
Hari
ini pun tiba, hari kebahagiaannya bersama pasangannya dan disinilah akupun
hadir di hari kebahagiaanya bersama sahabatku Fina orang memaksaku hadir. Setidaknya
aku berfikir tidak akan ada lagi penyesalanku terhadapnya, tapi maaf tidak ada
kado yang akan aku berikan kepadanya yang berarti mungkin hanya amplop yang
berisikan uang. Aku beranggapan uang itu untuk membayar uang makan yang nanti
aku makan di pernikahannya dan aku tidak menyia-nyiakan makanan hari ini. Hehehehe
tidak mau rugi.
Saat
aku sampai aku tidak langsung bersalaman dengan mempelai tapi melihat keadaan
di pesta itu apakah aman? Tidak ada yang mengusir aku kan, karena aku mantan
mempelai peria, maklu karena sedang maraknya pengusiran mantan yang hadir di
pernikahan mantannya karena dianggap akan menghancurkan hari bahagia mempelai,
itu yang sedang viral di media social dan tidak akan aku lakukan sekarang,
mungkin sedikit iseng tidak apa-apa.
Setelah
melihat keadaan mengisi daftar tamu, tanpa babubu aku langsung menuju pelaminan
dan bersalaman perama dengan orang tua Aditya yang sudah sangat mengenalku dan
akrab denganku, tapi ternyata benar-benar hanya masa lalu.
“Rahma
jangan kamu kacaukan pernikahan anakku, biarkan Adit bahagia dengan istrinya.”
__ADS_1
Ucap mama Adit dan aku balas dengan anggukan dan senyuman untuk beliau.
Saat
sampai didepan mempelai yang pertama aku salami itu Chintya yang sudah sah
menjadi istri Adit dan dibalas sengirah mengejek darinya sembari berkata. “Jangan
mengharapkan lebih dari A Adit, dia milikku seutuhnya kamu cuma mantan dari masa
lalu yang tidak akan pernah diingat dan diharapkan A Adit.” Adit yang berada
disampingnya langsung menarik lengan istrinya dengan mata yang melotot dan
berkata “Jaga ucapanmu Tya gak sopan sama tamu.” Yang hanya dibalas tepisan
tangan oleh Tya. Aku hanya senyum dengan mengangkat satu sudut bibirku saja dan
mendengus melihat adegan di depan mataku.
Tepat
saat aku di depan Adit untuk bersalaman, Adit sudah mengulurkan tangannya. Apa
(A)
menyambut uluran tangannya
(B)
menangkupkan tangan untuk menggantikan jabat tangan.
Dan
pilihanku…. Pada B dengan ekspresi datar dan tatapan biasa aku menagkupkan
tangan dan mengucapkan. “Semoga kamu bahagia dengan pihihan kamu sendiri”.
Mungkin
tidak ada yang special dari acara hidmat bersalaman dengan mempelai, tapi aku
__ADS_1
sudah menyiapkan rencana lain dengan pakaian yang aku kenakan hari ini bukan
mau sombong tapi baju ini adalah disain terbaik butikku. Banyak mata yang
secara terang-terangan mengagumi pakaianku ada yang melirik da nada beberapa
ibu-ibu yang menghampiriku terang-terangan menanyakan dimana aku membeli
pakaian ini. Bukan Fina namanya jika tidak ada manfaatnya kubawa ke pernikahan
mantan, Fina yang sudah mengerti apa yang harus dilakukan langsung berbicara.
“Ini
baju yang mbak Rahma disain sendiri di butiknya.” Jelas Fina
“Wah.
Bagus banget bajunya. Ibu juga mau didisainkan bagus seperti ini.” Ucap salah
satu Ibu
“Ini
mbak Rahma kan. Udah cantik, pinter, mandiri lagi. Sudah bias membangun dan
mengembangkan butiknya sendiri dari nol sampai punya tiga cabang” tutur Ibu 2
Aku
yang sudah menguasai suasana mulai ambil bagian. “buat ibu-ibu untuk ikut
bahagia atas pernikahan teman saya Adit buat yang hadir di acara ini saya kasi
diskon belanja di butik saya 30% tinggal bawa surat undangan ibu ke butik saya.”
“kami
pasti belanja di butik kamu.” Ucap beberapa tamu undangan, lumayan sekalian
menambah konsumen di butik aku. Bukan tidak ada yang tau oleh para undangan
__ADS_1
yang hadir aku pernah dekat dengan Adit tapi mereka menghargai dan malah terfokus
padaku bukan pada mempelai.