Surat Terakhir Untuk Kheira

Surat Terakhir Untuk Kheira
Harmonisasi


__ADS_3

Tanpa adanya penyatuan dari tangga nada maka hancurlah irama musik yang akan dimainkan.


Bagai sebuah keluarga, keharmonisan menjadi hal terpenting di dalamnya. Penyatuan dari berbagai karakter yang berbeda, baik dari kesabaran ibu, ketegasan ayah, kepedulian kakak dan sifat kekanakan Adik.


Penyatuan itu penting karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, tanpa adanya penyatuan maka


Seperti penyatuan dua insan yang ditakdirkan untuk bersama dari kisah yang berbeda untuk melahirkan satu tujuan yang sama.


Saling memahami dalam setiap kondisi merupakan hal yang paling diutamakan dalam sebuah pondasi keluarga.


Orang tua mereka memang bukan terlahir dari keluarga kaya. Namun, mereka selalu punya cara untuk menyisipkan kebahagiaan dibalik kesederhanaan yang mereka miliki.


"Karena kekayaan bukanlah kebahagiaan yang nyata, namun ayah selalu punya cara untuk membuat keluarganya bahagia"


Kata-kata yang selalu terucap dari bibir ayah, yang tak pernah bisa Kheira lupa sampai kapanpun.


Membuat putri kecilnya percaya bahwa ayahnya memanglah pria tangguh yang selalu punya cara membuat anak-anaknya bahagia.


Ayah juga pernah bercerita kepadanya.


"Ayah pernah hampir tenggelam ke sungai ketika hendak menuju ke sekolah dasarnya, karena jembatan yang ayah lewati hampir terputus. Untung saja, ada warga desa yang sigap menolong ayah Kalau tidak, mungkin saja pria tangguh ini sudah tak bersama dengan kalian"


Namun kegigihan ayah mengalahkan apapun, demi mengejar mimpinya ayah selalu berusaha mengalahkan ketakutan dalam dirinya.


"Ira, kamu tau ga siapa pahlawan super di dunia ini?"


Celetuk ibu dalam sebuah becak kecil.


"Superman bu?"


"Bukan, Ayahmu"


Kheira ternganga melihat ucapan ibu.


"Maksudnya gimana bu?"


"Jadi... "


🌟🌟🌟


(GAYATRI POV) flashback


Tepat sore itu, sang senja menyapa matahari untuk berganti tahta.


Gayatri mengelus-elus perutnya yang dirundungi rasa sakit mengilu tak tahan tangannya menggenggam perut bulat itu. Meringis kesakitan berusaha menahan rasa sakitnya.


"Aidan... Tolong telpon bapakmu, ibu sudah mau melahirkan"


Teriak bunda kesakitan menggenggam perutnya.


"Baik bun"


Aidan tergopoh-gopoh keluar kamar ibu menggapai telepon rumah di ruang tamu.


"TUT..."


Memencet nomor telepon tujuan.


"Halo..."


Pekik seseorang dalam telepon dengan nada khas yang dikenalnya.


"Ayah... Ini Aidan, ibu mau melahirkan yah"


Serobot Aidan tanpa basa-basi.


"Tut.. Tut... "


Seketika suara dari telepon dihadapannya menghilang.


🌟🌟🌟


(AYAH POV) flashback


Kaki nya berlari kearah ruang kantor atasannya. Mengetuk pintu bening dihadapannya.


"Masuk"


Ucap seseorang dari dalam membuat nya memberanikan diri masuk ke dalam ruang tersebut.


"Selamat siang pak"


Sapa nya dengan kepala setengah menunduk.


"Iya ada apa Adi?"

__ADS_1


Pekik sang atasan dengan wajah terheran sambil memainkan laptop.


"Sa... Saya ma... Mau ii... Zi..n"


Lirih Adi gugup membuat atasan nya tak mengernyitkan dahi seolah tak mengerti.


"Boleh diulang"


Gumam atasannya menaikan satu alis.


"Saya mau minta izin pak, istri saya di desa mau melahirkan"


Perjelas Adi dengan nada cepat gugup gemetaran.


"APA"


Ucap sang atasan menggebrak meja dihadapannya yang membuat Adi terkejut.


"Yasudah, jangan nunggu lama-lama kasian istrimu"


Sambung sang atasan kepada Adi membuat Adi tertegun mendengar jawaban atasannya.


"Baik pak, terimakasih"


Pekik Adi menundukkan kepalanya berulang kali.


"Yasudah, cepat istrimu sudah menunggu"


Ucap sang atasan.


Adi berjalan menyusuri koridor ruang kerjanya, ia merapihkan barang-barang diatas meja kerja nya. Kemudian kakinya berlari menggapai sepeda motor butut miliknya yang terparkir di halaman depan kantor dinas.


🌟🌟🌟


(Gayatri POV)


"Aidan... Ayahmu mana nak?"


Lirih ibu meringis kesakitan.


"Tadi teleponnya dimatiin bu"


Pekik Aidan pelan membuat Gayatri didera kebingungan.


"TOK... TOK.. TOK"


"Aidan tolong bukakan pintu nak"


Pinta Gayatri.


Aidan berjalan menyusuri arah pintu, dibuka nya sebuah pintu dengan kunci di genggamannya.


"A... "


Pekik Aidan terkejut.


"Aidan mana ibumu nak?"


Tanya seorang laki-laki dihadapannya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Ibu di dalam yah"


Ucap Aidan.


Adi bergegas memasuki ruang kamarnya, melihat keadaan Gayatri yang semakin parah. Digendong tubuh perempuan dihadapannya dan dibawanya keluar dari rumah.


Matanya mencari-cari becak di sekelilingnya namun tak didapatinya. Karena hari sudah larut malam. Semua warga desa mulai menutup pintu-pintu rumah mereka jika hari mulai gelap.


"Aidan, kamu pinjam gerobak pak maman ya"


Perintah sang ayah.


"Baik yah"


Pekik Aidan berlari kearah rumah tetangganya itu.


Beberapa menit setelahnya,


Aidan membawakan sebuah gerobak pulungan milik pak maman yang sudah dibersihkan olehnya.


Ayah kemudian memasukan ibu ke dalam gerobak dan mendorong gerobak dihadapannya menuju sebuah bidan yang letaknya tak jauh dari rumah.


Wajah Gayatri sudah pengap dan terlihat begitu sesak. Adi dan Aidan mendorong gerobak dengan sekuat tenaga menyelamatkan dua nyawa dihadapannya.


"Bu bidan tolong istri saya"

__ADS_1


Ucap Adi dengan wajah cemas membuat bidan tersebut segera mengambil tindakan.


"Bawa istrimu masuk"


Pertegas nya mengarahkan ke dalam sebuah ruang persalinan.


"Bapak dan adik mohon tunggu disini"


Ucap bidan mengarahkan keduanya di ruang tunggu.


Adi dan Aidan duduk mendiami ruang tunggu. Wajah Adi terlihat begitu pucat dan cemas dirundungi rasa ketakutan mendalam.


"Coba aja tadi motor Ayah gak rusak, pasti ibu ga akan kesakitan kaya gini"


Monolog Adi dihadapan Aidan.


Tepat di tengah perjalanan ayah dari tempat dinasnya menuju desa, ban motor ayah pecah. Dan tengah malam tak memungkinkan ada tukang tambal ban yang buka. Akhirnya ayah berusaha mendorong sepeda motornya itu sampai ke rumah.


"Udah Ayah kita berdoa saja semoga semuanya selamat"


Pekik anak sulungnya sembari mengelus bahu ayahnya.


Bu bidan keluar ruang persalinan dengan wajah berseri-seri.


"Selamat pak, anak bapak perempuan cantik sekali"


Ucapnya tersenyum.


"Alhamdulillah Ya Allah"


Adi kegirangan bersujud sejenak menghantarkan rasa syukurnya.


"Boleh saya liat anak saya bu?"


Pekik Adi meminta.


"Silahkan"


Balas bu bidan


Tepat jam 1 malam, Kheira membuka matanya pertama kali di dunia. Berkat perjuangan ayah, bunda dan kakak sulungnya.


"Untung saja tepat waktu, kalau tidak anak dan ibunya mungkin sudah tiada".


Ucap sang bidan yang menangani proses persalinanny.


"Air ketuban nya tadi sudah pecah dipertengahan jalan sebelum kesini sepertinya"


Perjelas sang dokter.


"Terimakasih bu bidan, terimakasih"


Pekik Adi berulang.


"Ini suatu anugerah dari Tuhan, saya hanya perantara nya saja. Bertema kasihlah kepada-Nya"


Tutur sang bidan tersenyum.


Memang saat itu air ketuban bunda sudah pecah ditengah jalan. Namun untung saja bunda masih bisa bertahan dan ayah berusaha memperjuangkan Orang-orang yang ia cinta agar tetap bisa bersamanya.


Dia seorang pahlawan tangguh yang berjuang penuh demi kebahagiaan keluarga yang ia cintai.


Dia juga seorang yang selalu membuatku percaya bahwa dunia itu baik, asalkan kita tak berekspektasi buruk atas apa yang terjadi kepada kita. Terlebih ketika mampu berbuat baik terhadap orang lain, maka orang lain pun akan melakukan hal yang sama.


Dia seseorang yang selalu bisa membuat kami bahagia, di sela-sela kesibukannya ia selalu menyempatkan waktu nya untuk bercanda tawa dengan anak-anaknya.


🌟🌟🌟


"Jadi gitu ceritanya sayang"


Mata Kheira berkaca-kaca menatap ibu nya. Tak lama becak yang ditumpangi nya sampai di depan halaman rumah mereka, Kheira bergegas turun dan memeluk ayahnya.


"Kenapa nak?"


Adi terlihat bingung menatap putrinya yang memeluk dirinya sambil menangis mengelap ingus di sela-sela kemejanya.


"Kheira sayang ayah"


"Ayah juga sayang sama Kheira"


Adi tersenyum menatap pekat wajah Kheira, kemudian menggendong Putrinya masuk ke dalam rumah.


"Bu bayar becak nya ya"


"Baik yah"

__ADS_1


Jawab ibu tersenyum melihat suaminya yang begitu tulus mencintai anak-anaknya itu.


__ADS_2