suami yang tak terprediksi

suami yang tak terprediksi
Episode 3PERNIKAHAN DIA DARI MASA LALU


__ADS_3

Hari


ini pun tiba, hari kebahagiaannya bersama pasangannya dan disinilah akupun


hadir di hari kebahagiaanya bersama sahabatku Fina orang memaksaku hadir. Setidaknya


aku berfikir tidak akan ada lagi penyesalanku terhadapnya, tapi maaf tidak ada


kado yang akan aku berikan kepadanya yang berarti mungkin hanya amplop yang


berisikan uang. Aku beranggapan uang itu untuk membayar uang makan yang nanti


aku makan di pernikahannya dan aku tidak menyia-nyiakan makanan hari ini. Hehehehe


tidak mau rugi.


Saat


aku sampai aku tidak langsung bersalaman dengan mempelai tapi melihat keadaan


di pesta itu apakah aman? Tidak ada yang mengusir aku kan, karena aku mantan


mempelai peria, maklu karena sedang maraknya pengusiran mantan yang hadir di


pernikahan mantannya karena dianggap akan menghancurkan hari bahagia mempelai,


itu yang sedang viral di media social dan tidak akan aku lakukan sekarang,


mungkin sedikit iseng tidak apa-apa.


Setelah


melihat keadaan mengisi daftar tamu, tanpa babubu aku langsung menuju pelaminan


dan bersalaman perama dengan orang tua Aditya yang sudah sangat mengenalku dan


akrab denganku, tapi ternyata benar-benar hanya masa lalu.


“Rahma


jangan kamu kacaukan pernikahan anakku, biarkan Adit bahagia dengan istrinya.”

__ADS_1


Ucap mama Adit dan aku balas dengan anggukan dan senyuman untuk beliau.


Saat


sampai didepan mempelai yang pertama aku salami itu Chintya yang sudah sah


menjadi istri Adit dan dibalas sengirah mengejek darinya sembari berkata. “Jangan


mengharapkan lebih dari A Adit, dia milikku seutuhnya kamu cuma mantan dari masa


lalu yang tidak akan pernah diingat dan diharapkan A Adit.” Adit yang berada


disampingnya langsung menarik lengan istrinya dengan mata yang melotot dan


berkata “Jaga ucapanmu Tya gak sopan sama tamu.” Yang hanya dibalas tepisan


tangan oleh Tya. Aku hanya senyum dengan mengangkat satu sudut bibirku saja dan


mendengus melihat adegan di depan mataku.


Tepat


saat aku di depan Adit untuk bersalaman, Adit sudah mengulurkan tangannya. Apa


(A)


menyambut uluran tangannya


(B)


menangkupkan tangan untuk menggantikan jabat tangan.


Dan


pilihanku…. Pada B dengan ekspresi datar dan tatapan biasa aku menagkupkan


tangan dan mengucapkan. “Semoga kamu bahagia dengan pihihan kamu sendiri”.


Mungkin


tidak ada yang special dari acara hidmat bersalaman dengan mempelai, tapi aku

__ADS_1


sudah menyiapkan rencana lain dengan pakaian yang aku kenakan hari ini bukan


mau sombong tapi baju ini adalah disain terbaik butikku. Banyak mata yang


secara terang-terangan mengagumi pakaianku ada yang melirik da nada beberapa


ibu-ibu yang menghampiriku terang-terangan menanyakan dimana aku membeli


pakaian ini. Bukan Fina namanya jika tidak ada manfaatnya kubawa ke pernikahan


mantan, Fina yang sudah mengerti apa yang harus dilakukan langsung berbicara.


“Ini


baju yang mbak Rahma disain sendiri di butiknya.” Jelas Fina


“Wah.


Bagus banget bajunya. Ibu juga mau didisainkan bagus seperti ini.” Ucap salah


satu Ibu


“Ini


mbak Rahma kan. Udah cantik, pinter, mandiri lagi. Sudah bias membangun dan


mengembangkan butiknya sendiri dari nol sampai punya tiga cabang” tutur Ibu 2


Aku


yang sudah menguasai suasana mulai ambil bagian. “buat ibu-ibu untuk ikut


bahagia atas pernikahan teman saya Adit buat yang hadir di acara ini saya kasi


diskon belanja di butik saya 30% tinggal bawa surat undangan ibu ke butik saya.”


“kami


pasti belanja di butik kamu.” Ucap beberapa tamu undangan, lumayan sekalian


menambah konsumen di butik aku. Bukan tidak ada yang tau oleh para undangan

__ADS_1


yang hadir aku pernah dekat dengan Adit tapi mereka menghargai dan malah terfokus


padaku bukan pada mempelai.


__ADS_2