
Hari
yang menurutku menegangkanpun dimulai. Dimulai dari butik jam 11 aku dan ketiga
karyawan dibutik bersiap menuju kediaman Zahra, Zahra bilang usahakan datang
sebelum acara jadi nanti karyawan laki-lakiku bisa solat jum’at berjamaah di
masjid dekat kediaman Zahra.
Setibanya
disana aku disambut hangat oleh keluarga ustad Zidan, disana aku bertemu kedua
orang tua Zahra setelah sekian lama tidak bertemu. Memang dunia ini tidak
selebar daun kelor kata pepatah lama. Bibi dan paman mendengarkan cerita Zahra
yang tidak sengaja bertemu denganku yang ternyata pemilik butik tempat memesan
baju pengantinnya. Dari saking rindunya bibi padaku yang sudah menganggapku
seperti anaknya sendiri kami larut dalam cerita kami, akupun dikenalkan Zahra
pada ibu mertuanya yang dia panggil mama. Sedangkan para kaum laki-laki sudah
berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah solat jum’at, aku dan Zahra diajak
ke mushollah rumah itu untuk solat duhur.
Setelah
aku menunaikan solat duhur ada anak kecil kira-kira usia 5 tahun berlari kearah
kami dan menengadahkan tangannya untuk mencium atau bersalaman dengan kami.
Masyaallah mengemaskan sekali anak ini, aku menanyakan pada anak kecil itu
siapa namanya?
Namaku
Yasmin tante. Jawab anak kecil itu
Yasmin,
ayah sama ibu Yasmin dimana?
Abi
kerja tante, Yasmin sama uti. Jawab Yasmin dan saat itu datang umi Fatimah ummi
dari Zahra menghampiriku dan Yasmin ternyata dia adalah cucunya anak dari Zain
yang aku dengar dari cerita beliau, akupun masih berfikir entah yang mana teman
pondokku yang bernama Zain itu yang sudah memiliki anak secantik ini.
Acara
Khotmil Qur’an dimulai setelah kaum laki-laki kembali dari solat jum’at,
__ADS_1
Khotmil Qur’an tidak dilaksanakan dengan mengaji bbergantian tapi setiap orang
mempunyai bagian masing-masing untuk mengaji, 1 juz Al-Qur’an untuk 2 orang
sehingga lebih cepat dan efektif waktu untuk juz terakhir juz 30 dibaca
bersamaan dan berdo’a Khotmil Qur’an bersamaan. Acara ini berlangsung kurang
lebih hampir 2 jam, dan dilanjut solat asar berjamaah di musholla kediaman
ustadz Zidan.
Setelah
solat berjamaah, kami beramah tamah bersama sambil makan bersama di ruamh tamu.
Aku dikenalkan oleh Zahra kepada keluarga ustadz Zidan, sembari makan bersama
karyawanku yang ikkut kesini melakukan tugasnya mengukur pakaian untuk
masing-masing keluarga ustadz Zidan dan Zahra. Hampir semua orang telah selesai
dikur badannya, Zahra menghampiriku setalah dia menerima telfon entah dari
siapa.
Rah,
maaf kak Zain gak bisa hadir untuk mengukur pakaiannya. Tapi tenang aja ukuran
badan beliau sama dengan mas Zaki dan mas Zaki sebentar lagi sampai dia baru
Oke
siap. Bisa diatur. Jawabku pada Zahra
Setelah
berbicara denganku Zahra menghampiri ibu mertuanya, entah apa yang mereka
bicarakan. Disini dimeja makan aku sedang menikmati hidangan bersama sebagian
keluarga ustadz Zidan aku makan ditemani Yasmin. Subhanallah anak ini cantik,
pintar dan lincah mudah akrab dengan orang meski dia baru mengenalnya. Yasmin
bercerita tentang teman-temannya di TK, aku makan berdua dengannya dan kurang
memperhatikan sekitar. Hingga aku rasa semua penghuni yang ada dirumah ini
paada heboh karena kedatangan sesorang. Aku pun menoleh kearah datangnya orang
baru ini, dari pembicaraan keluarga ini aku ketahui bahwa dia saudara kembar
ustadz Zidan, untuk sekilas mereka terlihat mirip mungkin saja mereka bukan
kembar identik. Zaki saudara kembar ustadz Zidan memiliki kulit lebih sawo
matang daripada saudaranya terlihat lebih manis dan memiliki tinggi badan yang
lebih tinggi dari ustadz Zidan, mungkin itu sekilas yang aku lihat darinya.
__ADS_1
Ustadz
Zidan menghampiri saudaranya dan mengajaknya ke meja makan untuk menikmati
hidangan. Ustadz Zakipun mengenalkannya padaku. Yang aku tau dari perkenalan
ini bahwa Zaki memiliki watak yang berbeda dari kakak kembarnya, bahwa dia
lebih dekat dengan mamanya. Mereka 3 bersaudara 1 kakak perenpuan dan kedua
saudara kembar ini, wajar saja aku piker lebih dekat dengan mamanya karena
mungkin dia anak bungsu di keluarga ini. Zaki berkeja diperusaan makanan siap
saji milik keluarganya, sedangkan ustadz Zidan mengelola sekolah dan travel
haji & umroh milik keluarganya. Sedangkan kakak perempuannya sudah menikah
dan dikaruniai 3 anak perempuan dan berprofesi sebagai dokter psikiater di
salah satu rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Saat aku, ustadz Zidan, Zahra
dan Zaki mengobrol bersama mama ustadz Zaki menghampiri kami.
Zaki
Habis makan kamu langsung diukur ya untuk seragam keluarga dipernikahan
kakakmu, oh ya Zaki ini Rahma selama kakakmu dan Zahra menjalankan ibada Umroh
minggu depan kamu bantu ya mengurus persiapan resepsi pernikahan mereka,
sekalian kau bantu Rahma.
Iya
ma, nanti Zaki yang urus.
Aku
yang merasa tidak enak akan menyusahkan mas Zakipun ikut berbicara kepada
mamanya. Maaf tante nanti biar Rahma urus pekerjaan Rahma sendiri, ga enak
kalau nyusahin orang.
Ehhh.
Jangan gitu biar Zaki yang bantu kamu kan Zidan dan Zahra tidak bisa
melakukannya sendiri. Sekalian biar kamu bisa lebih mengenak satu sama lain. Tak
kenal maka ta’aruf aja sekalian.
Aku
yang mendengar ucapan mama ustadz Zidan jelas terkejut, saat aku meliahat
ekspresi Zaki tidak ada yang berubah dari ekspresian tetap datar dan biasa
saja.
__ADS_1