
Setelah melakukan perjalanan selama hampir 4 jam akhirnya Clarissa dan Andrew sampe di kediaman sederhana milik orang tua Clarissa.
Dari dalam mobil Clarissa bisa melihat ayah ibunya sudah menunggunya di teras rumahnya, adik-adiknya sudah pasti sedang ke sekolah karna hari ini bukan hari libur.
"Tuh udah di tungguin sama pakde sama bude" Ucap Andrew yang melihat ayah ibu Clarissa langsung berdiri saat melihat mobil Andrew masuk ke halaman rumah.
Clarissa tersenyum melihat kedua orang tuanya sehat dan juga baik-baik saja.
Setelah mobil berhenti sempurna Clarissa lalu bergegas turun dari mobil dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya memeluk dan mencium punggung tangan ayah ibunya bergantian.
Andrew menurunkan koper juga tas milik Clarissa dari bagasi mobil, lalu mereka masuk bersama di dalam rumah ternyata ada kedua orang tua Andrew.
Clarissa tersenyum melihat paman dan bibinya itu ia lalu menghampiri dan menyalami keduanya.
Clarissa lalu duduk sofa kosong yang ada diikuti juga dengan Andrew yang duduk disampingnya.
"Tumben kok ini pada kumpul, Ibu nggak ada orderan catering yah?" tanya Clarissa pada ibunya.
"Ibu tutup orderan selama seminggu ini rissa"
"Kenapa bu" Tanya Clarissa yang mulai curiga karena tidak seperti biasanya, apa lagi ada paman juga bibinya yang ikut berkumpul.
__ADS_1
Clarissa lalu menatap Andrew berharap mendapatkan jawaban namun, Andrew hanya mengedikkan bahunya.
"Ayah juga kenapa nggak kerja?"
"Ayah sedang cuti riss"
"Lalu paman sama bibi?"
"Kami kangen sama rissa" jawab ibu Andrew yang Clarissa tau itu bukan jawaban sebenarnya.
Clarissa frustasi bertanya pada mereka, ia lalu memilih dian dan menyandarkan punggungnya kebelakang pada sandaran sofa empuk sembari memejamkan matanya.
"Besok ada yang datang melamar rissa" Ucap sang ayah tiba-tiba membuat mata Clarissa terbelalak. Terkejut jadi ini alasan kedua orangtuanya menyuruh nya pulang dan berhenti bekerja.
"Ssst... Mbak diam dulu, dengarkan dulu penjelasan bude pakde baru Mbak ngomong" Ucap Andrew membuat Clarissa diam memang benar dia harus mendengarkan dulu apa yang terjadi sebenarnya sehingga ia harus menikah.
"Kamu harus menerima lamaran pak Hermawan, beliau adalah direktur utama sekalu pemilik pabrik tempat ayah bekerja" Jelas ayah Clarissa kemudian menghela nafas berat tak sanggup mengatakan kelanjutannya.
"Seminggu yang lalu ayah mu mendapatkan shift malam, karena kelalaiannya ia membuat beberapa gudang yang ada di pabrik terbakar, ayah sama ibu tidak mampu menganti kerugian yang jumlahnya ratusan juta bahkan mungkin milyaran sekalipun dibantu paman dan bibimu" Jelas ibu Clarissa.
Clarissa menatap ayahnya yang hanya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pak Hermawan datang ke rumah secara pribadi, beliau meminta ayahmu menikahkan salah satu diantara kalian untuk anak laki-laki nya lalu semuanya di anggap lunas dan ayahmu tidak akan dituntut"
Clarissa tak tahu harus bagaimana, ia tak mungkin mementingkan kepentingannya sendiri membiarkan adiknya yang masih sekolah harus menikah.
"Kamu tau kan, Marissa dan Alisa masih sekolah, hanya kamu yang bisa kami andalkan saat ini "
" Ayah mohon...Ris" Ucap ayah Clarissa memohon sambil menelakupkan kedua tangannya.
Mata Clarissa berkaca-kaca tak tega melihat ayahnya sampai memohon seperti itu padanya.
Clarissa lalu menatap Andrew sendu, Andrew merangkul pundak Clarissa mengelusnya.
" Baiklah, Aku akan menikah dengan anak pak Hermawan" Ucap Clarissa mengusap air matanya yang mengalir dipipi mulusnya.
Kedua orang tua Clarissa juga Andrew tersenyum senang mendengar jawaban Clarissa.
Clarissa lalu berdiri " Aku ke kamar dulu " Ucap Clarissa lalu berjalan meninggalkan semua yang menatapnya.
"Rissa" panggil sang ayah tapi tak di hiraukan Clarissa ia tetap berjalan cepat masuk ke dalam kamar, setelah masuk ke kamarnya Clarissa lalu tengkurap membenamkan wajahnya pada bantal menangis sejadi-jadinya.
Andrew lalu masuk menyusul masuk ke kamar Clarissa menenangkannya.
__ADS_1
....
Keesokan paginya, Semalaman Clarissa menangis dan itu membuatnya bawah matanya menghitam karena tak tidur.