suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 8 TAK KENAL MAKA TA'ARUF


__ADS_3

Hari


yang menurutku menegangkanpun dimulai. Dimulai dari butik jam 11 aku dan ketiga


karyawan dibutik bersiap menuju kediaman Zahra, Zahra bilang usahakan datang


sebelum acara jadi nanti karyawan laki-lakiku bisa solat jum’at berjamaah di


masjid dekat kediaman Zahra.


Setibanya


disana aku disambut hangat oleh keluarga ustad Zidan, disana aku bertemu kedua


orang tua Zahra setelah sekian lama tidak bertemu. Memang dunia ini tidak


selebar daun kelor kata pepatah lama. Bibi dan paman mendengarkan cerita Zahra


yang tidak sengaja bertemu denganku yang ternyata pemilik butik tempat memesan


baju pengantinnya. Dari saking rindunya bibi padaku yang sudah menganggapku


seperti anaknya sendiri kami larut dalam cerita kami, akupun dikenalkan Zahra


pada ibu mertuanya yang dia panggil mama. Sedangkan para kaum laki-laki sudah


berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah solat jum’at, aku dan Zahra diajak


ke mushollah rumah itu untuk solat duhur.


Setelah


aku menunaikan solat duhur ada anak kecil kira-kira usia 5 tahun berlari kearah


kami dan menengadahkan tangannya untuk mencium atau bersalaman dengan kami.


Masyaallah mengemaskan sekali anak ini, aku menanyakan pada anak kecil itu


siapa namanya?


Namaku


Yasmin tante. Jawab anak kecil itu


Yasmin,


ayah sama ibu Yasmin dimana?


Abi


kerja tante, Yasmin sama uti. Jawab Yasmin dan saat itu datang umi Fatimah ummi


dari Zahra menghampiriku dan Yasmin ternyata dia adalah cucunya anak dari Zain


yang aku dengar dari cerita beliau, akupun masih berfikir entah yang mana teman


pondokku yang bernama Zain itu yang sudah memiliki anak secantik ini.


Acara


Khotmil Qur’an dimulai setelah kaum laki-laki kembali dari solat jum’at,

__ADS_1


Khotmil Qur’an tidak dilaksanakan dengan mengaji bbergantian tapi setiap orang


mempunyai bagian masing-masing untuk mengaji, 1 juz Al-Qur’an untuk 2 orang


sehingga lebih cepat dan efektif waktu untuk juz terakhir juz 30 dibaca


bersamaan dan berdo’a Khotmil Qur’an bersamaan. Acara ini berlangsung kurang


lebih hampir 2 jam, dan dilanjut solat asar berjamaah di musholla kediaman


ustadz Zidan.


Setelah


solat berjamaah, kami beramah tamah bersama sambil makan bersama di ruamh tamu.


Aku dikenalkan oleh Zahra kepada keluarga ustadz Zidan, sembari makan bersama


karyawanku yang ikkut kesini melakukan tugasnya mengukur pakaian untuk


masing-masing keluarga ustadz Zidan dan Zahra. Hampir semua orang telah selesai


dikur badannya, Zahra menghampiriku setalah dia menerima telfon entah dari


siapa.


Rah,


maaf kak Zain gak bisa hadir untuk mengukur pakaiannya. Tapi tenang aja ukuran


badan beliau sama dengan mas Zaki dan mas Zaki sebentar lagi sampai dia baru


Oke


siap. Bisa diatur. Jawabku pada Zahra


Setelah


berbicara denganku Zahra menghampiri ibu mertuanya, entah apa yang mereka


bicarakan. Disini dimeja makan aku sedang menikmati hidangan bersama sebagian


keluarga ustadz Zidan aku makan ditemani Yasmin. Subhanallah anak ini cantik,


pintar dan lincah mudah akrab dengan orang meski dia baru mengenalnya. Yasmin


bercerita tentang teman-temannya di TK, aku makan berdua dengannya dan kurang


memperhatikan sekitar. Hingga aku rasa semua penghuni yang ada dirumah ini


paada heboh karena kedatangan sesorang. Aku pun menoleh kearah datangnya orang


baru ini, dari pembicaraan keluarga ini aku ketahui bahwa dia saudara kembar


ustadz Zidan, untuk sekilas mereka terlihat mirip mungkin saja mereka bukan


kembar identik. Zaki saudara kembar ustadz Zidan memiliki kulit lebih sawo


matang daripada saudaranya terlihat lebih manis dan memiliki tinggi badan yang


lebih tinggi dari ustadz Zidan, mungkin itu sekilas yang aku lihat darinya.

__ADS_1


Ustadz


Zidan menghampiri saudaranya dan mengajaknya ke meja makan untuk menikmati


hidangan. Ustadz Zakipun mengenalkannya padaku. Yang aku tau dari perkenalan


ini bahwa Zaki memiliki watak yang berbeda dari kakak kembarnya, bahwa dia


lebih dekat dengan mamanya. Mereka 3 bersaudara 1 kakak perenpuan dan kedua


saudara kembar ini, wajar saja aku piker lebih dekat dengan mamanya karena


mungkin dia anak bungsu di keluarga ini. Zaki berkeja diperusaan makanan siap


saji milik keluarganya, sedangkan ustadz Zidan mengelola sekolah dan travel


haji & umroh milik keluarganya. Sedangkan kakak perempuannya sudah menikah


dan dikaruniai 3 anak perempuan dan berprofesi sebagai dokter psikiater di


salah satu rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Saat aku, ustadz Zidan, Zahra


dan Zaki mengobrol bersama mama ustadz Zaki menghampiri kami.


Zaki


Habis makan kamu langsung diukur ya untuk seragam keluarga dipernikahan


kakakmu, oh ya Zaki ini Rahma selama kakakmu dan Zahra menjalankan ibada Umroh


minggu depan kamu bantu ya mengurus persiapan resepsi pernikahan mereka,


sekalian kau bantu Rahma.


Iya


ma, nanti Zaki yang urus.


Aku


yang merasa tidak enak akan menyusahkan mas Zakipun ikut berbicara kepada


mamanya. Maaf tante nanti biar Rahma urus pekerjaan Rahma sendiri, ga enak


kalau nyusahin orang.


Ehhh.


Jangan gitu biar Zaki yang bantu kamu kan Zidan dan Zahra tidak bisa


melakukannya sendiri. Sekalian biar kamu bisa lebih mengenak satu sama lain. Tak


kenal maka ta’aruf aja sekalian.


Aku


yang mendengar ucapan mama ustadz Zidan jelas terkejut, saat aku meliahat


ekspresi Zaki tidak ada yang berubah dari ekspresian tetap datar dan biasa


saja.

__ADS_1


__ADS_2