
Terkadang bahagia sulit dijelaskan, namun kebahagiaan mudah didapatkan. Hanya saja banyak di luaran sana banyak yang tak mengerti apa makna asli dari bahagia itu sendiri.
☀☀☀
Angin malam silih berganti, Kaki mereka tak henti menyusuri jalanan. Dipersimpangan jalan mata mereka terbelalak mencari angkot atau becak untuk pulang menuju gubuk sederhana tempat tinggalnya di sebuah desa terpencil kawasan Yogyakarta.
Karena sudah larut malam tak didapatinya sebuah angkot, akhirnya ayah memutuskan untuk menyewa dua becak.
Disinilah mereka dilahirkan, di kota inilah mereka dibesarkan dan di dalamnyalah mereka tinggal dengan sebuah kebahagiaan.
Setiap hari libur, ayah selalu mengajak ketiga anak dan istrinya berjalan-jalan ke sebuah tempat wisata di Yogyakarta yang jarak tempuh nya tak terlalu jauh dan terjangkau oleh angkutan umum dari desanya.
Mereka memang bukan terlahir keluarga kaya raya apalagi berlimpah harta, semua itu jauh dari pelupuk mata mereka.
kebahagiaan yang sesungguhnya bukan berdasarkan harta, tetapi kebahagiaan yang nyata datang ketika kita mempunyai rasa syukur tinggi atas apa yang kita punya.
~Cahaya Novelia
(Ayah POV) flashback
Adi Laksmana, ayah dari ketiga anak. Sedari kecil ia terdidik dari kerasnya kehidupan, bahkan harus menempuh perjalanan jauh sekitar 1 km dari desa ke kota untuk menuju ke sekolahnya dengan sepeda ontel butut yang dimilikinya.
Rasa berat tak berarti dalam hidup nya. Ia tak pernah mengeluh dan tak merasa keberatan saat menimba ilmu dari rumah ke sekolahnya selama bertahun-tahun.
Walau lelah dari fajar bertamu sampai sang senja bertemu. Namun, kekuatan dan doanya mengalahkan rasa lelahnya.
Meski harus berangkat ke sekolah dari usai subuh tak mengapa baginya. Bahkan, sepulang sekolah pun ia harus berjalan kaki ke sawah membantu pekerjaan ayahnya (Mbah Kakung).
Kaos lusuh ia kenakan ditemani dengan celana coklat tambalan yang tak pernah menjadi keluhan baginya.
Disaat anak-anak seumurannya pergi bermain dengan canda tawa. Berbeda dengan dirinya, Ia harus membantu ayahnya menanam padi di tengah sawah, menjadi seorang kuli mencurahkan keringatnya di bawah terik mentari.
Ia mengerti bahwa dirinya hanyalah anak seorang petani, bukan anak juragan padi. Padi-padi yang selama ini ia tanam bukanlah miliknya, ia hanya bekerja dan menyerahkan hasil panennya terhadap juragan. Mendapat upah yang tak seimbal dengan kerja kerasnya.
Namun, tanpa cucuran keringat para petani, yang bekerja dari terbit mentari sampai tenggelam lagi, mungkin saja sudah banyak manusia kelaparan yang mati.
Setiap hari kegiatannya hanya bergelut di bidang akademisi dan membantu menuai padi dari tengah sawah sampai ke sudut-sudutnya.
Ia terdidik dari perihnya kehidupan. Namun, tetap berusaha belajar dan berjuang keras untuk memperbaiki hidupnya dengan ilmu.
Tiap ke sawah tak pernah lupa menggenggam buku-buku di kedua tangannya. Tak hanya pujian yang datang, cibiran pun seringkali menjamah dari mulut ke mulut untuknya.
Seolah tak mempercayai mimpi seorang anak petani yang ingin menjadi pegawai negeri di kota besar nanti.
"Ih sok sok an belajar siang siang gini"
Bisik salah seorang penduduk desa.
__ADS_1
Namun, pantang bagi nya untuk menyerah diawal.
Berusaha menghiraukan rentetan ucapan yang menjatuhkannya. Namun, tak pernah ada rasa dendam yang membekas dalam hatinya dan tak ada sedikitpun niatan untuk membalasnya.
Hanya terbesit di benak nya, bahwa pembalasan yang sebenarnya itu dilakukan dengan PEMBUKTIAN NYATA.
Jika kamu merasa terhinakan oleh kerasnya dunia, bertahanlah dan berjuanglah. Jadikan hinaan itu sebagai pendorong kemajuan menyongsong cerahnya kehidupan.
~Cahaya Novelia
"Api jangan dibalas api"
kalimat yang selalu terucap dari hatinya. Memaknakan kemurnian hatinya.
Cacian, makian, hinaan bahkan menjadi bahan tertawaan warga sekampung pun pernah ia rasakan.
Terutama ketika hinaan itu datang dari sang pemilik sawah tempat si Mbah bekerja, namanya juragan Dirman. Juragan Dirman selalu mencibirnya setiap saat, tiap kali ia membawa buku dan membacanya di gubuk tengah sawah.
"Anak petani jangan ngimpi jadi PNS hahaha"
Cemooh pak Dirman sembari mengacak-acak tumpukan buku diatas gubuk, tempat Adi duduk.
"Gak apa-apa pak, yang penting kita mau berusaha, berdoa, dan tawakal kepada Allah in sha Allah ada jalannya"
Berusaha mengacuhkan ucapannya kembali membereskan buku yang berantakan.
Kontaknya dengan mudah diselingi tawa penuh kebengisannya.
"Gak apa-apa pak, do'akan yang baik-baik saja karena roda kehidupan bisa berputar"
Tersenyum simpul menghormatinya.
Mbah kakung, sang ayah tak bisa berbuat apa-apa atas apa yang juragan Dirman lakukan terhadap anaknya. Ia hanya menggeleng melihat kelakuan picik atasannya itu.
☀☀☀
Juragan Dirman seorang pemilik sawah paling angkuh karena merasa dirinya punya berpetak-petak sawah di beberapa sudut pedesaan Yogyakarta.
Ia memiliki anak tunggal yang berumuran sama seperti Adi, anak mbah Kakung. Namun, anak tunggalnya terkenal dengan sifat buruk suka berfoya-foya.
Bagas, namanya. Nama yang tak asing di desa setempat karena seringkali membuat kekacauan didalamnya. Ia pun, sempat dikeluarkan dari sekolah menengah yang satu gedung dengan sekolah Adi. Karena tak bosan-bosannya membolos pada jam pelajaran dan selalu membuat keributan dengan guru-guru di sekolahnya.
Kegiatannya hanya bermain judi, bermabuk-mabukan dengan para preman kampung dari malam hingga pagi. Membuat warga sekitar risih dengan keberadaannya membuatnya selalu menjadi topik utama dalam perbincangan warga desa.
3 tahun setelahnya, tanpa diduga kejadian naas menimpa Pak Dirman. Dimana kemalangan itu terjadi saat kemarau panjang menimpa kota Yogyakarta.
Mengakibatkan semua petak sawahnya gagal panen. Imbasnya, ia harus menjual semua sawahnya untuk menggaji para petani yang belum digaji berbulan-bulan.
__ADS_1
Pak Dirman hampir gila, namun anak tunggalnya tetap tak memperdulikan. Harta pak Dirman semakin digerogoti sedikit demi sedikit oleh anaknya untuk bermain judi.
Pak Dirman jatuh miskin dan divonis sakit keras. Karena terus-menerus memikirkan keadaan anaknya tak kunjung membaik.
Terlebih ketika mengetahui anaknya masuk ke dalam bui akibat menabrak seorang wanita sampai mati. Saaat sedang mengendarai motor menuju rumahnya dalam keadaan mabuk.
Pada saat itulah pak Dirman menghembuskan nafas terakhirnya. Dan anaknya mendapat hukuman mati.
☀☀☀
Lalu bagaimana keadaan Adi dan si Mbah? Tepat setelahnya ia mendapatkan jawaban dari semua doa dan usahanya.
Seorang kurir pos datang mengantarkan surat ke rumah.
"Mas Adi Laksamana?"
Pekik kurir pos dari depan rumah Adi.
"Ya betul mas saya sendiri"
Jawab Adi.
"Ada titipan surat dari Sekolah Tinggi Pelita"
Memberi secarik surat kepadanya.
Adi mendapat kabar baik tentang kelulusannya dan mendapat jalur beasiswa ke sekolah tinggi yang terkenal di kota Yogyakarta, tepatnya tak jauh dari tempat yang ia tinggali saat ini.
"Pak, Adi lulus pak dan mendapat beasiswa ke Sekolah Tinggi"
Teriaknya keras girang memanggil bapaknya.
"Wah selamat ya nak"
Ucap sang ayah yang berlari keluar rumah menemuinya.
Semua warga desa tertegun melihatnya, tatapan bola mata tak henti-henti tertuju padanya. Ucapan yang semua berisikan hinaan seolah berubah menjadi bemacam-macam pujian.
"Selamat ya Di"
Sahut salah satu tetangganya.
"Wah hebat ya, anak petani bisa wujud ini mimpinya jadi PNS"
Celoteh yang lainnya dengan nada tak henti memujinya.
Lalu bagaimana dengan Si Mbah?
__ADS_1