
''Apakah kita sudah kembali, Tuan?'' tanya Agnes setelah tubuhnya di turunkan dari jet ski oleh Rangga.
''Belum. Kita sekarang berada di belakang vila ku.''
Agnes hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak tau di mana letak vila Rangga dan seperti apa bentuknya, tapi tidak ada gunanya juga bertanya, dia tidak akan bisa melihatnya juga.
Agnes mengikuti ke mana Rangga menarik tangannya, hingga dia mendengar suara pintu yang terbuka. Setelah masuk, Rangga kembali membawa Agnes, sungguh Agnes tidak tau Rangga membawanya ke mana, dia hanya mengikuti Rangga tanpa bertanya.
''Mandilah, Aku akan menyiapkan baju untuk mu!'' ujar Rangga yang terdengar menjauh dari Agnes.
''Maaf Tuan, kamar mandinya di mana?'' tanya Agnes yang memang tidak mengetahui di mana letak kamar mandi.
Agnes tidak mendengar jawaban dari Rangga tapi dia mendengar suara langkah Rangga yang semakin mendekat kepadanya. Semakin mendekat hingga sekarang Agnes bisa merasakan hembusan nafas Rangga menerpa wajahnya tapi detik berikutnya dia terkejut dengan air yang tiba-tiba membasahinya.
''Kamu sudah berada di kamar mandi. Sabun maupun shampoo ada di sebelah kirimu,'' ujar Rangga, kemudian Agnes mendengar suara langkah kaki yang menjauh.
Agnes memilih bungkam kemudian menanggalkan semua pakaiannya dan mulai membersihkan tubuhnya dengan air shower.
Setelah seluruh tubuhnya di rasa bersih, tangannya meraba-raba sekitaran kamar mandi untuk mencari handuk tapi dia sama sekali tidak merasakan keberadaan handuk si dalam kamar mandi tersebut, dan parahnya tadi dia juga lupa menanyakan handuk kepada Rangga.
Setelah memikirkan berbagai cara tapi tetap saja otaknya buntu, Agnes sama sekali tidak memiliki ide. Dia sama sekali tidak tau di mana letak handuk dan dia juga tidak tau akan melakukan apa hingga Agnes mendengar pintu kamar mandi itu terbuka.
Agnes dengan reflek menutup bagian sensitifnya menggunakan tangan dengan tubuh sedikit di tekuk.
''Tu-tuan?''
''Aku bukan Tuanmu. Tubuh istri si Rangga lumayan juga.''
Agnes terkejut mendengar suara orang yang tidak dia dikenali itu. Dia langsung panik dan berteriak dengan keras sambil berusaha menutupi tubuhnya yang saat ini bertelanjang.
''Tolong!!!"
Agnes mendengar suara pintu kamar mandi itu terbuka dengan kasar dan ia juga mendengar tubuh seseorang yang terbanting, tidak lama setelah itu dia merasa tubuhnya ditutup oleh sesuatu yang Agnes yakini adalah handuk.
''Tuan,,'' ujar Agnes dengan tangan gemetaran dan juga ketakutan.
__ADS_1
''Tunggu di sini!'' ujar Rangga, setelah itu Agnes mendengar langkah yang terburu-buru keluar dari kamar mandi dan dari kamar mandi dia bisa mendengar suara orang yang sedang berkelahi.
''Sialan! Berani sekali kau memasuki tempatku,'' ujar Rangga dengan suara yang terdengar sangat emosi, kemudian Agnes mendengar pukulan yang bertubi-tubi.
Sungguh Agnes merasa sangat ketakutan saat ini, dia sama sekali tidak dapat melihat apa pun dan tidak dapat memahami situasi di luar.
Suara orang berkelahi masih terdengar nyaring sebelum akhirnya dia mendengar suara tembakan, tapi setelah itu tidak ada suara lagi.
Agnes menjadi panik, dia takut terjadi sesuatu kepada Rangga. Dia takut yang tertembak itu adalah Rangga.
''Tu-tuan?''
Agnes mengarahkan tangannya ke arah depan dan keluar dari kamar mandi sambil memanggil nama Rangga tapi tidak sahutan dari Rangga.
''Tu-tuan?''
Masih tidak ada sahutan dari Rangga, sehingga dia sekarang benar-benar sangat cemas.
''Hiks, Tuan, anda di mana?''
''Tuan!''
Agnes langsung mendudukkan tubuhnya dan meraba-raba tubuh di depannya; merasakan apakah orang itu adalah Rangga atau bukan. Tapi detik berikutnya tubuhnya di angkat oleh seseorang dari belakang.
''Ck, kau kembali mengotori tubuhmu dan aku sangat marah kau memperlihatkan tubuhmu kepada orang lain.''
''Hiks, Tuan.''
Agnes membalikkan tubunya dan memeluk Rangga, dia sangat bersyukur orang yang baru merenggang nyawa itu bukanlah Rangga.
''Kenapa kau masih menangis, hm? Kau tidak sadar kau sedang memelukku keadaan setengah telanjang, dan lihatlah tubuh mu kotor oleh darah itu.''
''Tuan, apa anda tidak apa-apa?'' Agnes tidak menjawab ucapan Rangga malah dia meraba-raba tubuh Rangga memastikan apa Rangga tidak kenapa-napa.
''Aku tidak apa-apa. Tenang saja aku tidak mudah mati.'' ujar Rangga mengangkat tubuh Agnes dan kembali membawa menuju kamar mandi.
__ADS_1
''Orang tadi siapa, Tuan?''
''Dia salah satu musuhku. Bersihkan kembali tubuhmu! Setelah itu kita akan pulang,'' ujar Rangga meninggalkan Agnes di kamar mandi.
Ada perasaan takut di hati Agnes dengan keberingasan Rangga tapi dia juga merasa sangat lega bahwa yang mati itu bukanlah Rangga, dan dia juga merasa bersyukur buta karena jika tidak buta dia akan melihat orang yang bersimbah darah yang di bunuh oleh Rangga itu dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh Agnes tidak bisa membayangkannya.
Setelah Agnes selesai mandi mereka masih belum pulang, karena Rangga memesan makanan dan mereka makan terlebih dahulu di vila tersebut. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah utama milik Rangga.
***
Pada keesokan harinya Agnes dibuat cemberut karena sifat Rangga yang kembali pada sifat aslinya.
Semunya yang dilakukan oleh Rangga kemarin hanya semata-mata ucapan terimakasihnya kepada Agnes. Dan hari ini dia kembali kepada sifat aslinya yang dingin, tidak banyak bicara dan suka memerintah.
Agnes kira dia sudah bisa menaklukan es kutubnya Rangga, ternyata tidak. Sepertinya Rangga benat-benar tidak bisa ditaklukkan.
''Aku selesai,'' ujar suara Rangga, terdengar dorongan piring ke arah depan sebelum akhirnya terdengar suara kursi yang menandakan Rangga sudah berdiri.
Pagi ini Agnes menghidangkan menu sarapan nasi goreng sosis untuk Rangga, tapi Agnes tidak tau apakah menghabiskan masakannya atau tidak.
Agnes mendengar suara langkah yang menjauh tapi kembali mendekat ke arahnya. ''Jangan terlalu memikirkan hari kemarin, kemarin itu hanya ucapan terimakasih ku karena sudah merawat ku. Jangan sampai kau menaruh perasaan kepada ku, karena jika sampai kau memiliki perasaan kepada ku aku tidak akan memaafkan mu,'' ujar suara Rangga yang terdengar sangat dingin memperingati Agnes.
''Baik, Tuan,'' cicit Agnes dengan kepala yang ditekuk. Setelah itu dia benar-benar mendengar suara langkah yang menjauh sebelum akhirnya menghilang.
Setelah kepergian Rangga, Agnes termenung di meja makan, bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Rangga bahwa dia memiliki sedikit perasaan kepada Rangga. Tapi walaupun sedikit, Rangga tetap tidak mengijinkannya. Jadi apa yang harus dia lakukan?
Agnes berdiri kemudian memungut piring kotor yang ada di meja makan yang dibantu oleh pelayan. Setelah itu dia memutuskan untuk mengelilingi rumah besar milik Rangga itu karena dia merasa sangat bosan dan juga dia merasa sangat rindu kepada pamannya karena setelah menikah dia tidak pernah lagi bertemu dengan pamannya atau pun mendengar kabar sang paman.
Agnes melangkahkan kakinya menuju ke arah samping rumah menggunakan instingnya serta tongkat sebagai penunjuk arahnya. dia Kemana pun Agnes melangkah sama saja, dia tidak akan dapat melihat apa yang ada di depannya. Semua nya gelap, gelap dan gelap. Hanya kegelapan lah yang selalu bersama Agnes.
Puas dengan mengelilingi rumah besar itu Agnes kembali ke lantai utama kemudian menuju lift dan naik ke kamarnya dan Rangga. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang biasa dia tiduri.
Mata nya terbuka memandang ke arah langit-langit kamar yang tidak bisa dia lihat. Banyak hal yang memenuhi pikirannya saat ini, bagaimana kehidupannya selanjutnya? Apakah dai akan memiliki anak? Apakah Rangga akan tetap dengan sifatnya seperti itu sampai kapan pun? Atau apakah Rangga akan membunuhnya atau menceraikannya.
Begitu banyak yang memenuhi pikiran Agnes sehingga dia memejamkan mata dan terlelap.
__ADS_1
Cukup lama Agnes tertidur sehingga dia terbangun di waktu sore. Ketika baru bangun dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, kemudian dia turun ke lantai utama untuk membuat makanan karena perutnya yang sangat kelaparan. Setelah itu dia langsung menyantapnya.