Suamiku Yang Dingin

Suamiku Yang Dingin
BAB 17 Danau


__ADS_3

Entah pukul berapa saat ini. Agnes baru saja terbangun dari mimpi indahnya.


Tangannya yang begitu mungil dengan jari-jemari yang lentik meraba-raba kasur disebelahnya. Mencari keberadaan Rangga yang merupakan suaminya, tapi dia tidak merasakan keberadaan Rangga disana.


Dengan perlahan dia menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya lalu menurunkan kaki jenjangnya memijak dinginnya lantai kamar. Setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi dengan bantuan tongkat yanga selalu menjadi alat navigasi arah baginya.


Sesampainya di kamar mandi barulah dia membersihkan tubuhnya dan keluar dengan keadaan tubuh yang jauh lebih fresh.


Saat ini Agnes memilih sebuah dress sebatas lutut dengan lengan yang panjangnya sampai siku dengan bagian bahunya yang terbuka, menampilkan bahu putihnya bagai porselen. Tidak lupa juga dia sedikit merias wajahnya dengan kemampuannya yang seadanya, karena dia memiliki kekurangan denga n penglihatannya.


Setelah di rasa cukup, dia keluar dari kamar menuju lift dan turun ke lantai utama. Sesampainya di lantai utama Bibi Clara yang merupakan kepala pelayan di rumah besar itu menghampirinya dan menyuruhnya untuk menemui Rangga di rumah belakang.


''Memangnya Tuan tidak berkerja, Bi?''


''Tidak. Sepertinya Tuan sedang libur. Cepatlah, Tuan sudah sedari tadi menunggu mu!''


Agnes di arahkan oleh Bibi Clara menuju rumah belakang, yang mana rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh Agnes ketika pertama kali dia berada di rumah Rangga.


Sungguh dia sekarang bertanya-tanya kenapa Rangga menyuruhnya untuk menemuinya di rumah belakang.


''Kita sudah berada di depan rumah belakang, kamu masuk saja. Tuan sudah menunggu mu di dalam.''


''Baik, Bi, terimakasih.''


Agnes dengan perlahan membuka pintu rumah yang sudah lama tidak dia kunjungi itu, kemudian dia masuk tapi tidak lama setelah itu dia mendengar suara Rangga yang mengarahkannya untuk menuju arah jendela.


Sesampainya di dekat Rangga Agnes mendengar suara Rangga yang memerintahkan nya untuk duduk, dan tentu saja dia turuti.


Dia meraba-raba arah di depannya, setelah merasakan keberadaan sebuah kursi dia menariknya dan duduk di sana.


''Di depan ada sarapan dengan menu pancake, waffle dan salad. Makanlah!''


''Huh?''


''Kau tuli?''


''Ba-baik, Tuan, terimakasih.''


Agnes dengan indera perabanya meraba sebuah meja yang ada di depannya sambil bertanya-tanya semenjak kapan ada meja di sana. Tapi sebelum dia menemukan sarapan yang di maksud oleh Rangga, Rangga sudah terlebih dulu mengambilkannya.


''Makanlah, aku sudah mengambilkannya.''


''Terimakasih, Tuan,'' jawab Agnes canggung. Sikap Rangga saat ini benar-benar aneh baginya.


Agnes dengan lahap menyantap sarapan yang diberikan oleh Rangga. Dari tekstur dan rasanya Agnes yakin itu adalah pancake. Setelah menghabiskan pancake itu Rangga memberikan gelas yang berisi susu kepada Agnes. Setelah itu tidak ada lagi interaksi di antara mereka dan hanya di isi dengan suara keheningan.


''Ingin jalan-jalan?''


''Huh?''


''Kau tuli?''

__ADS_1


Agnes tidak dapat menjawab pertanyaan Rangga, apakah barusan itu pendengarannya benar-benar bermasalah atau dia sendiri tidak mengerti maksud Rangga? Ucapan Rangga yang terdengar seperti akan mengajak nya untuk berjalan-jalan, atau Agnes salah mengartikannya.


''Kau tidak ingin jalan-jalan denganku?''


''Huh?''


''Ck, apakah selain buta kau juga tuli?''


''Bu-bukan begitu Tuan. Aku hanya takut mengartikan ucapan Tuan.'' jawab Agnes dengan suara lembut, yang dibalas dengan tatapan lamat oleh Rangga tapi Agnes tidak menyadarinya.


''Aku tipe orang yang tidak suka berhutang budi kepada seseorang. Karena kau sudah merawat ku tadi malam, maka hari ini aku akan membalasnya dengan membawa kau bersenang-senang.''


''Tidak perlu Tuan, dengan Tuan tidak merasa masalah aku rawat. Itu sudah lebih dari cukup.''


''Ck, kau banyak penolakan.''


Agnes terkejut dengan tubuhnya yang tiba-tiba diangkat bagaikan karung beras oleh Rangga. Dia juga merasa sedikit pusing karena posisinya kepalanya sedang berada dibawah. Dia juga tidak tau Rangga akan membawanya kemana.


''Kita akan kemana Tuan? Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri.''


Rangga tidak memperdulikan permintaan Agnes sehingga Agnes mendengar suara air.


Tiba-tiba Agnes merasa takut mengingat kejadian dia pernah tenggelam beberapa bulan yang lalu.


''Tuan, aku belum jadi ingin mati. aku masih ingin hidup walau dalam keadaan buta. Hiks, jangan buang aku ke sana, Tuan.'' mohon Agnes yang masih berada pada bahu Rangga.


''Ck, siapa yang akan membunuhmu?''


''Apa yang kau cari?''


''Tongkat.''


''Aku meninggalkannya,'' ujar Rangga ketus.


''Tapi--''


''Ck, selama ada aku, kau tidak akan membutuhkan benda yang tidak berguna itu,'' lanjut Rangga, kemudian Agnes merasa tubuhnya kembali di angkat dan diletakkan entah dimana. Tubuh Agnes sedikit limbung tetapi di tahan oleh Rangga sebelum akhirnya Rangga menempati posisi di depannya.


''Kita dimana Tuan?''


''Jet ski. aku akan membawa mu berkeliling danau ini. Berpegangan lah!''


Agnes awalnya dengan ragu-ragu memegang ujung baju belakang Rangga, jujur saja dia merasa takut akan terjatuh dan dia merasa takut juga jika dia terlalu erat memegang baju Rangga. Tapi siapa sangka tangannya akan di tarik oleh Rangga dan di lingkarkan pada pinggang Rangga.


Agnes merasakan getaran pada hatinya ketika tangannya melingkar pada pinggang kokoh itu, apa lagi di bagian depan Agnes merasakan telapak tangannya menyentuh perut Rangga yang terasa sangat kuat dan keras karena sepertinya Rangga hanya menggunakan kaos tanpa dalaman.


Agnes tidak dapat mengontrol irama pada detak jantungnya dan juga dia tidak dapat berkata apa-apa.


''Jangan lepaskan pegangannya, aku tidak akan menolong mu jika kamu tercebur lagi.''


''Ba-baik, Tuan.'' ujar Agnes dengan canggung. Dia mengigit bibir bawahnya dan mencoba mengontrol detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.

__ADS_1


Agnes mendengar mesin dari jet ski itu menyala dan perlahan mulai bergerak. Dia yakin jet ski yang dia naiki sekarang menuju ke tengah-tengah danau tapi sayang sekali Agnes tidak dapat melihat keindahan danau tersebut.


Tapi tidak lama setelah itu jet ski itu berhenti, yang entah di mana.


''Apakah kita sudah kembali, Tuan?''


''Belum. Sekarang kita sedang berada di tengah-tengah danau. Sebenarnya aku ingin melakukan uji coba kepada mu, aku ingin mencoba bagaimana rasanya membunuh orang di tengah-tengah danau seperti ini.''


Agnes membulatkan matanya yang tidak berfungsi itu. Pegangannya semakin erat memeluk pinggang Rangga. Setelah itu dia mendengar cekikikan yang dia yakini itu berasal dari mulut Rangga, yang tidak dia mengerti apa maksud cekikikan itu.


Tidak lama setelah itu pegangannya di lepas secara paksa oleh Rangga dan detik berikutnya tubuhnya tercebur ke dalam air.


''Tuan,,, Tuaan,,, Tuaan,,,!" teriak Agnes berusaha mengepak-ngepak tangannya di dalam air, dan kaki nya menendang-nendang tapi tubuhnya terasa sangat berat.


''Tu..tuan!''


Agnes mendengar suara orang yang mencebur kemudian merasa tubuhnya di peluk oleh seseorang yang dia yakini adalah Rangga. Agnes dengan cepat mengalungkan tangannya pada leher Rangga erat dengan nafas yang terengah-engah. Bahkan terdengar suara isakan dari bibirnya.


''Hahaha jangan menangis. Aku hanya bercanda. Sekarang rilekslah, selama ada aku kau tidak akan kenapa-napa.''


Agnes menghentikan isakannya tapi tidak dengan tangannya yang masih memeluk leher Rangga dengan erat.


Cukup lama mereka dengan posisi berpelukan hingga saat ini Rangga berusaha melepaskan tangan Agnes tapi tentu saja Agnes tidak ingin melepaskannya.


''Ck, Jika kau masih memelukku aku akan menghukum mu.''


Agnes menggelengkan kepalanya, dia tidak berani melepaskan Rangga. Dia takut tenggelam, kejadian beberapa bulan yang lalu masih berputar di benaknya. Hal itu membuatnya semakin ketakutan.


''Kau ingin aku hukum?''


Agnes menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak ingin di hukum.


''Jika begitu lepaskan tangan mu!'' perintah Rangga.


Agnes kembali menggelengkan kepalanya.


''Ck. Lepaskan!'' Rangga membentak Agnes dengan suara yang menakutkan di pendengaran Agnes, dan dengan perlahan dia melepaskan pelukannya dari leher Rangga, tapi ternyata tangan Rangga berada pada pinggangnya menahan tubuhnya supaya tidak tenggelam.


''Sekarang cobalah berenang!''


''Huh?''


''Aku akan mengajari kau cara berenang supaya kau tidak tenggelam lagi.''


''Tapi aku tidak bisa.''


''Karena itu aku akan mengajari mu. Sekarang berikan tanganmu.''


Agnes dengan perlahan memberikan tangannya kepada Rangga, detik berikutnya tangannya terasa digenggam oleh Rangga lalu tubuhnya merasa sedikit menjauh.


Setelah kurang lebih setengah jam bermain di dalam air kemudian mereka kembali menaiki jet ski, tapi Rangga tidak langsung membawa Agnes kembali ke rumah melainkan membawa Agnes berkeliling danau dan berhenti pada suatu dermaga.

__ADS_1


__ADS_2