku
sudah mulai memberontak ingin segera diisi agar aku bisa konsentrasi kembali
__ADS_1
pada pekerjaanku. Maka aku mengambil
keputusan untuk makan di tempat makan disamping butik aku makanan kesukaan
bakso dengan kuah panas dan sambal yang bisa membakar lidah, ditambahn kerup
kaleng yang dicelup di kuah pedas dan minumnya es jeruk manis. Wahhhh dengan
membayangkannya saja air liurku serasa mau menetes dan perutku mulai berbunyi
seperti genderang perang.
Aku
keluar ruangan dan menghampiri Fina untuk menghubungiku saat ada hal penting
karena aku akan keluar sebentar untuk makan siang dan solat duhur. Saat
beberapa langkah lagi aku sampai di pintu keluar aku mendengar sesorang
memanggil namaku.
“Rahma.”
Aku yang mendengan namaku dipanggil langsung menoleh dan mencari asal suara.
“Kamu
Rahma kan? Kamu masih ingat aku. Aku Zahra temanmu dulul di pesantren.” Aku
dipesantren. Ingatankku kembali mengingat nama Zahra teman satu asrama dulu
yang tomboy tapi pintar dan Hafidzah (penghafal Al-Qur’an) tapi yang aku lihat
sekarang sangat berbeda dari Zahra yang dulu dia terlihat anggun dan meneduhkan
dengan gamis yang dia pakai dan hijab yang menutup aurat dan menjuntai menutupi
bagian depan tubuhnya.
“Zahra,
ya aku ingat. Kamu apakabar? Ya Allah lama kita ga ketemu, terakhir pas
perpisahan di pesantren.”
“Kamu
kerja disini? Kok malah nyasar di Jakarta.”
“Alhamdulillah
iya, ini usaha aku Zahra, kalau kamu mau beli baju atau mau pesan baju apa?”
__ADS_1
“Masya
Allah keren banget, ini aku mau beli baju pengantin buat acara resepsi
pernikahanku, kalau akadnya sudah bulan lalu di kampung. Aku dapat rekomendasi
dari tante suami aku. Oh ya aku kenalin suami aku dulu ya, kamu passti kenal.”
Zahra mulai celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya, saat telah
menemukannya Zahra menghampiri dan mengajaknya bergabung bersamaku.
Saat
Zahra menghampiriku bersama suaminya aku memang mengenali sosok beliau, beliau
adalah ustadz Zidan kakak kelass kami yang mengabdi di pesantren dulu dan
banyak di kagumi oleh para santriwati di pesantren.
“Ustadz
Zidan. Masya Allah ternyata ustadz orang beruntung yang memiliki hati Zahra.”
Aku menyapanya dan menyalami dengan menangkupkan tanganku.
“Zahra,
kebetulan aku mau makan siang. Kita makan siang bareng yuk untuk masalah baju pengantinnya
nanti aku pilihkan yang terbaik untuk kamu dan ustadz Zidan.” Kami pun
beriringan makan di warung bakso.
“Oh
ya Rahma minggu depan jangan lupa dating ke pernikahanku, kamu tamu special
nanti ya. Kamu juga suadah lama tidak ada kabar setelah lulus dari pesantren
nanti aku masukkan kamu ke grub WhatsApp alumni ya. Niatnya kita para alumni
mau ngadain reuni di Jakarta 2 bulan lagi karena kamu ada di Jakarta nanti aku
rekomendasikan kamu jadi panitianya ya.” Obrolan singkat kamu sembari makan bakso.
Obrolannya hanya antara aku dan Zahra, ustadz Zidan memilih diam dan
memperhatikan istrinya. Nampak sekali dari tatapan ustadz Zidan bahwa dia
sangat mencintai istrinya. Ya Allah adakah 1 orang saja yang benar-benar
menyayangiku dan menatapku dengan tatapan penuh cinta yang tentu saja bukan
__ADS_1
ustadz Zidan.