
Kheira Aleesya. Anak kedua dari tiga bersaudara, nama keduanya diambil dari gabungan nama ayah dan ibu. Alessya penggabungan dari kata "anak Alisya dan Laksmana"
Berada diposisi kedua dari tiga bersaudara, menjadi suatu hal yang tak pernah ia inginkan sedari dulu. Sayangnya, tepat menginjak usia empat tahun, adik nya yang bernama Annindira Aleesya lahir. Antara menjengkelkan atau menyenangkan keduanya bercampur menjadi satu.
Yang pertama karena ia takut kehilangan kasih sayang dari ayah dan ibunya sebagai anak bungsu yang gagal. Yang kedua karena adik nya perempuan, sama seperti dirinya. Fikir nya mungkin saja kasih sayang mereka akan beralih kepada adik bungsu nya.
Seiring berjalannya waktu jiwa seorang kakak tumbuh dalam diri nya, entah karena apa. Bahkan rasanya seperti tak rela bila ada seseorang yang berani menyakiti adiknya, siapapun itu dan apapun alasannya.
Kebahagiaan kecil ini semakin ia rasakan dari waktu ke waktu.
πππ
Semilir angin menyelimuti taman ditemani kilauan cahaya senja yang kami nikmati di penghujung hari. Alun-alun Yogyakarta menjadi penyemat salah satu kenangan indah yang tak akan pernah ia lupa.
Kami berjalan memutari indahnya alun-alun kota Yogyakarta, di sudut pekarangan ibu menggelar tikar kotak-kotak. Kheira sedang asik bermain bersama adiknya, Annindira.
"Bu, ayah mau ke toilet dulu ya anterin Aidan pipis"
Pekik Ayah menggandeng tangan anak sulungnya.
Hanya senyum simpul yang terjawab dari bibir ibu mengiyakan pernyataan ayah.
Ayah dan kak Aidan berjalan ke arah sisi Timur alun-alun utara Jogja menuju toilet yang letaknya lumayan jauh.
Tanpa sadar, hari gelap mulai menutupi alun-alun kota Jogja. Hari semakin larut, namun semakin ramai pengunjung yang datang memeriahkan suasana malam, memadati kawasan wisata terlebih wisata kulinernya.
Cahaya lampu taman menerangi sudut-sudut tempat wisata, becak hias dengan lampu warna-warninya menjadi salah satu kendaraan dengan unsur estetik yang banyak diminati oleh para pengunjung terutama anak-anak untuk memandangi sudut keramaian kota Jogja tanpa harus berjalan kaki memutarinya.
Kheira tersenyum kagum melihat kemeriahan kota pelajar dihadapannya.
"Surprise"
Teriak keduanya dari kejauhan, tiupan terompet terdengar bising ke gendang telinganya.
Dua lelaki berjalan menuju kearahnya. Ayahnya Hendra Laksmana dan kakak sulungnya Aidan Mahesa. Keduanya berjalan membawa sekotak kue Black Forest coklat dihiasi lilin warna-warni dan satu lilin merah bertemakan angka delapan. Aidan kakak sulungnya berjalan disamping ayah sambil meniup-niup terompet ditangannya.
Senyuman berseri-seri tampak terlihat dari wajah Kheira, wajahnya menatap dengan tatapan bahagia. Kebahagiaannya tak bisa tertutupi dengan tingkah menggemaskan nya.
"Ayaaaah...."
Kheira berlari girang ke arah ayah.
"Selamat ulang tahun anak ayah"
Ayah memberikan sekotak kue sembari mengecup kening putrinya. Ayah menggandeng tangan Kheira berjalan menuju ke arah tikar diikuti oleh langkah Aidan yang di belakang ayah, kemudian mereka duduk melingkar diatas tikar yang tergelar.
"Ayo tiup lilinnya putri ayah"
Pinta ayah sembari menyodorkan sekotak kue dengan lilin yang menyala.
"Hu... "
Kheira bersiap-siap meniup lilin di tengah kotak coklat dihadapannya.
"Eitsss make a wish nya dulu princess ayah"
Pekik Ayah menghentikan Kheira.
"Heheh iya ayah"
Gumam Kheira tersenyum mengangkat kedua tangannya kemudian menutup matanya seraya mulutnya berkomat-kamit membaca doa.
"Udah Ayah"
Pekik Kheira menatap wajah ayahnya seusai berdoa.
"Yaudah sekarang tiup lilinnya"
Jawab sang ayah mengelus rambut hitam anaknya itu.
"HUFTTT"
Meniup lilin dengan bibir mungilnya.
"YEAAAAY"
Kheira bertepuk tangan girang telah mematikan api diatas lilin dalam kue di hadapannya.
"Selamat ulang tahun anak ibu yang cantik"
Sahut Ibu tak mau kalah, memberikan sekotak hadiah dilapisi bungkusan kertas berwarna merah muda, bibir nya mengecup kening Kheira yang tertutupi poni.
"Wah apa ini bu?"
Tanya Kheira penasaran menunjukkan senyum manisnya.
"Ayo coba dibuka kadonya"
__ADS_1
Pinta ibu membuat Kheira semakin penasaran untuk membukanya.
Ternyata isinya sesuatu yang benar-benar membuatnya terkejut.
Buku diary ditemani sebuah bingkai yang terdapat foto keluarga mereka di dalamnya.
Sebuah foto keluarga yang dipotret tepat Tiga tahun silam, semasa adiknya masih dalam gendongan sang Ibu, tepatnya ketika gigi Kheira masih merenggang dan berjarak. Dengan percaya dirinya ia berpose tersenyum lebar menunjukkan gigi ompong nya itu.
"Gimana kado nya? Ira suka gak sama hadiah dari Ibu?"
Tanya sang ibu.
"Iya bu, Ira suka banget hadiahnya"
Kheira kegirangan, dipeluk erat hadiah dari ibu.
Gayatri tersenyum melihat tingkah bahagia putrinya, baginya kebahagiaan anak-anaknya merupakan suatu kemenangan tersendiri.
Ira merupakan nama panggilan kesayangan dari ibu untuknya. Yang diambil dari akhiran nama pertama miliknya.
Berbeda dengan kakak sulungnya, yang selalu memanggil namanya dengan sebutan DORA, karena poni Kheira menjulur ke depan seperti dora.
"Selamat ulang tahun doraaaa"
Pekik Aidan tersenyum lebar kearahnya seraya mengumpatkan sesuatu di belakang tubuhnya.
"Ini kado dari kaka"
Aidan mengeluarkan sekotak hadiah dari arah belakang tubuhnya.
"Apa itu? Kecoa?"
Kheira mengernyit curiga menaikan satu alisnya.
"Ini Terima dulu"
Pekik Aidan menjulurkan kotak berwarna kuning kearahnya.
"Apa niii? Jangan-jangan kecoa?"
Kheira berucap ulang mencurigai hadiah dari kakak terjahilnya.
Dari kecil, Kheira bisa dikatakan phobia dengan hewan yang bernama kecoa, terlebih kecoa terbang. Satu hal yang menjadikannya trauma ketika kecoa terbang memasuki pakaiannya, untung saja ibu siap siaga mengeluarkan kecoa dari pakaian yang ia kenakan dengan sapu.
"Bukan lah, bukan kecoa... buka makanya"
Kheira sigap menyerobot kotak kuning dari genggaman Aidan lalu membukanya.
"Wah parah sih bagus banget ka"
Kheira kegirangan loncat-loncat di atas tikar yang didudukinya membuat perhatian ayah dan ibu mengarah padanya. Kheira tertunduk malu kemudian duduk kembali.
"MAKASIIIIIH kak Aidaaaan"
Kheira memeluk tubuh Aidan membuat tubuhnya serasa sesak dikempit oleh tangan Kheira yang berisi.
"Iya,,, iya,,, lepasin kaka susah napas"
Aidan berusaha melepaskan pelukan adik gembul nya itu.
"Tau gak, kemarin kaka relain ga jajan sebulan demi gantiin boneka Winnie the pooh kamu"
Aidan mendengus kesal.
Aidan, Kakak terjahil sepanjang masa yang pernah merobek boneka Winnie the pooh milik Kheira. Meski bukan karena unsur kesengajaan, tetap saja Kheira kesal tiap kali mengingatnya. Saat itu Aidan menarik kencang kepala boneka winnie dari tangan Kheira dan membuat kepala boneka terputus dari badannya.
"Trus? Kak Aidan curhat gitu sama aku?"
Kheira menopang dagu dengan kedua tangannya menatap iba Aidan.
"Ih ngeselin"
Aidan mengacak-acak rambut hitam adiknya itu.
"Tapi ini sih juga karena Ibu ya yang nyuruh kakak, kalo engga kakak juga gak mau"
Aidan menyedekapkan kedua tangannya mengarahkan bola matanya kearah ibu yang sedang menggendong Annindira.
"Huh, bodoamat ah yang penting aku seneng akhirnya boneka Winnie the pooh aku kembali lagi wlee"
Sahut Kheira menampakkan wajah tak pedulinya itu.
"Untung aja gak kaka kasih permen kecoa-kecoaan lagi hahaha"
Pekik kakak sulungnya dengan tawa terbahak.
Kheira dan Aidan tak pernah akur, layaknya Tom and Jerry di film kartun. Selalu ada momen dimana Aidan membuat adiknya menangis karena hal sepele.
__ADS_1
Momen dimana ia selalu mengganggu Kheira saat sedang asik bermain dengan teman-teman sepantarannya.
Terlebih saat Aidan menakut-nakuti Kheira dengan sebuah permen mainan yang berisikan kecoak palsu di dalamnya. Aidan hanya tertawa melihat adiknya menjerit dan menangis ketakutan.
Karena dari kecil, adiknya teramat phobia dengan spesies yang bernama kecoak, ia dapat menangis sejadi-jadinya ketika melihat binatang yang menggelikan itu.
Ibu mendaratkan jeweran ke telinga Aidan, karena telah menyulut tangis adiknya, membuat ibu kebingungan untuk menghentikan tangisan putrinya.
Kheira merasa malu saat menyadari bahwa kecoak itu hanyalah kecoak mainan yang dijadikan bahan senjata untuk menakut-nakutinya.
"Tau tuh bu, kak Aidan mah jail banget sama aku... Dia pernah ngasih aku permen gak taunya ada kecoa-kecoaan nya bu, udah tau aku kan takut kecoa"
Kheira meringis palsu berusaha mendapatkan pembelaan ibunya.
"Makanya jangan takut kecoa, kecoanya aja takut sama kamu"
Ucap Gayatri meledek putrinya.
"Ah Ibu mah"
Kheira memanyunkan bibir mungilnya.
"Ayah, belain Kheira ayah...."
Merengek menarik-narik lengan baju ayah seolah menampakkan wajah sedu nya.
"Kamu nih ya, kalau datang ke ayah pas ada maunya doang"
Ledek sang Ayah kepada putri nya kemudia merangkul bahu Kheira yang padat berisi.
"Hehehe"
Kheira tersenyum lebar.
Canda tawa kami memecah keheningan malam di tengah taman alun-alun kota Jogja.
"Huh dasar anak manja"
Aidan menjulurkan lidah kearah adiknya.
"Yeuh kakak ngeselin banget sih"
Kheira menggelembungkan kedua pipi chubby nya dan menyedekapkan dua tangannya ke depan.
"Biarin ngeselin yang penting baik hati dan suka menolong hahaha"
Sahut kakak sulungnya menjulurkan lidah, tangannya menyiapkan sepasang sandal miliknya di depan tikar mengambil aba-aba untuk berlari dari kejaran Kheira.
Kheira berlari mengejar Aidan. Ayah dan ibu hanya tersenyum memperhatikan keduanya anaknya berlari-lari di tengah lapangan.
Beberapa saat setelahnya, Aidan menyerah dari kejaran adiknya itu. Nafasnya terengah-engah, membuat ibu meminta mereka duduk kembali disamping ayah ibu.
"Duduk dulu, nak."
Pinta ibu lembut.
"Sudah jangan lari-larian"
Pertegas ayah kepada mereka.
"Tau nih kak Aidan yah"
Lirih Kheira gelagapan dengan tatapan mata sinis menuju Aidan.
"Dih nyalahin Aidan"
Pekik Aidan mengipas-ngipas tubuhnya.
"Eh Dora, masih inget kejadian yang kemaren ga?"
Sambung Aidan menaikan salah satu alisnya.
"Yang mana?"
Tanya Kheira bingung menggaruk-garuk tengkuk yang tak gatal.
"Yang itu... Ke... Ta..."
Belum sempat melanjutkan, Kheira menutup mulut Aidan dengan tangan kanannya.
"Lepasin"
Pekik Aidan dengan suara samar karena tertutup oleh tangan Kheira. Kheira melepaskan bekapan tangannya dari mulut kakaknya itu.
"Hsssst"
Lirik Kheira meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya sambil menatap tajam Aidan.
__ADS_1