suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 5REUNI


__ADS_3

Sepekan


setelah pernikahan Aditya dan Chintya aku sudah bisa menata lagi kehidupanku


dan mulai sibuk lagi dengan rutinitasku lagi di butik. Sudah sepekan ini banyak


sekali pesana di butik bahkan stok pakaian yanga ada dibutikpun sudah mulai


menipis amaka saatnya aku dan beberapa karyawan ditempatku mulai kerja ekstra


untuk memenuhi permintaan pelanggan.


Pelanggan


yang dating kebutikku memenag abanyak dari para tamu yang hadir dipernikahan


Adit sesuai janjiku aku memberikan diskon  kepada mereka 30% sebenarnya ini termasuk startegi pemasaranku untuk


semakin mengembangkan usaha butik yang aku miliki. Bukan menjadi rugi tap


Alhamdulillah semakin banyak keuntungan yang butik aku dapatkan hingga


membuatku menambah karyawan untuk bekerja. Serta aku sudah bisa membuka pabrik


sendiri yang didalamnya sudah ada 10 penjahit yang akan membantuku menjahit


pakaian yang sudah aku desain atau baju-baju pesanan pemebeli.


Sebelumnya


aku mempunyai 3 butik tapi  tidak


memiliki panjahit sendiri sehingga masih menjalin kerjasama dengan beberapa


penjahit, hingga sekarang aku meminta para penjahit itu untuk bekerja denganku


dan hanya menjahit untuk butikku. Ditengah kesibukanku sekarang ibu dan ayah


aku di kampung juga mulai mendesakku untuk segera mencari pendamping karena


untuk karir dan keuangan aku sudah bisa memenuhinya. Ibuku hanya takut semakin


sukses seorang wanita maka akan semakin sulit mendapatkan pendamping yang


sesuai dan mau mengalah atas kesibukan istrinya.


Sekarang


aku duduk dibalik meja kerjaku setelah menyelesaikan beberapa disain pakaian


yang sedang dikejar target, aku hendak melanjutkan pekerjaanku tapi perutku


sudah mulai memberontak ingin segera diisi agar aku bisa konsentrasi kembali

__ADS_1


pada pekerjaanku. Maka aku  mengambil


keputusan untuk makan di tempat makan disamping butik aku makanan kesukaan


bakso dengan kuah panas dan sambal yang bisa membakar lidah, ditambahn kerup


kaleng yang dicelup di kuah pedas dan minumnya es jeruk manis. Wahhhh dengan


membayangkannya saja air liurku serasa mau menetes dan perutku mulai berbunyi


seperti genderang perang.


Aku


keluar ruangan dan menghampiri Fina untuk menghubungiku saat ada hal penting


karena aku akan keluar sebentar untuk makan siang dan solat duhur. Saat


beberapa langkah lagi aku sampai di pintu keluar aku mendengar sesorang


memanggil namaku.


“Rahma.”


Aku yang mendengan namaku dipanggil langsung menoleh dan mencari asal suara.


“Kamu


Rahma kan? Kamu masih ingat aku. Aku Zahra temanmu dulul di pesantren.” Aku


dipesantren. Ingatankku kembali mengingat nama Zahra teman satu asrama dulu


yang tomboy tapi pintar dan Hafidzah (penghafal Al-Qur’an) tapi yang aku lihat


sekarang sangat berbeda dari Zahra yang dulu dia terlihat anggun dan meneduhkan


dengan gamis yang dia pakai dan hijab yang menutup aurat dan menjuntai menutupi


bagian depan tubuhnya.


“Zahra,


ya aku ingat. Kamu apakabar? Ya Allah lama kita ga ketemu, terakhir pas


perpisahan di pesantren.”


“Kamu


kerja disini? Kok malah nyasar di Jakarta.”


“Alhamdulillah


iya, ini usaha aku Zahra, kalau kamu mau beli baju atau mau pesan baju apa?”

__ADS_1


“Masya


Allah keren banget, ini aku mau beli baju pengantin buat acara resepsi


pernikahanku, kalau akadnya sudah bulan lalu di kampung. Aku dapat rekomendasi


dari tante suami aku. Oh ya aku kenalin suami aku dulu ya, kamu passti kenal.”


Zahra mulai celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya, saat telah


menemukannya Zahra menghampiri dan mengajaknya bergabung bersamaku.


Saat


Zahra menghampiriku bersama suaminya aku memang mengenali sosok beliau, beliau


adalah ustadz Zidan kakak kelass kami yang mengabdi di pesantren dulu dan


banyak di kagumi oleh para santriwati di pesantren.


“Ustadz


Zidan. Masya Allah ternyata ustadz orang beruntung yang memiliki hati Zahra.”


Aku menyapanya dan menyalami dengan menangkupkan tanganku.


“Zahra,


kebetulan aku mau makan siang. Kita makan siang bareng yuk untuk masalah baju pengantinnya


nanti aku pilihkan yang terbaik untuk kamu dan ustadz Zidan.” Kami pun


beriringan makan di warung bakso.


“Oh


ya Rahma minggu depan jangan lupa dating ke pernikahanku, kamu tamu special


nanti ya. Kamu juga suadah lama tidak ada kabar setelah lulus dari pesantren


nanti aku masukkan kamu ke grub WhatsApp alumni ya. Niatnya kita para alumni


mau ngadain reuni di Jakarta 2 bulan lagi karena kamu ada di Jakarta nanti aku


rekomendasikan kamu jadi panitianya ya.” Obrolan singkat kamu sembari makan bakso.


Obrolannya hanya antara aku dan Zahra, ustadz Zidan memilih diam dan


memperhatikan istrinya. Nampak sekali dari tatapan ustadz Zidan bahwa dia


sangat mencintai istrinya. Ya Allah adakah 1 orang saja yang benar-benar


menyayangiku dan menatapku dengan tatapan penuh cinta yang tentu saja bukan

__ADS_1


ustadz Zidan.


__ADS_2