
(AUTHOR POV)
Dering beker terdengar bising ke telinga Kheira. Berusaha mengedipkan matanya yang terasa seperti tertahan
"Ibuuuuuuuu"
Kheira berlari kencang kearah kamar mandi.
"Ira jangan lari-lari nanti jatoh"
Sahut ibu yang sedang merapikan sarapan di ruang tamu.
"Ibu Kheira udah mau telat masuk ke sekolah baru"
Kheira terburu-buru mengguyur badannya.
Wajah nya begitu kesal menatap Aidan yang menertawai nya, Aidan sengaja mengganti beker Kheira ke jam tujuh.
"Kak Aidan... Awas aja"
Pekik Kheira kesal dalam hati.
"Yah, ibu Kheira pamit"
Kheira mencium tangan keduanya bergantian disusul dengan larinya yang amat kencang.
Hari pertama nya memasuki sekolah menengah pertama, Cucuran keringat membasahi tubuh Kheira. Nafasnya tersengal-sengal, tatapannya tajam melirik ke arah gerbang yang hampir ditutup.
"Pak.......jangan ditutup dulu, saya murid baru kasiani saya pak"
Kheira memohon dengan nada bicaranya yang lirih membuat hati satpam luluh dan mau membuka sedikit pintu gerbang minimalis yang hampir tertutup.
"Baik masuk aja lain kali jangan telat ya"
"Siap pak"
Tangan Kheira membentuk salam hormat kepada satpamnya.
"YESSS"
Ucapan syukur dalam hatinya.
πππ
"Kheira Alesya"
"Kheira?!?"
BRAKKK
Bunyi dobrakan pintu terdengar keras, sumber suaranya adalah Kheira.
"Hadir pak"
Napas nya tersengal-sengal mengangkat satu tangannya. Membuat anak kelasnya menggeleng dengan kelakuan temannya itu di mata pelajaran guru killer, bisa-bisanya Kheira terlambat satu menit dari jam yang ditentukan.
"Silahkan tutup pintu dari luar"
"Baru telat satu menit lho pak"
"Boleh ya pak saya masuk"
Kheira tersenyum getir memohon kearah guru matematika killer dihadapannya.
"Boleh ya pak"
Kheira mengulangi ucapannya memohon keringanan dari guru killer tercintanya itu.
Karena Kheira sangat menyukai pelajaran matematika, baginya kehidupan tanpa matematika terasa hambar bagai makan tanpa micin.
"Karena kamu pinter jadi kamu boleh masuk"
Pak Jimmy mengubah fikirannya sesaat Kheira memohon.
"Tapi kerjakan semua tugas di papan tulis, yang lain ga usah ngerjain"
"YEAY"
Sorak bergemuruh memecahkan suasana yang mencekam dari pelajaran guru matematika ter killer itu.
"Huft"
Kheira mendengus pelan mau gak mau ia harus mengikuti arahan guru tercintanya itu.
"Baik pak"
πππ
Selesai jam pelajaran, Kheira mendengus pelan mengerjakan 20 soal di papan tulis yang berisi angka semua.
Tangannya meletakkan tas pink fanta keatas meja kecilnya.
"Gila Key, otak lu dibuat dari apa pinter banget?"
Celetuk teman sebangku nya, Ava.
"Makan Gajah Va"
Kheira memekik kesal membanting pelan buku matematik ke mejanya.
"Ngomong Gajah nya gausah gede-gede Khey"
"Nanti pompon merasa terpanggil"
__ADS_1
Bisik Ava sambil melirik kearah temannya pom-pom yang berbadan besar.
"Pom, dapet salam dari Ava nih"
Teriak Kheira ke arah pom-pom dibalas dengan kedipan mata pom-pom ke arah Ava membuat Kheira tertawa geli.
"Keeeeeeyyyyyyraaaaaa"
Kheira langsung berlari dari tatapan ganas Ava yang seakan ingin memangsa dirinya.
πππ
KRIIING
"Key gua balik dulu ya"
Ava menepuk bahu Kheira yang sedang sibuk menunggu Aidan.
"Oh iya iya"
"Gapapa nih gua duluan?!"
"Iya santai gapapa, gua lagi nungguin kaka gua kok sebentar lagi juga sampe"
"Oke"
Adriana menaiki sepeda mini biru miliknya meninggalkan Kheira sendiri di tepian sekolah.
"Ting ting"
Bel sepeda yang tak asing lagi di telinganya.
"Gimana sekolahnya? hahaha"
Tawa meledek dari kaka sulungnya itu.
"Kak Aidan gara-gara kaka, aku jadi dihukum ihhhhs"
Kheira memukul pelan bahu Aidan namu berhasil ditepis oleh tubuhnya.
"Gapapa sekali-kali adik gua yang pinter ini dihukum"
"Ish"
Desis Kheira memutar bola matanya.
"Hahaha"
"Ayo naik"
Tanpa ada perasaan bersalah, Aidan malah tertawa kecil melihat adiknya memanyunkan bibirnya.
Kheira menunggangi sepeda yang dikendarai Aidan, kakak sulungnya. Sepeda ontel warisan ayahnya. Sudah semestinya mereka setiap hari harus pulang menaiki sepeda ontel kuno itu, karena jarak sekolah ke rumahnya lumayan jauh.
πππ
Adi memasuki rumah sederhana miliknya, melihat istrinya sedang menjahit di ruang tamu.
"Waalaikumsalam"
Gayatri bangkit dari duduknya meletakan jahitannya di kursi kayu.
"Tumben udah pulang yah?"
"Iya tadi hanya rapat saja"
Gayatri mencium tangan suaminya, menatap wajah suaminya dalam keadaan kacau tak seperti biasanya. Gayatri bergegas ke dapur menyiapkan secangkir kopi.
"Anak-anak udah tidur bu?"
Tanya Adi pelan.
"Sepertinya sudah yah"
Jawab Gayatri berjalan dari arah dapur membawa secangkir kopi di tangannya.
"Diminum dulu yah"
"Makasih bu"
"Ayah keliatan muram malam ini? Ada apa?!?"
Tanya Gayatri yang membuat Adi tersedak saat menyereput kopi hitam buatannya.
"Gak bu"
"Gapapa"
Lirih Adi pelan dengan tatapan penuh dusta yang tak bisa membohongi perasaan istrinya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri mas, akutuh istrimu aku tau perasaan sedihmu"
Pekik Gayatri sembari melanjutkan jahitannya, ucapannya membuat sosok lelaki dihadapannya tertegun seketika.
"Be... Besok"
"Aku... "
"Ditugaskan dinas ke Bandung"
"Selama 2 tahun"
Perjelas Adi, Gayatri terkejut mendengarnya membuat jemari telunjuknya berdarah tertusuk jarum jahit.
__ADS_1
"Aw"
"Kamu gapapa?"
"Gapapa cuma luka sedikit aja"
"Aku masuk kamar dulu mas"
Tanpa perjelas, Gayatri langsung pergi meninggalkan Adi sendiri di ruang tamu.
Adi mengerti bahwa Istrinya kecewa saat mendengar pernyataannya tadi.
Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya tentang dua putri kecilnya dan satu putranya. Adi berjalan mengecek dua kamar putra putrinya yang bersebelahan.
Melihat putranya sudah tertidur pulas, Adi menutup kembali kamar putnya dan berjalan menyambangi kamar kedua putrinya mengecek seperti biasanya.
πππ
KREEK
Adi membuka pintu kamar kedua putrinya, Kheira dan Anindira. Hening dan tak bersuara, lampunya pun sudah gelap gulita.
"Dooor"
Teriakan dua anak kecil dari balik papan pintu kayu membuatnya terkejut.
"Kheira... Dira.... Kalian belum tidur?"
Adi membelalakan bola matanya.
"Kalian mengagetkan Ayah saja"
Ia mengelus dadanya kemudian mencari letak saklar dan menyalakan lampu kamar.
"Ayah si pulang nya malem banget, jadinya kita nungguin ayah pulang deh"
Tembak Kheira disertai dengan anggukan Adiknya.
"Kalian ya..."
Adi memberi aba-aba mengejar kedua putrinya.
"Monsterrrr"
Teriak Kheira dan Anindira, keduanya berlari ke dalam kamarnya meledek sang Ayah.
Adi mengejar kedua putri nya yang berlari dengan girang.
"Wah ketangkep"
Ujar Adi mendapatkan kedua putrinya dalam tangannya kemudian menggelitiki kedua putri nya membuat keduanya tertawa terbaha-bahak.
Tawa Kheira membuat bising isi rumah, akhirnya Adi melepaskan tangannya dari tubuh kedua putrinya.
"Ayah... Dongengin kita dong"
Kheira menarik bawah baju kemeja Adi. Membuat Adi harus mengangguk mengiyakan permintaan putrinya.
Adi selalu mendongengkan sebuah kisah tentang superhero. Seorang pahlawan super yang tidak pernah takut dengan apapun sekalipun monster lawannya.
"Seorang super hero takkan pernah takut menghadapi kerasnya rintangan dihadapannya, bahkan hadangan monster jelek sekalipun"
Cerita Adi sambil meragakannya.
"Jelek kaya Ayah ya"
Kheira tertawa menjulurkan lidahnya.
"Engga dong, ayah mah ganteng"
Adi mencubit gemas pipi Kheira, putri tengahnya.
"Terus gimana lagi yah citanya?"
Anindira penasaran memotong pelan dengan suara lirihnya.
"Nah, seorang superhero sejati takkan pernah pamrih terhadap apa yang ia lakukan dan berusaha menutupi kebaikannya"
Sambung Adi.
"HOAAM"
Kheira menguap, menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan satu tangannya.
Adi memperhatikan kedua putrinya, ternyata anak bungsunya sudah tertidur pulas dan putri keduanya juga sudah mengantuk memejamkan mata.
"Selamat tidur Putri ayah"
Ia mengelus rambut putrinya kemudian mencium kening kedua putri nya bergantian, tangannya membentangkan selimut hitam putih kearah mereka.
Adi berjalan pelan keluar kamar sambil mematikan saklar lampu dan menutup pintu pelan.
(KHEIRA POV)
Kheira daritadi masih berpura-pura memejamkan matanya sambil memperhatikan gerak-gerik ayahnya dengan berkedip sedikit mengintip.
Sebelum Adi keluar dari kamarnya, Kheira memperhatikan Ayahnya yang sedang menyelimuti mereka dengan sebuah selimut monokrom tipis kemudian mematikan lampu neon kamarnya.
Kheira langsung memejamkan kedua bola matanya diiringi sebuah senyuman kecil dari bibir mungilnya.
Setiap anak perempuan pasti menginginkan seorang pendamping masa depan yang bijak seperti ayahnya, yang mampu menjaganya dengan tulus, berkorban untuk dirinya dan mampu mencintai sepenuh hatinya
~Cahaya Novelia
__ADS_1