
Si Mbah sudah mendapat pekerjaan baru sebagai petani di sawah dengan kepemilikan yang berbeda dan mendapat gaji yang lebih besar dari sebelumnya.
Adi sadar bahwa ia hanyalah anak seorang petani, namun bukan berarti ia harus menyia-nyiakan kesempatan emasnya untuk melanjutkan sekolah tinggi nya di kota.
Ia merantau hanya bermodalkan tekad, usaha dan doa restu orang tua. Menuntut si Mbah tak bisa, buat kesehariannya saja terkadang masih terlunta-lunta. Terlebih karena umurnya yang sudah sangat tua.
Saat ia memberanikan diri merantau ke kota. Ia tak punya pegangan seperak rupiah pun di tangannya, selama bertahun-tahun ia sekolah dirinya hanya dibekali Ubi, singkong dan segelas air di tasnya. Ia tak pernah menuntut si Mbah memberi uang jajan, karena ia tahu untuk makan sehari-hari saja masih dalam kekalutan.
Mbah kakung memberi selembaran uang 50 ribu rupiah yang selama bertahun-tahun ia tabung, namun ia ambil begitu saja demi membekali anaknya melakukan perjalanan ke kota.
Awalnya Adi menolak, namun si Mbah tetep kekeh agar anaknya itu mau menerima pembekalan darinya.
"Udah pak gak usah, bapak lebih butuh. Adi bisa kok cari uang sendiri disana nanti"
Tutur Adi lembut.
"Udah gak apa-apa diterima saja nak, maafin bapak ya nak ga bisa kasih kamu bekal uang yang lebih dari ini"
Ucap Mbah Kakung dengan mata berkaca-kaca memeluk Anak tunggalnya itu.
"Iya pak, gapapa pak yang penting do'ain Adi selalu ya pak"
Pamitnya melepaskan pelukan hangat si Mbah diakhiri dengan lambaian tangan dari jauh.
Memang uang 50 ribu sangat besar bagi nya di era 90 an. Sebenarnya, uang hanya ia perlukan untuk ongkos menuju kota. Untuk tempat tinggal ia tak perlu repot-repot mencarinya lagi, karena sudah disediakan mess dari sekolah tingginya. Ia juga termasuk salah satu murid berprestasi di kampusnya itu dan selalu mendapat tunjangan dari sekolah tingginya setiap bulan.
☀☀☀
Sebelum ia pergi merantau ke kota. Ia memutuskan berziarah ke makam ibunya (mbah Putri). Untuk meminta restu darinya sekaligus mengirimkan doa kepada ibunya yang telah tiada tepat 5 tahun silam.
Di tengah pemakaman, Adi terduduk lirih menjamah nisan sang ibu.
"Mbok, do'akan Adi ya semoga Adi jadi orang sukses seperti apa yang dicita-citakan si Mbok"
Rintih Adi tanpa sadar air mata nya terjatuh ke makam si Mbok. Adi berusaha tegar menyeka Air mata nya.
"Walaupun si Mbok ndak bisa liat Adi sukses, tapi Adi yakin si Mbo di surga seneng liat Adi sukses"
Lirihnya semakin pelan.
"Mbok, Adi pamit ya"
Sambungnya mengusap nisan Abu di hadapannya sembari memercikan segelas air yang dibawanya ke arah tanah merah tersebut kemudian menaburkan kembang diatas makam sang bunda. Tangisnya pecah ketika mengangkat kedua tangannya mendoakan sang bunda.
__ADS_1
"Mbok, Adi pergi dulu ya"
Ucapnya berdiri tegak meninggalkan makam ibunya.
☀☀☀
Beberapa bulan setelahnya, ia ditugaskan dari sekolah tingginya untuk menjadi seorang guru di desa terpencil di kawasan Yogyakarta.
"Adi, Indra dan Doni saya tugaskan untuk mengajar di sekolah SMA yang berada di desa terpencil, apakah kalian siap?"
Tanya Rektor sekolah tingginya dengan hormat.
"Kami siap pak"
Ucap mereka serentak.
Adi dan kedua temannya ditugaskan mengajar di salah satu sekolah SMA yang berada di pelosok desa ini. Desa yang jauh dari keramaian, desa yang dulunya penuh kegelapan, desa yang jauh dari pendidikan. Namun, berkat ia dan beberapa temannya, desa ini terus mengalami peningkatan dan kemajuan dengan ilmu pengetahuan.
☀☀☀
Tepatnya disinilah ia bertemu dengan kisah cinta nya.
Langkahnya berjalan menyusuri koridor sekolah dengan sepatu pantopel hitam yang melekat di kakinya, tak lupa kemeja putih dan celana hitamnya membuatnya terlihat gagah dari style sebelumnya.
"Mungkin saya hanyalah guru muda yang tak ada artinya bagi mereka"
Fikir nya.
Hentakan kaki seperti mengikuti dirinya membuat langkah kakinya terhenti karena merasa diikuti.
"Pak, pak perlu saya bantu?"
Ucap seseorang gadis menawarkan bantuan dengan nada lembut dari arah sampingnya.
Ia menolehkan wajah ke sumber suara, sesaat terpaku melihat gadis di sampingnya.
☀☀☀
Seorang gadis desa yang menjadi salah satu muridnya dulu. Gadis polos dengan daya tarik tersendiri dengan kelembutan hatinya dan berjiwa penolong besar. Aura kecantikannya terpancar dari kesederhanaan yang dimilikinya.
Setiap hari ia selalu memeperhatikan gadis itu dari kejauhan, seorang gadis yang tak pernah malu membantu Ibu nya, Mbah Sarah. Untuk menjajakan dagangan kecil di kantin sekolah.
Gadis itu mengambil segenggam tampah berisikan gorengan dari tangan ibunya yang sudah paruh baya.
__ADS_1
"Sayur, gorengan, pecel ayo dibeli dibeli"
Pekik gadis itu menjajakan makanan ke seluruh siswa dan siswi yang lewat dihadapannya.
"Aku beli dua ya"
Ucap siswa siswi yang berkerumun membeli dagangannya.
Adi berjalan kearahnya dan berjongkok di hadapan gadis itu.
"Saya mau beli lima"
Ucap Adi membuat gadis itu gugup melihatnya.
"Eh bapak, baik Pak"
Lirihnya gugup membuat Adi terseyum simpul melihat gadis itu.
"Kamu kan pintar, cantik, berprestasi, emang gak malu jualan gorengan?"
Pekik Adi menaikan satu alisnya.
"Buat apa saya malu pak, toh saya gak nyolong kan? Saya disini cuma bantu ibu saya yang sudah tua pak, sudah sewajarnya seorang anak membantu orang tuanya"
Perjelas nya membuat dada Adi terkoyak atas jawaban yang ia dapati.
"Eh iya ini pak gorengannya"
Ucap gadis tersebut menghancurkan lamunan Adi.
"Eh iya jadi berapa?"
Tanya nya.
"Sepuluh ribu pak"
Jawabnya memberikan senyuman dari bibirnya.
Namanya Alisya Gayatri, salah satu muridnya yang berprestasi di sekolah. Tak hanya itu, ia selalu memenangkan perlombaan baik di bidang akademisi maupun keolahragaan antar sekolah. Namun sayang, pendidikan Alisya hanya tamat di gerbang SMA karena terbentur dengan biaya.
Dua tahun Adi ditugaskan untuk mengajar dan hampir menyelesaikan pengabdiannya dari sekolah itu. Dirinya sudah terlanjur mengagumi dan menyimpan rasa terhadap salah seorang muridnya itu, Gayatri. Dan berniat untuk melamar gadis tersebut setelah menyelesaikan studi nya di sekolah tingginya.
☀☀☀
__ADS_1
Selang 2 tahun Adi menyelesaikan studi nya di kota dan mendapat gelar sarjana. Ia memutuskan untuk kembali ke desa itu.